“Lima tahun menikah tak kunjung dapat bayi. Eh, sekalinya dikasih dan suruh mendidik, malah dikasih bayi segede ini. Mana arogan dan minus attitude mirip ibu Mimi! Ya Allah, kenapa Engkau selalu memberi hamba spesies macam ini? Sekuat apa kah, hamba, sampai ada di posisi ini? Kasihan wonder woman, ya Allah. Takut kalah saing kalau begini caranya!” batin Alina.
Jadi, tugas tambahan yang Alina dapatkan dari kakaknya Dharen itu mengasuh Dharen. Dharen harus dididik menjadi calon pimpinan perusahaan yang tangguh.
“Kalau Bos gagal, dan dalam satu bulan ini tidak ada perubahan. Sesuai mandat dari kakek Bos dan diatur dalam peraturan keluarga yang tidak boleh dibantah,” ucap Alina sambil membaca buku tebal dan baru saja ia ambil dari tas di bahu kanannya.
“Serius, semua yang akan aku jalani sampai diatur dengan peraturan dalam buku yang tebalnya mirip kitab suci kera sakti?!” sewot Alina.
Alina tidak bisa untuk tidak tertawa. “Bos kenal kera sakti juga? Panutanku itu buat melewati hidup yang penuh rintangan sekaligus masalah! Dari suami zalim, mertua dakjal, dan kasu.s perpoligamian!”
“Ih, ... malah curhat!” sinis Dharen, tapi yang disinisi benar-benar tak ambil pusing.
Alina itu tipikal ceria yang keceriaannya bisa membuat orang-orang di sekitarnya turut merasakannya.
“Baik lah, saya jelaskan lagi. Dalam peraturan di sini dijelaskan, andai dalam satu bulan ini Bos gagal. Bos tetap menjadi manusia tidak berguna yang hobinya dugem sekaligus main wani.ta, Bos terancam dicoret dari kartu keluarga. Selain Bos yang terancam dicoret dari daftar ahli waris.”
“Kalau saya gagal, kamu juga dipecat, kan? Masa iya, sudah segede ini, aku dikasih baby sister?!” sinis Dharen.
“Lah, Bos kan memang masih harus pakai popok, kan? Makanya kakek Bos sampai utus aku!” balas Alina dengan entengnya.
Dharen yang langsung murka, segera mengacungkan jari tengah tangan kanannya kepada Alina. “Jan.cuk kamu ya!”
Namun yang ada, Alina malah ngakak. “Heh, orang kota masa tahu jan.cuk? Apa iya, ini hasil dari kebiasaan Bos dugem? Atau, pacar-pacar Bos orang Jawa Timur, ya?”
“Sekarang gini saja. Kalau kamu memang baby sister yang layak buat aku, cek mobil aku dan pastikan alasannya mogok!” kesal Dharen sambil bersedekap sesaat setelah ia kembali memakai kacamata hitamnya. Ia sengaja menantang Alina, tapi Alina sama sekali tidak merasa keberatan.
Alina mengawasi mobil Dharen. “Harusnya, ini mobil keluaran baru loh.”
“Ya iyalah, ... aku kan orang kaya. Bisa ganti mobil kapan saja. Tentu mobil itu masih baru!” balas Dharen benar-benar sombong.
Alina langsung melirik Dharen. “Ealah ... yang kaya itu kakek Bos. Sekalinya Bos dicoret dari daftar kartu keluarga apalagi dari daftar ahli waris, ... Bos beneran enggak punya apa-apa.”
Lagi-lagi balasan enteng seorang Alina, membuat Dharen kesal setengah mati. Hanya saja, status Alina yang merupakan utusan kakeknya, membuat Dharen susah payah mengontrol diri. Andai gagalnya Alina dalam menanganinya, bisa membuat Alina dipecat. Namun nyatanya, itu tidak berlaku untuk Alina.
“Sesepesial apa sih, wanita jan.cuk dari Konoha selatan ini?” batin Dharen. Diam-diam, ia mengawasi Alina dari balik kacamata hitamnya.
“Jika mobil ini memang masih baru, harusnya tidak ada kesalahan teknis yang fatal,” ucap Alina yang kemudian menatap Dharen. “Awas saja kalau ternyata, alasan mobil ini mogok, efek kehabisan bensin. Malu-maluin jagad raya kamu Bos!”
Dharen langsung kikuk. Karena baru ia sadari, ia memang belum memastikan keadaan bensin mobilnya.
“Kan ... kan, benar!” ucap Alina yang detik itu juga langsung menatap Dharen sambil geleng-geleng.
Namun yang Alina tatap buru-buru melongos menghindari tatapannya.
“Terus, ini konsepnya mau bagaimana? Bos mau naik kendaraan lain, apa naik motor bareng saya—” sebenarnya Alina belum selesai bicara. Namun dari belakangnya, pak Sigit membisikkan, bahwa Dharen itu tidak bisa naik motor. Tentu saja setelah langsung terkejut, Alina juga merasa ada yang tidak beres dengan Dharen.
“Harusnya nih orang, orang gaul. Masa orang gaul enggak bisa naik motor?” pikir Alina.
“Ya sudah, sebagai baby sisterku, sekarang juga, sana belikan mobil ini bensin!” Dharen tak asal menyuruh. Karena ia juga mengeluarkan dompetnya yang berisi tebal, dari saku dalam jasnya.
“Mohon maaf nih, Bos. Beli bensin enggak semudah beli es teh apalagi es cek.ek yang bisa ditemukan di setiap warung jajanan. Ini kan wajib ke SPBU, sementara di sini ... duh, jauh!” balas Alina sembari keluar dari mobil bagus milik Dharen. “Andai bu Mimi tahu nih mobil bagus. Menangis kerikil lah tuh orang!” batinnya. Namun tiba-tiba saja, Alina malah menemukan revolusi dadakan. “Tapi kayaknya, ibu Mimi bakalan lebih ngenes. Bahkan dia bisa kejang-kejang, andai suami baruku justru Dharen!” pikir Alina yang diam-diam tertawa jahat, jauh di dalam hatinya.
Beberapa saat kemudian, akhirnya adegan Alina membonceng Dharen, kejadian juga. Masalahnya, Dharen sampai mengikat leher Alina menggunakan dasinya. Kenyataan tersebut terjadi, semata-mata agar Dharen bisa pegangan. Sebab meski Dharen berpegangan ke motor bagian belakang, nasibnya nyaris sama dengan pak Sigit. Bibir Dharen nyaris nyangkut sembarangan, saking cepatnya Alina dalam mengemudikan motornya.
“Heh, Alinaaaa? Nama kamu Alina, kan? Kamu masih hidup, kan?” Dharen sengaja berseru. Ia terlalu takut Alina kehabisan napas dan memang jadi tidak bisa bernapas, akibat ulahnya.
“Dicekik begini belum ada apa-apanya, dari sik.saan dari ibu mertua berekonomi sulit, tapi hidupnya pengin kayak orang elite, Bos!” balas Alina masih berseru. Meski di beberapa kesempatan, ia akan terbatuk-batuk.
Namun, Alina memang meminta Dharen untuk tidak menyentuhnya. Bahkan itu untuk berpegangan. Hingga terjadilah, adegan berpegangan layaknya sekarang. Leher Alina yang Dharen ikat menggunakan dasinya untuk berpegangan.
“Jadi, kamu ini Janda apa istri orang? Dari balasan kamu tadi, aku rasa kamu sudah muak banget ke mertua kamu!” ucap Dharen sengaja berseru mengingat mereka sedang mengendarai motor dengan sangat bar-bar.
Pengguna jalan yang lain sampai melongo melihat ulah Alina. Mereka seolah melihat iklan motor berkecepatan jangan ditiru saking bahayanya.
“Hah? Aku ...? Aku fifty-fifty Bos. Karena rencananya, selain makin bekerja keras buat jadi orang sukses, aku juga mau ganti suami baru. Sekalian cari mertua yang mulutnya enggak sampai ada seribu!”
Balasan Alina barusan membuat Dharen ngakak. “Gresek juga nih orang!” batinnya sampai mendo.rong punggung kepala Alina sekuat tenaga.
“Innalilahi untung kepalaku enggak lepas ... mau marah enggak mungkin. Dharen bosku, sementara peraturan mutlak menegaskan, bos enggak pernah salah. Beneran deh, kalau gini caranya, Dharen beneran jadi target suami baruku. Enggak apa-apa, sekarang Dharen masih song.ong. Yang penting, Dharen yatim piatu. Berarti aku enggak perlu pusing perkara mertua julid lagi!” batin Alina.
“Hah? Kantor masih sepi? Serius, ini? Ini masih pagi, atau malah sudah jam pulang, makanya kantor masih sepi?” heran Dharen.
Ketika Dharen terheran-heran lantaran untuk pertama kalinya datang ke kantor tak sampai telat, tidak dengan Alina yang sakit tenggorokan.
“Bahaya ini. Kalau suaraku sampai habis, pas pulang nanti, aku enggak bisa melawan ibu Mimi!” batin Alina.
(Novel orang tuanya Alina. Alina itu anaknya Akala—Nina. Alina punya kembaran namanya Akina tapi panggilannya Ojin. Alina diangkat anak oleh Azzam. Sementara Akina, diangkat sama Ojan. Ingat?)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Nartadi Yana
tinggal bilang sama papa akala atau pakde Aidan habis tuh keluarga Yusuf mimi
2024-11-21
0
Jade Meamoure
Alina Akina diangkat Ojan n Ojin wkwkwk
2024-12-27
1
Rifa Aulia
ya ampunnnnn.....
ngakak sampai sakit perut pas baca bab ini.🤣🤣🤣
2024-11-05
0