“Cukup!” seru Yusuf bermaksud menengahi.
“Apa kamu Mas? Lama-lama beneran aku sunat tuntas kamu! Dasar laki-laki enggak berguna. Untung aku enggak sampai punya anak dari kamu. Enggak apa-apa aku dianggap mandul. Malahan aku bahagia karena andai sampai punya anak, dia pasti malu punya ayah seperti kamu!” kesal Alina.
“Kalau Ibu dan Mas memang punya harga diri, ayo kita tes secara akurat ke rumah sakit. Biar ketahuan, siapa sebenarnya yang mandul. Bukan malah langsung poligami. Iya syukur-syukur, beneran aku yang mandul. Kalau ternyata Mas Yusuf juga mandul, dan istri barunya hamil dengan pria lain?” Alina benar-benar kesal. Terlebih, lagi-lagi ibu Mimi berusaha menam.parnya.
Untung tangan kanan Alina cekatan. Bahkan sangat cekatan karena tangan kanannya memi.ting tangan kanan ibu Mimi sekuat tenaga. Sampai ada bunyi “pletuk”. Entah dari sendi, atau malah tulang ibu Mimi.
“Satu lagi, sejauh ini, yang paling jauh selama saya tinggal di sini, makan enak saja jarang. Jadi jangan belagu, merasa saya jadi beban hidup kalian! Nanti kalau saya benar-benar muak. Kalau saya sudah tidak sudi buat sekadar bantu-bantu di rumah ini, baru tahu rasa Ibu maupun anak Ibu!” Alina terus bicara sekaligus memit.ing tangan ibu Mimi. Tak peduli meski ibu Mimi mengeluh kesakitan. Tak peduli meski Yusuf juga berusaha menyudahi ulah Alina.
“Lagian, jadi mama kok pici.k banget! Kalau memang enggak mau anaknya berumah tangga. Kalau memang enggak mau berbagi gaji anaknya, bahkan dengan istri anaknya yang jelas sudah jadi tanggung jawab anaknya. Ya ngapain anaknya dijadiin manusia? Tuker tambah sama boneka kayu saja, biar lebih gampang diatur. Atau, sekalian dilaminating, masukin figura, terus tempelin di dinding! BENERAN SEMUDAH ITU!”
“Dalam agama pun mengajarkan agar seorang suami membuat perut istri dan anak-anaknya di rumah kenyang. Baru keluarga suami yang lain. Karena kelebihan rezeki untuk keluarga lain itu jatuhnya sedekah. Sementara ke anak istri itu hitungannya nafkah. Jadi tahu kan, mana yang wajib antara sedekah dan nafkah?”
“Intinya yah, Ibu Mimi, yang sering ikut kajian dan pengajian. Kalau ngaji jangan setengah-setengah. Pastikan guru ngajinya juga tepat. Yang bisa belajar tafsir gak cuma nyomot ayat sebaris doang. Hingga kamu selalu mengancam anak bonekamu ini dengan agama dan surga!” Alina memang berusaha tidak menangis. Namun untuk kali ini, rasa kecewa yang membuncah membuatnya tidak bisa untuk tidak melakukannya.
“Kalau memang enggak sanggup, ya sudah balikin saja aku ke orang tuaku. Atau, ditalak saja juga aku mau karena aku tahu, kualitas kalian memang di bawah rata-rata! Malahan andai poligami tetap dilanjut dan dibangun di atas penderitaanku yang kalian zali.mi, jatuhnya beneran enggak sah!”
Sudah nyaris pukul sembilan malam, dan Alina benar-benar baru pulang kerja. Namun Yusuf yang pulang lebih awal, justru tetap tidak bisa menghargai Alina.
Yang bisa dipetik dari kas.us yang Alina alami. Menikahi pria yang tak lebih kaya dari kita. Pria yang juga sangat menyayangi mamanya dan agamanya cukup kuat. Pria yang dikenal santun bahkan bertanggung jawab, tidak menjamin bisa membuat kita sebagai istri bahagia. Benar-benar tidak menjamin pria itu akan menghargai kita. Apalagi jika kelakuannya seperti Yusuf dan ibu Mimi. Lebih baik memang ganti suami.
“Gajian, ... ayo cepat gajian. Biar bisa proses cerai. Eh, buku nikah kami saja disimpan Mas Yusuf. Aku harus cari tahu, tuh orang simpen di mana!” batin Alina.
Baru masuk kamar, Alina makin dibuat murka. Pakaiannya yang belum dimasukan koper dan awalnya masih di lemari, malah berantakan di lantai. Sementara di dalam lemari, ditempeli kerta lengkap dihiasi tulisan. Lemari ini milik Rita!
“Nadjis! Cuuuiiih!” kesal Alina sengaja meludah.i setiap rak lemari di sana.
Yang membuat Alina tak habis pikir, semua kosmetiknya juga sudah tidak ada. Tentu Alina tidak bisa untuk tidak emosi. Ia melangkah keluar dari kamar sambil teriak, “BUUUUU, KAMU DOYAN KOSMETIK BEKASKU, BU?!”
“Sebagian besar kosmetik milikku pemberian saudaraku yang memang punya klinik kecantikan. Itu beneran enggak pakai duit anak bonekamu!”
Yusuf yang baru masuk kamar, makin pusing. “Sudah, Na. Sudah. Jangan ribut. Tangan Mama terluka gara-gara kamu!”
“Matamu buta apa bagaimana, Mas? Kamar seberantakan ini. Sementara aku tahu, kamu pulang sebelum magrib!” kesal Alina.
“Oke! Kalau cara main kalian begini. Enggak mau modal buat memelihara aku di sini. Bahkan buat menceraikan aku. Tunggu azabmu juga!” tegas Alina tepat di depan wajah Yusuf.
Kedua tangan Alina yang awalnya mengepal di sisi tubuh, Alina buat untuk memunguti pakaiannya.
Alina pergi dari kamar, dan memilih pergi ke kamar bagian belakang sebelah dapur. Alina melakukannya sambil menarik kedua kopernya. Yusuf memang mengikuti Alina, tapi Alina terlalu ji.jik untuk sekadar melirik Yusuf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
hais.. suami apan kamu Suf... hidup tp mati
2024-07-27
0
Astrii Zahra
penglamanku dlu 🥺.. selalu dipandang rendah mertua, bahkan suami ga pernah belain.. ibunya ajj yg diurusin, tp dikit2 bawa2 agama.. etika atw apalah..
2024-07-24
0
Damai Damaiyanti
bener jg si kadang orang yg paham agama ,ya cuma buat topeng berlindung atas agama tapi kelakuannya mah jauh bgt melenceng dari agama ,malh terkadanglebih baik yg biasa" aj tp good attitude sih
2024-07-09
0