“Ayo kita buat kesepakatan!” sergah Dharen buru-buru turun dari ranjang rawatnya.
Dharen sengaja menghampiri Alina.
“Maksudnya?” lirih Alina penuh tanya. Namun, Dharen mengangsurkan tangan kanannya. Dharen seolah ingin Alina menjabat tangan pemuda itu. Kesepakatan—ya, Alina yakin alasan Dharen melakukannya memang untuk itu.
“Setialah padaku, ... apa pun itu, aku akan membantumu. Maksudnya, meski nantinya kamu benar-benar sudah bercerai dan bahkan menikah lagi, ... kamu tetap wajib bekerja kepadaku. Kamu wajib berisik, jangan sampai diem apalagi mirip kayak kena guna-guna kayak tadi lagi.”
“Andaipun kamu sampai menikah lagi, kamu tetap wajib bekerja kepadaku. Syukur-syukur, kamu enggak usah menikah lagi lah. Lagian, nikah yang sekarang saja, sampai di zalimi. Cuma makan hati, kan?”
Dharen berbicara panjang lebar.
“Sembarangan minta anak orang enggak nikah lagi. Kasihan orang tuaku lah, mereka pasti pengin lihat aku menikah dengan laki-laki yang lebih baik dari yang sekarang. Syukur-syukur memang yang jauh berkali-lipat lebih baik. Good looking, good rekening, dan good attitude!” ucap Alina yang kemudian menyalami tangan kanan Dharen sambil meliriknya sebal.
Karena Dharen mendelik dan pemuda itu tampak akan memak.i Alina, Alina berkata, “Kalau aku sampai enggak menikah lagi, mantanku jadi kegirangan. Joged zumba setiap saat dia. Dia pasti merasa menang dan makin leluasa mengin.jak-in.jak aku.”
“Namun jika aku makin sukses bahkan dapat jodoh seperti target dengan yang jauh berkali-lipat lebih baik dari dia. Ini ibarat balas dendam paling elegan yang memang harus aku lakukan.”
“Jadi, meski nanti aku menjanda, aku akan menjadi Alina yang lebih baik lag. Aku akan menjadi Alina yang makin sukses. Termasuk level suami pun, wajib yang lebih berkelas lagi. Andai jadi banyak yang takut menikah denganku karena mereka merasa aku enggak layak dijadikan istri dan biasanya mereka khawatir, aku sulit diatur dan sok berkuasa. Maaf-maaf saja, itu ibarat seleksi alam yang Allah lakukan. Bahwa laki-laki bermental seperti mereka enggak cocok buat aku. Aku terlalu istimewa untuk mereka!”
Setelah berbicara panjang lebar, Alina berkata, “Kenapa Bos enggak menikahi aku saja? Biar aku makin setia ke Bos. Bos paham lah, aku wanita seperti apa!” Alina benar-benar serius.
Ketika Alina tetap dengan santai menghadapi Dharen. Tidak dengan Dharen yang langsung gugup. Dharen menggunakan tangan kirinya untuk menimpuk wajah Alina. “Ngajak nikah kok ke Aku. Aku masih di bawah umur!”
“Usiaku baru dua puluh tujuh tahun,” jelas Dharen.
“Namun di mataku, ... Bos memang masih embrio sih. Bibit cebong gitu. Masih di bawah umur banget!” ucap Alina mengakhirinya dengan menjerit lantaran Dharen membekapnya. Tangan kanan Dharen sampai mencubit gemas bibir Alina.
“Mulutmu kalau ngomong enggak pakai aturan!” kecam Dharen.
“Lah, ... aku kan terinspirasi dari Bos. Bos ini motivasi sekaligus inspirasiku!” yakin Alina yang lagi-lagi mendapat hukuman dari Dharen. Kali ini, Dharen meno.yor kepala Alina.
“Karena kamu sudah mirip manusia, aku pulang dulu.” Dharen sengaja pamit.
“Lah, aku kan manusia!” kesal Alina.
Dharen melirik Alina sebal. “Jangan khawatir, menjadi janda termasuk keluar dari kezaliman bukanlah sebuah dosa.”
“Iya. Yang dosa itu kalau kita zal.im. Termasuk zali.m ke diri sendiri. Sudah tahu disakiti, masih saja bertahan,” ucap Alina yang kemudian menatap Dharen. “Intinya, meski kita terikat dengan peraturan agama. Namun agama juga meminta kita untuk berakal. Jangan hanya menjadikan agama sebagai gaya apalagi kedok.”
Dharen tahu, Alina masih dalam keadaan serius. Namun dengan jailnya, ia berkata, “Lagi curhat yah, Buk? Suami sama mertua zalim dan menjadikan agama sebagai tameng? Awok awok!”
Sadar Alina akan melemparkan bantal kepadanya, Dharen yang langsung kabur, berkata, “Jangan zalim ke aku. Gini-gini aku yatim piatu! Dosa menyakiti yatim piatu bisa berkali-lipat dan langsung sampai malaikat Israil!”
“Tapi tawaran dan kesepakatan tadi?” seru Alina menagih kesepakatan mereka.
Detik itu juga, Dharen yang sudah sampai keluar dari kamar Alina berkata, “Selagi kamu masih setia, aku akan tetap bantu. Namun kalau aku sampai lihat kamu mirip orang diguna-guna lagi seperti tadi, aku enggak segan lempar kamu ke kolam!”
Akhirnya kebersamaan mereka diakhiri dengan kesepakatan yang benar-benar menjadi pengikat mereka.
“Rasanya selega ini, alhamdullilah,” batin Alina. Hal yang turut Dharen lakukan, meski Dharen tak sampai berkata “Alhamdullilah.”
Namun, Dharen sampai menitipkan Alina kepada suster yang jaga dan tiduran di ruang pendaftaran.
Kemudian, Alina mengecek ponselnya. Alina memang berniat mengabari pakdenya yang seorang pengacara, besok pagi. Alina hanya iseng mengecek ponsel. Sebab mengobrol dengan Dharen dan membuatnya menegaskan tekadnya menjadi Alina yang makin baik sekaligus makin sukses. Membuat Alina rindu orang tuanya.
Seolah kerinduan Alina langsung terhubung kepada sang mama. Di waktu yang memang sudah nyaris pukul setengah dua belas malam, ia mendapatkan pesan WA dari sang mama. Kemudian, juga ada notifikasi m-banking.
Mama 💗💗 : Assalamualaikum, Kak? Kamu sudah tidur? Enggak tahu kenapa, rasanya Mama kangen banget. Kamu bahagia, kan? Kamu masih tetap makan, kan?
Mama 💗💗 : Kuat-kuat ya, Sayang. Apa pun keputusanmu, Mama akan selalu dukung. Mama tahu ini enggak muda. Namun Mama percaya, tidak ada yang tidak mungkin, jika kamu sudah memiliki keinginan.
Mama 💗💗 : Kakak tidak perlu takut dengan perceraian. Jangan pernah berjuang untuk mereka-mereka yang hanya zalim ke Kakak. Kakak itu istimewa, dan Mama PERCAYA, YUSUF DAN MAMANYA SALAH CARI LAWAN!
Mama 💗💗 : Lakukan yang terbaik. Apa pun itu, Mama siap dukung kamu. Mama akan pantau dari jauh dan mengikuti semua usahamu!
Mama 💗💗 : Peluk dari jauh ya, Sayang! Mama, Papa, dan semuanya sayang kamu. Ini Mama kirim uang, kalau masih kurang, bilang saja. Kamu harus makan banyak makanan enak. Beli semua yang kamu suka. Beli baju baru karena Mama lihat, setiap foto yang kamu kirim, masih pakai baju itu-itu saja. Perawatan, kamu wajib jadi lebih cantik. Jaga penampilan, dan makin jadi berlian, biar Yusuf nyesel senyesel-nyeselnya!
Mama 💗💗 : ❣️❣️❣️
Untuk pertama kalinya, Alina tersedu-sedu. Dada Alina terasa sangat pegal. Alina sampai memuku.lnya beberapa kali menggunakan tangan yang mengepal. Berharap, caranya itu mampu membuat rasa pegal di sana berkurang.
“Oke, ayo jadi Alina yang lebih baik lagi!” tekad Alina sudah bulat. Alina langsung menyeka tuntas air matanya.
Jadi, ketika Alina bangun dan infusnya dilepas, Alina langsung mencari Binar. Alina siap mempercantik diri, termasuk membeli seperangkat kosmetik lagi. Lain dengan Rita yang pura-pura menangis tersedu-sedu, hingga Ucup alias Yusuf yang masib lelap, terbangun dan langsung syok.
(Aku ganti cover biar bisa lebih dapat karakter tokohnya ya. Itu Dharen, bukan si Ucup ya 😂)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Nartadi Yana
opa² Korea masih imut Thor babang Daren nya
2024-11-21
0
himawatidewi satyawira
setujuuu tante..dikirain alina kyk pussy, eh ndak sadar mrk bngnin singa tidur
2024-10-07
0
himawatidewi satyawira
pas
2024-10-07
0