“Yang sopan! Sekarang aku bosmu! Apalagi tadi, bos Dharen sampai kasih kamu peringatan!” kesal Alina sudah langsung menarik tangan kanannya sekuat tenaga dari tahanan tangan kanan Yusuf.
Baik Alina maupun Yusuf, sama-sama sempoyongan untuk beberapa saat, akibat ulah Alina. Namun, ulah Alina juga sukses membuat tangan kanannya lepas dari tahanan tangan kanan Yusuf. Kini, Alina masih menatap marah kedua mata Yusuf.
Yusuf jadi tidak bisa menjawab. “Aku mau, kita bicara!” ucapnya lirih, beda dengan Alina yang sama sekali tidak menjaga suaranya.
“Mau bicara lagi? Mau ngomong tinggal ngomong. Enggak usah sok penting!” tegas Alina cepat yang kemudian berkata, “Satu lagi, ... jangan berharap aku baik apalagi hormat kepadamu, kalau kamu saja zalim kepadaku!” Ia menunjuk-nunjuk dada Yusuf.
Seperti ketika Alina selesai bicara sebelumnya, lagi-lagi, Yusuf yang muak diadili, memalingkan wajah.
“Mengenai mobil? Mengenai pernikahanmu? Aku beneran enggak peduli!” sergah Alina lagi.
Mendengar itu, Yusuf menghela napas kasar. “Harus bagaimana lagi, agar kamu percaya, bahwa aku cinta banget ke kamu!”
“Cinta ... cinta kepalamu! Makan tuh cinta! Aku enggak butuh cinta dari orang enggak punya pendirian seperti kamu! Aku juga enggak butuh suami zalim seperti kamu!” sergah Alina benar-benar bengis.
“Sudah, enggak usah ngerecokin hidupku lagi!” tegas Alina. “Toh, sekadar menceraikan aku saja, kamu enggak mampu!”
“Justru karena aku sangat mencintaimu, aku enggak mungkin ceraikan kamu!” tegas Yusuf masih berbicara dengan suara lirih.
Usaha Yusuf dalam meyakinkan cintanya kepada Alina, hanya Alina tanggapi dengan gelengan sekaligus senyum keji. “Aku sumpahi, seumur hidup kamu, kamu enggak bakalan bahagia. Bahkan meski alasan kamu zalim ke aku itu mamamu. Mama yang kamu yakini sebagai perantara kamu masuk surga!”
“Terakhir, aku pastikan enggak ada wanita yang bisa sesabar aku dalam menghadapi kamu dan mama kamu! Palu kepalaku kalau kamu sampai bisa dapat yang lebih baik dari aku!” Alina meledak-ledak.
Tanpa Yusuf bahkan Alina sadari, Dharen yang sudah keluar dari ruang kerja kakek Restu, memergoki kebersamaan keduanya. Dharen yang awalnya bengis, mendadak tengil kemudian mengendap-endap. Dharen mendekati kebersamaan di depan sana, dengan gaya yang benar-benar tengil. Mirip kakak pertama di kisah fenomenal Kera Sakti.
“Saat nanti tiba, setelah Allah kasih aku kesempatan, aku akan hamil dengan suami yang benar-benar mencintaiku! Namun, aku juga merasa sangat bersyukur karena sampai sekarang, aku belum hamil! Enggak apa-apa sekarang aku kamu sebut mandul. Aku percaya Allah membuat ini terjadi karena aku maupun calon anak-anakku, terlalu istimewa untuk orang seperti kamu dan mamamu!” tegas Alina kali ini dengan suara sangat lirih penuh penekanan. Malahan, ucapannya jauh lebih lirih dari ucapan Yusuf.
Dharen yang mencoba menguping, tidak mendengar dengan jelas apa yang baru saja Alina katakan. Ucapan yang Dharen yakini sangat penting bahkan fatal. Terlebih, Alina mengatakannya dengan sangat emosional.
“Itu tadi, si Sus Janc.uk, ngomong apa sih? Tapi dia sampai nangis loh! Si Ucup lagi, ... Ucup lagi. Ini, dua orang ini, ... ada apa gerangan?” batin Dharen yang memang mengetahui, bahwa tadi sebelum langsung pergi, Alina sampai menangis.
“ALINA! Katakan kepadaku, sekarang kamu tinggal di mana?!” ucap Yusuf kali ini dengan suara lantang.
Dharen yang masih menguping, sampai kaget gara-gara ulah Yusuf barusan. Namun dalam sekejap, Dharen melangkah dan berhasil berdiri di belakang Yusuf. Hingga ketika Yusuf balik badan, giliran Yusuf yang dibuat terkejut karena adanya Dharen di sana.
“Kenapa?” tanya Dharen dingin. Dharen bersikap seolah dirinya tidak tahu apa-apa. Padahal, Dharen sudah mulai mengulik, apa yang sebenarnya terjadi antara Alina dan Yusuf.
Yusuf yang khawatir Dharen tahu, sengaja buru-buru pamit dari sana. Yusuf bersikap sangat sopan cenderung takut.
“Makin mencurigakan. Pasti ada apa-apa.” Dharen yang berbicara dalam hati, memastikan jika Yusuf benar-benar pergi.
Kemudian, yang Dharen lakukan ialah mengintip apa yang sedang Alina lakukan. “Hebat loh gaes, ... si Sus janc.uk, sudah aktivitas serius lagi. Padahal tadi dia nangis-nangis,” batin Dharen. Ia sengaja masuk ke ruang kerja Alina yang memang menjadi pintu masuk ruang kerjanya.
Konter meja kerja Alina, ada persis di sebelah pintu ruang kerja Dharen.
“Nih orang ... mencurigakan,” batin Alina menyadari gerak-gerik Dharen jadi berbeda. Lebih tepatnya, Dharen seolah sedang mengawasinya diam-diam.
“Oh iya, Bos,” ucap Alina sengaja berseru karena memang ada yang harus ia sampaikan kepada Dharen.
Alina sampai buru-buru beranjak dari tempat duduknya. Namun yang diajak berkomunikasi, justru terkejut dan berakhir latah.
“Bos ... Bos! Apaan sih, manggil-manggil enggak manusiawi banget!” omel Dharen. Ia yang awalnya akan membuka pintu kaca di hadapannya selaku pintu ruang kerjanya, juga tidak jadi. Sebab yang ada, ia malah jadi fokus sekaligus menghadap Alina penuh emosi. Hanya saja, pelakunya justru sibuk menahan tawa.
“Kamu mau, gaji kamu aku amputasi? Malah sibuk ketawa begitu!” galak Dharen sambil menunjuk-nunjuk wajah Alina. Ia masih berdiri di depan pintu kerjanya, dan kali ini sambil bersedekap.
Setelah berdeham dan mengatur napas sedemikian rupa, Alina berkata, “Maaf, Bos. Saya benar-benar minta maaf. Ini, tadi pihak klien yang Bos harapkan tidak lebih garang dari Bos, mengabari saya. Mereka minta maaf, dan memohon agar Bos tidak membatalkan kerja sama.”
Melihat Alina yang sangat sabar sekaligus santun, Dharen jadi kasihan. “Mirip orang yang punya banyak beban,” pikir Dharen.
Yang membuat Dharen salut, Alina sangat profesional. Wanita itu terus bekerja dengan sangat cekatan. Bahkan meski perut Alina terus bunyi sepanjang Alina bekerja di dekat Dharen. Sebab mereka tengah membahas banyak hal dan menyangkut kerja sama yang akhirnya mereka lanjutkan. Setelah pihak klien minta maaf dan berjanji tidak akan marah-marah apalagi semena-mena lagi.
“Perutmu sangat mengganggu. Sana pesan makanan dulu. Pesan nasi. Kamu harus makan nasi, biar dinosaurus di perut kamu enggak mangap-mangap terus,” kesal Dharen jadi merasa frustrasi sendiri. Apalagi Dharen masih sangat ingat, Alina pernah bilang. Bahwa sekretaris sekaligus pengasuhnya itu, merupakan istri sekaligus menantu yang dizalimi.
“Masuk akal enggak sih, kalau suami Sus Janc.uk justru si Ucup?” pikir Dharen. “Kalau dipikir-pikir, aku jadi khawatir ke Alina. Nih orang sebar-bar ini, sementara dia bermasalah dengan suami dan mertuanya. Takutnya dia mati sia-sia karena suami dan mertuanya. Zaman sekarang kan marak kasus gini!” batin Dharen serius.
Tak beda dengan Dharen, Alina juga sedang diam-diam menilai Dharen. Bagi Alina, Dharen dengan segala tingkah ajaibnya, tetap memiliki hati yang hangat.
“Mungkin sebenarnya, alasan bos Dharen berulah karena dia sangat kesepian. Dia butuh sosok orang tua. Sosok orang tua yang tetap tidak akan tergantikan, meski kakek dan saudaranya, selalu perhatian ke dia,” pikir Alina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Sandisalbiah
kok jd pengen kirim santet online ke Mimi ya
2024-07-28
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
Daren ni cari perhatian orang kayaknya 😁😁😁
2024-04-28
1
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
Daren gitu lhooo 😁😁😁
2024-04-28
0