“Mas Yusuf ganteng banget! Keren, kerjanya kantoran. Berdasi, tubuhnya juga berisi, ih gemes banget!” batin Rita sudah langsung mengagumi Yusuf.
“Tapi kalau dipikir-pikir, wanita tadi ... si Mandul, kok dia kayak bar-bar gitu, ya? Mana dia secantik dan sebagus itu body—nya!” batin Rita lagi.
Alasan Rita hanya berani berbicara dalam hati, tentu karena kini, ia sedang bersandiwara. Seperti rencana yang sudah ia dan sang mama sepakati. Ia harus menjadi menantu idaman untuk ibu Mimi.
“Semangat! Demi bisa punya suami good looking, plus good rekening! Enggak sabar pengin dipeluk mas Yusuf!” batin Rita.
Meski ketika mereka masuk rumah, keadaan rumah yang berantakan sungguh menjadi awal mula dirinya kerja rodi.
“Kok rumahnya berantakan banget? Ini aku harus gimana? Ah, beres-beres!” batin Rita benar-benar semangat.
Rita yang bersikap sangat manis, juga sengaja menanyakan keberadaan sapu. Ia sungguh akan memulai misinya menjadi menantu idaman di sana.
“Enggak apa-apa, jadi istri kedua. Yang penting aku bakalan jadi yang utama, dan paling penting, mas Ucup ganteng fisik plus ganteng rekeningnya!” batin Rita bersemangat.
“Emang badannya yang gede, apa gimana, ya? Kok lebar banget,” batin Yusuf.
Yusuf yang masih menjaga jarak, diam-diam mengamati Rita. Rita yang langsung bersih-bersih, sudah sukses menarik simpati ibu Mimi. Ibu Mimi tampak sangat bahagia. Padahal biasanya, Alina jauh lebih gesit dalam urusan apa-pun. Termasuk urusan beres-beres rumah.
“Sekalian, ngepel lantai. Yang bersih. Tuh, tante Mimi makin pengin jadiin kamu mantu!” bisik ibu Lia yang juga sudah langsung beraksi. Ia terus membimbing Rita.
Selain itu, ibu Lia terus mempromosikan Rita kepada ibu Mimi, bahkan Yusuf yang masih ada di sana. Ibu Lia berdalih, selain agamis, Rita juga sudah terbiasa beres-beres rumah. Masak pun Rita dikata ibu Lia, sangat andal.
“Andal apaan? Masak air saja gosong!” batin Rita.
Kini, Rita tengah ragu bagaimana caranya memulai mengepel. Karena sebelumnya, Rita sungguh belum pernah melakukannya. Bahkan meski ia bukan anak sultan tajir melintir harta bisa disebar. Ya, begitu. Efek anak zaman sekarang yang hobinya mager. Malas untuk bekerja bahkan sekadar untuk sekolah. Namun akan paling rajin untuk urusan pacaran, menghabiskan uang, bahkan ... s.eks bebas.
“Ya sudahlah, Mama sebahagia itu. Dia yang kasih keluarga ini anak, toh aku masih punya Alina yang speknya mirip bidadari!” batin Yusuf terlalu yakin, Alina masih mau dengannya.
Yusuf pamit. Bertepatan dengan Rita yang mengeluarkan kain pelnya dari ember. Rita melakukannya tanpa diperas. Hingga ibu Mimi yang baru lewat untuk menghampiri Yusuf, terpeleset. Kali ini, ibu Mimi sungguh terbanting dan langsung meraung-raung.
“Ma ....” Yusuf terpaksa kembali menaruh tas kerjanya di meja makan.
“Ini siapa yang bikin lantai licin? Pasti Alina. ALINAAAAA, KAMU YA, DASAR KUCING MANDUL HOBI BANGET BIKIN GARA-GARAAA!” ibu Mimi teriak-teriak.
Rita dan ibu Lia panik. Namun bukan karena kenyataan ibu Mimi yang teriak-teriak. Melainkan, pel-pelan Rita yang menjadi penyebab lantai di sana licin.
Niat hati mengeringkan lantai yang memang sangat basah. Efek kain pelnya sama sekali tidak dipera.s. Guna menghilangkan jejak. Ibu Lia dan Rita yang berebut ember maupun tongkat pel, justru membuat embernya jatuh ke arah ibu Mimi. Selain ibu Mimi yang terguyur air pel, Yusuf yang hendak membopong, juga turut basah.
Namun, khusus kepada Rita, ibu Mimi yang awalnya akan berteriak, jadi tidak jadi. Kendati demikian, ibu Mimi tetap syok. Kenapa Rita yang dikata sudah terbiasa beres-beres, hasilnya justru ngereog? Sepagi ini, ibu Mimi bahkan Yusuf yang sudah rapi, malah dibilas dengan air pel.
Sementara itu, di tengah jalan, Alina si wanita tangguh mendadak tukar posisi. Pak Sigit selaku utusan dari perusahaan yang menjemput, mendadak ditelepon oleh Dharen. Mobil Dharen mogok di tengah jalan. Sementara bos besar mereka itu hanya memberi waktu sepuluh menit.
“Sepuluh menit wajib sampai, kalau enggak, kita dipecat, Mbak Alin!” ucap pak Sigit benar-benar panik.
“Oke, Pak. Bapak pegangan ke belakang saja, jangan pegang-pegang saya! Hidup dan mati kita ada di tangan Bapak!” ucap Alina.
“Loh, kok ada di tangan saya, Mbak? Jelas-jelas yang nyetir kan Mbak!” balas pak Sigit makin panik. Meski ketika akhirnya Alina sungguh membuat motor melaju, ia langsung paham maksud ucapan Alina.
“Mbaaaaak, bibir saya berasa ketinggalan.” Pak Sigit berteriak. Ia sungguh tak menyangka, Alina akan sangat bar-bar dalam mengemudikan motornya. Alina selap selip setiap motor. Selain Alina yang begitu cekatan mengambil celah di tengah kemacetan yang menyita setiap jalan.
“Enggak salah sih, aku berguru naik motor ke ayah Azzam. Beneran ada gunanya!” batin Alina.
Di pinggir salah satu jalan raya, sebuah mobil sport warna merah dengan atap mobil dibiarkan terbuka, membuat seorang pria terjaga. Pria berkemeja abu-abu itu terus menatap arloji silver yang menghiasi pergelangan tangan kirinya. Makin lama, rahang tegasnya makin terlihat mengeras, khas orang tidak sabar bahkan, ... marah.
Pria tersebut merupakan Dharen. Bos besar Alina, pak Sigit, maupun Yusuf. Pria yang baru akan balik badan, tapi mendadak nyaris jantungan. Sebab Alina yang mengemudikan motor, nyaris menabraknya. Untung, Alina mengerem tepat waktu. Selain Alina yang sudah langsung sigap menghadap Dharen. Meski pak Sigit yang ditinggalkan dan masih duduk di boncengan, berakhir terjatuh. Andai Alina tidak sigap menahan motor matic yang baru saja ia tinggalkan. Otomatis motor matic berwarna hitam itu juga menjatuhi pak Sigit.
Kedatangan Alina, serta kesigapan Alina, sukses membuat Dharen bengong. “I—ini, ... ini wanita Konoha sebelah mana? Kok ..., motor saja dia angkat. Dan, waktu yang aku kasih ke pak Sigit, beneran masih ada empat menit!” batin Dharen. Ia mengenal Alina karena sebelumnya, ia sudah diberitahu profil sekaligus foto Alina. Sementara kini, ia yang sempat menatap wajah Alina, dengan refleks mengamati penampilan Alina.
“Bukannya belahan da.da, yang aku lihat justru kancing kerah sampai terkunci. Sementara yang bawah pun, bukannya paha, yang aku lihat malah kaki jenjang. Bener sih kata kakek Restu dan tak lain opaku. Bahwa si Alina memang beda,” batin Dharen.
“Permisi, Bos. Mohon maaf. Coba kacamata hitamnya dilepas dulu. Takutnya kan penglihatannya jadi gelap,” ucap Alina benar-benar santun.
Ditegur begitu, Dharen yang memang tak kalah kompeni dari Devano di novel : Dibuang Calon Suami Dan Menjadi Kekasih Bos, berkata, “Kamu berani ke saya?”
“Lah, ngapain enggak berani, Bos? Kita kan sama-sama makan nasi. Terus kata kakek Bos, saya juga wajib mendidik Bos!” balas Alina sesantai dirinya sedang menghadapi ibu Mimi.
Malahan, pak Sigit lah yang merasa ngeri atas keadaan kini. Karena untuk kali pertama, ada yang berani kepada Dharen. Padahal, Alina sendiri memang sudah diatur untuk menjadi pembimbing sekaligus penjin.ak Dharen. Kakek Dharen yang mengaturnya.
Hanya saja, ketika Dharen akhirnya membuka kacamata hitam tebalnya, Alina berangsur mengangguk-angguk. Pria di hadapannya benar-benar lebih dari tampan.
“Good looking, good rekening, tapi attitude belum good. Pantesan aku disuruh ngasuh kamu!” tegas Alina yang segera menyodorkan kartu pengenal dan terkalung di dadanya. Kartu yang akan membuat Dharen tunduk kepadanya.
Semua itu sungguh terbukti. Bibir tebal Dharen kembali mingkem. Padahal sebelumnya, bibir itu nyaris mangap, mencac.i Alina melebihi cac.ian ibu Mimi.
(BTW, yuk kasih bintang 5 🌟🌟🌟🌟🌟. Mana tahu dilirik editor buat dipromoin 😂)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
🤣🤣🤣
2024-10-06
0
himawatidewi satyawira
model alina gini brani nglawan maknya si ucup salut..
2024-10-06
1
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
2024-09-16
0