“Mbak Binar kan tahu, bahwa dari awal, pernikahanku dan mas Yusuf kurang disetujui. Keluarga kita kurang sreg ke mas Yusuf yang serba nurut ke mamanya.”
“Ibaratnya, aku yang mau. Otomatis, ... ya lucu kalau aku sampai, ... nangis apalagi ke orang tua dan ... keluarga kita.”
Sebenarnya Alina tidak ingin menangis. Namun apa yang ia alami, sungguh membuatnya rapuh. Meski tentu saja, Alina tak akan membiarkan dirinya berlama-lama sedih. Alina tak akan membiarkan dirinya menghabiskan dengan tangis apalagi penyesalan.
“Yang sudah ya sudah. Aku yang memulai, ... aku akan bertanggung jawab. Aku percaya aku bisa.” Alina tidak hanya meyakinkan Binar selaku saudara yang ia datangi. Karena ia juga meyakinkan dirinya sendiri.
Binar yang sudah memiliki klinik sekaligus kesehatan sekaligus kecantikan, tidak bisa untuk tidak sedih. Bahkan meski Binar yang usianya empat tahun lebih tua dari Alina, hanya diam. Namun, tatapan penuh kepedulian dari Binar. Juga, pelukan hangat yang akhirnya Binar lakukan. Semua itu sukses membuat dada Alina pegal.
“Kuat, Lin. Aku percaya, kamu sangat bisa. Menghadapi suami toxic dan mertua toxic seperti mereka, beneran hal sepele buat kamu. Lakukan semuanya seperti rencanamu.” Binar mencoba menenangkan.
“Namun jika memang kamu enggak bisa, aku, dan keluarga besar kita, siap membantu!” yakin Binar sambil tetap memeluk Alina.
“Kalau kamu merasa enggak enak, dan takut ketahuan keluarga kita andai kamu tinggal di rumahku. Enggak apa-apa, kamu tinggal di klinik dulu. Semau kamu, kamu yang atur. Nanti aku kasih kunci. Bagus, ... aku beneran suka cara kamu mengatasi kerikil hidup kamu.” Binar yang pernah sangat dibantu oleh Alina, kini benar-benar memberikan dukungan penuh kepada Alina.
Binar berangsur menahan kedu lengan Alina. Ia menatap kedua mata Alina dengan saksama. “Namun kamu wajib mengabari keluarga kamu. Takutnya, Yusuf dan mamanya, ngadu yang enggak-enggak. Selain, ... jangan sampai orang tua kamu justru tahu dari orang lain. Apalagi itu dari Yusuf. Enggak apa-apa, meski awalnya berat, biar sama-sama lega.”
“Aku tahu banget keluarga kita apalagi orang tua kamu. Meski kita selalu membereskan semuanya sama-sama. Asal kamu jujur, kamu akan menyelesaikannya dengan cara kamu, orang tua kamu pasti paham.”
“Kamu tahu maksudku, kan?” lembut Binar yang mengelap lembut air mata Alina.
Alina memang tak sampai menangis dengan banyak air mata. Namun, Binar yang paham watak Alina yang setegar baja, justru khawatir. Karena harusnya, rasa sakit dan sedih tidak perlu ditahan.
“Jangan menahan rasa sakit apa lagi rasa sedih. Enggak apa-apa, semua manusia berhak menangis. Bahkan wanita tangguh seperti kamu, sekalipun. Tolong biasakan, agar mental dan hati kamu enggak terluka.” Binar menatap Khawatir Alina.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Binar menjadi saksi. Seorang Alina yang terbiasa membuat lawannya kena mental, meraung-raung di kamar mandi. Alina menyalakan keran air wastafel guna menyamarkan suara tangisnya. Sementara sebelum itu, Alina sungguh mengabari orang tuanya.
“Aku dan mas Yusuf akan bercerai. Mas Yusuf akan menikah lagi, ... dalam waktu dekat. Jadi, apa pun yang mas Yusuf apalagi mamanya katakan, tolong Papa Mama jangan percaya. Seperti yang aku katakan sebelumnya, apa pun yang terjadi pada kami, aku siap menerima risikonya. Termasuk, aku yang siap menyelesaikan semuanya sendiri. Namun karena Papa dan Mama orang tuaku, aku merasa kalian perlu mengetahuinya.”
“Maaf karena aku kembali membuat kalian kecewa. Namun, ... tolong percaya, ... ketimbang kecewaku kepada diriku dan keputusanku. Membuat Papa dan Mama kecewa, menjadi hal yang paling menyakitkan dalam hidupku.”
Ucapan panjang lebar tersebut sampai Binar hafal. Ucapan yang Alina kabarkan kepada orang tuanya dan sukses membuat hati Binar sesak.
“Semangat Alina, ... aku yakin kamu bisa. Kita lihat saja apa yang terjadi pada Yusuf dan mamanya. Bisa-bisanya mereka sekeji itu ke kamu,” batin Binar. “Apalagi ibaratnya, kamu sudah menemani Yusuf dari nol. Kamu sudah ikut menyumbang modal untuk rumah tangga kalian. Kamu bahkan rela mengorbankan karier kamu yang cemerlang.” Diam-diam, Binar masih mengawasi Alina dari balik pintu kamar mandi.
Seperti yang Binar yakini, Alina sungguh sudah menyudahi tangisnya. Alina memakai kacamata bening untuk menyamarkan bengkak di matanya.
“Oh iya ... Alina bilang, dia sudah kasih Yusuf kejutan. Bukan mengenai Alina yang mengunci pintu rumah dari luar. Bukan juga mengenai kunci pintu yang Alina buang sembarang. Namun, mobil Yusuf. Mobil yang mereka beli secara patungan. Namun sepertinya, uang untuk membelinya lebih banyak memakai uangnya Alina ketimbang uangnya Yusuf,” batin Binar.
Di rumah Yusuf, apa yang Binar bahas barusan. Hal yang juga Binar ketahui dari cerita Alina, sungguh terjadi.
Di depan rumah dan menjadi garasi mobil, mobil Yusuf memang terparkir layaknya biasa. Namun, ada kertas HVS di kaca bagian depan mobil.
—Dibagi dua saja, Mas. Meski uang buat beli mobil ini, masih banyakan uangku ketimbang uangmu. Selamat menempuh hidup baru bareng si Masya Allah Spek Ema-Ema, ya. Thank you buat semua luka sama pembelajaran hidup susahnya!—
—Dari wanita yang kamu tuduh mandul, dan akan selalu bahagia. Alina—
Tulisan tersebut, tertulis di kertas yang terselip di kaca bagian depan mobil. Yang membuat Yusuf syok, dibagi dua versi Alina, sungguh mobil yang sudah digergaji bagi dua!
Yusuf tak hanya gemetaran menahan menahan kesal. Sebab Yusuf juga sampai lemas lantaran untuk membeli mobil, benar-benar membutuhkan banyak uang.
“Loh, kok masih belum berangkat juga, Suf? Apa kamu sengaja nunggu Rita? Rita juga ngabarin kamu kalau dia mau ke sini, buat bantu-bantu urus rum—” Ibu Mimi mendadak tidak bisa melanjutkan ucapannya. Ia terlalu syok ketika melihat keadaan mobil anaknya.
“S–uf ...? Kok ... kok, ... kok mobilnya dipelatok jadi dua begitu?” ucap ibu Mimi lemas. Ia berakhir duduk di lantai sebelah Yusuf membungkuk loyo.
“Ini pasti gara-gara si mandul itu, kan? ALINAAAAAAAAAA!” ibu Mimi tergolek lemas. Ia meratapi keadaan mobil mahalnya yang tentu sudah tidak bisa dipakai lagi. Andaipun masih, pasti harus keluar banyak uang juga untuk mengurusnya.
“Alina ... bisa-bisanya kamu sesmbrono ini? Memangnya enggak bisa dibahas baik-baik? Kenapa apa-apa, serba bar-bar?!” kesal Yusuf yang juga jadi dendam kepada Alina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
bkn dipotong 2 mobilnya ucup pulgoso tp dijual trs duitnya bagi 2 gituuuu ccuuup
2024-10-06
0
Apri Atul
ya ampun suka bgt aku sm cerita ini, seandainya aku bs kek Alina pasti hati ga sesakit ini
2024-09-24
0
Sintia Dewi
ya harus bar-bar klok ngedepin si yusuf dan emak lampir
2024-07-30
0