"Tuan Muda, kenapa Anda melakukan semua ini? Kami hanya orang yang tidak bisa membalas jasa Anda," gumam Huang Zo saat situasi sudah sepi, tersisa mereka bertiga.
"Aku hanya mengingat pesan guruku sebelum beliau meninggal. Katanya, seseorang yang melakukan hal jahat pasti memiliki tujuan masing-masing. Jika tujuannya baik, maka bantu; jika jahat, jangan ragu untuk bantai."
"Apakah Paman tidak ingin melihat anak Paman lahir dengan tenang dan aman tanpa gangguan monster?" Luo Chen menatap mata Huang Zo tanpa rasa ragu sedikit pun.
Huang Zo seketika lemas mendengar ucapan Luo Chen yang di luar pikirannya. Jujur, ia sendiri ingin keluarga selalu aman setiap kali ditinggal ke mana pun untuk mencari nafkah.
"Brakkk," Huang Zo bersujud di depan Luo Chen sambil berteriak, "Saya, Huang Zo, sangat berterima kasih kepada Tuan Muda dan bersumpah akan setia kepada Tuan Muda."
Luo Chen kaget dengan perlakuan Huang Zo, segera ia menghampiri dan membangunkan Huang Zo dari sujudnya.
"Paman, cepat bangun!" bentak Luo Chen, seraya tidak sengaja mengeluarkan aura energi Qi miliknya yang berwarna hitam.
"Duarrrrr," gubuk seketika hancur dengan tekanan dari Luo Chen. Semua orang yang sedang beres-beres seketika datang menghampiri, tepat setelah Huang Zo bangun dari sujudnya.
Luo Chen berteriak dengan lantang, "Dengarkan kalian semua! Jangan pernah bersujud kepada siapapun kecuali guru atau orang tuamu. Aku tidak ingin melihat hal ini lagi."
"Jika aku sampai bersujud kepada orang yang bukan dari dua kategori itu, lebih baik aku mati dengan penuh penyiksaan."
"Blarrrrrr," sebuah petir tiba-tiba menyambar, menambah kharisma Luo Chen saat berbicara, seakan petir itu menyetujui perkataan Luo Chen.
Keempat saudara dari paman yang lain melangkah ke depan Luo Chen, sambil melakukan hormat seolah bertemu raja.
"Awak dewe kabeh bersumpah, bakalan setia marang Tuan Muda. Yen sampek ono seng dusta, karma bakalan ngampiri," teriak keempat paman secara bersamaan tanpa rasa ragu.
"Cukup, segera kalian bangun. Cepat selesaikan urusan kalian. Aku akan meninggalkan kalian jika terlambat datang," ujar Luo Chen penuh wibawa dan ketegasan.
"Siap, Tuan Muda," balas para orang tua seraya pergi melanjutkan kegiatan mereka yang sebelumnya tertunda.
"Siap, Kak," sahut para anak kecil yang terkagum-kagum melihat Luo Chen, lalu pergi mengikuti para orang tua.
Huang Zo sendiri tersenyum lega. Ia merasa tidak salah mengikuti orang. Meski orang yang dia ikuti tergolong sangat muda, pikirannya sudah sangat dewasa. Dari lubuk hatinya, ia sangat bersyukur bertemu Luo Chen.
Tepat sebelum satu jam berlalu, semua orang sudah berkumpul di depan gubuk Huang Zo yang hancur. Mereka membawa beberapa tas berisi pakaian, karena hanya itu barang yang berharga.
"Apa semua sudah berkumpul? Atau masih ada yang ketinggalan? Paman tertua, tolong cek sekali lagi," tanya Luo Chen sambil menatap satu per satu wajah yang kebingungan.
"Baik, Tuan Muda," paman tertua langsung pergi mengecek satu per satu gubuk yang ada, lalu kembali sendiri.
"Semua sudah di sini, Tuan Muda," ujar paman tertua dengan nada tegas.
"Baiklah, Paman Huang Zo dan Paman tertua di depan bersamaku. Anak-anak di belakang kami bertiga, lalu diikuti para wanita, dan sisa tiga paman berada di belakang."
"Apakah ada yang keberatan? Jika iya, silakan angkat tangan," saat Luo Chen terdiam, terlihat satu tangan di belakang terangkat.
Ternyata salah satu dari tiga paman yang mengangkat tangannya, "Baiklah, silakan bertanya atau kasih saran," ucap Luo Chen.
"Kenapa yang di belakang harus bertiga? Bukankah lebih baik cukup saya sendiri, lalu dua orang berada di samping para wanita? Supaya kelihatan jika ada yang tertinggal atau salah jalan," sahut paman yang membawa golok di samping tubuh.
"Bagus juga saran Paman. Baiklah, kita pakai saran itu. Tadi aku berpikir keamanan belakang harus lebih ketat, aku lupa jika bagian samping masih kosong. Tangkap ini," Luo Chen melempar sebutir pil penyembuh.
"Tunggu? Bukankah ini pil penyembuh kelas 5? Saya tidak bisa menerimanya, Tuan Muda," balas paman yang memberi saran.
"Sudahlah, Paman. Segera minum pil itu, karena kemarin tulang Paman retak juga karena diriku. Jadi anggap itu hadiah dan kompensasi," sahut Luo Chen.
"Baiklah, cepat berada di posisi kalian. Kita akan berangkat sekarang," teriak Luo Chen agar semua orang mendengarkan.
Hanya butuh beberapa menit, akhirnya semua sudah berbaris sesuai yang ditentukan. Paman yang tadi juga sudah sembuh setelah meminum pil pemberian Luo Chen.
Mereka semua mulai berangkat menuju kota terdekat. Hanya butuh waktu puluhan menit, terlihat sebuah dinding kota yang setinggi 50 meter dengan gerbang di empat sisi sesuai arah mata angin.
"Paman Huang Zo, berapa biaya masuk di sini? Lalu apa nama kota ini?" tanya Luo Chen tepat sesaat baris di antara antrian panjang menuju gerbang.
"Biaya masuknya sekitar 5 perunggu, karena ini wilayah pinggiran. Lalu namanya Kota Bulan Malam, di mana hanya tempat ini yang paling indah saat malam di antara kota lainnya di wilayah selatan," tutup penjelasan Huang Zo sambil terus melangkah ke depan mengikuti antrian.
Hanya butuh beberapa menit, akhirnya saat mereka membayar untuk masuk gerbang, seorang petugas segera menghampiri Huang Zo sambil berbicara tanpa peduli.
"Apa kalian rombongan? Sebutkan berapa jumlah kalian."
"Benar, kami rombongan. Ada 6 pria dewasa, 4 wanita dewasa, dan 7 anak kecil."
"Biayanya 95 koin perunggu, karena ada wanita yang hamil. Biaya bisa dikurangi jika... salah satu wanita itu diberikan kepada kami," ujar si pemimpin penjaga gerbang.
"Bajingan! Apa maksud ucapanmu itu?" bentak paman paling tua. Mendengar ucapan si pemimpin yang tidak masuk akal membuatnya tersulut emosi.
"Sudahlah, Paman. Ambil ini, dan bebaskan kami dari pemeriksaan," Luo Chen melempar dua koin perak ke arah si pemimpin.
Tangan si pemimpin terlihat sangat gesit, ia menangkap uang koin itu sambil tersenyum bahagia, "Terima kasih, Tuan Muda. Silakan kalian bisa langsung masuk."
Mereka semua akhirnya bisa masuk tanpa gangguan lagi. Saat sudah di dalam kota, terlihat banyak bangunan menjulang tinggi dan toko-toko berjejeran.
"Paman Huang Zo, tolong carikan rumah yang cukup untuk kita semua, dan toko yang bisa dibeli atau disewa," perintah Luo Chen sambil menatap kagum ke arah kota yang sudah lama tak ia kunjungi.
"Baik, Tuan Muda," Huang Zo segera mencari informasi tentang tempat yang diminta Luo Chen. Semua orang yang bersama Luo Chen sendiri hanya menunggu perintahnya.
Luo Chen yang ditatap oleh beberapa orang yang berlalu-lalang merasa tidak nyaman. Namun, prioritas saat ini adalah mencari tempat tinggal. Semua orang yang bersama Luo Chen sendiri tidak keberatan ditatap oleh orang-orang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments