Waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi. Sinar matahari yang semakin terang membangunkan hewan-hewan yang segera bergerak mencari makan, memenuhi perut mereka yang kosong.
"Chen’er, cepat ke sini," perintah Guru Wu, melihat Luo Chen yang baru saja menyelesaikan tugas dan mandi di belakang rumah.
"Baik, Guru," jawab Luo Chen sambil duduk di meja makan, tanpa menunggu perintah lebih lanjut.
Guru Wu sedang duduk santai, menikmati arak dari guci yang dipegangnya. Ia tampak tak menghiraukan kehadiran Luo Chen. Beberapa menit berlalu dalam keheningan, sampai akhirnya Guru Wu berhenti minum dan berbicara.
"Habiskan semua makanan di situ, jangan ada yang tersisa," tegas Guru Wu, sebelum berdiri dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu tanggapan.
Luo Chen menatap punggung gurunya yang pergi dengan kebingungan. "Tunggu, Guru tidak makan?" tanyanya sambil berdiri dari kursi.
Guru Wu berhenti sejenak dan menjawab, "Orang yang berkultivasi seperti aku tidak perlu makan. Kami hanya butuh energi Qi—semacam tenaga dalam—untuk menggantikan kebutuhan makan. Semua makanan itu khusus untukmu."
Perasaan hangat meresap di hati Luo Chen. Ia berpikir dalam hati, "Apa ini yang disebut kasih sayang? Mengapa air mata mengalir di pipiku?" Namun, kebingungannya tentang perasaan itu membuatnya terdiam.
"Selesaikan makananmu segera, lalu temui aku di depan rumah. Aku sudah menyiapkan latihan fisik yang berat untukmu," kata Guru Wu sambil melangkah pergi.
"Baik, Guru," jawab Luo Chen dengan kepala tertunduk, air matanya jatuh tanpa suara.
Di depan rumah, Guru Wu berdiri dengan pedang perak di tangannya, gagang pedang berbentuk elang. Dengan tenang, ia mengayunkan pedang itu. Setiap gerakannya halus, tapi memancarkan aura mematikan.
"Aghh, racun ini semakin menyebar. Seandainya aku bisa menemukan teknik legendaris itu, mungkin hidupku akan lebih lama," gerutu Guru Wu sambil menahan rasa sakit.
Ternyata, Guru Wu menyimpan rahasia besar—racun yang bersemayam dalam tubuhnya selama bertahun-tahun. Racun itu bisa merenggut nyawanya kapan saja. Hanya Qi yang digunakannya yang mampu menahan penyebarannya, memberi Guru Wu waktu yang terbatas untuk menyelesaikan misinya.
"Penderitaan, pengkhianatan, serigala berbulu domba... Meski bukan aku yang akan menghancurkanmu, muridku kelak pasti akan membalaskan dendam ini," gumam Guru Wu dengan amarah membara di hatinya. Ia mengumpulkan energi Qi dalam pedangnya dan melepaskannya dalam satu tebasan.
"BLARRRR!" Tebasan itu mengeluarkan cahaya terang, disertai percikan petir yang menghancurkan tanah di depannya. Sebuah jurang terbentuk dengan kedalaman 100 meter dan panjang 10 kilometer.
Luo Chen berlari keluar rumah saat mendengar gemuruh keras itu. "Guru, apa yang terjadi barusan?" tanya Luo Chen sambil menggoyangkan tubuh gurunya.
Guru Wu menatap jurang yang baru saja ia ciptakan. "Tampaknya aku terlalu berlebihan," katanya sambil tertawa kecil.
Luo Chen hanya bisa menggelengkan kepala melihat dampak serangan gurunya yang luar biasa. "Guru, seharusnya kau lebih berhati-hati," komentarnya setengah bercanda.
"Sudahlah, itu hanya insiden kecil," jawab Guru Wu sambil mengalihkan pembicaraan. "Apakah kau sudah menyelesaikan makanmu?"
Luo Chen mengangguk. "Sudah, tapi karena mendengar suara gemuruh tadi, aku belum sempat beres-beres."
"Biarkan saja, aku yang akan membereskannya nanti," kata Guru Wu.
"Tidak, Guru. Biar aku saja yang bereskan," kata Luo Chen bersikeras.
"TOK!" Guru Wu mengetukkan jarinya ke kepala Luo Chen. "Jangan keras kepala, bocah. Dengarkan baik-baik, sebentar lagi kau akan mulai menjalani pelatihan yang akan berlangsung selama lima tahun."
Mendengar itu, Luo Chen terdiam sejenak, tapi wajahnya menyiratkan kegembiraan. "Baik, Guru. Aku siap," jawabnya sambil tersenyum.
Guru Wu melanjutkan, "Coba lihat jurang itu lagi. Aku akan memperbaikinya sekarang." Guru Wu meletakkan telapak tangannya ke tanah dan mengucapkan, "Jurus Penyatuan Tanah, Tingkat Pertama!"
Tanah yang tadinya terbelah mulai bergetar, bergerak dengan sendirinya, lalu menyatu kembali. Dalam hitungan detik, jurang itu tertutup rapat, seolah tidak pernah ada.
Sambil berdiri, Guru Wu berkata, "Ada 15 elemen di dunia ini. Tujuh elemen umum, lima elemen langka, dan tiga elemen legendaris. Aku sendiri baru menemui dua belas dari lima belas elemen itu."
Luo Chen tercengang. "Setahuku, hanya ada empat elemen—api, air, angin, dan tanah. Bagaimana bisa ada lima belas?" tanyanya penasaran.
Guru Wu tersenyum tipis. "Itu hanya elemen dasar. Dengarkan, elemen umum meliputi api, air, angin, tanah, kayu, petir, dan racun. Elemen langka adalah es, magma, logam, kegelapan, dan cahaya."
Luo Chen mencoba mengulang-ulang penjelasan itu di dalam benaknya. "Guru, bolehkah aku membaca buku-buku tentang elemen-elemen itu sekarang?" tanyanya sambil melangkah ke dalam rumah.
Namun, Guru Wu cepat-cepat menghentikannya. "Jangan terburu-buru, bocah. Dengarkan dulu sampai selesai," ujar Guru Wu dengan nada datar.
Luo Chen segera berbalik, menundukkan kepalanya. "Maaf, Guru. Murid terlalu bersemangat."
Guru Wu hanya menghela napas panjang. "Mulai besok, kau akan menjalani pelatihan fisik dan mental. Bangun pagi, ambil air di sungai, dan latih tubuhmu. Ini akan menjadi perjalanan panjang. Siapkah kau?"
Luo Chen tersenyum, kali ini lebih mantap dari sebelumnya. "Aku siap, Guru."
“Bagus,” balas Guru Wu dengan senyuman. “Setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jangan pernah meremehkan kekuatan latihan dan dedikasi. Jika kau serius, kau akan melihat hasilnya dalam waktu singkat.”
Luo Chen mengangguk dengan penuh semangat, merasakan dorongan kuat untuk membuktikan kemampuannya. "Aku akan berusaha sekuat tenaga, Guru!" tekadnya menggebu-gebu.
"Baiklah, ingatlah untuk selalu menjaga konsentrasi dan disiplin. Setiap usaha yang kau lakukan adalah investasi untuk masa depanmu," ucap Guru Wu sambil menatap lurus ke depan, seolah melihat masa depan cerah yang menanti Luo Chen.
Dengan tekad yang baru ditemukan, Luo Chen berlari menuju sungai, siap menghadapi semua tantangan yang ada di depan.
Hari baru telah tiba, dan pelatihannya akan dimulai dengan penuh semangat. Dia tahu, setiap tetes keringat akan menjadi langkah menuju impiannya untuk menjadi seorang pejuang yang hebat.
Saat Luo Chen berlari menuju sungai, pikirannya dipenuhi bayangan masa depan yang penuh tantangan. Ia tahu, perjalanan yang akan ia tempuh bukanlah hal yang mudah.
Setiap langkah yang diambil hari ini akan menentukan kekuatannya di masa depan. Pelatihan yang diberikan oleh Guru Wu bukanlah sekadar latihan fisik, tetapi juga pelatihan mental dan spiritual yang akan membentuk jati dirinya.
Ketika ia sampai di tepi sungai, Luo Chen berhenti sejenak untuk merasakan angin sejuk yang berhembus, menenangkan pikirannya. "Ini hanya permulaan," pikirnya. Dengan batu berat di tangan, ia mulai melangkah masuk ke sungai yang dingin, air menyapu kakinya.
Dengan tekad bulat dan hati yang bersemangat, Luo Chen mengangkat batu itu, membasahinya dengan air sungai sesuai perintah gurunya. Setiap kali ia membasahi batu itu, tubuhnya mulai merasakan beban yang semakin berat. Namun, tekadnya tak pernah goyah.
"Ini adalah jalanku menuju kekuatan. Aku tidak akan menyerah," gumamnya sambil terus melanjutkan latihan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Acing Kagawa
yang ke 13 , elemen ruang ,...
yang ke 14 , elemen waktu ,...
yang ke 15 , elemen asal ,... kayak novel sebelah , hhhhh
2024-11-06
1
syarif ibrahim
ini kayaknya utk pembaca aja ya waktunya.... kalo diceritanya jam belom ditemukan... 😁😁😁🙏🏻👍🏻
2024-11-16
0
Aman 2016
mantab Thor lanjut semangat
2024-10-24
1