Setelah suasana riang dan antusiasme melingkupi ruangan, Luo Huang Chen memandang semua orang dengan tegas, suaranya terdengar jelas dan penuh tekad.
"Besok siang, aku ingin ruangan khusus untuk menaruh semua buku siap. Kita tidak bisa menunda-nunda lagi. Semua harus segera belajar agar bisa meningkatkan kemampuan masing-masing," ucapnya seraya menatap orang-orang di sekelilingnya. "Kita harus bersiap, karena ini akan menjadi pondasi kita untuk masa depan yang lebih baik."
Orang-orang yang mendengarkan pernyataan Luo Huang Chen mengangguk penuh semangat. Mereka tahu betapa pentingnya hal ini, dan rasa tanggung jawab itu mulai terasa dalam hati mereka.
"Selain itu, aku juga berharap seluruh area dalam villa bisa segera dibersihkan. Buat tempat ini nyaman untuk kita tempati. Jangan biarkan ada sudut yang kotor atau tidak terurus," tambahnya, memerintahkan dengan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kita juga harus segera membagi kamar agar semuanya tertata dengan baik."
Paman Huang Za, yang berdiri tidak jauh dari Luo Huang Chen, segera angkat bicara. "Baik, Tuan Muda. Besok, kami akan memastikan semuanya beres. Ruangan akan siap untuk menaruh buku-buku itu, dan kami akan membagi kamar secepat mungkin."
Luo Huang Chen mengangguk, merasa puas dengan komitmen paman Za dan seluruh keluarganya. Namun, ia tahu ada satu hal yang perlu disampaikan. "Untuk malam ini, semua akan tidur di ruang depan dan ruang tengah. Geser kursi dan meja ke sisi ruangan, biar ada tempat untuk kita tidur bersama. Mungkin tidak nyaman, tapi kita bisa tidur di atas karpet, beralaskan kain seadanya. Yang penting bersih."
Semua orang langsung bergerak. Beberapa mulai menggeser meja dan kursi ke sudut-sudut ruangan, sementara yang lain menyiapkan karpet serta kain-kain yang akan mereka gunakan sebagai selimut.
Paman Zo berkomentar sambil membantu menggeser kursi besar ke pinggir. "Ini mungkin bukan cara tidur yang paling mewah, tapi bersama keluarga seperti ini, suasananya pasti terasa hangat."
Orang-orang lain tersenyum setuju, obrolan kecil dan tawa ringan terdengar saat mereka bekerja bersama, mengubah ruangan luas itu menjadi tempat tidur sementara.
Luo Huang Chen berdiri di samping, melihat semua yang terjadi dengan senyum tipis. Ia tahu, meskipun sederhana, momen kebersamaan ini sangat penting untuk mempererat hubungan di antara mereka.
Mereka tidak hanya bekerja sama untuk membersihkan ruangan atau belajar kultivasi, tapi juga membangun rasa kebersamaan yang akan mereka bawa ke masa depan.
"Baik," katanya, memecah keheningan sejenak, "Besok adalah awal dari segalanya. Kalian semua harus siap. Kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar, tapi aku yakin, kita bisa melaluinya bersama."
Semua orang mengangguk penuh keyakinan, dan malam itu, meskipun mereka tidur di lantai, suasana penuh harapan dan semangat terasa di seluruh villa.
Malam itu, suasana villa dipenuhi oleh keheningan, hanya terdengar suara desahan napas orang-orang yang terlelap dalam mimpi. Di dalam ruang depan dan ruang tengah, para penghuni villa terbaring di atas karpet lembut, beralaskan kain seadanya.
Kehangatan yang terpancar dari kebersamaan mereka menyelimuti seluruh villa, memberikan rasa aman dan nyaman. Namun, di tengah ketenangan itu, Luo Huang Chen perlahan berdiri dan melangkah keluar tanpa membangunkan siapa pun.
Dengan langkah hati-hati, ia menuju pintu depan villa, merasakan hembusan angin malam yang sejuk menyapa wajahnya. Saat tiba di tangga, ia duduk dan menatap ke langit.
Sinar rembulan yang cerah dan bintang-bintang berkelap-kelip tampak memukau. Hatinya dipenuhi rasa syukur atas apa yang telah ia lalui, serta harapan untuk masa depan keluarganya.
“Semoga kita semua diberi jalan yang cerah,” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kucintai lagi.”
Tanpa ia sadari, tiga sosok yang mengikutinya mendengar ucapan tersebut. Mereka adalah Paman Huang Za, Paman Si Lian Hua, dan Kakek Luo Huang Ma. Tanpa ragu, mereka mengambil posisi di samping Luo Huang Chen, menatap langit yang sama.
Paman Huang Za, yang berdiri di sampingnya, mengangguk penuh pengertian. “Tuan Muda, berkat pertemuan kita, aku tahu bahwa jalan hidupmu akan selalu membawa kita ke tempat yang lebih baik.
Tanpa dirimu, mungkin aku masih terjebak dalam kegelapan dan keputusasaan,” katanya dengan suara yang dalam dan penuh makna. “Kita semua berhutang budi padamu.”
“Benar,” sambut Paman Si Lian Hua. “Kau adalah kunci yang membebaskan kita dari rasa bersalah yang membelenggu hati. Pelajaran yang kau ajarkan lebih berharga dari nyawa kami, Tuan Muda.”
Luo Huang Chen terdiam mendengarnya, hatinya bergetar mendengar pengakuan mereka. Ia termenung sejenak, memikirkan apakah ia akan cukup kuat untuk menjaga kedamaian ini.
Kakek Luo Huang Ma, yang berdiri di belakang mereka, akhirnya angkat bicara. “Aku juga bersyukur atas pertemuan ini, Tuan Muda. Kau telah mengembalikan rasa yang sudah lama hilang dari hidupku. Rasa hampa dan bersalah yang membelenggu hatiku kini sirna, dan aku merasa bisa berlapang dada.”
Dengan nada tenang, ia melanjutkan, “Ingatlah, masa depan adalah hal yang pasti. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita harus tetap menjalani kehidupan ini. Tidak ada gunanya memikirkan hal-hal yang belum pasti, karena itu hanya akan mengganggu langkah kita ke depan.”
Luo Huang Chen menatap para paman dan kakeknya, merasakan beban yang lebih ringan di pundaknya. Senyumnya mengembang, menandakan rasa syukur yang mendalam.
“Terima kasih, semuanya. Kalian adalah keluarga terhebat yang pernah kumiliki. Bersama, kita akan mencapai puncak yang lebih tinggi.”
Mereka semua mengangguk, merasa terhubung oleh rasa saling mendukung dan cinta. Dalam kegelapan malam, di bawah sinar rembulan, mereka berjanji untuk menghadapi masa depan bersama, tidak peduli seberapa berat tantangan yang menanti.
Dengan semangat baru, mereka duduk bersama di tangga villa, membiarkan diri mereka tenggelam dalam bintang-bintang, merencanakan langkah-langkah yang akan mereka ambil di hari-hari mendatang.
Luo Huang Chen merenung sejenak, kata-kata kakek Luo Huang Ma bergema di pikirannya. Ia merasakan beban di dadanya mulai sedikit terangkat, memberikan ruang untuk harapan baru.
“Terima kasih, Kakek. Saya akan berusaha keras untuk melindungi semua orang di sini dan memastikan masa depan yang lebih baik,” ujarnya dengan tegas.
Paman Huang Za menepuk bahunya, “Kami akan selalu mendukungmu, Tuan Muda. Bersama, kita bisa mencapai apa pun yang kita impikan.”
Dengan semangat yang baru, mereka semua memutuskan untuk bersama-sama berlatih dan belajar, mempersiapkan diri untuk tantangan yang akan datang.
Kebersamaan ini menjadi fondasi bagi masa depan mereka, dan Luo Huang Chen merasa lebih yakin bahwa ia tidak sendiri dalam perjalanan ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments