Di ruang makan villa yang nyaman dan luas, suasana terasa begitu hangat. Semua orang duduk melingkar di sekitar meja besar, menikmati hidangan yang tersaji.
Setiap gigitan makanan diselingi dengan tawa dan obrolan yang mengalir tanpa henti. Luo Huang Chen, yang duduk di tengah, tersenyum tipis melihat keluarganya yang baru, saling berbagi cerita dan canda.
Suara piring yang bergemerincing saat mereka makan menambah kesan damai. Paman Zo tertawa keras ketika paman Huang Za menceritakan lelucon konyol tentang pengalaman masa mudanya.
Anak-anak ikut tertawa, wajah mereka penuh kegembiraan. Obrolan hangat tentang masa lalu, harapan masa depan, dan rencana ke depan menjadi pengisi malam itu.
Kehangatan yang tercipta di antara mereka membuat semua orang bersyukur karena dipersatukan oleh satu sosok yang mereka hormati dan kagumi: Luo Huang Chen.
Setelah semua makanan dihabiskan, dan suasana perlahan menjadi lebih tenang, tiba-tiba, semua orang di ruangan itu berdiri dari kursi mereka secara serempak.
Luo Huang Chen, yang masih duduk, menatap mereka dengan bingung, belum menyadari apa yang akan terjadi. Paman Huang Za, dengan nada tegas dan penuh rasa hormat, membungkukkan badan setengah sambil berkata lantang, "Terima kasih, Tuan Muda Luo, atas semua yang telah kau lakukan untuk kami."
Hening sejenak meliputi ruangan, sebelum akhirnya semua orang di sana ikut menundukkan badan setengah, sambil mengulang dengan serempak kalimat yang sama, "Terima kasih, Tuan Muda Luo, atas semua yang telah kau lakukan untuk kami."
Luo Huang Chen terkejut, tak menyangka akan mendapatkan penghormatan sebesar itu. Matanya berkedip beberapa kali, dan ia merasa seolah terhanyut dalam perasaan haru.
Namun, dengan cepat ia menenangkan diri, berdiri dari tempat duduknya, lalu mengangkat tangannya perlahan, memberi isyarat agar semua orang kembali duduk.
"Tenang, tenang," kata Luo Huang Chen dengan senyum hangat. "Tidak perlu seperti ini, aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Aku berterima kasih kepada kalian semua karena telah menerima aku dengan tangan terbuka dan menjadikan aku bagian dari keluarga ini."
Saat semua orang duduk kembali, Luo Huang Chen melanjutkan, "Sekarang, ada sesuatu yang penting yang ingin aku bicarakan. Ada rencana yang harus kita siapkan untuk masa depan kita bersama."
Suasana yang tadinya dipenuhi tawa riang dan percakapan ringan berubah menjadi lebih serius ketika Luo Huang Chen menatap semua orang yang hadir, terutama para paman, bibi, dan anak-anak yang kini merupakan keluarganya.
Luo Huang Chen menarik napas dalam-dalam sebelum memulai percakapannya, nadanya lebih tenang dan berat. "Aku ingin berbicara tentang sesuatu yang penting. Ini terkait dengan masa lalu dan masa depan kita."
Semua orang di ruangan mendengarkan dengan seksama, suasana menjadi hening saat kata-kata Luo Huang Chen mulai menggantung di udara.
"Seperti yang kalian tahu," lanjutnya, menatap mereka satu per satu, "kakek Wu, salah satu orang yang paling aku hormati, meninggal karena pengkhianatan beberapa orang yang dulu seharusnya berdiri di sisinya. Kematian itu bukan kebetulan, dan aku tidak bisa membiarkan hal ini berlalu begitu saja. Tujuanku saat ini adalah mencapai puncak kultivasi, mendirikan sekte sendiri, dan membalaskan dendam kakek."
Ekspresi wajah orang-orang di sekelilingnya berubah menjadi serius, meski mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tahu bahwa Luo Huang Chen adalah pemimpin yang kuat dan bijaksana, tetapi mendengar tujuan ini langsung dari mulutnya menambah beban di hati mereka.
"Memang terdengar egois," tambah Luo Huang Chen, tersenyum samar, "tetapi ini adalah jalanku sekarang. Dan aku butuh kalian untuk tetap kuat di sini."
Paman Huang Za, yang duduk tak jauh dari Luo Huang Chen, mengangguk setuju, tetapi matanya menunjukkan keprihatinan. "Kami selalu bersama denganmu, Tuan Muda. Apa pun yang kau butuhkan, kami siap melakukannya."
Luo Huang Chen mengangguk, merasa didukung. "Karena itu, aku ingin kalian semua—baik yang muda maupun yang tua—mulai berlatih dan meningkatkan kultivasi kalian. Aku akan memberikan beberapa ratus buku metode kultivasi, teknik bela diri, sihir, teknik array, alkimia, dan banyak lagi. Aku yakin di antara kalian pasti ada yang akan menemukan sesuatu yang cocok dengan bakat dan minat masing-masing."
Mendengar ini, antusiasme mulai muncul di wajah orang-orang. Bahkan anak-anak yang tadinya hanya mendengarkan dengan tenang, kini mulai bersemangat. Mereka tahu bahwa kesempatan seperti ini sangat berharga.
"Aku ingin kalian menyiapkan satu ruangan khusus untuk menyimpan semua buku itu," lanjut Luo Huang Chen. "Setidaknya harus ada sepuluh rak buku di sana. Kalian akan belajar dari sana, dan aku berharap kalian bisa lebih kuat, bukan hanya untuk melindungi diri, tapi juga untuk masa depan keluarga kita."
Beberapa orang di ruangan itu, termasuk Paman Za dan Paman Zo, saling pandang. Mereka tahu bahwa ini bukan hanya tentang latihan fisik, tetapi juga kesempatan untuk mendalami berbagai teknik yang akan mengubah hidup mereka.
"Jangan khawatir tentang biaya kehidupan," lanjut Luo Huang Chen, "Aku akan meninggalkan empat platinum sebagai tambahan modal untuk kalian. Gunakan itu untuk meningkatkan usaha atau membuka cabang baru. Kalian bebas memutuskan, tetapi yang penting adalah kalian bisa hidup dengan nyaman selama aku pergi."
Seorang bibi yang duduk di sudut ruangan, yang tampak seperti pemilik salah satu usaha keluarga, tersenyum dengan rasa terima kasih. "Terima kasih, Tuan Muda. Kami akan memastikan setiap koin digunakan dengan baik."
"Aku akan pergi dalam dua hari," Luo Huang Chen menginformasikan lebih lanjut. "Aku perlu meningkatkan kultivasi di luar kota selama dua bulan. Selama aku pergi, kalian bisa berlatih sparing dengan Paman Si Lian Hua. Dia juga akan menjaga kalian semua."
Si Lian Hua, yang duduk di sebelah Luo Huang Chen, tersenyum tipis dan memberi anggukan. "Aku akan menjaga mereka sebaik mungkin, Tuan Muda. Kalian semua tidak perlu khawatir."
Semua orang di ruangan itu tampak lega sekaligus bersemangat. Mereka tahu bahwa dua bulan tanpa Luo Huang Chen akan sulit, tetapi dengan persiapan yang diberikan dan bimbingan Si Lian Hua, mereka yakin bisa menjalani masa itu dengan baik.
"Jadi, mulai sekarang, aku ingin kalian berjanji," ucap Luo Huang Chen, melihat setiap wajah di ruangan itu. "Berjanji bahwa kalian akan terus belajar, terus berusaha, dan tidak akan mengecewakanku."
Orang-orang yang hadir, dari anak kecil hingga yang tua, menganggukkan kepala mereka dengan semangat. Dalam hati mereka, janji itu telah tertanam—janji untuk menjadi lebih kuat, demi diri mereka sendiri dan demi Luo Huang Chen.
Setelah semua hal penting dibicarakan, suasana di ruangan kembali menjadi lebih ringan. Namun, di balik itu semua, setiap orang di sana merasa diberdayakan dan siap untuk menjalani hari-hari berikutnya dengan tekad yang lebih besar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments