Pertarungan masih berlanjut hingga beberapa jam. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 03.00 pagi, dan pertarungan hewan kontrak serta pertarungan antar tuan sudah mencapai puncaknya.
"Aku mengandalkan dirimu, Burung Oozlum, Fusion," Kakek Wu terlihat melayang, sementara Burung Oozlum sendiri langsung terbang menuju belakang Kakek Wu.
Fusion adalah jurus gabungan antara Hewan Kontrak dan pihak pembuat kontrak. Jurus ini memerlukan persetujuan kedua belah pihak; jika tidak, Fusion akan mengubah seseorang dan Hewan Kontrak menjadi siluman haus darah tanpa akal sehat.
Di saat bersamaan, Wang Ji juga melakukan Fusion dengan Centicore miliknya. Aura dari kedua orang itu terlihat beradu tekanan, meratakan yang di bawah menjadi tanah tanpa pepohonan sejauh 10 kilometer.
Beruntung rumah Kakek Wu sudah dikelilingi oleh formasi array terkuat. Jika tidak, mungkin Luo Chen maupun rumah sudah ambruk dan hancur tak tersisa karena tekanan besar.
Kakek Wu yang sedang melakukan Fusion dikelilingi oleh warna biru dengan aliran pecahan elemen petir yang menyambar. Perubahan mulai terjadi, di mana Kakek Wu mengenakan armor dan pedang dari Burung Oozlum, serta sepasang sayap gagah di punggungnya.
Hanya satu kata untuk Kakek Wu: Ksatria. Luo Chen yang berada di dalam rumah juga berdecak kagum akan penampilan Kakek Wu saat ini. Meskipun kagum, rasa khawatir Luo Chen tetap menggelayuti hatinya.
Di saat bersamaan, Wang Ji sendiri juga sudah selesai berubah, menjadi seperti seorang penyihir, dengan tongkat yang memiliki ujung tengkorak kepala kambing. Penampilannya sangat serasi dengan rambut putih miliknya yang berkibar saat terkena angin.
"Luo Chen, ingat pesan Kakek. Jika di atas langit ada langit, maka pasti di atas Maha Pencipta ada Maha Pencipta," suara Kakek Wu masuk lewat telepati menuju Luo Chen.
"Kakek sialan itu, kenapa harus ceramah saat situasi begini?" gumam Luo Chen, saat melihat Kakek Wu melirik ke arahnya.
"Mari kita akhiri sekarang," ucap Wang Ji sambil mengumpulkan seluruh energi Qi miliknya yang tersisa ke dalam tongkatnya.
Kakek Wu, saat di langit, segera mengumpulkan seluruh energi yang tersisa. Dengan menghela nafas, ia berucap, "Huffttt, Jurus Rasi Bintang Aquila, tingkat puncak, Aquila Bintang." Pedang Kakek Wu bersinar terang.
Tepat saat ditebas dari atas ke bawah, bayangan Elang sebesar 500 kaki terlihat, dan melesat menuju Wang Ji. Wang Ji tidak hanya diam melihat serangan Kakek Wu; dia juga segera merapalkan teknik miliknya.
"Jurus Naga Meteor, tingkat puncak, Naga Magma!" Bayangan Naga juga terlihat dengan ukuran yang setara. Tatapan ganasnya memancar, tanpa menunggu serangan itu melayang ke depan.
Kedua serangan tampak seperti pertarungan antar Hewan, di mana saat bentrokan terjadi, malah terlihat adu serangan menuju langit. Hingga tiba-tiba, kedua serangan itu meluncur ke bawah dengan sangat cepat.
"Blarrrrrrr!" Ledakan besar terjadi, meratakan hutan sejauh 30 kilometer, mengubah hutan yang subur menjadi wilayah tanpa kehidupan. Bahkan, air sungai yang biasanya terisi penuh kini habis tak tersisa.
Debu mulai menghilang, dan Luo Chen kebingungan di dalam rumah mencari Kakek Wu. Akhirnya terlihat, Kakek Wu sedang berdiri dengan seseorang.
"Ahhhgggg!" Kakek Wu memuntahkan seteguk darah dari mulutnya, sambil melihat dantian miliknya tertusuk dengan sebuah pisau.
"Pilihan ada di kamu. Jika ingin mati tanpa merasa sakit lagi, cabut pisau itu," bisik Wang Ji dengan senyuman sinis.
"Brakkk!" Kakek Wu terbaring tak berdaya, hanya bisa memandang langit, sambil melihat kepergian orang yang sangat ingin ia bunuh demi membalaskan dendam klan Sun.
Wang Ji langsung pergi begitu saja, karena ia sendiri mengalami luka yang parah akibat pertarungan sebelumnya. Alasan mengapa Wang Ji tidak membunuh langsung adalah karena ia ingin menyiksa Sun Luo Wu.
Darah terus menetes dari tubuh Kakek Wu. Andai dia bukan kultivator dengan tingkat tinggi, mungkin dia sudah mati sejak awal ledakan. Kakek Wu tersenyum, merasakan energi dari Luo Chen yang ada di rumah.
"Kakekkk, ahggg, terbuka pintu sialannn!" Luo Chen penuh amarah, melihat Kakek Wu terbaring bersimbah darah.
Kesedihan yang mendalam bercampur dengan kemarahan membuat perasaan Luo Chen tertutup oleh kabut hitam. Aura hitam keluar dari tubuh Luo Chen sambil meletakkan telapak tangan ke arah pintu yang terdapat formasi array.
Luo Chen bergumam, "Jurus Pelahap, tingkat pertama, Kehancuran." Keretakan terjadi pada formasi, seiring energi Qi yang dikirim Luo Chen semakin banyak.
Keretakan semakin besar, hanya butuh beberapa detik. Akhirnya, formasi array itu hancur. Luo Chen tersadar dan langsung berlari menghampiri Kakek Wu yang terbaring lemah.
"Kakekkk, jangan sampai meninggalkan aku sendiri lagiii!" teriak Luo Chen sambil memeluk erat tubuh Kakek Wu yang terbaring.
Rasa dingin tubuh Kakek Wu terasa, kulitnya semakin memutih seiring waktu berlalu. Sambil tersenyum, Kakek Wu berusaha mengusap Luo Chen dengan penuh kelembutan.
"Chen'er, Kakek akan selalu bersamamu, di hatimu. Ingat selalu Kakek ya? Maaf atas kekasaran Kakek selama ini. Jika ingin berbakti pada Kakek, tolong cabut pisau ini dari tubuh Kakek ya?" perintah Kakek Wu sambil menatap Luo Chen untuk terakhir kalinya.
"Kakekkk? Akan aku lakukan," Luo Chen dengan tangan gemetar, memegang pisau yang menancap di perut Kakek Wu.
"Lakukan, Chen'er," ujar Kakek Wu dengan nada penuh kasih sayang.
"Hiyaaa!" Pisau itu tercabut, bersamaan dengan tangan yang mengusap kepala Luo Chen.
Sebuah pisau terlempar, jatuh dengan posisi menancap, mengiringi keheningan yang terjadi. Luo Chen terdiam, menatap kepergian orang yang paling ia kagumi, sayang, dan paling berharga.
"Aku harus kuat. Tunggu sebentar ya, Kek." Luo Chen melepas jubah yang ia pakai, dan menaruhnya di atas tubuh Kakek Wu.
Luo Chen berjalan ke belakang rumah, mengambil sebuah cangkul, dan segera membuat lubang sebesar tubuh Kakek Wu, sedikit lebih besar. Hanya butuh waktu beberapa menit, sebuah lubang yang dia inginkan sudah terbuat.
Air mata terus mengalir, mengiringi kegiatan Luo Chen sampai saat ini. Setelah selesai, Luo Chen segera menghampiri Kakek Wu yang sudah meninggal atau menjadi mayat.
"Kakek, mungkin ini menjadi terakhir kaliku berbakti padamu. Tolong terima ya, jangan memarahiku saat kita bertemu nanti," gumam Luo Chen diakhiri dengan tawa kecil.
Luo Chen menggendong tubuh Kakek Wu, lalu memasukkan ke dalam lubang yang ia buat. Sambil mengambil jubah yang ia pakai untuk menutupi tubuh Kakek Wu, Luo Chen menaruh papan di atas mayat Kakek Wu dengan jarak beberapa sentimeter.
Segera, Luo Chen menutupi dengan tanah dan mengambil pedang Kakek Wu. Ia membuat ukiran nama di batu keras samping rumah, mengukir nama Sun Luo Wu, dan menaruhnya di atas makam Kakek Wu.
Sambil mencoba tersenyum, Luo Chen berbicara, "Kakek, sehat selalu di sana. Aku akan pergi dari sini untuk membalaskan dendam ini dan mencapai puncak kultivasi."
Matahari mulai bersinar, warna indahnya seakan menyambut perjalanan baru Luo Chen, bocah berumur 12 tahun. Luo Chen, dengan pedang Kakek Wu di samping, berjalan pergi meninggalkan tempat penuh kenangan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments