Bab 19 Malam Tenang

Setelah suasana riang dan antusiasme melingkupi ruangan, Luo Huang Chen memandang semua orang dengan tegas, suaranya terdengar jelas dan penuh tekad.

"Besok siang, aku ingin ruangan khusus untuk menaruh semua buku siap. Kita tidak bisa menunda-nunda lagi. Semua harus segera belajar agar bisa meningkatkan kemampuan masing-masing," ucapnya seraya menatap orang-orang di sekelilingnya. "Kita harus bersiap, karena ini akan menjadi pondasi kita untuk masa depan yang lebih baik."

Orang-orang yang mendengarkan pernyataan Luo Huang Chen mengangguk penuh semangat. Mereka tahu betapa pentingnya hal ini, dan rasa tanggung jawab itu mulai terasa dalam hati mereka.

"Selain itu, aku juga berharap seluruh area dalam villa bisa segera dibersihkan. Buat tempat ini nyaman untuk kita tempati. Jangan biarkan ada sudut yang kotor atau tidak terurus," tambahnya, memerintahkan dengan ketegasan yang tak terbantahkan. "Kita juga harus segera membagi kamar agar semuanya tertata dengan baik."

Paman Huang Za, yang berdiri tidak jauh dari Luo Huang Chen, segera angkat bicara. "Baik, Tuan Muda. Besok, kami akan memastikan semuanya beres. Ruangan akan siap untuk menaruh buku-buku itu, dan kami akan membagi kamar secepat mungkin."

Luo Huang Chen mengangguk, merasa puas dengan komitmen paman Za dan seluruh keluarganya. Namun, ia tahu ada satu hal yang perlu disampaikan. "Untuk malam ini, semua akan tidur di ruang depan dan ruang tengah. Geser kursi dan meja ke sisi ruangan, biar ada tempat untuk kita tidur bersama. Mungkin tidak nyaman, tapi kita bisa tidur di atas karpet, beralaskan kain seadanya. Yang penting bersih."

Semua orang langsung bergerak. Beberapa mulai menggeser meja dan kursi ke sudut-sudut ruangan, sementara yang lain menyiapkan karpet serta kain-kain yang akan mereka gunakan sebagai selimut.

Paman Zo berkomentar sambil membantu menggeser kursi besar ke pinggir. "Ini mungkin bukan cara tidur yang paling mewah, tapi bersama keluarga seperti ini, suasananya pasti terasa hangat."

Orang-orang lain tersenyum setuju, obrolan kecil dan tawa ringan terdengar saat mereka bekerja bersama, mengubah ruangan luas itu menjadi tempat tidur sementara.

Luo Huang Chen berdiri di samping, melihat semua yang terjadi dengan senyum tipis. Ia tahu, meskipun sederhana, momen kebersamaan ini sangat penting untuk mempererat hubungan di antara mereka.

Mereka tidak hanya bekerja sama untuk membersihkan ruangan atau belajar kultivasi, tapi juga membangun rasa kebersamaan yang akan mereka bawa ke masa depan.

"Baik," katanya, memecah keheningan sejenak, "Besok adalah awal dari segalanya. Kalian semua harus siap. Kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar, tapi aku yakin, kita bisa melaluinya bersama."

Semua orang mengangguk penuh keyakinan, dan malam itu, meskipun mereka tidur di lantai, suasana penuh harapan dan semangat terasa di seluruh villa.

Malam itu, suasana villa dipenuhi oleh keheningan, hanya terdengar suara desahan napas orang-orang yang terlelap dalam mimpi. Di dalam ruang depan dan ruang tengah, para penghuni villa terbaring di atas karpet lembut, beralaskan kain seadanya.

Kehangatan yang terpancar dari kebersamaan mereka menyelimuti seluruh villa, memberikan rasa aman dan nyaman. Namun, di tengah ketenangan itu, Luo Huang Chen perlahan berdiri dan melangkah keluar tanpa membangunkan siapa pun.

Dengan langkah hati-hati, ia menuju pintu depan villa, merasakan hembusan angin malam yang sejuk menyapa wajahnya. Saat tiba di tangga, ia duduk dan menatap ke langit.

Sinar rembulan yang cerah dan bintang-bintang berkelap-kelip tampak memukau. Hatinya dipenuhi rasa syukur atas apa yang telah ia lalui, serta harapan untuk masa depan keluarganya.

“Semoga kita semua diberi jalan yang cerah,” gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku tidak ingin kehilangan orang-orang yang kucintai lagi.”

Tanpa ia sadari, tiga sosok yang mengikutinya mendengar ucapan tersebut. Mereka adalah Paman Huang Za, Paman Si Lian Hua, dan Kakek Luo Huang Ma. Tanpa ragu, mereka mengambil posisi di samping Luo Huang Chen, menatap langit yang sama.

Paman Huang Za, yang berdiri di sampingnya, mengangguk penuh pengertian. “Tuan Muda, berkat pertemuan kita, aku tahu bahwa jalan hidupmu akan selalu membawa kita ke tempat yang lebih baik.

Tanpa dirimu, mungkin aku masih terjebak dalam kegelapan dan keputusasaan,” katanya dengan suara yang dalam dan penuh makna. “Kita semua berhutang budi padamu.”

“Benar,” sambut Paman Si Lian Hua. “Kau adalah kunci yang membebaskan kita dari rasa bersalah yang membelenggu hati. Pelajaran yang kau ajarkan lebih berharga dari nyawa kami, Tuan Muda.”

Luo Huang Chen terdiam mendengarnya, hatinya bergetar mendengar pengakuan mereka. Ia termenung sejenak, memikirkan apakah ia akan cukup kuat untuk menjaga kedamaian ini.

Kakek Luo Huang Ma, yang berdiri di belakang mereka, akhirnya angkat bicara. “Aku juga bersyukur atas pertemuan ini, Tuan Muda. Kau telah mengembalikan rasa yang sudah lama hilang dari hidupku. Rasa hampa dan bersalah yang membelenggu hatiku kini sirna, dan aku merasa bisa berlapang dada.”

Dengan nada tenang, ia melanjutkan, “Ingatlah, masa depan adalah hal yang pasti. Kita mungkin tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi kita harus tetap menjalani kehidupan ini. Tidak ada gunanya memikirkan hal-hal yang belum pasti, karena itu hanya akan mengganggu langkah kita ke depan.”

Luo Huang Chen menatap para paman dan kakeknya, merasakan beban yang lebih ringan di pundaknya. Senyumnya mengembang, menandakan rasa syukur yang mendalam.

“Terima kasih, semuanya. Kalian adalah keluarga terhebat yang pernah kumiliki. Bersama, kita akan mencapai puncak yang lebih tinggi.”

Mereka semua mengangguk, merasa terhubung oleh rasa saling mendukung dan cinta. Dalam kegelapan malam, di bawah sinar rembulan, mereka berjanji untuk menghadapi masa depan bersama, tidak peduli seberapa berat tantangan yang menanti.

Dengan semangat baru, mereka duduk bersama di tangga villa, membiarkan diri mereka tenggelam dalam bintang-bintang, merencanakan langkah-langkah yang akan mereka ambil di hari-hari mendatang.

Luo Huang Chen merenung sejenak, kata-kata kakek Luo Huang Ma bergema di pikirannya. Ia merasakan beban di dadanya mulai sedikit terangkat, memberikan ruang untuk harapan baru.

“Terima kasih, Kakek. Saya akan berusaha keras untuk melindungi semua orang di sini dan memastikan masa depan yang lebih baik,” ujarnya dengan tegas.

Paman Huang Za menepuk bahunya, “Kami akan selalu mendukungmu, Tuan Muda. Bersama, kita bisa mencapai apa pun yang kita impikan.”

Dengan semangat yang baru, mereka semua memutuskan untuk bersama-sama berlatih dan belajar, mempersiapkan diri untuk tantangan yang akan datang.

Kebersamaan ini menjadi fondasi bagi masa depan mereka, dan Luo Huang Chen merasa lebih yakin bahwa ia tidak sendiri dalam perjalanan ini.

Episodes
1 Bab 1 Pertemuan
2 Bab 2 Hewan Iblis
3 Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4 Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5 Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6 Bab 6 Kontes Memancing
7 Bab 7 Pertarungan Sengit
8 Bab 8 Melangkah Maju
9 Bab 9 Lima Bersaudara
10 Bab 10 Bakat Memasak
11 Bab 11 Menuju Kota
12 Bab 12 Keluarga Tambahan
13 Bab 13 Perkenalan
14 Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15 Bab 15 Sedikit Ancaman
16 Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17 Bab 17 Kehangatan
18 Bab 18 Waktu Minim
19 Bab 19 Malam Tenang
20 Bab 20 Tiga Kendali
21 Bab 21 Kehangatan Keluarga
22 Bab 22 Langkah Awal
23 Bab 23 Memilih Kitab
24 Bab 24 Scorpius
25 Bab 25 Kepergian
26 Bab 26 Awal Pertarungan
27 Bab 27 Kekuatan
28 Bab 28 Air Terjun
29 Bab 29 Pertarungan Sengit
30 Bab 30 Puncak Pertarungan
31 Bab 31 Kedamaian
32 Bab 32 Harta Tak Terduga
33 Bab 33 Ruangan Rahasia
34 Bab 34 Lorong Gelap
35 Bab 35 Pemilik Harta
36 Bab 36 Tekanan
37 Bab 37 Pencerahan
38 Bab 38 Tempat Misterius
39 Bab 39 Harta Terakhir
40 Bab 40 Dua Lawan Satu
41 Bab 41 Sekte Elang Langit
42 Bab 42 Villa
43 Bab 43 Kehangatan
44 Bab 44 Obrolan Ringan
45 Bab 45 Persiapan
46 Bab 46 Topeng
47 Bab 47 VVIP
48 Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49 Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50 Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51 Bab 51 Ancaman
52 Bab 52 Ritual
53 Bab 53 Transaksi
54 Bab 54 Benua Tengah
55 Bab 55 Penginapan Kyabakura
56 Bab 56 Wanita Misterius
57 Bab 57 Pendamping Hidup
58 Bab 58 Perjalanan Romantis
59 Bab 59 Tepi Danau
60 Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61 Bab 61 Kebebasan
62 Bab 62 Perjalanan Baru
63 Bab 63 Dratiger
64 Bab 64 Perjalanan Laut
65 Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66 Bab 66 Lautan Luas
67 Bab 67 Sea Serpent
68 Bab 68 Dewa Scorpius
69 Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70 Bab 70 Mencari Petunjuk
71 Bab 71 Amarah
72 Bab 72 Akses Teleportasi
73 Bab 73 Perjalanan Berliku
74 Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75 Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76 Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77 Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78 Bab 78 Misi Berbahaya
79 Bab 79 Melawan Ice Snake
80 Bab 80 Misi Tuntas
81 Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82 Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83 Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84 Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85 Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86 Bab 86 Akhir Pertarungan
87 Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88 Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89 Menemukan Tujuan Baru
90 Menyusun Dasar Sekte
91 Mengundang Para Ahli
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan
2
Bab 2 Hewan Iblis
3
Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4
Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5
Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6
Bab 6 Kontes Memancing
7
Bab 7 Pertarungan Sengit
8
Bab 8 Melangkah Maju
9
Bab 9 Lima Bersaudara
10
Bab 10 Bakat Memasak
11
Bab 11 Menuju Kota
12
Bab 12 Keluarga Tambahan
13
Bab 13 Perkenalan
14
Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15
Bab 15 Sedikit Ancaman
16
Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17
Bab 17 Kehangatan
18
Bab 18 Waktu Minim
19
Bab 19 Malam Tenang
20
Bab 20 Tiga Kendali
21
Bab 21 Kehangatan Keluarga
22
Bab 22 Langkah Awal
23
Bab 23 Memilih Kitab
24
Bab 24 Scorpius
25
Bab 25 Kepergian
26
Bab 26 Awal Pertarungan
27
Bab 27 Kekuatan
28
Bab 28 Air Terjun
29
Bab 29 Pertarungan Sengit
30
Bab 30 Puncak Pertarungan
31
Bab 31 Kedamaian
32
Bab 32 Harta Tak Terduga
33
Bab 33 Ruangan Rahasia
34
Bab 34 Lorong Gelap
35
Bab 35 Pemilik Harta
36
Bab 36 Tekanan
37
Bab 37 Pencerahan
38
Bab 38 Tempat Misterius
39
Bab 39 Harta Terakhir
40
Bab 40 Dua Lawan Satu
41
Bab 41 Sekte Elang Langit
42
Bab 42 Villa
43
Bab 43 Kehangatan
44
Bab 44 Obrolan Ringan
45
Bab 45 Persiapan
46
Bab 46 Topeng
47
Bab 47 VVIP
48
Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49
Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50
Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51
Bab 51 Ancaman
52
Bab 52 Ritual
53
Bab 53 Transaksi
54
Bab 54 Benua Tengah
55
Bab 55 Penginapan Kyabakura
56
Bab 56 Wanita Misterius
57
Bab 57 Pendamping Hidup
58
Bab 58 Perjalanan Romantis
59
Bab 59 Tepi Danau
60
Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61
Bab 61 Kebebasan
62
Bab 62 Perjalanan Baru
63
Bab 63 Dratiger
64
Bab 64 Perjalanan Laut
65
Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66
Bab 66 Lautan Luas
67
Bab 67 Sea Serpent
68
Bab 68 Dewa Scorpius
69
Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70
Bab 70 Mencari Petunjuk
71
Bab 71 Amarah
72
Bab 72 Akses Teleportasi
73
Bab 73 Perjalanan Berliku
74
Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75
Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76
Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77
Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78
Bab 78 Misi Berbahaya
79
Bab 79 Melawan Ice Snake
80
Bab 80 Misi Tuntas
81
Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82
Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83
Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84
Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85
Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86
Bab 86 Akhir Pertarungan
87
Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88
Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89
Menemukan Tujuan Baru
90
Menyusun Dasar Sekte
91
Mengundang Para Ahli

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!