“Ya Allah, ini bulu mata sebelah kanan aku transmigrasi ke mana?” Alina kehilangan bulu mata sebelah kanannya.
Tanpa sedikit pun jaim, Alina memang langsung membenarkan riasan wajahnya. Alina menggunakan kaca spion motor sebelah depan, untuk bercermin. Dharen sampai heran lantaran bawahannya itu tak sedikit pun jaim atau setidaknya malu kepadanya.
Ketika akhirnya Alina balik badan, ia langsung syok. Bukan karena Dharen menatapnya sebal, melainkan karena yang ia cari ada si bibir atas pria itu.
“Oalah, itu!” refleks Alina. “Permisi, Bos. Itu, anu saya. Bulu mata palsu saya,” ucap Alina sudah mengulurkan tangan kanannya. Namun, Dharen langsung mundur.
Dharen memandangi bibirnya dan ia menemukan keanehan di sana. Seperti yang Alina katakan, bulu mata palsu wanita itu sungguh terpasang di sana.
“Tadi bibirnya nyaris nempel ketinggalan karena kamu bawa motornya ugal-ugalan. Lah sekarang, bulu mata kamu malah bikin bibirku badai!” kesal Dharen.
Sambil menahan tawanya, Alina membungkuk-bungkuk meminta maaf. Namun ketika ia akan mengambil bulu mata palsunya, Dharen justru menyingkirkan yang akan Alina Ambil. Tak tanggung-tanggung, Dharen meniup bahkan melud.ahi bulu matanya.
“Dasar sekretaris jan.cuk! Bisa-bisanya bulu matanya nempel di bibirku!” gerutu Dharen sambil menaiki anak tangga. Ia siap masuk ke kantornya yang memang megah. Malahan dari semua bangunan yang ada di sekitar sana, kantornya menjadi yang paling besar sekaligus tinggi.
Sampai detik ini, Alina masih cekikikan. “Tuh bulu mata mengandung pele.t. Sekarang bulu mataku yang nempel di bibir kamu. Besok-besok, hati kamu yang nempel di hatiku!” batin Alina yang jadi menertawakan ocehannya sendiri.
Dharen merupakan anak Divani, putri dari pak Restu di novel : Menikah Dengan Suami Sahabat Karena Dijebak. Sejak usia tujuh tahun, Dharen sudah menjadi yatim piatu. Namun sebelum itu, Dharen dan orang tuanya sempat terlibat kecelakaan ketika ketiganya motoran. Dharen menjadi satu-satunya yang selamat. Kakek Restu langsung tidak bisa berkata-kata, ketika tahu alasan Dharen untuk pertama kalinya sampai di kantor paling awal, justru karena Alina mengantarnya menggunakan motor.
“Oh, ... ternyata saya salah. Saya benar-benar minta maaf, Pak.” Alina menunduk dalam. Berbeda dari ketika hanya sedang berdua dengan Dharen, kini ia sangat santun.
Sadar Alina tengah berada si posisi terjepit, Dharen sengaja jadi kompor. “Tapi tadi seru banget loh, Kek! Alina naik motornya mirip orang India. Beneran bar-bar banget! Limbad saja enggak ada apa-apanya!”
“Tubuhku sampai keban.ting-ban.ting!” lanjut Dharen berharap Alina dipecat.
Alina tentu saja panik. Namun kali ini, ia hanya bisa mendelik mirip cacing kepanasan.
“Bulu mata palsunya sampai nempel dibibir aku! Aku ya baru sadar pas dia heboh ngaca di kaca spion motor. Soalnya kan, dia naik motornya dengan kecepatan tak sepantasnya ditiru! Ya otomatis, bibirku sampai mati rasa kembang kempis gitu! Tuh, lihat ... si Alina enggak pakai bulu mata palsu kan. Mau aku kasih bulu kemoceng, takut Alina jadi pencetus trend!”
“Oalah ... ternyata gini ya mainnya kamu! Jangan-jangan, sebenarnya kamu ini memang kembarannya ibu Mimi. Kembar beda usia sama beda kasta!” batin Alina benar-benar dongkol.
“Untung produk di tubuhku bukan hasil oplas. Kalau iya, ini hidung, bibir, bahkan wajah, ... sudah nempel ke tetangga sebelah!” lanjut Dharen menutup ucapannya.
Sampai detik ini, ekspresi kakek Restu benar-benar datar. Alina mulai takut lantaran biar bagaimanapun, Dharen jadi salah satu cucu kesayangan kakek Restu.
“Berarti dengan kata lain, Bos Dharen menikmati motoran kita, kan?” ucap Alina yang dalam hatinya ingin memites Dharen.
Mendengar pertanyaan Alina kepada Dharen, kakek Restu malah tertawa. “Hahaha ... ha. Ha ... ha ... ha!” Kakek Restu sampai kesulitan mengakhiri tawanya. Alina dan Dharen yang menyaksikannya, jadi sama-sama bingung.
Bahkan meski karyawan lain, berdatangan menjadi penghuni ruang rapat kebersamaan ketiganya, kakek Restu masih belum bisa menyudahi tawanya.
Yusuf juga ikut serta memasuki ruang rapat. Hingga kebersamaan kini, menjadi awal pertemuan Yusuf dan Alina di kantor. Yusuf langsung kebingungan dan menjadi satu-satunya orang yang tidak menyapa Alina. Tentu semuanya kenal Alina karena memang, Alina merupakan orang lama di perusahaan mereka.
“Enggak etis banget sih. Jelas-jelas aku yang bosnya, tapi kok mereka sibuk nyapanya ke kamu!” protes Dharen yang duduk di sebelah kakek Restu. Ia menatap sebal Alina.
Lebih tepatnya, pak Restu memimpin rapat di sana. Sementara di seberang Dharen, ada pak Devano selaku kakak kandung alm. mamanya Dharen.
“Ya makanya, bibir Bos jangan dibiarkan jadi bibir bebek. Keep smile!” bisik Alina yang memang duduk tepat di belakang tempat duduk Dharen.
Layaknya sekretaris pak Devano maupun sekretaris kakek Restu, Alina duduk persis di belakang sang bos. Alina selalu siaga dan akan membantu Dharen kapan pun Dharen butuh. Hanya saja, interaksi Dharen dan Alina, sudah sukses membuat Yusuf cemburu.
“Mas Yusuf bukannya kerja malah ngelihatin aku terus. Sebenarnya otak dia ada isinya enggak sih? Lihat aku sama bosku ngobrol saja, dia cemburu. Lah kok mau poligami, dia tetap enggak mau menceraikanku. Mana kami akan satu rumah. Enggak kebayang setelah ini, padahal di rumah Mas Yusuf enggak ada banyak kamar!” batin Alina.
Sepanjang di kantor, Yusuf berusaha menemui Alina. Hanya saja, status mereka yang berbeda, sementara Alina selalu bersama jajaran pimpinan, menjadi alasan Yusuf sulit mendekati apalagi menggapai Alina.
“Aku beneran enggak suka kalau keadaannya jadi kayak gini!” kesal Yusuf dalam hatinya. “Kami jadi mirip orang asing. Si Alina sekadar melirik aku saja, enggak! Bangk.e!”
Padahal, alasan Alina sulit ia ajak berkomunikasi karena Alina sangat sibuk. Alina terus mondar-mandir mengikuti Dharen. Keduanya kerap mengobrol lirih. Yang mana Dharen cenderung sibuk bertanya kepada Alina.
***
“Mas melarang aku bekerja? Kalau begitu, Mas juga jangan poligami!” tegas Alina yang kemudian berkata, “Selain itu, Mas juga harus memenuhi kebutuhanku. Mas juga wajib menyediakan tempat tinggal khusus untukku, meski itu berupa kontrakan kecil. Jangan digabungin dengan tempat tinggal mama Mas yang jelas-jelas tidak menyukaiku. Bagaimana, Mas sanggup, enggak?” balas Alina pada permintaan Yusuf yang melarangnya bekerja.
“Heh, Alina! Kamu ya ... dasar istri durhaka. Bisa-bisanya kamu mengarahkan anak semata wayangku jadi durhaka!” kesal ibu Mimi.
Ibu Mimi bisa ikut campur dengan leluasa lantaran obrolan Yusuf dan Alina, terjadi di ruang keluarga.
“Terus satu lagi, itu kan bentar lagi, Rita tinggal di sini. Kamu yang keluar dari kamar. Kamu tidur di kamar belakang dekat dapur!” tegas ibu Mimi, meledak-ledak.
Di tengah dada bergemuruh menahan emosi, Alina berusaha meredamnya dengan menghela napas pelan. “Ya Allah, andai memang aku salah, aku terima. Niat hati menikah dengan orang yang enggak lebih kaya, agar aku lebih dihargai. Nyatanya aku malah diperlakukan layaknya keset. Dan semoga, jika anggapan saya yang merasa terzalimi benar. Bahwa ibu mertua saya sudah zalim keterlaluan, bismillah sekujur tubuhnya dipenuhi bisul sebagai wujud teguran nyata dari—Mu ya Rabb. Apa pun obatnya enggak bakalan mempan, selain ... selain dia yang meminta maaf dengan tulus ke orang tua khususnya, Mamaku!” tegas Alina sambil menatap kesal ibu Mimi.
“Mulutmu, berani-beraninya nyumpahin saya, ya!” kesal ibu Mimi.
“Eh, Ibu Mimi. Saya sudah minta cerai baik-baik. Saya memilih pisah. Anak ibu saja yang enggak mau pisah dari saya! Sementara untuk urusan saya dikatai hidup numpang, ... ini konsep otak Ibu terbuat dari apa? Istri ke suami numpang? Istri itu tanggung jawabnya suami, justru ibulah yang numpang!” tegas Alina sudah sangat ingin menerk.am ibu Mimi hidup-hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Julie Yang
mantap alinaaaaa
2024-11-25
0
Rifa Aulia
bengek bacanya.😂😂😂😂
2024-11-05
0
Silvi Vicka Carolina
klo kata istemewa nya surabaya di tulis kurang greget tapi klo di ucapkan lansung itu lah seni nya ........
2024-08-21
0