Pagi datang dengan sinar matahari yang menembus pepohonan di sekitar villa, memberikan nuansa damai setelah malam panjang yang dilalui. Di dalam villa, kesibukan mulai terasa.
Semua orang yang tinggal di sana bergegas menjalankan tugas mereka. Sebagian orang sedang membersihkan villa, sementara yang lainnya berada di dapur, menyiapkan makanan untuk sarapan bersama.
Kakek Luo Huang Ma, yang memiliki peran sebagai penanggung jawab sementara, mengumpulkan semua orang untuk berkumpul di tengah rumah besar itu, kecuali Luo Huang Chen yang sedang berlatih pedang sendirian di lapangan depan.
"Semua orang, mari kita kumpul sejenak," panggil kakek Luo Huang Ma sambil melambaikan tangannya. Suaranya tegas, namun penuh dengan kasih sayang seperti seorang ayah yang mengarahkan anak-anaknya.
Orang-orang yang sedang membersihkan atau memasak menghentikan sejenak aktivitas mereka dan mulai berkumpul di ruang utama. Paman Za, Si Lian Hua, dan yang lainnya dengan cepat berkumpul, termasuk anak-anak yang berlarian riang menuju tengah rumah.
Saat semua orang sudah berkumpul, kecuali Luo Huang Chen, kakek Luo Huang Ma mulai berbicara dengan suara yang tenang namun penuh perhatian.
"Baiklah, hari ini kita akan membahas tentang struktur villa ini. Villa ini sebenarnya lebih besar daripada yang terlihat di permukaan. Selain lapangan luas di depan dan belakang, serta kolam renang yang ada di belakang villa, bangunan ini memiliki tiga lantai di atas tanah, tapi ada delapan lantai di bawah tanah."
Mata orang-orang terbelalak mendengar itu. Mereka tidak pernah menyangka bahwa villa tempat mereka tinggal menyimpan rahasia besar di bawah tanah.
"Selain delapan lantai bawah, ada lantai ke-9 yang merupakan tempat rahasia. Kita masih belum tahu apa yang ada di lantai itu, tetapi lantai lainnya kosong, kecuali lantai pertama yang dipenuhi dengan rak-rak buku," lanjutnya.
Kakek Luo Huang Ma kemudian menjelaskan bahwa mereka harus membersihkan dan menata buku-buku di lantai bawah tersebut. "Rak-rak buku yang ada di sana mungkin berjumlah ratusan, atau bahkan ribuan. Kalian harus mengatur rak-rak buku tersebut dengan rapi, bahkan kalau perlu, lakukan pembagian tempat agar mudah mencari buku saat dibutuhkan. Atur tata letaknya dengan sistematis. Itu tugas utama kita hari ini," katanya dengan senyum kecil di wajahnya.
Semua orang mendengarkan dengan seksama, dan semangat mulai terpancar di wajah mereka. Mereka merasa antusias untuk segera melihat betapa luas dan misteriusnya lantai bawah tersebut.
Setelah semua penjelasan selesai, kakek Luo Huang Ma memberikan kebebasan kepada mereka untuk memilih kamar sesuka hati di lantai atas. Villa ini memiliki ratusan kamar yang tersebar dari lantai pertama hingga lantai kedua.
Namun, ada satu kamar yang lebih mewah dari yang lain, dan setiap orang tampaknya sepakat bahwa kamar itu pantas untuk Luo Huang Chen.
Setelah semua penjelasan selesai, mereka mulai bergerak kembali ke tugas mereka masing-masing. Obrolan santai terjadi di beberapa sudut villa, sementara yang lain bersemangat untuk segera menyelesaikan tugas membersihkan dan menata buku di lantai bawah.
Di salah satu pojok ruangan di lantai bawah, tepatnya di lantai pertama, Luo Huang Bao, Luo Huang Jun, dan Luo Huang Kong sedang sibuk membersihkan rak-rak buku.
Debu tebal menyelimuti buku-buku yang tampaknya sudah lama tidak tersentuh. Namun, semangat mereka tak surut, bahkan obrolan santai mulai mengalir di antara ketiganya.
“Bao, kamu ingin belajar teknik bela diri apa?” tanya Luo Huang Jun sambil mengelap rak buku di depannya. Ia sesekali melihat ke arah buku-buku yang tampak menarik perhatian.
“Aku sudah pasti ingin belajar teknik bela diri dengan pedang,” jawab Luo Huang Bao sambil tersenyum. Tangannya terampil menggeser beberapa buku ke rak yang lebih rapi. “Pedang selalu membuatku merasa kuat, bisa mengalahkan musuh dengan serangan cepat.”
Luo Huang Jun tertawa kecil. “Pedang itu memang hebat, tapi aku lebih tertarik dengan bela diri tangan kosong. Rasanya lebih menantang, kita bisa mengandalkan kekuatan fisik sepenuhnya. Bayangkan melawan musuh tanpa senjata, hanya dengan tangan kosong, dan tetap bisa menang.”
Luo Huang Kong, yang sedang menata buku di rak sebelah, ikut masuk dalam percakapan. “Aku sih lebih tertarik dengan teknik memanah. Jarak jauh adalah keahlianku. Bayangkan membidik musuh dari kejauhan, satu anak panah langsung menghentikan langkah mereka sebelum mereka mendekat.”
“Hebat, ya. Kalau kita bertiga menguasai semua itu, kita bisa jadi tim yang kuat,” kata Luo Huang Bao dengan semangat. “Pedang, tangan kosong, dan panah, gabungan yang sempurna.”
Ketiganya tertawa ringan sambil terus bekerja. Mereka tak menyadari bahwa semangat mereka terdengar oleh Luo Huang Chen, yang baru saja tiba di lantai bawah setelah selesai berlatih pedang. Dengan senyum kecil, Luo Huang Chen mendekat ke arah mereka.
“Kalian benar-benar bersemangat, ya,” ujar Luo Huang Chen dengan nada hangat. Suaranya membuat ketiganya tersentak kaget.
“Oh, Tuan Muda!” kata Luo Huang Bao sambil menunduk hormat. “Kami hanya sedang berbicara tentang keinginan kami untuk belajar teknik bela diri. Kami ingin menjadi kuat seperti Tuan Muda.”
Luo Huang Chen tersenyum, lalu mendekat ke rak buku yang sedang mereka bersihkan. “Itu adalah impian yang luar biasa. Aku senang mendengar kalian punya keinginan untuk belajar. Ingat, menjadi kuat itu bukan hanya tentang fisik, tapi juga tentang mental. Pedang, tangan kosong, atau panah, semua itu hanyalah alat. Kekuatan sejati datang dari hati kalian.”
Ketiganya mendengarkan dengan penuh perhatian. Motivasi yang diberikan Luo Huang Chen membuat semangat mereka semakin membara.
“Yang penting kalian belajar dengan disiplin, latih tubuh kalian, latih pikiran kalian. Tidak ada yang tidak mungkin. Semua impian bisa kalian capai selama kalian punya tekad dan dedikasi. Jangan pernah ragu untuk bermimpi besar. Aku percaya, kalian semua akan mampu mencapai impian itu,” lanjut Luo Huang Chen, tatapannya penuh keyakinan.
Kata-kata Luo Huang Chen itu menumbuhkan tekad baru di hati mereka bertiga. Mereka merasa lebih yakin akan masa depan mereka, dan tekad untuk belajar dan berlatih semakin kuat.
“Terima kasih, Tuan Muda,” kata Luo Huang Jun dengan nada rendah, namun penuh semangat.
“Terima kasih banyak,” tambah Luo Huang Kong.
Luo Huang Chen menepuk bahu mereka bertiga dengan senyum penuh kebanggaan, kemudian berbalik meninggalkan mereka untuk melanjutkan tugas mereka.
Ketiganya kembali bekerja, namun kini dengan semangat yang lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka tahu, di bawah bimbingan Luo Huang Chen, mereka akan tumbuh menjadi kuat dan tak terkalahkan.
Setelah memberikan motivasi, Luo Huang Chen kembali berjalan menuju bagian lain dari villa, meninggalkan ketiganya yang kini dipenuhi semangat baru.
Mereka bertiga saling berpandangan sejenak, lalu mulai bekerja dengan kecepatan dan ketekunan yang lebih besar.
Setiap buku yang mereka tata kini terasa lebih bermakna, seolah menjadi bagian dari perjalanan panjang yang akan membawa mereka menuju impian yang lebih tinggi.
“Lihat, bahkan hanya dengan kata-kata, Tuan Muda bisa membangkitkan semangat kita,” kata Luo Huang Bao sambil tersenyum.
“Benar,” jawab Luo Huang Kong sambil menepuk rak buku yang sudah rapi. "Aku jadi semakin tak sabar untuk mulai berlatih."
Luo Huang Jun mengangguk setuju. "Ini baru permulaan. Perjalanan kita masih panjang, tapi aku yakin dengan semangat ini, kita bisa mencapai puncak."
Mereka bertiga kembali sibuk dengan pekerjaan mereka, namun kali ini ada perasaan kuat bahwa mereka bukan sekadar menata buku, melainkan mempersiapkan diri untuk masa depan yang gemilang.
Mereka tahu, di bawah bimbingan Luo Huang Chen, semua impian dan harapan mereka akan terwujud. Tidak ada kata menyerah, karena mereka sekarang percaya bahwa di depan mereka terbentang jalan menuju kekuatan dan kemuliaan.
Luo Huang Chen, yang berjalan menjauh, sesekali menoleh ke belakang dan melihat mereka dengan tatapan bangga. Ia tahu bahwa kelompok ini, keluarga barunya, akan menjadi sekutu yang kuat dalam perjalanannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments