“Masak air, jadi apa? Ini wujudnya masih air saja dari tadi.”
Rita merasa bahwa kini, adrenalin-nya tengah diuji. Kedatangannya yang diundang secara khusus di sana oleh sang calon mertua, membuatnya terjebak dalam situasi pelik. Bagaimana tidak? Ibu Mimi yang mengaku sakit dan kini tengah tiduran di kamar, menyuruhnya masak sekaligus beres-beres rumah.
“Masak air terus isi termosnya, ya, Rita sayang!” Itulah titah ibu Mimi sekitar satu jam lalu. Sementara kini, panci yang Rita isi penuh dengan air, lagi-lagi kehabisan isi.
Rita ini memang tipikal anak milenial yang tidak tahu apa-apa. Jangankan masak dan beres-beres yang memang tidak pernah Rita lakukan. Sekolah dan kepintaran saja, Rita tipikal yang enol saja tidak mungkin besar. Namun untuk urusan dandan, urusan pacaran, se.ks bebas, dan menghabiskan uang, Rita ahlinya.
“Oke, habis lagi. Kalau gitu, sekali lagi aku isi penuh nih panci, tapi hasilnya tetap enggak ada, berarti pancinya yang salah. Soalnya aku enggak mungkin salah. Sementara kompornya, lihat ... apanya nyala segede itu. Enggak kalah gede dari tubuhku semenjak Erick menghamili aku!” ucap Rita yang berbicara sendiri di depan panci.
Satu hal yang harus kalian garis bawahi. Sekadar air mendidih saja, Rita tidak tahu. Inilah pentingnya edukasi dini keluarga khususnya orang tua kepada anak-anaknya. Tolong bedakan mana yang namanya sayang, dengan mana yang namanya pemb.odohan kemudian sengaja membuatnya terjun ke jurang. Terlebih jika kita bukan sultan, dan kita tidak mungkin memperlakukan anak kuta secara khusus. Yang ada, kasihan anak kita karena mau tidak mau, mereka akan kenal dunia luar sekaligus dunia luar.
“Nah sekarang aku disuruh masak. Ini aku harus masak apa, kalau kulkasnya saja kosong begini? Tante Mimi enggak bilang apa-apa? Berarti, enggak masak saja kali ya!” Rita masih dalam mode, tanya sendiri, jawab sendiri.
“Oalah, piring belum dicuci. Dari tadi aku sibuk mengamati masak air jadi apa. Oke, aku nyuci piring dulu. Tapi ini, sabun cuci piringnya di mana?”
Setelah mencari-cari, Rita hanya menemukan pasukan persabunan di kamar mandi. Rita tahu mana yang shampo, pasta gigi, dan juga sabun mandi. Namun untuk sabun cuci piring, Rita benar-benar sok tahu. Rita mengambil botol khas wadah sabun cuci piring di dekat toilet. Wadah tersebut berisi cairan encer berwarna putih mirip susu. Namun, aromanya menyengat bau sereh dan aroma lain yang tidak Rita kenal.
“Ini, sabun cuci piring dengan konsep ditambahi susu sama sereh. Tapi kok, panas banget ya, di tangan. Enggak berbusa lagi. Ini sudah dikasih banyak, sampai setengah lebih, enggak ada busanya blas.”
“Tapi memang konsep sabunnya begini. Zaman makin canggih kan. Dan aku enggak mungkin salah!”
Belum beres mencuci piring, ibu Mimi sudah datang. Kening, dahi, leher, dan juga tengkuk ibu Mimi, masih penuh koyok. Caping hidung ibu Mimi langsung sibuk kembang kempis akibat aroma menyengat khas pembersih lantai sekaligus toilet.
Ibu Mimi pikir, efek Rita sedang mengepel lantai. Meski harusnya tak semenyengat sekarang dan artinya sangat berlebihan. Namun, ... dengan mata dan kepalanya sendiri, ibu Mimi melihat, calon menantu Masya Allah-nya, tengah menuang pembersih lantai ke wadah sabun cuci piring. Rita sungguh menggunakan cairan itu untuk mencuci piring dan gerabah.
“I—itu ....” Ibu Mimi sampai tak bisa berkata-kata. Ia melangkah cepat memastikan TKP.
Rita yang dari tadi sok tahu, langsung tersenyum manis. Ia begitu yakin, ibu Mimi akan memujinya atas kerja kerasnya. Termasuk juga meski tampang ibu Mimi sangat syok. Rita yakin, itu karena ibu Mimi merasa sangat beruntung akan memilikinya sebagai memantu. Terlebih jika ingat sosok Alina, Alina mirip bos. Biasanya yang begitu, dirasa Rita tidak bisa apa-apa. Terbukti, ibu Mimi saja tidak suka ke Alina.
“Ini ... ini kamu cuci piring dan gerabah pakai ini?” sergah ibu Mimi sudah setengah panik. Siap-siap, sebentar lagi pasti menjerit.
“Iya, Tente. Enggak apa-apa lah, Tan. Aku sudah biasa!” ucap Rita bermaksud meren.dah untuk meroket.
“HAH? KAMU SUDAH TERBIASA CUCI PIRING DAN GERABAH, PAKAI CAIRAN PEMBERSIH LANTAI DAN TOILET?!” tegas ibu Mimi kali ini benar-benar panik.
Botol isi ulang cairan memang bekas wadah sabun cuci piring. Namun di botol tersebut sudah tidak ada label selain tulisan menggunakan spidol. Cairan Pembersih Lantai Dan Toilet. Itu ulah Alina yang maha kreatif tanpa harus membuat ibu Mimi buang-buang duit. Alina tahu bagaimana hidup hemat dan memanfaatkan segala sesuatunya.
Namun Rita? Ibu Mimi merasa, Rita yang sampai saat ini masih memakai cadar, hanya memiliki kelebihan berat badan. Sisanya, enol pun tidak besar.
Karena air keran dibiarkan terbuka sempurna, ibu Mimi yang telanjur pusing, bergegas mematikannya. “Jangan dibiasakan begini. Ini namanya pemborosan!” Ibu Mimi refleks menatap tidak suka kedua mata Rita. Meski tentu, itu sangat untung karena jika yang salah Alina, mata besarnya pasti sudah zumba di mata Alina.
Baru akan membahas mengenai cairan lantai dan pembersih toilet yang Rita pakai, hidung ibu Mimi mencium bau gosong.
“Bau gosong ini ... kamu masak apa?”
“Masak air, Tan.” Rita mulai panik dan tak kalah dari ibu Mimi.
“Ya ampun ... kamu pakai panci hias ini buat masak. Dan ... go–gosong ....?” Ibu Mimi histeris dan buru-buru mematikan kompornya.
Kini, ibu Mimi tidak bisa berkata-kata saking bingungnya. Sebab yang dikatakan ibu Lia bahwa Rita ini serba bisa, nyatanya hanya wacana.
“Kan sudah dibilangin, pakai panci yang di bawah saja. Jangan yang di atas. Terus itu ... kamu cuci piring pakai ... aduh—uh!” ibu Mimi terduduk lemas. Kepalanya yang awalnya agak terasa lebih ringan, mendadak kembali cenut-cenut sekaligus berat.
“Masa sih, ini cairan pembersih lantai dan toilet? Terus itu panci, ... panci gosong kan gara-gara api, bukan aku. Jelas-jelas, aku di sini lagi cuci piring!” batin Rita tetap tidak mau disalahkan.
Ibu Mimi masih berusaha tabah, tapi pada akhirnya ia kembali menjerit ketika ia terpeleset dan berakhir terban.ting.
Lantai di ruang depan terlalu basah. Tentu itu masih ulah Rita yang tidak becus mengepel.
“Itu kenapa lagi? Pura-pura enggak dengar saja ah!” lirih Rita tetap dengan pendiriannya. Bahkan meski ibu Mimi teriak-teriak memanggil nama Rita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Edy Sulaiman
mau ketawa tapi gk lucu...
2024-11-10
0
Sulfia Nuriawati
pny mantu kyk gt bs hancur rmh, mlah bs buat yg d rmh cpt mati
2024-09-29
0
Dewa Dewi
ulah calon mantu idaman tuh😂😂😂😂😀😂
2024-09-16
0