Butuh beberapa menit bagi Huang Zo untuk menemukan informasi yang diperlukan. Akhirnya, mereka segera berangkat menuju rumah yang dijual, beserta sebuah toko yang berada di jalan utama kota.
"Paman, apakah jarak antara rumah dan toko terlalu jauh?" tanya Luo Chen, memastikan agar jaraknya tidak terlalu menyulitkan.
"Tidak, Tuan Muda. Jarak dari rumah ke toko hanya beberapa ratus meter. Jika ingin melakukan negosiasi, kita harus menuju rumah yang akan dijual, di mana si penjual berada," jawab Huang Zo sambil melirik ke belakang, khawatir ada yang tertinggal.
Setelah beberapa belokan, akhirnya sebuah rumah dua tingkat dengan pagar terlihat menyeramkan, seakan tidak ada penghuni. Tanpa ragu, Luo Chen langsung menekan bel rumah.
Sesosok kakek muncul dari dalam rumah, membuka gerbang, dan segera berkata, "Rumah ini tidak dijual." Ia berusaha menutup gerbang, tetapi Luo Chen menahan pintu sambil tersenyum ramah.
"Maaf, Kek. Kami hanya ingin bertamu dan bernegosiasi."
"Sudah kukatakan, rumah ini tidak dijual, bocah," bentak kakek tersebut dengan tatapan tajam.
"Kakek, beri kami satu kesempatan," pinta Luo Chen sambil menundukkan kepala.
"Cih! Cepat ikuti aku, dan tutup gerbangnya," perintah kakek pemilik rumah, akhirnya menyerah.
Saat mereka memasuki gerbang, ternyata rumah itu memiliki halaman yang sangat luas. Sungguh lebih baik jika disebut vila, meski terlihat jelas tempat itu sangat tidak terawat.
"Baiklah, kalian sudah puas melihat? Sekarang silakan pergi," ucap kakek pemilik rumah tepat sebelum mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
"Maaf, Kek. Bolehkah saya bernegosiasi sebentar?" tanya Luo Chen dengan nada penuh kesopanan.
"Bocah keras kepala! Sudahlah, cukup kita berdua," kata kakek sambil membuka pintu dan berjalan masuk begitu saja.
"Kalian tunggu sebentar di sini ya? Biar aku urus ini," Luo Chen menatap mereka semua yang tampak terdiam.
"Tuan Muda, lebih baik kita cari tempat lain. Sepertinya harga di sini terlalu mahal, dan kami sudah cukup menyusahkan Tuan Muda," sahut Huang Zo, merasa tidak enak hati.
Keempat paman yang lain, serta para wanita, menganggukkan kepala setuju dengan ucapan Huang Zo. Namun, anak-anak kecil menatap penuh harap, sangat ingin tinggal di tempat ini.
"Tidak perlu kalian pikirkan. Aku melakukan semua ini juga untuk diriku sendiri, dan untuk kalian. Jika aku kembali ke tempat ini, kalian mau bukan? Menerima kedatanganku suatu saat?" tanya Luo Chen dengan senyuman hangat.
"Tuan Muda??" Suara bergetar terdengar dari lima bersaudara yang tiba-tiba meneteskan air mata, tidak menyangka orang yang dulu mereka lawan kini menjadi orang yang sangat berjasa dalam kehidupan mereka.
"Sudahlah, ini juga baik untukku," kata Luo Chen, melangkah meninggalkan mereka di luar dan segera memasuki rumah tersebut.
Di dalam, ia melihat kakek sudah duduk di ruang tamu, tersenyum saat melihat kedatangan Luo Chen, mendengar obrolan mereka di luar yang membuatnya sedikit tersentuh.
"Cepat duduk di sini, anak muda. Mari kita negosiasikan," kata kakek itu dengan nada ramah, seakan menunjukkan dua sisi kepribadian.
Luo Chen segera duduk, memperkenalkan diri, dan langsung menyampaikan tujuannya. "Saya Luo Chen, Kek. Jika kakek berkenan, saya ingin membeli rumah dan toko kakek, berapa saja harganya."
"Santai saja, Nak Chen. Sebenarnya aku tidak berniat menjual rumah ini, karena ini satu-satunya harta yang kumiliki. Aku hanya seorang kakek sebatang kara; rumah dan toko ini adalah kenangan yang tersisa," tegas kakek itu sambil tersenyum pahit.
"Maaf, Kek. Boleh tanya? Ke mana keluarga kakek?" tanya Luo Chen, melihat kesedihan di mata kakek pemilik rumah.
Kakek itu tersenyum dan menatap ke arah atap rumah. "Mereka semua telah tiada, sudah hampir 12 tahun yang lalu. Jika cucuku masih hidup, mungkin dia seumuran denganmu," tatapan sendu terlihat di mata kakek itu.
"Maaf, Kek. Saya tidak bermaksud mengungkit masa lalu kakek," ujar Luo Chen dengan tatapan penuh empati.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah membuat kakek bercerita. Rasanya lega. Dan karena kamu bersikeras ingin membeli rumah dan toko kakek," kakek melanjutkan, berusaha merelakan masa lalunya, "maka kakek persilakan. Daripada rumah dan toko ini tidak terurus dan hancur saat kakek meninggal."
Luo Chen terdiam, merasa tidak enak, tetapi dia juga butuh rumah serta toko itu. "Tapi, jika saya membeli rumah dan toko kakek, di mana kakek akan tinggal? Kakek tidak punya kerabat."
Kakek pemilik rumah terdiam mendengarnya. "Mungkin aku akan ke desa terdekat, membangun sebuah rumah atau membeli rumah, lalu menikmati sisa-sisa waktu hidupku. Aku yakin uang dari penjualan ini cukup."
Mereka berdua terdiam, ruangan itu terasa sepi, hanya semilir angin yang terdengar. Akhirnya, Luo Chen membuka pembicaraan lagi untuk negosiasi.
"Aku punya saran, Kek. Bagaimana jika rumah dan toko kakek dijual, tetapi kakek tetap tinggal di sini? Daripada di desa tanpa teman bicara."
"Lebih baik kakek di sini, bukan? Anggap kami semua sebagai anggota keluarga kakek yang baru. Kakek juga bisa melihat rumah dan toko yang dulu kakek punya terawat dengan baik," ujar Luo Chen, teringat betapa menyakitkannya rasa kesepian.
"Nak Chen, bolehkah aku menganggap anak-anak di luar serta kamu menjadi cucuku?" pinta kakek pemilik rumah, sambil meneteskan air mata.
"Boleh, Kek. Silakan saja," sahut Luo Chen sambil tersenyum ramah.
"Terima kasih, Chen'er." Kakek itu segera memeluk Luo Chen tanpa ragu, merasakan kembali kehangatan yang sudah lama hilang.
"Sudah, kamu tidak perlu membayar. Kalian bisa tinggal dan menggunakan toko kakek sesuka kalian," gumam kakek itu, sambil terus memeluk Luo Chen.
Luo Chen sendiri tidak merasa keberatan dipeluk, ia memahami betul bagaimana rasanya kesepian selama bertahun-tahun, tanpa ada yang menemani.
Setelah beberapa menit berlalu, kakek itu tersadar dan segera melepaskan pelukannya. Luo Chen langsung berjalan ke depan untuk memberi tahu yang lain agar segera masuk.
"Heii, cepat kalian masuk! Kita bersihkan area rumah ini dan renovasi. Tetapi, biarkan pagar di sekeliling tetap terlihat seram," ujar Luo Chen sambil melangkah masuk.
Semua orang akhirnya masuk rumah, dan Luo Chen menarik tangan kakek pemilik rumah. "Mulai sekarang, kakek ini akan menjadi keluarga kalian. Anggap dia sebagai kakek kandung, ya?"
"Yeyyy, kita punya kakek!" ujar anak kecil yang langsung berlari ke arah kakek pemilik rumah dan segera memeluknya.
"Aku sudah lama ingin punya kakek," satu anak mulai menyusul.
"Aku juga ingin dipeluk, Kakek!" akhirnya semua anak kecil mendapat pelukan dari kakek baru mereka.
Kakek pemilik rumah merasakan kehangatan yang sudah lama tak dirasakannya. Rasa kesepian di hatinya perlahan menghilang sepenuhnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Aman 2016
Joss gandos mantab Thor lanjut
2024-10-24
1