Sekitar sepuluh menit berlalu, akhirnya mereka melihat empat gubuk yang tidak layak pakai, dengan beberapa anak kecil berlarian di sekitar.
"Di sinilah kami tinggal, tuan muda. Silakan ikut saya masuk ke rumah," ujar paman paling muda, sementara paman yang lain menghampiri anak-anak kecil yang sedang bermain.
"Assalamualaikum, sayang. Sampeyan nduk endi?" ucap paman muda sambil membuka pintu gubuk.
"Wa'alaikumsalam. Sampun bali, Mas. Lah, niki sinten?" tanya istri paman muda, yang ternyata sedang hamil besar.
"Niki tamune, Mas. Maaf, tuan muda, hampir lupa memperkenalkan diri. Saya Huang Zo, istri saya ini bernama Huang Yi."
"Perkenalkan, saya Luo Chen. Jangan terlalu serius begitu, Paman Zo," sahut Luo Chen sambil tersenyum ramah.
"Iyaa, tuan muda," balas Huang Zo, sambil tersenyum melihat keramahan Luo Chen.
"Biar aku buatkan teh," ucap istri Huang Zo hendak ke belakang, namun lengannya ditahan.
"Sayang, kamu duduk saja menemani tuan muda. Biarkan aku yang membuatkan di belakang. Ingat, jaga diri baik-baik dan jaga bayi kita," ujar Huang Zo dengan nada penuh kelembutan.
"Tuan muda, silakan duduk. Saya tinggal ke belakang sebentar," Huang Zo segera pergi untuk membuat teh untuk Luo Chen.
Luo Chen terdiam, menyaksikan adegan kemesraan itu. Tanpa merespon apapun, dia segera duduk di tikar, dan istri Huang Zo juga ikut duduk, namun sedikit menjaga jarak.
"Nona? Boleh aku bertanya?" Luo Chen membuka pembicaraan.
"Boleh, memang mau tanya tentang apa ya?" tanya istri Huang Zo seraya tersenyum ramah.
"Apa pekerjaan Huang Zo setiap hari? Lalu bahasa apa yang kalian gunakan itu?" ucap Luo Chen sambil mengingat beberapa kosa kata yang disebutkan tadi.
"Suamiku bekerja sebagai pemburu. Terkadang ia juga mencari buah atau tumbuhan dari hutan. Untuk bahasa, kami menggunakan bahasa khas benua selatan, yakni Bahasa Java."
"Tunggu, apakah kalian tidak takut diserang Hewan Iblis atau yang kalian sebut siluman? Apakah kalian juga pernah kekurangan makanan? Maaf jika membuatmu tersinggung," Luo Chen terus menggali informasi.
"Tidak apa-apa. Ya, kami sudah sering diserang. Kadang-kadang kami juga trauma, namun apalah daya, kami tidak punya cukup uang untuk tinggal di kota, itu belum termasuk biaya lainnya. Kami juga sering kekurangan makanan, bahkan dulu sempat kami puasa tanpa makan selama dua hari," tutup penjelasan Huang Yi.
Luo Chen terdiam, menatap bayi yang dikandung Huang Yi. Ia tak terbayang betapa takutnya anak-anak yang tinggal di wilayah berbahaya seperti ini. Mengingat dirinya yang juga harus melawan kekerasan dunia saat kecil, Luo Chen merasa sedikit tertekan. Jika dia berada di posisi mereka, wajar jika mereka melakukan itu demi keluarga.
"Tuan muda, silakan diminum," ucap Huang Zo sambil memberikan segelas teh di depan Luo Chen.
"Terima kasih, Paman Zo. Apa paman dan saudara paman bisa memasak makanan dari berbagai macam bahan?" tanya Luo Chen seraya meneguk minuman.
"Kami bisa saja, asal ada bahan. Untuk rasa, silakan coba sendiri, tuan muda," balas Huang Zo, sambil berpikir tentang maksud dari pertanyaan Luo Chen.
Luo Chen mengeluarkan sepotong daging Gaurguin dari cincin yang diberikan kakek Wu, "Ambil daging ini, lalu olah menjadi sebuah makanan," ujar Luo Chen.
Tangan Huang Zo bergetar menerima daging Hewan Iblis itu. Dengan ragu, ia bertanya, "Dari mana tuan muda mendapat daging Hewan Iblis tingkat tinggi ini?"
"Dari hasil membunuh, itu adalah hasil dari almarhum guruku, mungkin sekitar dua tahun lalu."
"Jangan-jangan, itu cincin ruang dan waktu?" bentak Huang Zo, teringat ciri-ciri dari cincin yang sangat mirip.
"Tunggu, apa itu cincin ruang dan waktu?" tanya Luo Chen, bingung dengan reaksi Huang Zo yang tiba-tiba kaget.
"Jadi tuan muda tidak tahu? Cincin itu termasuk salah satu benda tingkat dewa, di mana semua barang yang disimpan di dalamnya akan mengalami pemberhentian waktu, dan kapasitas cincin tidak terbatas."
"Saran saya, jangan pernah kasih tahu siapapun tentang cincin itu, karena banyak kultivator tingkat tinggi yang menginginkan harta seperti ini," tutup penjelasan Huang Zo.
"Untung paman kasih tahu. Jika tidak, mungkin aku sudah diburu," ujar Luo Chen diakhiri dengan tawa.
"Kalau begitu, saya akan masak di belakang dulu, tuan muda," balas Huang Zo sambil pergi menuju ke belakang.
Waktu terus berlalu. Luo Chen hanya mengobrol santai dengan istri Huang Zo. Tak terasa, satu jam berlalu, dan aroma masakan mulai tercium bersamaan dengan langkah kaki Huang Zo.
"Paman, baunya sangat kuat," ujar Luo Chen terkagum akan aroma yang dihasilkan dari masakan Huang Zo.
"Tuan muda, silakan coba," ujar Huang Zo menaruh satu piring penuh daging di depan Luo Chen.
Daging yang dihidangkan sudah dimasak menjadi daging bakar yang terpotong dan dibubuhi bumbu seadanya.
"Paman, ini sungguh nikmat. Mari kita makan bersama saja. Kalian pasti lapar," ajak Luo Chen dengan senyuman.
"Tidak, tuan muda. Silakan Anda makan saja," tolak Huang Zo secara halus, karena sudah sewajarnya ia menjamu seorang tamu.
"Paman, lebih baik paman dan istri paman ikut makan, atau aku akan membuang makanan ini," ancam Luo Chen dengan nada sedikit tidak senang.
Huang Zo dan Huang Yi saling bertatapan, tatapan mata Huang Yi seakan memberi isyarat bahwa dia ingin memakan daging itu. Akhirnya, Huang Zo menurut.
"Baiklah, tuan muda. Saya dan istri saya akan ikut makan," sambil ragu-ragu, mereka tetap ikut makan. Ternyata, di luar tercium bau masakannya, membuat beberapa anak kecil, wanita, dan paman yang bertarung dengan Luo Chen datang di depan rumah, sambil malu-malu ingin merasakan masakan yang dimakan.
Pada akhirnya, Luo Chen berkumpul dan makan bersama seluruh keluarga lima bersaudara. Hubungan antara mereka pun semakin dekat, tiada lagi ketakutan yang tersirat.
Obrolan terus berlangsung sampai makanan habis tak tersisa. Luo Chen yang merasakan hangatnya hubungan mereka, terlintas sebuah ide untuk memberikan tempat yang lebih layak.
"Baiklah, mohon perhatian kalian. Aku akan bertanya kepada kalian semua," ujar Luo Chen seraya menatap semua orang yang saat ini terdiam.
"Apa kalian ingin pindah dari tempat ini? Jika iya, akan aku bantu," sekarang gantian Luo Chen yang terdiam menunggu jawaban.
"Emmm, aku mau pindah, Kak," ujar salah satu anak kecil.
"Aku juga."
"Aku sangat mau, karena takut dengan para monster di sini."
Luo Chen tersenyum. Saat ia ingin berbicara, terdengar suara bantahan, "Kita tidak boleh merepotkan tuan muda lagi," sahut paman paling muda dan tua secara bersamaan.
"Kalian tidak punya hak untuk menolak, karena ini demi kebaikan keluarga kalian. Aku tidak ingin kalian merasakan penyesalan," ujar Luo Chen sambil menatap dingin ke arah paman yang paling muda dan tua.
"Baiklah, cepat bereskan semua barang kalian, dan dalam waktu satu jam kalian akan ikut aku ke kota." Luo Chen tersenyum puas, melihat kebahagiaan di wajah anak-anak kecil.
Seketika gubuk itu sepi. Semua orang pergi mengambil barang yang akan mereka bawa, sambil melepaskan kenangan yang tersisa di tempat ini, kecuali Luo Chen, Huang Zo, dan Huang Yi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments