Amira terus saja menggedor pintu nya.Tapi tidak seorang pun membuka pintu tersebut.
Berteriak meminta tolong pun percuma, tidak ada seorang pun yang datang menolong nya.
Kesedihan yang amat mendalam di rasakan Amira. Dia sedih karena dia entah berada di mana, dan untuk apa mereka menculik nya, dia juga sedih mengingat orang tua nya yang sekarang entah dimana keberadaan nya, Apakah mereka baik-baik saja? Atau kah sebaliknya?
Malam pun tiba. Ruang kamar pun semakin gelap. Tubuh Amira yang bersandar di pintu pun melorot ke bawah.
Amira terduduk lesu di balik kegelapan. Tidak ada seorang pun menghampiri nya. Seolah-olah di rumah itu tidak ada siapa-siapa.
Amira pun teringat, kalau di saku bajunya ada sebuah tasbih pemberian Bu Ustadzah. Dia pun mengambilnya dan mencium tasbih itu. Kemudian tasbih nya pun dia gunakan untuk beristighfar.Entah berapa banyak dia melafalkan nya, yang pasti nya jari tangannya terus bergerak mengikuti mulut nya mengucap Istighfar.
"Astaghfirullah.."
"Astaghfirullah.."
"Astaghfirullah.."
"Ya Alloh.. selamatkan lah hamba -Mu ini, tiada daya dan upaya kecuali atas karunia-Mu Ya Alloh"
"Astaghfirullah.."
"Astaghfirullah.."
"Astaghfirullah.."
" Ya Alloh.. Selamat kan juga kedua orang tua ku di mana pun mereka berada"
Entah sampai jam berapa, akhirnya Amira tertidur masih dengan posisi yang sama. Tasbih di tangan nya pun masih dia pegang.
Matahari pagi bersinar menerpa jendela kamar dan membuat silau mata Amira yang mulai terbuka.Dia mengucek matanya yang terasa bengkak, mungkin karena semalaman dia menangis.
Amira pun bangkit dan berjalan ke arah jendela. Lalu tirai nya dia geser. Terlihat pemandangan yang sangat indah di sana. Perkebunan cabe dan tomat yang sangat luas nampak dari dalam.
Tiba-tiba terdengar suara orang yang membuka kunci pintu. Dan pintu pun terbuka.
Seseorang masuk dengan membawa se nampan makanan.
Lusi pun mundur karena takut orang itu akan berbuat yang tidak-tidak.
"Tenang saja, aku tidak akan menyakitimu. Makanlah.. "
Kata orang itu sambil menyimpan makanan nya di atas meja.
Seseorang dengan perawakan yang tinggi dan berkulit putih. Dengan usia yang masih muda.
Dia berdiri menatap Amira
Amira pun semakin mundur karena merasa takut padanya.
Lalu dia pergi meninggalkan Amira. Didekat pintu dia berbalik lagi.
"Ingat jangan coba-coba kabur dari sini. Anak buah ku ada di mana-mana. "
Katanya sambil menutup lagi pintunya.
Jantung Amira yang tadinya tak karuan, akhirnya normal kembali.
"Siapa dia Ya Alloh?.. "
Amira melihat apa yang dibawa dia tadi. Ternyata dia membawa nasi dengan ayam goreng, sayur, dan sebotol air minum.
Walaupun perutnya terasa lapar tapi Amira tidak memakan makanan itu.
Amira hanya duduk termenung di kasur dekat jendela. Dia berpikir untuk apa mereka menculik nya.
Selang berapa lama orang tadi datang kembali ke kamar.
Dia membawa beberapa pakaian ganti untuk Amira, dan menaruhnya di atas kasur.
"Kenapa makanan nya tidak di makan?.. Apa makanan nya kurang enak?..Kalau tidak enak kamu bisa masak sendiri di dapur. Bahan masakan semuanya ada di kulkas kamu tinggal pilih mau masak apa.Oh iya, itu baju ganti untuk mu,pakailah.Untuk keperluan lainnya yang kamu butuhkan nanti kamu tinggal bilang saja kepada Bi Tuti. "
Dia pun pergi ke luar. Pintu kamar nya di biarkan terbuka.
Amira merasa heran,
"Kenapa dia di culik tapi di perlakuan sangat baik? .."
Terus siapa Bi Tuti itu? Kenapa namanya sama seperti nama pembantu nya di rumah?."
Berbagai pertanyaan ada di benak Amira
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 43 Episodes
Comments