Kamar di sebelah dapur dan dimaksud menjadi kamar baru untuk Alina, lebih layak disebut gudang. Kamar yang awalnya rapi karena tak luput dari tangan cekatan Alina yang membereskan, kini penuh barang-barang.
“Aku, disuruh tidur kamar rasa gudang begini? Dikiranya aku ibu Mimi, yang gaya hidupnya memang fifty fifty sama tikus?!” lirih Alina benar-benar sinis.
Di luar sana, Yusuf sedang protes kenapa pria itu sampai dikurung di kamar. Itu cara ibu Mimi memisahkan Yusuf dari Alina. Namun Alina justru diam-diam berterima kasih.
“Soalnya kalau mas Yusuf terus ngikutin aku, yang ada aku makin repot. Minggat-minggat setelah ibu Mimi tidur. Dikiranya aku ini panti sosial. Dikasih hati sama jantung, ta.i di usus pun di embat!” sebal Alina sambil mengintip keadaan luar sana.
“Kalau cara kamu begini, jelas kamu salah, Bu Mimi. Duh, ngeri kalau kamu beneran jadi manusia bisul!” batin Alina memilih mengunci pintu ruangan di sana dari dalam.
“Sudah numpang, jangan pura-pura amnesia buat enggak bantu-bantu, kamu ya. Beres-beres dulu sebelum tidur!” seru ibu Mimi sambil menggedor-gedor pintu kamar Alina berdiri.
Alina yang memang masih berdiri di balik pintu langsung mendelik kesal. “Oke, sekalian wajah kamu juga bakalan aku pel! Sementara mulut kamu juga lebih pantas minum air pel buat herbal malam!”
Kebetulan, alat pel dan beres-beres lainnya juga ada di sana. Padahal, biasanya semua itu Alina susun rapi di sebelah jemuran belakang.
“Emang si Mimi sudah sakit. Kehed tuh orang. Semoga yah, ya Allah. Dengan keridhoan hamba dizalimi dia, calon mantu dia yang katanya Masyaa Allah. Jadi Musibah Ya Allah!” gerutu Alina.
Alina sungguh membawa alat pel yang ada tongkatnya lengkap dengan ember. Alina mengisi nyaris penuh embernya, kemudian membawanya ke ibu Mimi.
“Syukurlah langsung tahu diri!” sinis ibu Mimi yang nyaris masuk kamarnya.
“Hitung-hitung buat salam perpisahan!” ucap Alina sangat bersemangat.
“S—salam, ... s—salam perpisahan gimana, maksudnya?” balas ibu Mimi yang memang mulai takut. Karena jika Alina sampai sangat semangat seperti sekarang. Padahal ia terus membuat Alina kesal, yang ada—
“Byur ...!”
Tanpa basa-basi lagi, Alina sungguh mengguyur wajah maupun bagian tubuh ibu Mimi yang lain.
Setelah terdiam cukup lama karena syok, akhirnya ibu Mimi menjerit. Jeritan yang sampai berhasil menggetarkan rumah. Juga, jeritan yang langsung berhenti ketika Alina sampai menjadikan ember pelnya sebagai topi ibu Mimi. Kepala hingga leher ibu Mimi sampai tertutup air.
Meski sempat kembali diam, ibu Mimi juga kembali berteriak. Wujud dari rasa kesalnya kepada Alina. “Dasar menantu sin.ting!”
Padahal luka-luka yang selama ini ibu Mimi torehkan, khususnya luka batin kepada Alina, jauh berkali-lipat menyak.itkan. Namun lagi-lagi, ibu Mimi tetap merasa yang paling terzalimi.
“Brak ... brakk ... brakkk!” Alina yang belum puas dengan penderit.aan ibu Mimi. Apalagi ibu Mimi terus berteriak, sengaja menjadikan ember pel di kepala ibu Mimi menjadi kendang dadakan.
“Yusuffff, istri mandul kamu, bang.keeeeee!” teriak ibu Mimi. Pusing bahkan vertigo rasakan, ibu Mimi rasakan gara-gara kejadian sekarang.
“Mana mungkin si Yusuf bisa nolongin. Orangnya saja situ kunci!” sinis Alina sambil melangkah pergi.
Alina kembali masuk ke kamar belakang. Meninggalkan ibu Mimi yang terus meraung-raung kesal kepadanya.
***
Keesokan harinya, adzan subuh sudah berkumandang. Namu kepala ibu Mimi masih terasa sangat berat. Permukaan bumi ini masih terasa berputar-putar bagi ibu Mimi. Padahal, kepala, leher, maupun tengkuknya sudah dipenuhi koyok.
Ibu Mimi keluar dari kamar dengan langkah terseok-seok. Kedua tangannya berpegangan pada dinding. Namun, air di lantai depan kamarnya membuatnya terpeleset dan berakhir terbant.ing. Ternyata air pel yang Alina siramkan semalam kepadanya, masih dibiarkan begitu saja.
“ALINA, KAMU INI BENERAN SINTING, YA? SENGAJA BANGET BIKIN SAYA CEPAT MATI!”
Tak ada tanggapan berarti. Rumah tetap dalam keadaan sepi hingga ibu Mimi, terpaksa bangun sendiri. Terseok-seok ia membuka kunci pintu kamar Yusuf.
“Kamu belum bangun, Suf!” seru ibu Mimi yang sampai membuka pintu kamar Yusuf. Hingga ia melihat apa yang terjadi di dalam sana. Sang putra meringkuk di pinggir tempat tidur. Dan bisa dipastikan, Alina tidak ada di sana. Apalagi, pada kenyataannya pintu kamar Yusuf juga ia kunci dari luar.
“Mama, tolong jangan terlalu keras ke Alina. Karena Mama tahu, dampaknya pun enggak baik buat Mama!” tegas Yusuf, tapi ia masih melakukannya dengan sangat sabar.
“Enggak ... kalau ke Alina, Mama beneran enggak bisa.” Kemudian, ibu Mimi berkata, “Sudah jangan bahas dia lagi. Hari ini kamu wajib fokus cari hotel yang bagus tapi murah. Buat acara pernikahan kamu dan Rita!”
“Kita wajib undang kerabat sekaligus keluarga kita. Namun pastikan, Si Mandul yang sint.ing itu enggak bikin rusuh. Dia wajib datang menyaksikan kebahagiaan kalian, tapi dia wajib jaga sikap!” tegas ibu Mimi yang jadi kerap meringis menahan pusing. Sesekali, kedua tangannya juga memijat kepalanya.
Yusuf merasa serba salah. Namun ia sudah refleks memanggil-manggil Alina. Ia mengkhawatirkan Alina karena kamar yang harus Alina tempati lebih mirip gudang.
“S—sayang ...?” teriak Yusuf untuk kesekian kalinya.
“Apaan sih, Suf. Kamu masih panggil dia sayang ... sayang. Kalau Rita dengar, dia pasti cemburu badai!” kesal ibu Mimi.
Selain pintunya masih tertutup rapat, kamar yang Alina tempati juga dalam keadaan sepi. Sementara pintu dapur dalam keadaan terbuka dan semua lampu menyala.
“Sudah, kamu mandi. Subuhan sana!” usir ibu sengaja memak.sa. Lagi-lagi ia terpaksa mengunci Yusuf di dapur. Karena Yusuf terus berusaha mencari Alina.
Hingga waktunya jam sarapan tiba, semuanya masih dalam keadaan sama. Ibu Mimi yang sudah mandi, dan kepalanya tak pusing seperti sebelumnya, sampai mengomel.
“Ini sudah jam berapa? Kenapa lampu masih dinyalakan semua? Sengaja pemborosan, kamu?!” teriak ibu Mimi.
Niat hati langsung mematikan lampu, keadaan yang sangat sepi, membuat ibu Mimi bingung.
“Loh, kok malah enggak ada orang. Dapur pun masih berantakan. Boro-boro ada masakan. Inu masih mirip keadaan dapur kemarin sore.” Yang memang sengaja ibu Mimi berantakan agar bisa menjadi bahan pekerjaan Alina. Agar Alina makin tersi.ksa
“YA AMPUN, SUFFFF! SEPERTINYA ISTRI MANDULMU MINGGAT!”
Ibu Mimi sangat heboh. Alina maupun barang-barangnya sungguh tidak ada. Celakanya, ternyata pintu rumah mereka sampai dikunci dari luar.
Sementara saat kejadian minggat, Alina memang sengaja melakukannya. Alina mengunci pintunya dari luar. Kemudian, kuncinya dibuang sembarang sekuat tenaga. Gaya yang Alina pakai, tentu gaya kera sakti selaku panutannya.
Hingga yang ada, baik Yusuf maupun ibu Mimi, terpaksa lewat jendela. Untuk keluar masuknya.
“Di rumah sendiri, masa kayak gini. Mirip ma.ling,” keluh ibu Mimi.
“Kan, ... Mama sih, terlalu keras ke Alina.” Yusuf benar-benar marah.
“Loh, kok kamu malah marah? Kalau kamu mau marah-marah. Harusnya kamu melakukannya ke Alina. Karena dia yang minggat dan sampai kunci pintu dari luar!” kesal ibu Mimi.
Yang membuat Yusuf bertanya-tanya, ke mana Alina pergi?
Yusuf tidak khawatir Alina sampai dibega.l. Karena ketimbang Alina, yang ada begalnya yang ketakutan pada ulah Alina.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Lies Atikah
bagus lin tiggal kan dan jangan kembali apapun yang terjdi
2024-12-12
0
himawatidewi satyawira
bagus tp murah?🤔kandang klinci
2024-10-06
0
himawatidewi satyawira
🤣🤣🤣
2024-10-06
0