Enam bulan lebih kepergian Arya, akhirnya Amira mulai beraktivitas kembali seperti biasa.
Suasana sunyi sepi yang Amira selalu rasakan, hidupnya seakan tidak punya tujuan. Amira selalu termenung sendiri. Bayangan Arya tidak bisa lepas dari nya.
Sekarang Amira terlihat semakin kurus, Jangan kan untuk merawat diri, untuk sekedar makan saja, rasanya Amira sangat malas.
Ayah, ibu serta Purnama selalu menghibur nya, agar Amira tidak terlalu larut dalam kesedihan.
Siang itu, Amira duduk di teras rumah, sambil melamun
"Assalamu'alaikum.. "
Purnama mengucap salam, dia baru pulang dari sekolahnya.
"Wa'alaikumsalam.. "Amira menjawab salam walaupun agak sedikit kaget,
Lalu Purnama mencium tangan ibunya.
"Bu tolong bantu Purnama mengerjakannya tugas sekolah ya! .. "
"Iya, memang nya apa tugas nya? " kata Amira.
''Disuruh buat kerajinan tangan dari tanah liat bu. "
"Oh ya udah, sekarang Purnama mandi, lalu makan. nanti kita buat kerajinan nya sama-sama, ".
" Siap bu..! _"kata Purnama sambil menghormat pada ibunya..
Amira tersenyum melihat kelakuan anaknya.
Purnama pun pergi mandi dan mencuci pakaian yang dia pakai ke sekolah,Purnama tidak ingin menyusahkan ibunya,apalagi ibunya dalam kondisi seperti ini. Selesai mandi dia makan nasi dengan ayam goreng kesukaan nya.
"Bu ayo makan..! "
"Kamu saja nak.. ibu tadi sudah makan goreng pisang. Tuh masih ada sisanya, kalau kamu mau ambil aja. "
"Gak ah bu Purnama sudah kenyang. Ayo bu kita cari tanah liat nya. "
Amira mengangguk sambil mengikuti langkah anaknya.
Mereka menggali tanah secukupnya, dan dimasukkan ke dalam kantong plastik. Lalu mereka pulang kembali.
Sampai rumah Purnama langsung mengulenni tanah liat tersebut agar menjadi lebih mudah untuk dibentuk. . Sedangkan Amira malah duduk termenung. Dalam hati Amira berkata
"Jika saja bapak mu masih ada, pasti dia yang akan membantu mu. "
Tahap demi tahap pembuatan asbak Purnama kerjakan.
Dengan penuh ketelatenan. sambil melihat contoh dari asbak yang sudah jadi.
Alhamdulillah hasilnya pun tidak terlalu mengecewakan.
"Bu.. asbak nya sudah jadi, saya mau jemur dulu ya! .. "
"Iya nak. . "
* Di rumah orang tua Amira *
"Bu bagaimana kalau Amira kita suruh untuk tinggal di rumah bibinya dulu, biar dia tidak teringat terus dengan suami nya. ? "
Di Sana suasana nya ramai, mungkin saja Amira jadi terhibur.
"Silahkan saja kalau menurut bapak itu baik buat Amira."
kata ibu
Bapak pun menelpon adik nya (bibinya Amira) dan memberi tau semua kejadian di sini panjang lebar, Bibinya pun turut berduka dengan kejadian yang menimpa Amira.
Bibi Amira pun sangat menyetujui kalau Amira tinggal di sana. Lagian dia sering bepergian ke luar kota, jadi kalau ada Amira, ada yang menemani anak nya di rumah.
Orang tua Amira sudah begitu keras berusaha agar Amira bangkit lagi.Semua kenangan yang mengingat kan Amira sudah org tua nya bereskan bahkan pohon durian tempat Arya jatuh pun sudah di tebang, tapi tetap saja keadaan Amira terlihat begitu menyedihkan.
Amira duduk di kursi beralaskan baju Arya sebagai bantalnya. Baju itu tidak Amira kasih kepada siapa pun, Itu satu satunya baju kesayangan Arya. Sekarang hanya baju itulah yang menemani Amira tidur.
Bapak menghampiri Amira, lalu duduk dekat kepala nya. Lalu mengusap kepala Amira sambil berkata
"Nak apa kamu mau menenangkan diri di rumah bibi? "
"Iya Pak, kalau bapak izinkan Amira mau ke sana "
"Bapak ijinkan, mudah mudahan dengan kamu di sana, kamu bisa sedikit melupakan kejadian ini. "
"Aamiin.. saya titip Purnama ya pak, selagi Amira di sana"
"Bapak akan menjaga anakmu, meskipun kamu tidak menitipkannya,Jangan khawatirkan dia
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments