Di rumah Amira
Semua mengkhawatirkan keselamatan Amira.
Bu Nina (Ibu nya Amira) dan Pak Danu (ayah nya Amira) sangat syok dengan kejadian yang mereka alami di perjalanan tadi.
Padahal mereka tidak mempunyai musuh sama sekali, jadi siapa orang yang tega menculik Amira.
Pak Danu langsung menghubungi ayah nya yaitu Pak Burhan, memberi tahu kan kalau cucu nya di culik orang.
Mengetahui itu Pak Burhan sangat marah.
"Siapa yang berani menculik cucuku?dia satu satunya pewaris perusahaan ku"
Pak Burhan mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan cucunya.
Bahkan dia sudah mempersiapkan sejumlah uang, jika saja ada seseorang yang meminta tebusan atas cucunya itu.
Tapi sayangnya sudah beberapa lama pun tidak ada telpon sama sekali dari penculik nya.
"Untuk apa mereka menculik cucu ku?.. Kenapa tidak ada kabar sama sekali?.
Pak Burhan pun sudah tidak sabar. Akhirnya dia mendatangi rumah anaknya (Danu).
Pak Danu dari tadi mondar mandir terus. sementara Bu Nina tak henti-hentinya menangisi anaknya.
Setelah mereka tunggu tidak ada satu pun dari penculik nya menghubungi.Akhirnya Pak Danu menghubungi pihak kepolisian dan menceritakan kejadian yang terjadi.
Pak Polisi pun mulai menangani kasus nya.
Kepala Bu Nina terasa sangat pusing, kemudian dia meminta Bi Tuti untuk pergi ke Apotek membeli obat.
Bi Tuti pun langsung berangkat untuk membeli nya.
Setelah di tunggu-tunggu Bi Tuti tidak kunjung datang. Padahal jarak dari rumah ke Apotek cukup dekat.
"Pergi ke mana Bi Tuti? ..Kenapa dia tidak pulang juga?.."
Kata Bu Nina sambil memijit kening nya.
Satu jam, dua jam, Bi Tuti tak kunjung datang.
Pak Danu memutuskan untuk mencarinya ke Apotek. Takutnya terjadi apa-apa pada Bi Tuti di sana.
Pak Danu pun sampai di Apotek, dia melihat ke sekeliling tidak ada Bi Tuti di sana. Kemudian Pak Danu bertanya pada orang-orang apa ada yang melihat Bi Tuti. Semuanya tidak ada yang melihat nya.
Pak Danu pun pulang lagi ke Rumah.
"Bu tidak ada Bi Tuti di sana, bahkan tidak ada siapapun yang melihat nya"
Kata Pak Danu datang-datang sambil langsung duduk di kursi dekat istrinya.
"Jangan-jangan Bi Tuti juga diculik sama mereka pa.. "
Kata Bu Nina mengambil asumsi.
"Bisa jadi Bu, tapi untuk apa mereka menculik nya?.."
" Entahlah Pak, Kepala saya sudah sakit memikirkan anak kita yang di culik, eh sekarang malah Bi Tuti ikut-ikutan hilang "
Pak Burhan datang.
Dia nampak begitu kesal
"Bagaimana apa sudah ada kabar tentang cucuku?.."
" Belum Pak, bahkan sekarang bertambah, Bi Tuti pembantu kami ikut hilang pak"
Kata Bu Nina kepada mertuanya itu.
"Apa?..jangan-jangan dia yang menculik cucuku?.."
Kata Pak Burhan.
" Entahlah Pak.. tapi rasanya tidak mungkin kalau Bi Tuti tega menculik Amira. Bi Tuti orang baik,bahkan dia telah kami anggap sebagai saudara sendiri "
Bu Nina menjawab.
Pak Burhan menelpon anak buahnya, Tugas mereka bertambah selain mencari cucunya mereka juga harus mencari Bi Tuti
Hari itu pun berlalu, Tidak ada informasi apapun tentang Amira. Semua yang di lakukan anak buah Pak Burhan nihil hasilnya.
Bahkan Polisi pun belum menemukan jejak penculik itu.
Pak Burhan merasakan sakit di dadanya.
Dia pun memanggil Dokter pribadi nya ke rumah.
Dokter pun menyarankan agar Pak Burhan tidak terlalu banyak pikiran. Biar penyakit jantung nya tidak kumat lagi.
Mana mungkin Pak Burhan tidak banyak pikiran, jika cucu kesayangannya sampai sekarang belum ketemu juga.
"Buat apa harta kekayaan ku ini jika cucuku tidak ada, hidupku sudah sepi dengan meninggalnya istriku dok, sekarang di tambah cucuku di culik orang dan sampai sekarang tidak ada kabarnya"
Kata Pak Burhan menceritakan semuanya pada Dokter pribadi nya. Karena selain dari Dokter pribadi nya dia juga sahabat dekatnya.
Pak Dokter pun sangat kaget mendengar kalau Amira di culik
"Mudah mudahan cucumu segera ketemu"
Kata Dokter sambil menulis resep obat untuk Pak Burhan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments