“Aku baru tahu, kalau kamu cucunya mbah Arum. Mbah kita bersahabat, kan?” Dharen menatap khawatir Alina.
Di salah satu bangku tunggu klinik milik Binar, kebersamaan mereka terjadi.
“Kamu aku infus saja, ya. Soalnya keringat kamu berlebihan,” lembut Binar masih memakai seragam dokternya.
“Nih orang kekurangan gizi kayaknya. Seharian ini saja, dia nahan lapar!” ucap Dharen.
Binar yang mendengar itu langsung khawatir. Sementara Adam sang suami yang memang menemani Binar jaga malam, menyarankan agar Alina di infus di kamar.
“Sekalian istirahat. Infus semalam, lumayan biar besok bisa aktivitas,” ucap Adam yang dari sikap sekaligus pembawaannya, berbanding terbalik dengan Dharen.
Karena ketika Dharen tengil pecicilan, dan sekadar ucapan saja tidak dikontrol. Adam suami Binar justru sangat kalem sekaligus cool.
Dharen masih bertahan duduk di sebelah Alina. Ia menatap saksama Alina yang masih mirip orang linglung. Padahal biasanya, Alina sangat bar-bar.
“Aku baik-baik saja. Cuman, ... gimana ya? Rasanya kok mendadak aneh begini,” lirih Alina.
“Nah ini, ... yang aku khawatirkan itu, kamu diguna-guna!” sergah Dharen makin berisik.
Ketika Binar dan Adam langsung bertatapan, Alina juga menatap heran sang bos.
“Ini tadi, aku posisinya baru shalat isya,” yakin Alina.
“Yang namanya musibah termasuk guna-guna, kalau bukan ahlinya, lagi shalat pun kena!” yakin Dharen yang berdalih akan mengundangkan ustad untuk Alina.
“Ustad terdekat di mana, yah, Mas? Bisa COD, enggak?” sergah Dharen.
Ketika Adam langsung syok akibat ucapan Dharen. Apalagi, dirinya yang diajak bicara, tidak dengan Binar yang jadi menahan tawa.
“Kita ke kamar kamu lagi. Kamu aku infus, nanti sambil baca-baca doa,” ucap Binar penuh perhatian kepada Alina.
Setelah Binar membawa Alina pergi dari sana, Dharen yang memang kenal Binar berikut sang suami, kembali mengajak Adam bicara.
“Nanti aku siapin air yang didoakan,” yakin Adam yang juga menyarankan Dharen untuk pulang.
“Nanti orang rumah, nyariin kamu,” ucap Adam lagi.
Dharen yang jadi tidak semangat, berangsur mengangguk-angguk. Anggukan yang terbilang tidak ikhlas.
“Ternyata Alina sekretaris kamu?” tanya Adam yang dalam hatinya berkata, “Pasti ada maksud terselubung kenapa kakekmu, sampai ngutus Alina buat jadi sekretaris kamu.”
Di luar dugaan, Dharen memilih terjaga untuk Alina. Dharen memboyong satu buah ranjang rawat dan sengaja ia taruh di sebelah tempat tidur Alina.
Sementara alasan Dharen terus mengawasi Alina dengan saksama, tentu karena Dharen terlalu yakin, Alina terkena guna-guna.
“Sus, kamu belum tidur, kan?” lirih Dharen berangsur duduk sambil terus menatap punggung Alina.
“Iya, ... aku mau telepon ....” Alina yang sudah diinfus masih berucap lemas.
“Telepon siapa?” balas Dharen benar-benar kepo.
“Saudaraku yang ... pengacara.” Alina meraih ponselnya.
“Loh, memangnya sejak kapan pengacara bisa melawan guna-guna. Apa, yang kamu maksud pengacara justru, pengangguran banyak acara?” sergah Dharen.
“Kalau kamu memang tahu keluargaku, harusnya kamu tahu pak Aidan.
“Owh ....” Mendadak, Dharen tidak bisa berkomentar.
“Kenapa?” tanya Alina sambil menoleh dan menatap Dharen.
“Dia ... mantan terindah mama. Mantu idaman ... opa dan oma,” ucap Dharen tidak bersemangat.
Nada suara Dharen jadi sangat sedih. Membuat Alina yakin, pemuda itu sangat kesepian.
“Bos ...?” Berbeda dari biasanya, kali ini Alina bersuara dengan sangat hati-hati.
Dharen tidak menjawab. Namun selain berangsur menghela napas pelan, tatapan Dharen juga jadi fokus menatap kedua mata Alina.
“Bos pasti kangen banget ya, ke mama papa, Bos?” lanjut Alina. Detik itu juga, Alina mendapati tatapan Dharen yang jadi redup.
“Kelak, jadi orang tua yang baik ya, buat anak-anak Bos. Bos juga harus jaga kesehatan, biar Bos bisa mendampingi anak-anak Bos. Cukup Bos saja yang merasakan sepi tanpa adanya peran orang tua. Peran orang tua yang tetap tidak terganti, meski orang-orang di sekitar Bos, berusaha memberikan banyak bahagia.”
“Sebenarnya, ... itu juga yang sedang aku rasakan,” lanjut Alina.
“Orang tua kamu belum meninggal, kan?” sergah Dharen dengan suaranya yang jadi serak.
Aline menggeleng pelan. “Belum. Namun, aku merasa sudah sangat melukai mereka dengan apa yang aku alami.”
“Ya sudah, cerai saja, jangan enggak!” balas Dharen kali ini mulai kembali berisik. “Meski agama kita, bahkan Allah membenci perceraian. Buat apa bertahan di lingkungan toxic penuh kezaliman? Yang artinya, bertahannya kamu juga akan menjadi sumber dosa. Karena selain mereka yang terus zalim ke kamu. Kamu juga enggak mau dipoligami,” ucap Dharen.
“Apalagi, makin ke sini, banyak yang makin enggak jelas. Banyak yang menggunakan agama hanya untuk kedok. Ke pengajian bukannya ngaji, tapi buat ajang pamer pakaian sama perhiasan baru,” lemas Dharen terlalu terbawa suasana. Suasana penderitaan istri terzali.mi, sekaligus fenomena orang alim dadakan masa kini. Orang alim yang akan menganggap dirinya paling suci, kemudian menganggap orang lain memiliki kasta ren.dah, hanya karena tidak satu circle dengannya.
Mengobrol dengan Dharen, Alina juga merasa kembali normal. Rasa aneh yang sampat membuatnya kebas, perlahan hilang tak tersisa. Ia bahkan berangsur bersedekap sambil duduk sila.
“Bos, kalau saya amati, Bos ini tahu semua perkembangan masa kini. Sus Rini dan Cipung saja, Bos kenal. Terus, fenomena orang alim dadakan,” ucap Alina jadi kepo.
“Lah, memangnya kamu enggak tahu, kalau aku ini pengacara alias pengangguran banyak acara?” ucap Dharen yang kemudian berkata, “Sepertinya, guna-guna di kamu, sudah mulai luntur.”
Sempat tersenyum, apa yang Dharen katakan, sukses membuat Alina kembali sendu. “Sebenarnya aku merasa, apa yang terjadi denganku, ....” Ia yang menahan ucapannya sengaja menatap Dharen. “Dia yang tetap tidak mau menceraikanku, telah melakukan kesalahan fatal. Ibaratnya, ini insting seorang istri. Karena meski aku sudah tidak mengharapkan hubungan kami lagi, ... ya enggak tahu kenapa. Aku memang selalu begini. Apalagi yang namanya pernikahan kan, ibarat janji kita dengan Tuhan kita. Janji dia dengan Tuhan, termasuk sumpahnya di depan banyak saksi.”
“Aku enggak tahu mengenai perceraian. Karena menikah saja, aku belum. Namun, kamu bisa konsultasi ke ahlinya. Kalau perlu secepatnya. Atau, kalau enggak ... biar aku menemuinya. Biar aku yang memberinya pelajaran, sebelum dia poligami dan banyak poli lagi!” tegas Dharen sungguh-sungguh.
“Heh, ... si tuan muda yang kesepian ini, tampaknya sedang memperjuangkan nasibku, agar aku juga tidak kesepian sepertinya,” batin Alina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
menghayati bngt km ren..suka nonton sinetron ikan terbang ya?
2024-10-07
1
himawatidewi satyawira
somplak nih
2024-10-07
0
himawatidewi satyawira
🤣🤣🤣insap ren..
2024-10-07
0