“Pokoknya Mama enggak mau tahu. Hari ini juga, saat kamu pulang. Kamu harus bawa Alina pulang juga!”
“Rita beneran enggak cocok buat beres-beres apalagi kalau urusan masak, Suf! Takutnya bukannya kenyang lebih-lebih enak, yang ada malah keracunan!”
“Sudah, Alina enggak usah kerja-kerja di luar. Kalau dia nekat tetap kerja, pastikan pekerjaan di rumah sudah beres. Baru dia boleh pergi.”
“Lagian lumayan juga kalau Alina kerja. Rumah rapi, ada penghasilan tambahan buat keluarga kita juga!”
Dari seberang, ibu Mimi teriak-teriak. Ibu Mimi yang menelepon Yusuf di jam kerja, mendesak Yusuf untuk segera membawa Alina pulang. Hanya saja, alasan itu terjadi bukan karena ibu Mimi menyesal telah zalim kepada Alina. Melainkan, ibu Mimi sadar, Rita tidak bisa diandalkan.
Ibu Mimi tidak membutuhkan Alina sebagai menantu. Karena ibu Mimi dengan sadar, membutuhkan Alina sebagai pembantu. Apa pun alasannya, Alina harus tunduk dan kembali beres-beres, mengerjakan semua pekerjaan di rumah Yusuf. Termasuk juga, hasil kerja Alina yang wajib disetorkan kepada ibu Mimi layaknya gaji Yusuf selama ini.
Kini, di tempat duduk kerjanya, Yusuf jadi gelisah. Bukan karena perkara permintaan sang mama yang akan sulit ia kabulkan. Terlebih membawa Alina pulang, tak semudah membawa wanita normal pada kebanyakan.
Ini mengenai Yusuf yang masih di jam kerja. Sementara kini, di depan ruang kerjanya yang juga diisi banyak karyawan, ada Dharen. Dharen masih ditemani Alina dan kakek Restu.
Karenanya, Yusuf buru-buru mengakhiri sambungan telepon mamanya. Ia menyimpan asal ponselnya ke saku sisi kanan celana bahan warna hitam, yang kali ini menyempurnakan penampilannya.
Alina tetap terlihat cantik meski hari ini, tak sampai merias wajah. Namun kedua mata Alina tampak bengkak parah. Bahkan meski Alina memakai kacamata. Diam-diam, Yusuf justru fokus mengawasi Alina. Padahal, Dharen yang kembali arogan bin bengis, tengah mengajak Yusuf berbicara.
“Eh, kamu siapa namanya!” kesal Dharen sambil menunjuk-nunjuk wajah Yusuf. Kemudian, ia sengaja menanyakannya kepada Alina.
“Yusuf,” bisik Alina tak sedikit pun iba kepada Yusuf. Hatinya telanjur bu.suk karena hubungan mereka. Sementara sesuatu yang bu.suk, apalagi hati, pasti sudah tidak bisa bekerja dengan semestinya lagi.
“PAK YUSUF!” Dharen sampai berteriak.
Namun, alasan Yusuf terusik, bukan karena bentakan Dharen. Melainkan usaha rekan kerjanya. Karyawan yang berdiri di sebelah kanan Yusuf, sengaja menendang kaki kanan Yusuf.
“Tolong jangan bikin saya marah-marah karena lebaran kurban masih lama. Belum saatnya bagi saya untuk mengorbankan karyawan seperti Anda. Yang sekadar ditanya saja tidak merespons!” bengis Dharen masih marah-marah.
Bukan hanya Alina yang diam-diam menahan tawa sambil menunduk, akibat kemarahan Dharen. Karena kakek Restu yang terkenal pendiam, juga sampai melakukan hal yang sama. Malahan, kakek Restu jadi jauh lebih bahagia ketika memergoki Alina juga menahan tawanya.
Namun dalam hatinya Dharen berdalih, tadi Yusuf justru sibuk mengawasi Alina. Layaknya pagi ini, ketika mereka bertemu di depan perusahaan hingga lift. Yusuf seolah menaruh perhatian lebih kepada Alina. Khas orang yang cemburu, sekaligus posesif.
“Si Yusuf ada apa ya, ke Suster Janc.ukku?” pikir Dharen. Ia meninggalkan ruang kerja Yusuf dengan jengkel.
“Untuk rapat nanti siang, bagaimana?” tanya kakek Restu, sementara Alina segera mundur, mengikuti di belakang keduanya.
“Nanti, kita bahas dengan papa Devano juga!” sergah Dharen masih jengkel. Terlebih marah-marah memang sudah menjadi lagu wajibnya dalam menjalani kehidupan ini.
Efek tidak punya orang tua sejak kecil, kepada pak Devano yang merupakan kakak dari mamanya, Dharen memang memanggilnya papa. Sejauh mengawasi, Alina juga merasa, kakek Restu tidak pernah marah kepada Dharen. Kakek Restu begitu sabar bahkan cenderung kasihan, dalam menghadapi Dharen.
“Pokoknya aku enggak mau bekerja sama dengan klien, yang porsi galaknya lebih badas dari aku. Masa iya, harus aku yang mengikuti kemauannya? Kalau mereka tetap enggak mau, lebih baik enggak bekerja sama saja. Nanti aku yang tegaskan ke perwakilan mereka. Bahwa jika mereka tetap tidak mau mendengarkan masukan dari kita, lebih baik enggak usah kerja sama saja!” tegas Dharen ketika akhirnya, mereka sudah adai di ruang kerja kakek Restu.
Di perusahaan besar mereka, posisi Dharen menempati generasi ke dua, setelah menjadikan kakek Restu sebagai pimpinan tertinggi. Sementara generasi pertama, tentu dipegang oleh pak Devano, kemudian baru Dharen. Dharen sendiri menerima posisi itu karena menggantikan alm. mamanya.
“Kompeni dilawan. Ya sudah, gencata.n senj.ata sekalian. Aku siap bawa bambu runcing yang pernah populer di zamannya,” batin Alina masih berdiri di belakang sofa tunggal, Dharen duduk.
Alina mendekap beberapa map di sebelah pinggang kanannya. Namun baru saja, dan sampai terus diulang, perut Alina bunyi. Bunyi keroncongan khas orang kelaparan.
Kelima pasang mata di sana, langsung menjadikan Alina sebagai pusat perhatian. Sekretaris pak Devano maupun sekretaris kakek Restu, merasa kasihan tapi juga ingin tertawa gara-gara keadaan Alina.
“Aduh ...,” batin Alina. Tangan kirinya yang tidak memegangi map, refleks memegangi perutnya yang dicubit saja susah, saking ratanya.
Dharen yang tidak tahan dengan bunyi di perut Alina, berangsur balik badan. Ia sampai menengadah hanya untuk menatap kedua mata Alina.
“Sus, perut kamu kena gempa. Atau memang ada dinosaurus ngam.uk kelaparan di sana?” tanya Dharen dengan nada yang benar-benar sinis.
Tentu saja alasan perut Alina sibuk keroncongan karena terakhir Alina makan itu, kemarin pagi. Nasi goreng buatannya saat di rumah Yusuf, itu saja dengan jumlah tak seberapa. Sementara pagi tadi, Alina menolak sarapan pemberian Binar. Sebab terlalu stre.s, membuat Alina tak napsu makan.
Meski malu setengah mati gara-gara pertanyaan Dharen, Alina tetap tersenyum. Lain dengan pak Devano dan kakek Restu yang malah Alina pergoki sibuk menahan senyum.
Ketika jam istirahat tiba, Alina diperbolehkan meninggalkan ruang kerja kakek Restu. Termasuk kedua sekretaris yang tadi sempat di dalam. Jadi, kini di dalam ruang kerja kakek Restu hanya tinggal pak Devano, Dharen, dan juga kakek Restu.
“Ya Allah, ... semenjak menikah dengan mas Yusuf, aku memang enggak ada simpanan blas. Bensin motor dari perusahaan pun, memang sudah ada jatahnya dari perusahaan. Mau enggak mau, daripada pingsan apalagi penyakitan gara-gara kelaparan, nanti aku mau pinjam uang ke mbak Binar,” pikir Alina yang hendak masuk ke ruang kerjanya.
Karena meski memang sangat lapar, Alina tidak uang untuk membeli makanan bahkan sekadar minuman. “Ini yang dinamakan titik nadir. Ya enggak apa-apa, sih. Semangat!” lirih Alina mendadak dikejutkan oleh sebelah tangannya yang ditarik pak.sa dari belakang.
Alina pikir, itu Dharen yang kembali menguji kesabarannya. Namun ternyata, itu justru Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ira Rachmad
sumpah..asli ngikik sendirian aku
2024-10-21
0
Abinaya Albab
dharen sama zeedev 11 12 klo ngomong asal njeplak juga galaknya allahuakbar /Grin/
2024-08-09
0
Sandisalbiah
hah.. miris banget nasib Alina jd istri lelaki tulalit... pantas aja istri pak Akala begitu membenci Yusuf
2024-07-28
0