Bab 11 Menuju Kota

"Tuan Muda, kenapa Anda melakukan semua ini? Kami hanya orang yang tidak bisa membalas jasa Anda," gumam Huang Zo saat situasi sudah sepi, tersisa mereka bertiga.

"Aku hanya mengingat pesan guruku sebelum beliau meninggal. Katanya, seseorang yang melakukan hal jahat pasti memiliki tujuan masing-masing. Jika tujuannya baik, maka bantu; jika jahat, jangan ragu untuk bantai."

"Apakah Paman tidak ingin melihat anak Paman lahir dengan tenang dan aman tanpa gangguan monster?" Luo Chen menatap mata Huang Zo tanpa rasa ragu sedikit pun.

Huang Zo seketika lemas mendengar ucapan Luo Chen yang di luar pikirannya. Jujur, ia sendiri ingin keluarga selalu aman setiap kali ditinggal ke mana pun untuk mencari nafkah.

"Brakkk," Huang Zo bersujud di depan Luo Chen sambil berteriak, "Saya, Huang Zo, sangat berterima kasih kepada Tuan Muda dan bersumpah akan setia kepada Tuan Muda."

Luo Chen kaget dengan perlakuan Huang Zo, segera ia menghampiri dan membangunkan Huang Zo dari sujudnya.

"Paman, cepat bangun!" bentak Luo Chen, seraya tidak sengaja mengeluarkan aura energi Qi miliknya yang berwarna hitam.

"Duarrrrr," gubuk seketika hancur dengan tekanan dari Luo Chen. Semua orang yang sedang beres-beres seketika datang menghampiri, tepat setelah Huang Zo bangun dari sujudnya.

Luo Chen berteriak dengan lantang, "Dengarkan kalian semua! Jangan pernah bersujud kepada siapapun kecuali guru atau orang tuamu. Aku tidak ingin melihat hal ini lagi."

"Jika aku sampai bersujud kepada orang yang bukan dari dua kategori itu, lebih baik aku mati dengan penuh penyiksaan."

"Blarrrrrr," sebuah petir tiba-tiba menyambar, menambah kharisma Luo Chen saat berbicara, seakan petir itu menyetujui perkataan Luo Chen.

Keempat saudara dari paman yang lain melangkah ke depan Luo Chen, sambil melakukan hormat seolah bertemu raja.

"Awak dewe kabeh bersumpah, bakalan setia marang Tuan Muda. Yen sampek ono seng dusta, karma bakalan ngampiri," teriak keempat paman secara bersamaan tanpa rasa ragu.

"Cukup, segera kalian bangun. Cepat selesaikan urusan kalian. Aku akan meninggalkan kalian jika terlambat datang," ujar Luo Chen penuh wibawa dan ketegasan.

"Siap, Tuan Muda," balas para orang tua seraya pergi melanjutkan kegiatan mereka yang sebelumnya tertunda.

"Siap, Kak," sahut para anak kecil yang terkagum-kagum melihat Luo Chen, lalu pergi mengikuti para orang tua.

Huang Zo sendiri tersenyum lega. Ia merasa tidak salah mengikuti orang. Meski orang yang dia ikuti tergolong sangat muda, pikirannya sudah sangat dewasa. Dari lubuk hatinya, ia sangat bersyukur bertemu Luo Chen.

Tepat sebelum satu jam berlalu, semua orang sudah berkumpul di depan gubuk Huang Zo yang hancur. Mereka membawa beberapa tas berisi pakaian, karena hanya itu barang yang berharga.

"Apa semua sudah berkumpul? Atau masih ada yang ketinggalan? Paman tertua, tolong cek sekali lagi," tanya Luo Chen sambil menatap satu per satu wajah yang kebingungan.

"Baik, Tuan Muda," paman tertua langsung pergi mengecek satu per satu gubuk yang ada, lalu kembali sendiri.

"Semua sudah di sini, Tuan Muda," ujar paman tertua dengan nada tegas.

"Baiklah, Paman Huang Zo dan Paman tertua di depan bersamaku. Anak-anak di belakang kami bertiga, lalu diikuti para wanita, dan sisa tiga paman berada di belakang."

"Apakah ada yang keberatan? Jika iya, silakan angkat tangan," saat Luo Chen terdiam, terlihat satu tangan di belakang terangkat.

Ternyata salah satu dari tiga paman yang mengangkat tangannya, "Baiklah, silakan bertanya atau kasih saran," ucap Luo Chen.

"Kenapa yang di belakang harus bertiga? Bukankah lebih baik cukup saya sendiri, lalu dua orang berada di samping para wanita? Supaya kelihatan jika ada yang tertinggal atau salah jalan," sahut paman yang membawa golok di samping tubuh.

"Bagus juga saran Paman. Baiklah, kita pakai saran itu. Tadi aku berpikir keamanan belakang harus lebih ketat, aku lupa jika bagian samping masih kosong. Tangkap ini," Luo Chen melempar sebutir pil penyembuh.

"Tunggu? Bukankah ini pil penyembuh kelas 5? Saya tidak bisa menerimanya, Tuan Muda," balas paman yang memberi saran.

"Sudahlah, Paman. Segera minum pil itu, karena kemarin tulang Paman retak juga karena diriku. Jadi anggap itu hadiah dan kompensasi," sahut Luo Chen.

"Baiklah, cepat berada di posisi kalian. Kita akan berangkat sekarang," teriak Luo Chen agar semua orang mendengarkan.

Hanya butuh beberapa menit, akhirnya semua sudah berbaris sesuai yang ditentukan. Paman yang tadi juga sudah sembuh setelah meminum pil pemberian Luo Chen.

Mereka semua mulai berangkat menuju kota terdekat. Hanya butuh waktu puluhan menit, terlihat sebuah dinding kota yang setinggi 50 meter dengan gerbang di empat sisi sesuai arah mata angin.

"Paman Huang Zo, berapa biaya masuk di sini? Lalu apa nama kota ini?" tanya Luo Chen tepat sesaat baris di antara antrian panjang menuju gerbang.

"Biaya masuknya sekitar 5 perunggu, karena ini wilayah pinggiran. Lalu namanya Kota Bulan Malam, di mana hanya tempat ini yang paling indah saat malam di antara kota lainnya di wilayah selatan," tutup penjelasan Huang Zo sambil terus melangkah ke depan mengikuti antrian.

Hanya butuh beberapa menit, akhirnya saat mereka membayar untuk masuk gerbang, seorang petugas segera menghampiri Huang Zo sambil berbicara tanpa peduli.

"Apa kalian rombongan? Sebutkan berapa jumlah kalian."

"Benar, kami rombongan. Ada 6 pria dewasa, 4 wanita dewasa, dan 7 anak kecil."

"Biayanya 95 koin perunggu, karena ada wanita yang hamil. Biaya bisa dikurangi jika... salah satu wanita itu diberikan kepada kami," ujar si pemimpin penjaga gerbang.

"Bajingan! Apa maksud ucapanmu itu?" bentak paman paling tua. Mendengar ucapan si pemimpin yang tidak masuk akal membuatnya tersulut emosi.

"Sudahlah, Paman. Ambil ini, dan bebaskan kami dari pemeriksaan," Luo Chen melempar dua koin perak ke arah si pemimpin.

Tangan si pemimpin terlihat sangat gesit, ia menangkap uang koin itu sambil tersenyum bahagia, "Terima kasih, Tuan Muda. Silakan kalian bisa langsung masuk."

Mereka semua akhirnya bisa masuk tanpa gangguan lagi. Saat sudah di dalam kota, terlihat banyak bangunan menjulang tinggi dan toko-toko berjejeran.

"Paman Huang Zo, tolong carikan rumah yang cukup untuk kita semua, dan toko yang bisa dibeli atau disewa," perintah Luo Chen sambil menatap kagum ke arah kota yang sudah lama tak ia kunjungi.

"Baik, Tuan Muda," Huang Zo segera mencari informasi tentang tempat yang diminta Luo Chen. Semua orang yang bersama Luo Chen sendiri hanya menunggu perintahnya.

Luo Chen yang ditatap oleh beberapa orang yang berlalu-lalang merasa tidak nyaman. Namun, prioritas saat ini adalah mencari tempat tinggal. Semua orang yang bersama Luo Chen sendiri tidak keberatan ditatap oleh orang-orang.

Episodes
1 Bab 1 Pertemuan
2 Bab 2 Hewan Iblis
3 Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4 Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5 Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6 Bab 6 Kontes Memancing
7 Bab 7 Pertarungan Sengit
8 Bab 8 Melangkah Maju
9 Bab 9 Lima Bersaudara
10 Bab 10 Bakat Memasak
11 Bab 11 Menuju Kota
12 Bab 12 Keluarga Tambahan
13 Bab 13 Perkenalan
14 Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15 Bab 15 Sedikit Ancaman
16 Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17 Bab 17 Kehangatan
18 Bab 18 Waktu Minim
19 Bab 19 Malam Tenang
20 Bab 20 Tiga Kendali
21 Bab 21 Kehangatan Keluarga
22 Bab 22 Langkah Awal
23 Bab 23 Memilih Kitab
24 Bab 24 Scorpius
25 Bab 25 Kepergian
26 Bab 26 Awal Pertarungan
27 Bab 27 Kekuatan
28 Bab 28 Air Terjun
29 Bab 29 Pertarungan Sengit
30 Bab 30 Puncak Pertarungan
31 Bab 31 Kedamaian
32 Bab 32 Harta Tak Terduga
33 Bab 33 Ruangan Rahasia
34 Bab 34 Lorong Gelap
35 Bab 35 Pemilik Harta
36 Bab 36 Tekanan
37 Bab 37 Pencerahan
38 Bab 38 Tempat Misterius
39 Bab 39 Harta Terakhir
40 Bab 40 Dua Lawan Satu
41 Bab 41 Sekte Elang Langit
42 Bab 42 Villa
43 Bab 43 Kehangatan
44 Bab 44 Obrolan Ringan
45 Bab 45 Persiapan
46 Bab 46 Topeng
47 Bab 47 VVIP
48 Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49 Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50 Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51 Bab 51 Ancaman
52 Bab 52 Ritual
53 Bab 53 Transaksi
54 Bab 54 Benua Tengah
55 Bab 55 Penginapan Kyabakura
56 Bab 56 Wanita Misterius
57 Bab 57 Pendamping Hidup
58 Bab 58 Perjalanan Romantis
59 Bab 59 Tepi Danau
60 Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61 Bab 61 Kebebasan
62 Bab 62 Perjalanan Baru
63 Bab 63 Dratiger
64 Bab 64 Perjalanan Laut
65 Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66 Bab 66 Lautan Luas
67 Bab 67 Sea Serpent
68 Bab 68 Dewa Scorpius
69 Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70 Bab 70 Mencari Petunjuk
71 Bab 71 Amarah
72 Bab 72 Akses Teleportasi
73 Bab 73 Perjalanan Berliku
74 Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75 Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76 Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77 Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78 Bab 78 Misi Berbahaya
79 Bab 79 Melawan Ice Snake
80 Bab 80 Misi Tuntas
81 Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82 Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83 Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84 Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85 Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86 Bab 86 Akhir Pertarungan
87 Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88 Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89 Menemukan Tujuan Baru
90 Menyusun Dasar Sekte
91 Mengundang Para Ahli
Episodes

Updated 91 Episodes

1
Bab 1 Pertemuan
2
Bab 2 Hewan Iblis
3
Bab 3 Elements Dan Awal Pelatihan
4
Bab 4 Pelajaran Masa Lalu
5
Bab 5 Fenomena Tidak Terduga
6
Bab 6 Kontes Memancing
7
Bab 7 Pertarungan Sengit
8
Bab 8 Melangkah Maju
9
Bab 9 Lima Bersaudara
10
Bab 10 Bakat Memasak
11
Bab 11 Menuju Kota
12
Bab 12 Keluarga Tambahan
13
Bab 13 Perkenalan
14
Bab 14 Persetujuan Pelelangan
15
Bab 15 Sedikit Ancaman
16
Bab 16 Bantuan Tidak Terduga
17
Bab 17 Kehangatan
18
Bab 18 Waktu Minim
19
Bab 19 Malam Tenang
20
Bab 20 Tiga Kendali
21
Bab 21 Kehangatan Keluarga
22
Bab 22 Langkah Awal
23
Bab 23 Memilih Kitab
24
Bab 24 Scorpius
25
Bab 25 Kepergian
26
Bab 26 Awal Pertarungan
27
Bab 27 Kekuatan
28
Bab 28 Air Terjun
29
Bab 29 Pertarungan Sengit
30
Bab 30 Puncak Pertarungan
31
Bab 31 Kedamaian
32
Bab 32 Harta Tak Terduga
33
Bab 33 Ruangan Rahasia
34
Bab 34 Lorong Gelap
35
Bab 35 Pemilik Harta
36
Bab 36 Tekanan
37
Bab 37 Pencerahan
38
Bab 38 Tempat Misterius
39
Bab 39 Harta Terakhir
40
Bab 40 Dua Lawan Satu
41
Bab 41 Sekte Elang Langit
42
Bab 42 Villa
43
Bab 43 Kehangatan
44
Bab 44 Obrolan Ringan
45
Bab 45 Persiapan
46
Bab 46 Topeng
47
Bab 47 VVIP
48
Bab 48 Pembukaan Lelang dan Pil Qi Pemula
49
Bab 49 Piala Jiwa Sejati
50
Bab 50 Persaingan dan Barang Terakhir
51
Bab 51 Ancaman
52
Bab 52 Ritual
53
Bab 53 Transaksi
54
Bab 54 Benua Tengah
55
Bab 55 Penginapan Kyabakura
56
Bab 56 Wanita Misterius
57
Bab 57 Pendamping Hidup
58
Bab 58 Perjalanan Romantis
59
Bab 59 Tepi Danau
60
Bab 60 Percakapan Yang Mengubah Segalanya
61
Bab 61 Kebebasan
62
Bab 62 Perjalanan Baru
63
Bab 63 Dratiger
64
Bab 64 Perjalanan Laut
65
Bab 65 Lomba Hewan Kontrak
66
Bab 66 Lautan Luas
67
Bab 67 Sea Serpent
68
Bab 68 Dewa Scorpius
69
Bab 69 Awal Perjalanan Baru
70
Bab 70 Mencari Petunjuk
71
Bab 71 Amarah
72
Bab 72 Akses Teleportasi
73
Bab 73 Perjalanan Berliku
74
Bab 74 Pertarungan Awal Sekte Taring Naga
75
Bab 75 Pertarungan Mengerikan Dalam Markas Sekte
76
Bab 76 Serangan Mei Xue yang Menggegerkan Sekte
77
Bab 77 Pertarungan dengan Para Petinggi Sekte
78
Bab 78 Misi Berbahaya
79
Bab 79 Melawan Ice Snake
80
Bab 80 Misi Tuntas
81
Bab 81 Perjalanan Menuju Gunung Eldoria
82
Bab 82 Menuju Kaki Gunung
83
Bab 83 Pertemuan dengan Monster Dragaraj
84
Bab 84 Pertarungan di Puncak Eldoria
85
Bab 85 Pertemuan dengan Nagasatu
86
Bab 86 Akhir Pertarungan
87
Bab 87 Penemuan Altar Misterius
88
Bab 88 Portal Menuju Alam Abadi
89
Menemukan Tujuan Baru
90
Menyusun Dasar Sekte
91
Mengundang Para Ahli

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!