Matahari perlahan tenggelam, meninggalkan semburat warna indah seperti kenangan yang tersapu waktu. Pintu gerbang sebuah villa berderit terbuka, menampakkan seorang pemuda yang berjalan masuk dengan sebilah pedang tersarung di pinggangnya. Di wajahnya tergambar sedikit kelelahan, namun ada keteguhan yang tak bisa disembunyikan.
"Krekkk," gerbang itu membuka jalan menuju halaman luas yang dihiasi tanaman rapi. Dari luar, suasana villa tampak menyeramkan, penuh bayangan pepohonan tinggi dan tembok batu tua yang mencerminkan waktu, namun begitu masuk ke dalam, pemandangannya berbanding terbalik—halaman dalamnya dipenuhi keindahan yang terawat. Tanaman-tanaman berbunga mekar dengan sempurna, seolah menepis segala kesan kegelapan yang terlihat dari luar.
Pemuda itu melangkah menuju pintu villa. Di depannya, lampu-lampu menyala dengan cahaya yang meredup, memberikan kesan suram pada suasana malam yang mulai gelap. Saat pintu terbuka, kilauan cahaya terang dari dalam rumah menyambutnya dengan hangat.
Kontras dengan suasana gelap di luar, di dalam, villa itu penuh keceriaan. Orang-orang tampak sibuk dengan aktivitas masing-masing, bercakap-cakap, tertawa, dan mengerjakan tugas-tugas harian dengan penuh semangat.
"Tuan Muda, bagaimana keadaanmu? Apakah ada luka yang parah? Ceritakan apa yang terjadi!" tanya seorang lelaki paruh baya berotot, segera menghampiri Luo Huang Chen dengan nada cemas. Lelaki itu adalah Paman Za, yang selalu tampak tegas namun penuh kasih sayang kepada Luo Huang Chen.
"Heii Kak Za, tuan muda baru saja kembali, jangan langsung menanyakan banyak hal seperti itu," sambar Paman Zo, yang baru saja muncul dari dapur.
Tangan Paman Zo masih basah dengan air, menandakan ia baru saja selesai mencuci sayuran untuk makan malam. Kehangatan dapur terasa di sekelilingnya, dan aroma makanan yang dimasak mulai memenuhi ruangan.
"Iya, tapi tadi tuan muda pergi sendirian. Kita tidak tahu apa yang dia hadapi di luar, seberapa berbahaya itu, dan kita hanya bisa meninggalkannya sendiri!" Nada Paman Za terdengar tinggi tanpa disadarinya, mencerminkan kecemasan yang dirasakannya sepanjang waktu.
"Kak Za, jangan berteriak seperti itu di hadapan..."
"Sudahlah, Paman," sela Luo Huang Chen dengan tenang. Meski nada suaranya lembut, ada ketegasan yang tersirat dalam kalimatnya.
"Aku tahu kalian ingin membantu, tapi dalam situasi ini, justru akan menjadi beban jika kalian ikut. Tenang saja, masalah tadi sudah selesai, bahkan dia sekarang berada di pihak kita."
Luo Huang Chen tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Aku berharap kalian bisa memperlakukannya dengan baik. Anggap dia sebagai bagian dari keluarga kita. Tugasnya adalah menjaga kalian selama aku pergi untuk berkultivasi."
Setelah suasana mulai mereda, "Tok," suara ketukan terdengar dari arah pintu, menarik perhatian semua orang. Pintu terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan pakaian serba hitam serta pedang tersarung di pinggangnya memasuki rumah dengan langkah santai. Setiap gerakannya terlihat tenang, namun penuh kehati-hatian, seolah-olah ia siap menghadapi serangan kapan saja.
"Hai, apakah aku mengganggu?" ucap pria tersebut sambil melangkah masuk lebih jauh. Wajahnya tampak keras, dengan sedikit bekas luka di sudut alisnya, mungkin akibat pertarungan masa lalu yang tak terhitung jumlahnya.
Semua orang di dalam ruangan terdiam, saling memandang penuh tanda tanya. Mereka bertanya-tanya dalam hati, siapa pria itu sebenarnya, dan apa tujuannya berada di sini.
Luo Huang Chen memecah keheningan, "Semua, inilah paman yang aku ceritakan. Aku berharap kalian bisa hidup akur satu sama lain, ingat bahwa kita semua adalah keluarga di sini. Jangan sampai ada perbedaan perlakuan."
Setelah itu, ia menambahkan, "Paman, bisa tolong memperkenalkan diri agar lebih nyaman dipanggil?"
Dengan senyum ramah yang jarang terlihat dari wajah dinginnya, pria tersebut mulai berbicara, "Salam kenal semuanya, nama saya Si Lian Hua. Panggil saja Lian atau Hua. Tugas saya adalah menjaga kalian selama Tuan Muda Luo pergi berkultivasi. Jika kalian ingin berlatih denganku, itu juga tidak masalah." Suaranya tenang, namun penuh karisma, seperti seorang guru yang telah lama menjalani kehidupan yang keras.
Ia melanjutkan dengan sedikit lebih serius, "Sebenarnya, aku dulunya seorang pembunuh bayaran, namun telah berhenti sejak mendapat tawaran dari Tuan Muda. Aku mengerti jika kalian merasa takut atau ragu, dan aku tidak akan menyalahkan siapa pun jika ingin menjauh dariku."
Luo Huang Bao, salah satu dari anggota keluarga, maju mendekat dengan penuh keyakinan dan bertanya, "Paman Lian, apa paman terpaksa menjadi pembunuh bayaran?"
"Iya," jawab Lian Hua sambil tersenyum tipis. "Aku melakukannya demi putriku, satu-satunya keluarga yang aku miliki. Aku ingin dia memiliki kehidupan yang lebih baik, bisa masuk ke salah satu sekte besar agar masa depannya cerah."
Lian Hua berhenti sejenak, menghela napas dalam sebelum melanjutkan, "Saat ini dia berada di Sekte kelas 4, namanya Si Yue. Sektenya, kalau tidak salah, disebut Sekte Kehidupan Tumbuhan, atau semacamnya. Sekarang, dia juga membutuhkan biaya untuk naik ke sekte yang lebih tinggi."
Luo Huang Bao, yang tak tahan melihat ketegangan di wajah Lian Hua, tanpa ragu memberikan pelukan hangat kepada Si Lian Hua. "Capek ya, Paman? Mengurus semuanya sendirian. Sekarang paman tidak perlu khawatir, kami akan membantu," ucapnya penuh kehangatan, mencoba meredakan beban yang mungkin dirasakan Lian Hua selama ini.
"Ikuttt!" seru Luo Huang Niu, berlari menghampiri dan ikut memeluk Si Lian Hua. Anak-anak lain pun ikut bergabung tanpa rasa takut, seolah kehadiran Lian Hua bukanlah ancaman, melainkan bagian baru dari keluarga yang harus diterima dengan sepenuh hati.
"Ayo, Kak! Lama banget sih!" seru Luo Huang Hien sambil menarik lengan kakaknya, Luo Huang Kong, agar ikut bergabung dalam pelukan hangat itu.
Mereka semua tertawa riang, dan kehangatan keluarga mulai memenuhi seluruh ruangan. Para orang tua yang menyaksikan adegan tersebut hanya tersenyum penuh kasih.
"Jadi, paman kalian bertambah satu, ya?" ujar Kakek Luo Huang Ma, yang muncul dari dapur sambil membawa beberapa piring berisi makanan.
Aroma masakan yang sedap menyebar, membuat perut yang lapar semakin terasa. Ia menaruh makanan tersebut di atas karpet di tengah ruangan, bersiap menyantap makan malam bersama.
"Ayo semuanya, waktunya makan," ujar Luo Huang Chen, mengundang semuanya berkumpul di meja makan besar yang dipenuhi dengan hidangan lezat.
Malam itu menjadi saksi akan hangatnya keluarga yang bertambah besar, dengan Si Lian Hua yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari mereka.
Mereka pun makan malam dengan penuh tawa dan obrolan ringan. Namun di balik senyuman dan keceriaan, ada rasa penasaran terselip di hati Si Lian Hua.
Ia bertanya-tanya, mengapa Luo Huang Chen mempercayainya begitu cepat, meski baru beberapa saat yang lalu mereka bertarung hingga hampir saling membunuh? Tapi ia tak ingin merusak suasana. Malam itu adalah awal dari kehidupan barunya, dan mungkin, awal dari kepercayaannya pada orang lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments