Bab 12 Keluarga Tambahan

Butuh beberapa menit bagi Huang Zo untuk menemukan informasi yang diperlukan. Akhirnya, mereka segera berangkat menuju rumah yang dijual, beserta sebuah toko yang berada di jalan utama kota.

"Paman, apakah jarak antara rumah dan toko terlalu jauh?" tanya Luo Chen, memastikan agar jaraknya tidak terlalu menyulitkan.

"Tidak, Tuan Muda. Jarak dari rumah ke toko hanya beberapa ratus meter. Jika ingin melakukan negosiasi, kita harus menuju rumah yang akan dijual, di mana si penjual berada," jawab Huang Zo sambil melirik ke belakang, khawatir ada yang tertinggal.

Setelah beberapa belokan, akhirnya sebuah rumah dua tingkat dengan pagar terlihat menyeramkan, seakan tidak ada penghuni. Tanpa ragu, Luo Chen langsung menekan bel rumah.

Sesosok kakek muncul dari dalam rumah, membuka gerbang, dan segera berkata, "Rumah ini tidak dijual." Ia berusaha menutup gerbang, tetapi Luo Chen menahan pintu sambil tersenyum ramah.

"Maaf, Kek. Kami hanya ingin bertamu dan bernegosiasi."

"Sudah kukatakan, rumah ini tidak dijual, bocah," bentak kakek tersebut dengan tatapan tajam.

"Kakek, beri kami satu kesempatan," pinta Luo Chen sambil menundukkan kepala.

"Cih! Cepat ikuti aku, dan tutup gerbangnya," perintah kakek pemilik rumah, akhirnya menyerah.

Saat mereka memasuki gerbang, ternyata rumah itu memiliki halaman yang sangat luas. Sungguh lebih baik jika disebut vila, meski terlihat jelas tempat itu sangat tidak terawat.

"Baiklah, kalian sudah puas melihat? Sekarang silakan pergi," ucap kakek pemilik rumah tepat sebelum mereka melangkah masuk ke dalam rumah.

"Maaf, Kek. Bolehkah saya bernegosiasi sebentar?" tanya Luo Chen dengan nada penuh kesopanan.

"Bocah keras kepala! Sudahlah, cukup kita berdua," kata kakek sambil membuka pintu dan berjalan masuk begitu saja.

"Kalian tunggu sebentar di sini ya? Biar aku urus ini," Luo Chen menatap mereka semua yang tampak terdiam.

"Tuan Muda, lebih baik kita cari tempat lain. Sepertinya harga di sini terlalu mahal, dan kami sudah cukup menyusahkan Tuan Muda," sahut Huang Zo, merasa tidak enak hati.

Keempat paman yang lain, serta para wanita, menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Huang Zo. Namun, anak-anak kecil menatap penuh harap, sangat ingin tinggal di tempat ini.

"Tidak perlu kalian pikirkan. Aku melakukan semua ini juga untuk diriku sendiri, dan untuk kalian. Jika aku kembali ke tempat ini, kalian mau bukan? Menerima kedatanganku suatu saat?" tanya Luo Chen dengan senyuman hangat.

"Tuan Muda??" Suara bergetar terdengar dari lima bersaudara yang tiba-tiba meneteskan air mata, tidak menyangka orang yang dulu mereka lawan kini menjadi orang yang sangat berjasa dalam kehidupan mereka.

"Sudahlah, ini juga baik untukku," kata Luo Chen, melangkah meninggalkan mereka di luar dan segera memasuki rumah tersebut.

Di dalam, ia melihat kakek sudah duduk di ruang tamu, tersenyum saat melihat kedatangan Luo Chen, mendengar obrolan mereka di luar yang membuatnya sedikit tersentuh.

"Cepat duduk di sini, anak muda. Mari kita negosiasikan," kata kakek itu dengan nada ramah, seakan menunjukkan dua sisi kepribadian.

Luo Chen segera duduk, memperkenalkan diri, dan langsung menyampaikan tujuannya. "Saya Luo Chen, Kek. Jika kakek berkenan, saya ingin membeli rumah dan toko kakek, berapa saja harganya."

"Santai saja, Nak Chen. Sebenarnya aku tidak berniat menjual rumah ini, karena ini satu-satunya harta yang kumiliki. Aku hanya seorang kakek sebatang kara; rumah dan toko ini adalah kenangan yang tersisa," tegas kakek itu sambil tersenyum pahit.

"Maaf, Kek. Boleh tanya? Ke mana keluarga kakek?" tanya Luo Chen, melihat kesedihan di mata kakek pemilik rumah.

Kakek itu tersenyum dan menatap ke arah atap rumah. "Mereka semua telah tiada, sudah hampir 12 tahun yang lalu. Jika cucuku masih hidup, mungkin dia seumuran denganmu," tatapan sendu terlihat di mata kakek itu.

"Maaf, Kek. Saya tidak bermaksud mengungkit masa lalu kakek," ujar Luo Chen dengan tatapan penuh empati.

"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membuat kakek bercerita. Rasanya lega. Dan karena kamu bersikeras ingin membeli rumah dan toko kakek," kakek melanjutkan, berusaha merelakan masa lalunya, "maka kakek persilakan. Daripada rumah dan toko ini tidak terurus dan hancur saat kakek meninggal."

Luo Chen terdiam, merasa tidak enak, tetapi dia juga butuh rumah serta toko itu. "Tapi, jika saya membeli rumah dan toko kakek, di mana kakek akan tinggal? Kakek tidak punya kerabat."

Kakek pemilik rumah terdiam mendengarnya. "Mungkin aku akan ke desa terdekat, membangun sebuah rumah atau membeli rumah, lalu menikmati sisa-sisa waktu hidupku. Aku yakin uang dari penjualan ini cukup."

Mereka berdua terdiam, ruangan itu terasa sepi, hanya semilir angin yang terdengar. Akhirnya, Luo Chen membuka pembicaraan lagi untuk negosiasi.

"Aku punya saran, Kek. Bagaimana jika rumah dan toko kakek dijual, tetapi kakek tetap tinggal di sini? Daripada di desa tanpa teman bicara."

"Lebih baik kakek di sini, bukan? Anggap kami semua sebagai anggota keluarga kakek yang baru. Kakek juga bisa melihat rumah dan toko yang dulu kakek punya terawat dengan baik," ujar Luo Chen, teringat betapa menyakitkannya rasa kesepian.

"Nak Chen, bolehkah aku menganggap anak-anak di luar serta kamu menjadi cucuku?" pinta kakek pemilik rumah, sambil meneteskan air mata.

"Boleh, Kek. Silakan saja," sahut Luo Chen sambil tersenyum ramah.

"Terima kasih, Chen'er." Kakek itu segera memeluk Luo Chen tanpa ragu, merasakan kembali kehangatan yang sudah lama hilang.

"Sudah, kamu tidak perlu membayar. Kalian bisa tinggal dan menggunakan toko kakek sesuka kalian," gumam kakek itu, sambil terus memeluk Luo Chen.

Luo Chen sendiri tidak merasa keberatan dipeluk, ia memahami betul bagaimana rasanya kesepian selama bertahun-tahun, tanpa ada yang menemani.

Setelah beberapa menit berlalu, kakek itu tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Luo Chen langsung berjalan ke depan untuk memberi tahu yang lain agar segera masuk.

"Heii, cepat kalian masuk! Kita bersihkan area rumah ini dan renovasi. Tetapi, biarkan pagar di sekeliling tetap terlihat seram," ujar Luo Chen sambil melangkah masuk.

Semua orang akhirnya masuk rumah, dan Luo Chen menarik tangan kakek pemilik rumah. "Mulai sekarang, kakek ini akan menjadi keluarga kalian. Anggap dia sebagai kakek kandung, ya?"

"Yeyyy, kita punya kakek!" ujar anak kecil yang langsung berlari ke arah kakek pemilik rumah dan segera memeluknya.

"Aku sudah lama ingin punya kakek," satu anak mulai menyusul.

"Aku juga ingin dipeluk, Kakek!" akhirnya semua anak kecil mendapat pelukan dari kakek baru mereka.

Kakek pemilik rumah merasakan kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya. Rasa kesepian di hatinya perlahan menghilang sepenuhnya.

Terpopuler

Comments

Aman 2016

Aman 2016

Joss gandos mantab Thor lanjut

2024-10-24

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1 Pertemuan
2 Bab 2 Hewan Iblis
3 Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4 Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5 Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6 Bab 6 Kontes Memancing
7 Bab 7 Pertarungan Sengit
8 Bab 8 Melangkah Maju
9 Bab 9 Lima Bersaudara
10 Bab 10 Bakat Memasak
11 Bab 11 Menuju Kota
12 Bab 12 Keluarga Tambahan
13 Bab 13 Perkenalan
14 Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15 Bab 15 Sedikit Ancaman
16 Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17 Bab 17 Kehangatan
18 Bab 18 Waktu Minim
19 Bab 19 Malam Tenang
20 Bab 20 Tiga Kendali
21 Bab 21 Kehangatan Keluarga
22 Bab 22 Langkah Awal
23 Bab 23 Memilih Kitab
24 Bab 24 Scorpius
25 Bab 25 Kepergian
26 Bab 26 Awal Pertarungan
27 Bab 27 Kekuatan
28 Bab 28 Air Terjun
29 Bab 29 Pertarungan Sengit
30 Bab 30 Puncak Pertarungan
31 Bab 31 Kedamaian
32 Bab 32 Harta Tak Terduga
33 Bab 33 Ruangan Rahasia
34 Bab 34 Lorong Gelap
35 Bab 35 Pemilik Harta
36 Bab 36 Tekanan
37 Bab 37 Pencerahan
38 Bab 38 Tempat Misterius
39 Bab 39 Harta Terakhir
40 Bab 40 Dua Lawan Satu
41 Bab 41 Sekte Elang Langit
42 Bab 42 Villa
43 Bab 43 Kehangatan
44 Bab 44 Obrolan Ringan
45 Bab 45 Persiapan
46 Bab 46 Topeng
47 Bab 47 VVIP
48 Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49 Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50 Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51 Bab 51 Ancaman
52 Bab 52 Ritual
53 Bab 53 Transaksi
54 Bab 54 Benua Tengah
55 Bab 55 Penginapan Kyabakura
56 Bab 56 Wanita Misterius
57 Bab 57 Pendamping Hidup
58 Bab 58 Perjalanan Romantis
59 Bab 59 Tepi Danau
60 Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61 Bab 61 Kebebasan
62 Bab 62 Perjalanan Baru
63 Bab 63 Dratiger
64 Bab 64 Perjalanan Laut
65 Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66 Bab 66 Lautan Luas
67 Bab 67 Sea Serpent
68 Bab 68 Dewa Scorpius
69 Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70 Bab 70 Mencari Petunjuk
71 Bab 71 Amarah
72 Bab 72 Akses Teleportasi
73 Bab 73 Perjalanan Berliku
74 Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75 Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76 Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77 Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78 Bab 78 Misi Berbahaya
79 Bab 79 Melawan Ice Snake
80 Bab 80 Misi Tuntas
81 Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82 Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83 Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84 Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85 Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86 Bab 86 Akhir Pertarungan
87 Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88 Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89 Menemukan Tujuan Baru
90 Menyusun Dasar Sekte
91 Mengundang Para Ahli
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan
2
Bab 2 Hewan Iblis
3
Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4
Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5
Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6
Bab 6 Kontes Memancing
7
Bab 7 Pertarungan Sengit
8
Bab 8 Melangkah Maju
9
Bab 9 Lima Bersaudara
10
Bab 10 Bakat Memasak
11
Bab 11 Menuju Kota
12
Bab 12 Keluarga Tambahan
13
Bab 13 Perkenalan
14
Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15
Bab 15 Sedikit Ancaman
16
Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17
Bab 17 Kehangatan
18
Bab 18 Waktu Minim
19
Bab 19 Malam Tenang
20
Bab 20 Tiga Kendali
21
Bab 21 Kehangatan Keluarga
22
Bab 22 Langkah Awal
23
Bab 23 Memilih Kitab
24
Bab 24 Scorpius
25
Bab 25 Kepergian
26
Bab 26 Awal Pertarungan
27
Bab 27 Kekuatan
28
Bab 28 Air Terjun
29
Bab 29 Pertarungan Sengit
30
Bab 30 Puncak Pertarungan
31
Bab 31 Kedamaian
32
Bab 32 Harta Tak Terduga
33
Bab 33 Ruangan Rahasia
34
Bab 34 Lorong Gelap
35
Bab 35 Pemilik Harta
36
Bab 36 Tekanan
37
Bab 37 Pencerahan
38
Bab 38 Tempat Misterius
39
Bab 39 Harta Terakhir
40
Bab 40 Dua Lawan Satu
41
Bab 41 Sekte Elang Langit
42
Bab 42 Villa
43
Bab 43 Kehangatan
44
Bab 44 Obrolan Ringan
45
Bab 45 Persiapan
46
Bab 46 Topeng
47
Bab 47 VVIP
48
Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49
Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50
Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51
Bab 51 Ancaman
52
Bab 52 Ritual
53
Bab 53 Transaksi
54
Bab 54 Benua Tengah
55
Bab 55 Penginapan Kyabakura
56
Bab 56 Wanita Misterius
57
Bab 57 Pendamping Hidup
58
Bab 58 Perjalanan Romantis
59
Bab 59 Tepi Danau
60
Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61
Bab 61 Kebebasan
62
Bab 62 Perjalanan Baru
63
Bab 63 Dratiger
64
Bab 64 Perjalanan Laut
65
Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66
Bab 66 Lautan Luas
67
Bab 67 Sea Serpent
68
Bab 68 Dewa Scorpius
69
Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70
Bab 70 Mencari Petunjuk
71
Bab 71 Amarah
72
Bab 72 Akses Teleportasi
73
Bab 73 Perjalanan Berliku
74
Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75
Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76
Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77
Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78
Bab 78 Misi Berbahaya
79
Bab 79 Melawan Ice Snake
80
Bab 80 Misi Tuntas
81
Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82
Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83
Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84
Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85
Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86
Bab 86 Akhir Pertarungan
87
Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88
Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89
Menemukan Tujuan Baru
90
Menyusun Dasar Sekte
91
Mengundang Para Ahli

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!