Setelah keluar dari gerbang, mereka melanjutkan perjalanan menuju tempat kedua. Sebuah restoran berbintang tiga terpampang di depan mata, hanya satu kata yang bisa menggambarkan tempat tersebut: "indah."
Tempat itu ditata dengan penuh perhatian; debu pun tidak terlihat di area tertentu. Meja, kursi, dan hiasan diletakkan pada tempat yang strategis, menciptakan kesan tersendiri.
“Apa aku bisa menjual ikan ke tempat ini?” tanya Luo Huang Chen kepada salah satu pelayan wanita yang sedang membersihkan meja dari sisa makanan dan minuman.
Saat wanita itu menoleh, terlihat sebuah belenggu di lehernya. “Bisa, tapi hanya beberapa jenis langka yang akan diterima, Tuan,” sahut wanita itu, berusaha tersenyum.
Huang Za terlihat melangkah ke depan, ingin menarik perhatian pelayan wanita. Namun, langkahnya dihentikan oleh Luo Huang Chen dengan isyarat tangan dan kedipan mata.
“Paman Za, jelaskan saja lewat telepati. Jangan bertindak tergesa-gesa. Dari tadi ada yang mengawasi kita, jadi kita akan menunggu dia keluar dulu sebelum bertindak.” Suara Luo Huang Chen terngiang dalam pikiran paman Za, yang terdiam saat menatap tuan mudanya.
“Kalau begitu bisa, tolong panggilkan? Aku akan menjual beberapa ikan Gudgeon,” ujar Luo Huang Chen kepada si pelayan wanita.
“Sebaiknya saya antar saja langsung, Tuan Muda,” jawab si pelayan, lalu melangkah pergi, diikuti oleh Luo Huang Chen, paman Za, dan paman Zo.
Saat melewati lorong menuju ruangan tertentu di ujung, obrolan antara paman Za dan Luo Huang Chen masih berlanjut lewat telepati. “Jadi, yang ada di leher wanita itu belenggu budak?” tanya Luo Huang Chen.
Paman Za berjalan dengan santai, tetapi di dalam pikirannya, ia sedang berbincang dengan Luo Huang Chen. “Benar, Tuan Muda. Biasanya belenggu itu ada karena tercipta kontrak antara pihak lain.”
“Jadi, wanita ini memiliki tuan sendiri? Lalu dia wajib menuruti tuannya?”
“Bisa dibilang begitu. Jika budak menolak, biasanya mereka akan menghadapi tiga pilihan: pertama, dihukum biasa; kedua, dipaksa menuruti perintah; dan ketiga…”
“Apa yang ketiga, Paman Za? Kalau mereka dipaksa menuruti, bukankah itu juga bisa terjadi?”
“Pilihan ketiga, mereka bisa mati. Untuk penjelasan, Tuan Muda tidak salah lagi. Bahkan, sudah banyak kejadian di mana para budak dijadikan pelampiasan nafsu.”
“Kita harus bantu dia. Tunggu sampai urusan kita selesai, nanti akan aku beri tanda untuk menyelamatkan para budak.”
“Baik, Tuan Muda,” jawab paman Za. Tepat saat obrolan mereka selesai, mereka tiba di ruangan nomor 8C. Saat pintu dibuka, jejeran bahan makanan terlihat sangat rapi di atas meja dan lemari.
“Permisi, Tuan, ini ada tamu yang ingin memasok ikan Gudgeon yang sudah susah dicari,” ujar pelayan wanita kepada lelaki berpakaian khas kerajaan berwarna hijau putih.
“Benarkah? Aku harap Tuan tidak berniat menipu kami hanya agar membeli bahan makanan yang kau jual,” lelaki tersebut berbalik badan, lalu menghadap Luo Huang Chen dan memberi isyarat tangan agar si pelayan pergi.
“Brak!” Satu ekor ikan Gudgeon keluar dari cincin milik Luo Huang Chen.
“Tuan Muda, perkenalkan saya Jin Yao. Bisa tolong masukkan ikan itu kembali, Tuan?” panik lelaki tersebut saat melihat ikan Gudgeon sebesar buaya atau bahkan lebih.
“Cepat siapkan tempatnya, aku ada sekitar tujuh ekor ikan yang akan dijual,” Luo Huang Chen memasukkan kembali ikan tersebut ke dalam cincin dan menunggu dengan tatapan tajam.
“Silakan ikuti saya, Tuan Muda,” kata Jin Yao, lalu berjalan diikuti oleh mereka bertiga melewati jalan lebar yang di sampingnya berjejeran meja penuh dengan bahan makanan, hingga Jin Yao membuka sebuah ruangan dengan dua pintu.
Saat pintu dibuka, terlihat ruang itu penuh dengan tumpukan bahan makanan di bagian samping. Namun, tatanan yang sangat rapi meninggalkan tempat kosong di bagian tengah ruangan yang luas.
“Tuan Muda bisa menaruh bahan makanan di tengah ruangan sana, tetapi setelah itu akan ada pengecekan seberapa segar ikan tersebut. Semakin segar, semakin memiliki nilai yang tinggi.”
Luo Huang Chen melangkah memasuki ruangan tersebut setelah mendengarkan ucapan Jin Yao. Begitu masuk, ia melihat semua bahan berasal dari berbagai golongan, mulai dari bahan masakan biasa hingga yang langka.
Saat melihat semua bahan, Luo Huang Chen teringat akan sebuah buku catatan dari cincin penyimpanannya, di mana semua informasi sudah terpampang jelas, mulai dari ciri-ciri, efek, dan lainnya.
“Bruk!” Tujuh ikan Gudgeon keluar dari cincin, ukuran terkecilnya sekitar 1,7 meter, sedangkan yang terbesar sekitar 3 meter. Jin Yao tersenyum lebar melihat tumpukan ikan Gudgeon tersebut.
“Jika sudah semua, mari kita bicarakan masalah harga ikan tersebut di ruangan pribadiku yang di lantai atas,” sahut Jin Yao sambil terus tersenyum.
Di Lantai 3 Dalam Sebuah Ruangan Pribadi
“Hemmm, jadi sebenarnya kami tidak bisa menentukan harga yang pantas untuk ketujuh Gudgeon itu,” Jin Yao membuka percakapan, sambil menatap kaca yang memperlihatkan suasana kota di sore hari.
“Apakah satu tahun cukup untuk memberi harga yang tepat nanti? Aku tahu pasti pihak restoran akan membutuhkan persetujuan dari pihak atas,” kata Luo Huang Chen, bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah pintu keluar diikuti kedua pamannya.
“Tunggu, Tuan Muda? Bagaimana Anda bisa tahu? Lalu bagaimana cara diriku menghubungi Tuan Muda nanti?” berbagai pertanyaan terus keluar dari Jin Yao saat melihat Luo Huang Chen melangkah ke arah pintu keluar.
Tepat pada saat pintu dibuka, Luo Huang Chen berhenti. Tanpa berbalik, ia berkata, “Jangan tanyakan hal yang di luar batasan. Dengarkan baik-baik. Pertama, aku akan melakukan kultivasi tertutup. Jadi, entah nanti yang membawa uang itu kamu, Tuan Jin Yao, atau karyawan di sini…”
Luo Huang Chen berbalik dengan tatapan tajam, melanjutkan, “Bisa kalian antar ke vila yang sudah lama tidak terjual. Kalian pasti tahu tempatnya, bukan? Nanti biar penghuni rumah itu yang menerima uang tersebut. Aku harap tidak ada kecurangan, atau... kalian akan tahu akibatnya.”
Lagi-lagi aura hitam merembes keluar dari tubuhnya, menciptakan rasa hampa yang menyelimuti Jin Yao. Ia sampai melangkah mundur, lalu tertunduk dengan keringat dingin membasahi pakaian.
Saat Luo Huang Chen berbalik dan melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan, diikuti kedua pamannya, aura tersebut ikut tertarik, namun efek dari aura masih terasa nyata pada Jin Yao.
“Anjing! Auranya pekat, tatapan itu... Apa itu tatapan kekosongan, kesedihan, amarah, atau tatapan kehampaan? Sial, jangan sampai ada permusuhan dalam transaksi ini. Pelayan!!!”
Dalam posisi masih tertunduk lemas, Jin Yao mencoba duduk di kursinya. Beberapa detik kemudian, pelayan wanita datang dengan tergesa-gesa.
“Iya, Tuan,” pelayan tersebut terdiam, melihat kondisi tubuh Jin Yao yang masih bergetar dengan keringat dingin membasahi pakaian.
“Cepat kabari ketua pusat, ada transaksi penting, dan ini adalah darurat,” bentak Jin Yao, berusaha menenangkan jiwanya yang masih bergetar.
Pelayan wanita langsung pergi meninggalkan ruangan sesuai perintahnya. “Mugo-mugo aku ora nyinggung Tuan Muda,” batin Jin Yao.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments