"Heii bocahh tengik, sudah ku bilang untuk istirahat bukan? Taruh buku itu, besok akan aku jelaskan," ujar Guru Wu yang tiba-tiba muncul entah dari mana.
"Iya, iya, Guru Wu," sahut Luo Chen sambil menaruh buku di genggamannya dan segera naik ke tempat tidur.
"Dasar anak ini, terlalu bersemangat. Mungkin mulai besok aku akan ajarkan dia latihan dasar," pikir si kakek tua sambil berdiri di depan pintu kamar.
Waktu terus berjalan, hanya angin malam yang berhembus, membuat suasana sedikit mencekam. Perlahan, malam berganti pagi, dan matahari mulai muncul dari balik cakrawala, mengakhiri ketenangan malam.
"Chen'er, bangun sekarang," ucap Guru Wu sambil membalik tempat tidur Luo Chen dengan kasar.
"Ahhh, iya Guru," sahut Luo Chen, menggosok matanya yang masih mengantuk sebelum keluar dari kamar.
"Ini masih pukul lima pagi. Kalau mau mandi, isi dulu tong air di belakang rumah dengan air sungai."
"Embernya di mana, Guru? Dan sungainya ke arah mana?" tanya Luo Chen, langsung tanpa basa-basi.
"Embernya ada di samping tong, dan ikuti saja jalan setapak di samping rumah untuk sampai ke sungai," jawab Guru Wu dengan senyum sinis, seolah menantang Luo Chen.
Tanpa menunggu lebih lama, Luo Chen segera mengambil ember dan bergegas mengikuti jalan setapak yang dibuat Guru Wu menuju sungai.
"Semoga bocah itu bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik," pikir Guru Wu, mengingat masa lalu dan murid-murid yang pernah ia ajar.
Di sisi lain, Luo Chen terus berjalan di tengah hutan, hanya ditemani suara langkah kakinya yang menggema. Jalanan tampak sepi, membuat suasana hutan menjadi agak menakutkan.
"Tiba-tiba, 'Boommmm,' sebuah ledakan keras terdengar dari sisi kiri Luo Chen. Seekor Gaurguin, monster seperti kerbau berbulu tebal, muncul dari dalam semak belukar dan langsung menyerang!"
Namun, Gaurguin itu terhantam sesuatu yang tak kasat mata dan terpental ke belakang, berusaha menyerang kembali tapi terhenti lagi oleh penghalang tak terlihat.
"Apa yang baru saja terjadi?" Luo Chen mendekati penghalang tersebut, mengulurkan tangan untuk menyentuhnya. "Apakah ini semacam penghalang energi?"
"Bocah, kenapa kau berhenti di situ?" suara Guru Wu tiba-tiba terdengar dari kejauhan, membuat Luo Chen terlonjak kaget.
"Aku hanya ingin memastikan ini, Guru. Apakah ini semacam Array pelindung?"
"Pandanganmu lumayan tajam juga. Memang benar, ini adalah Array pelindung yang aku buat agar kau aman selama menjalani latihan. Bahkan monster tingkat Legendary sekalipun akan kesulitan menembusnya," jawab Guru Wu tanpa memperdulikan Gaurguin yang mencoba merusak Array tersebut.
"Tingkat Legendary? Bagaimana caranya kita mengetahui tingkat monster, Guru?" tanya Luo Chen dengan rasa penasaran.
"Melalui aura yang mereka keluarkan. Coba tebak, Gaurguin ini berada di tingkat mana?"
"Mungkin di tingkat Unique, sekitar level 36?" tebak Luo Chen ragu.
"Salah! Gaurguin ini hanya berada di tingkat Ultra Rare, level 29. Kau bisa mengetahuinya dari energi yang mengelilingi tubuhnya," jawab Guru Wu dengan yakin.
"Menarik," gumam Luo Chen, mencoba mencerna semua penjelasan itu.
Guru Wu lalu mengambil ranting kayu dari tanah dan mengayunkannya ke arah Gaurguin sambil bergumam, "Jurus Rasi Bintang Aquila."
Dari belakang Guru Wu, cahaya putih membentuk sosok elang raksasa yang terbang dengan kecepatan tinggi, menabrak Gaurguin dan memotongnya menjadi tiga bagian.
Sebuah mutiara merah muncul dari tubuh monster itu, bersinar terang dengan aura gelap yang mengerikan.
"Chen'er, coba lihat mutiara ini. Apa kau merasa nyaman berada di dekatnya?" tanya Guru Wu, memperlihatkan mutiara tersebut kepada Luo Chen.
"Jujur, aku merasa tidak nyaman, Guru. Seperti ada sesuatu yang menolak kehadirannya," jawab Luo Chen dengan jujur.
"Itulah energi negatif yang terkandung dalam Qi-nya. Mutiara ini bisa digunakan untuk meningkatkan kultivasi, tapi harus dimurnikan terlebih dahulu," jelas Guru Wu.
Luo Chen mendengarkan dengan seksama, semakin penasaran dengan dunia kultivasi yang sedang ia pelajari.
"Segala sesuatu di tubuh monster ini bisa berguna, mulai dari tulang hingga dagingnya. Bahkan, daging yang dimasak dengan benar bisa memberikan esensi energi bagi siapa pun yang memakannya," lanjut Guru Wu.
"Wow, begitu banyak hal yang bisa dipelajari dari monster. Kenapa Guru tidak menjualnya saja untuk mendapatkan keuntungan besar?" tanya Luo Chen.
Guru Wu tersenyum lebar, "Apa aku terlihat seperti orang yang butuh uang, bocah? Sekarang cepat selesaikan tugasmu dan pergi makan di dapur."
"Baik, Guru!" sahut Luo Chen, lalu bergegas menuju sungai tanpa membuang waktu lagi.
Beruntung, perjalanan untuk mengambil air berjalan lancar. Setelah enam kali bolak-balik membawa air, akhirnya tong di belakang rumah penuh.
Setelah beberapa jam berlalu, Luo Chen masih berjuang dengan batu-batu besar di halaman. Otot-ototnya terasa tegang dan lelah, tapi ia tetap gigih.
Setiap tarikan napas terasa berat, namun tekad di dalam dirinya semakin kuat. Ia tahu bahwa jalan menuju kekuatan bukanlah hal yang mudah, dan ini baru permulaan.
Guru Wu, yang sejak tadi berdiri di bawah pohon besar, memperhatikan setiap gerakan Luo Chen dengan mata tajam. Meskipun ia tampak acuh, sesungguhnya ia sangat memperhatikan perkembangan muridnya.
Setiap langkah Luo Chen, setiap keringat yang jatuh, semuanya merupakan cerminan dari semangat dan kerja keras. Guru Wu mengenal tipe orang seperti Luo Chen — anak yang tak pernah menyerah meski menghadapi kesulitan terbesar sekalipun.
Setelah beberapa batu berhasil diangkat dan dipindahkan, Luo Chen jatuh terduduk di tanah, napasnya terengah-engah. Kakinya gemetar, tubuhnya terasa lelah, namun senyum kecil tersungging di wajahnya.
"Aku... aku berhasil memindahkan semuanya, Guru," katanya dengan suara terbata-bata, menunjukkan kebanggaan dalam dirinya.
Guru Wu melangkah mendekati Luo Chen, menatapnya tanpa ekspresi sejenak, lalu tersenyum tipis. "Kau melakukan pekerjaan yang bagus hari ini, Chen'er. Tapi ingat, ini baru permulaan. Pelatihan fisik hanyalah satu bagian dari perjalanan panjangmu. Di masa depan, kau akan menghadapi tantangan yang jauh lebih berat. Jadi jangan cepat puas."
Luo Chen mengangguk, menyadari bahwa perjalanan kultivasinya baru saja dimulai. Ia menatap tangan dan kakinya yang terasa pegal, namun di dalam hatinya, ia merasa puas.
"Guru, kapan aku bisa mulai belajar menggunakan Qi seperti yang kau lakukan?" tanyanya dengan penuh antusiasme.
Guru Wu tertawa kecil. "Semua ada waktunya, bocah tengik. Qi adalah sesuatu yang tidak boleh dianggap enteng. Kau harus memahami dasar-dasarnya terlebih dahulu sebelum bisa menggunakannya dengan benar.
Untuk sekarang, fokuslah pada kekuatan fisikmu. Qi tanpa dasar yang kuat hanya akan menjadi pedang bermata dua — bisa melukai musuh, tapi juga bisa menghancurkan dirimu sendiri."
Luo Chen termenung, merenungkan kata-kata itu. Ia mulai memahami bahwa jalan menuju kekuatan bukanlah sesuatu yang bisa dipercepat. Setiap langkah, sekecil apapun, adalah bagian penting dari proses yang harus ia jalani.
"Baik, Guru. Aku akan terus berlatih dan mengasah kekuatanku," jawab Luo Chen dengan tekad yang semakin membara. Ia tahu bahwa di balik setiap pelajaran yang diberikan Guru Wu, tersimpan kebijaksanaan yang akan membantunya di masa depan.
Hari itu, meskipun tubuhnya lelah dan otot-ototnya terasa kaku, Luo Chen merasa bahwa ia telah mengambil langkah pertama dalam perjalanan yang panjang dan penuh tantangan.
Dengan bimbingan Guru Wu, ia yakin suatu hari nanti akan mencapai kekuatan yang luar biasa, dan mungkin, suatu saat, ia akan mampu membalas segala kebaikan gurunya.
Matahari semakin tinggi di langit, menandakan awal dari hari yang baru, penuh dengan harapan dan tantangan. Luo Chen bangkit dari tanah, membersihkan debu dari pakaiannya, dan dengan semangat baru, ia melanjutkan latihannya, bersiap untuk menghadapi apa pun yang akan datang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
herry bjb
bocah umur lima tahun dan tinggal di panti sdh tau arai pelindung dan yg janggal juga di suruh bangun sdh tau kalau masih pukul lima...memangnya ada jam...
2024-10-24
2
Ef
Sejauh ini, konflik utama dan tujuan protagonis belum jelas. Plotnya juga belum tahu arahnya kemana, tapi untuk penulisannya udah bagus. Semangat torr💪🏻💪🏻💪🏻
2024-10-20
5
Halu
untuk nama tingkatan sih keren tapi level nya yg kebanyakan, coba di bikin simpel levelnya
2024-10-19
1