Yusuf mengambil tas kerjanya kemudian menyusul Alina yang tetap memilih pergi. Alasan yang membuat mulut ibu Mimi makin berisik. Ibu Mimi tak hentinya melarang agar Yusuf tidak pergi. Dengan dalih, sebentar lagi ibu Lia dan Rita akan sampai.
“Yusuf!” Di teriakan yang entah ke berapa, ibu Mimi buru-buru mengambil ponselnya. Ponselnya berdering, dan itu telepon masuk dari ibu Lia.
“Sudah sampai mana, Jeng?” seru ibu Mimi tanpa terlebih dulu melayangkan salam bahkan untuk sekadar basa-basi. “Oh, sudah sampai depan? Oke ... oke. Saya keluar ya!” Ibu Mimi begitu semangat keluar rumah. “Wah ... pas banget ini. Biar si mandul lihat sekalian!” pikirnya kegirangan seiring ia yang juga mempercepat langkah. Tak sabar rasanya membuat Alina kembali kena mental.
Yang ibu Mimi harapkan, Alina pergi dari sana dan cukup dibereskan dengan talak. Ibu Mimi tidak sudi keluar uang sepeserpun jika itu untuk Alina. Bahkan meski itu untuk mengurus perceraian, agar Alina tak menjadi bagian dari Yusuf lagi.
Termasuk itu, meski kabarnya, Alina yang meski orang kampung, anak dari keluarga berada. “Lah, kayanya orang kampung paling enggak seberapa. Paling cuma punya beberapa petak sawah. Terus tanah pekarangan rumah. Terus, meski rumah orang tua Alina gedong, paling ya modal utang bank! Ih, orang kampung kan gitu! Banyak keluarga, jadi ngerepotin!”
Di depan teras, alasan Alina berhenti bukan karena ditahan-tahan Yusuf. Alasan Alina berhenti, murni karena rasa penasarannya ke mobil yang berhenti di depan gerbang rumah.
“Oh, ... itu mantu idaman mamamu, Mas!” ucap Alina sangat antusias. Ia melongok penasaran. Mencoba melihat apa yang ada di dalam mobil sana.
“Kok enggak keluar-keluar, Mas?” bisik Alina lagi. “Wah, bener dong ini Mas. Berarti memang spek bidadari. Yang lemah lembut mirip putri keraton, dan sekadar ngomong, bibir tetap mingkem!” Tak mau bahagia sendiri, Alina sengaja menyalami tangan kanan sang suami. “Selamat ya, Mas! Dapat spek istri bidadari!”
“Apaan, sih? Tadi pas pamit, kamu boro-boro salaman. Nah sekarang,” omel Yusuf yang sebenarnya belum selesai.
Karena lagi-lagi, Alina memotong ucapannya. “Alaaaah, bilang saja sebenarnya Mas seneng! Mau dapat yang baru, spek bidadari. Namun tentu ya, Mas. Ingat, hubungan kita sudah enggak lebih dari teman gibah. Selain, ... aku yang bakalan jadi atasan kamu, kalau kita ada di perusahaan!”
“Enggak bisa gitu, dong!” protes Yusuf setelah refleks menghela napas panjang sekaligus dalam.
Namun, Alina tidak peduli. Alina tetap memperhatikan sosok yang keluar di depan sana. Terlebih, ibu Mimi sampai lari, hanya untuk segera sampai gerbang. Wanita bertubuh semok itu sampai terpeleset dan nyaris jatuh. Andai, Yusuf tak menahannya, sudah kena stroke tuh ibu Mimi gara-gara kepalanya mengha.ntam pagar.
“Pelan saja, Ma. Pelan. Nanti kalau Mama sampai stroke, malah enggak seru. Satu lagi, sesempurna apa pun menantu idaman Mama, itu enggak akan mengurangi rasa syukurku telah menjadi seorang Alina yang sesempurna ini,” ucap Alina sengaja menyindir sang mertua.
“Kalau kamu sempurna, kamu pasti sudah punya anak. Namun nyatanya, kamu itu wanita mandul! Alasan badan kamu tetap kenceng karena kamu enggak merasakan proses hamil dan punya anak!” ucap ibu Mimi sambil mendelik-mendelik kepada Alina.
“Oh, bener juga sih. Berarti, aku wajib mengubah resolusiku. Berarti, aku wajib cari SUAMI KAYA RAYA, YANG ENGGAK NUNTUT ADANYA ANAK. IBARATNYA, ... ANAK IBARAT BONUS DALAM HUBUNGAN. ATAU, URUSAN ANAK BISA DIPROSES LAH. KAN KALAU KAYA RAYA, OTOMATIS TIDUR SAJA, KASURNYA UANG! BUKAN SEKADAR GAJI SAJA MASIH DIPEGANG MAMANYA, KAN, MA?” ucap Alina yang kemudian berkata, “Bismilah, resolusiku, jadi wanita sukses. GANTI SUAMI. GANTI MERTUA. SUAMI BARUKU GOOD LOOKING SAMA GOOD REKENING JUGA. GOOD MERTUA JUGA!”
Ibu Mimi nyaris mengamu.k Alina. Begitu juga dengan Yusuf yang tidak terima mengenai resolusi baru Alina. Resolusi baru yang menjadikan ganti suami, sebagai bagiannya. Namun, ibu Mimi berusaha waras.
“Sudah, Suf. Kamu diam saja. Wanita memang begitu. Makin wanita pusing dan tertekan. Makin banyak omong juga bibir mereka. Si Alina pasti sudah cemburu berat karena calon madunya datang!” bisik ibu Mimi.
“Enggak usah bisik-bisik, aku juga dengar!” sinis Alina yang kemudian refleks berkata, “Wah, gede, Mas! Becadar. Jadi ingat kas.usnya wanita suci dan pakde Ilham, di novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan)! Fenomenal kan tuh novel!”
“Ma, ini beneran remaja baru lulus SMA, apa malah sudah spek EMA-EMA? Sebelas dua belas loh sama Mama! Oh iya, ... tapi enggak apa-apa, sih. Biar Mas Yusuf enggak perlu beli kasur. Sudah gede begitu, enggak perlu alas yang empuk-empuk lagi lah ya!” Alina tetap cekikikan, bahkan meski sang ibu mertua sampai melemparinya menggunakan sandal. “Bukan bermaksud body.shaming ya. Ini review jujur!” lirih Alina masih sibuk cekikikan.
“Iya, ... kok gede, ya. Dua kali-lipat lebih gede dari Alina,” batin Yusuf yang diam-diam juga melakukan penilaian kepada Rita. “Tapi mungkin efek pakaiannya. Alhamdullilah, dapat yang bercadar. Kalau dari matanya sih, harusnya masih muda,” batinnya. “Di foto pun, wajahnya memang manis.”
“Ini sih, ... masya Allaahhhhh!” ucap ibu Mimi sengaja berseru sambil melirik Alina. Padahal, ia tengah membiarkan tangan kanannya disalami Rita, dengan sangat takzim. Ibu Mimi sengaja pamer kepada Alina.
Alina yang sadar tengah dibanding-bandingkan oleh ibu mertuanya, sengaja melempar sebelah sandal mertuanya. Sandal yang tadi sempat dilempar mengenai wajah Alina itu, berakhir di genteng rumah tetangga sebelah. Ibu Mimi langsung mendelik akibat balasan Alina yang tersenyum tak berdosa kepadanya.
“Eh, ... eh, ....” Alina sengaja berseru sambil menghampiri kebersamaan. Sebab Rita yang terlihat sangat ceria, hendak menyalami Yusuf juga.
“Wanita bercadar dilarang asal salaman dengan lawan jenis yang jelas-jelas bukan mahram. Sesama muslim harus saling mengingatkan, kan?” tegas Alina yang kemudian menyalami Rita. Ia melakukannya dengan tegas, menggantikan tangan kanan Yusuf yang sebelumnya nyaris disentuh tangan Rita.
Apa yang Alina lakukan sukses membuat kebersamaan di sana menjadi dihiasi perasaan tidak nyaman.
“Jeng, ... dia siapa?” bisik ibu Lia. Karena baginya, tampang Alina lebih pantas menjadi bos.
Setengah hati karena telanjur gondok dengan ulah Alina, ibu Mimi berkata, “SI MANDUL, YANG DIKEL.ONIN SAMPE ENCOK, ENGGAK BUNTING-BUNTING!”
Ketika ibu Lia maupun Rita langsung terkejut, tapi kompak tersenyum meremehkan Alina, tidak dengan Alina yang menyikapinya santai.
“Yang penting saya enggak doyan suami orang. Apalagi zi.na sembarangan. Pokoknya, Ukhty ... Ukhty sekalian pasti lebih paham, ya. Terus ini, mohon maaf banget. Berhubung sedang bertemu karena ke depannya saya pasti tidak punya waktu. Ini, saya mau sekalian serah terima suami. Mohon maaf ya, Ukhty, ini bekas saya. Mohon diterima dengan lapang dada. Adanya begini, tipikal anak mami. Makanya, setelah ini saya mau cari yang lebih!” ucap Alina sambil merangkul punggung Yusuf dengan santun.
Kebetulan tak lama setelah itu, hape kentang milik Alina yang sekadar menerima telepon langsung tewas, bunyi. “Dasar hape kentang!” kesal Alina dalam hatinya sambil buru-buru lari.
Sebenarnya saat awal menikah dengan Yusuf, hape Alina itu yang ada label apel tapi bagian atas kanannya digi.git tetangga. Namun karena untuk membantu Yusuf membeli mobil, Alina memang ikut andil dengan menjual semua barang mewahnya. Alina bahkan menguras tabungannya. Jadi, itulah alasan kenapa cucu ibu Arum dan pak Kalandra itu, mendadak hidup terlunta-lunta.
Namun kalian jangan khawatir, Alina yang sekuat baja, akan bekerja keras untuk mewujudkan resolusinya. Resolusi yang salah satu isinya merupakan ganti suami!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
apa judulnya ortu alina ya thor?
2024-10-06
0
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
2024-09-16
0
Dewa Dewi
👍👍👍👍
2024-09-16
0