Alina sudah kembali beraktivitas. Wanita itu sudah mondar-mandir di depan pintu masuk perusahaan. Seperti saat keluar dari klinik milik Binar, sampai saat ini, Alina juga masih memakai kacamata bening berbingkai warna ungu.
Tak seperti biasa, kali ini Yusuf datang menggunakan motor. Yusuf menggunakan jasa ojek. Tentu Yusuf yang tak sengaja melihat ke pintu masuk, langsung menemukan Alina. Bergegas Yusuf menghampiri Alina. Pria itu sampai lupa membayar ojeknya lantaran terlalu terbawa suasana. Hingga mau tak mau, Yusuf yang pagi ini sudah sangat apes, juga sampai dimarahi tukang ojek.
“Alina!” seru Yusuf. Ia sampai berlari.
“Eh, anaknya si ibu Mimi. Sumpah, gedeg banget aku ke nih orang. Pasti dia mau bahas mobil. Mau bilang kenapa aku sampai nekat bagi dua tuh mobil!” sinis Alina berbicara lirih.
Hari ini Alina tidak memakai rias. Karena Alina memang tidak punya stok, setelah perlengkapan rias miliknya, entah dikemanakan oleh ibu Mimi. “Tapi aku curiga, tuh kosmetik sengaja diambil ibu Mimi buat si Masya Allah. Tahu gini, aku balik ke sana, tapi sebelum itu minta racikan pembuat koreng ke mbak Binar. Biar yang pakai kosmetikku itu burik seumur hidup!” batin Alina sudah berpapasan dengan Yusuf.
Alina memang sengaja buru-buru turun. Alina sampai berlari karena di depan sana, ada mobil Dharen yang memasuki halaman perusahaan. Dharen masih memakai mobil sport warna merah yang atapnya dibiarkan terbuka.
Dari segi penampilan, Dharen yang kembali memakai kacamata hitam tebal, memang sangat keren. Alina mengakuinya. Yusuf bahkan tidak ada apa-apanya. Namun jika ingat porsi otak maupun attitude Dharen, cucu dari kakek Restu itu akan membuat Alina selaku pengasuhnya, sibuk istighfar.
“ALINA! Itu mobil, kamu apain?” tegas Yusuf penuh penekanan.
Alina yang berlari melewati Yusuf begitu saja, masih bisa mendengar dengan sangat jelas. Karenanya, Alina yang tetap berlari, berkata, “Dibagi dua, kan?”
Yusuf tidak terima dengan balasan Alina. Hingga sekali lagi, ia memanggil Alina dengan nada keras dan lebih terdengar membentak. “Masalahnya, kenapa sampai—”
Yusuf tak kuasa melanjutkan ucapannya. Karena ketika ia balik badan dan bermaksud menatap Alina, wanita yang Yusuf pastikan masih menjadi istrinya itu justru menghampiri Dharen.
Dharen yang memang tipikal kompeni jail, berusaha menakut-nakuti Alina. Dharen berulah, seolah dirinya akan menabrak Alina. Namun tak disangka, Alina dengan cepat loncat, kemudian duduk di sebelah Dharen.
“Enggak usah uji nyaliku. Sudah kubilang, panutanku itu Sun Go Kong! Kalau ada yang mau membiayai, aku bahkan siap-siap saja dikirim ke Palestina buat perang!” ucap Alina dan sukses membuat Dharen bengong.
“Sumpah, punya pengasuh kayak kamu enggak seru. Masa iya, harus aku yang takut ke kamu? Cipung saja enggak takut ke Sus Rini!” sebal Dharen.
Alina langsung tertawa. Tawa yang benar-benar lepas. “Ya ampun, ... ternyata Bos kenal Cipung bahkan Sus Rini!” Namun dengan cepat, Alina kembali serius. “Katakan kepadaku, kesalahan apa yang telah Bos lakukan, hingga nanti siang, akan ada rapat dadakan dengan klien.”
“Astaga ... baru juga ngakak, kamu sudah langsung bisa serius? Ngeri, ih. Jangan-jangan, kamu ini psikopet!” komentar Dharen.
Dari kejauhan, yang Yusuf tangkap ialah keakraban antara sang istri dengan Dharen, bos mereka. Dharen bahkan dengan sangat mudah ngambek ke Alina. Seolah, mereka memang sangat dekat.
Dharen meninggalkan mobilnya begitu saja. Ia bahkan keluar tanpa membuka pintu. “Parkir mobilku di tempat khusus biasa. Setelah itu, bawa ketiga ranselku.”
“Kenapa Bos bawa ransel sampai ada tiga?” sergah Alina segera berdiri setelah ia sampai mematikan mesin mobilnya.
“Biar kamu punya banyak beban. itu isinya barbel semua. Biar seru, masa iya aku terus yang takut sama kamu!” tegas Dharen.
“Eh, Bos enggak kasihan ke aku? Di luar kantor, aku ini tak lebih dari istri sekaligus menantu teraniaya.” Alina sengaja berseru karena Dharen yang minus attitude, sudah telanjur melangkah jauh.
“Ya sudah, cerai saja. Ngapain makan hati hanya buat suami dan mertua enggak tahu diri!” Dharen meledak-ledak, dan memang sengaja berseru lantaran jaraknya dan Alina, cukup jauh.
Yusuf yang ada di belakang Alina, langsung tersinggung. Namun, Yusuf sengaja cari aman dengan bergegas pergi dari sana.
“Nanti kalau kamu sudah jadi jandes, kamu nikah sama aku saja. Dah, gitu saja beres!” lantang Dharen kali ini tersenyum ceria kepada Alina.
Ada yang langsung kebakaran, dan tentu saja itu Yusuf. Yusuf yang awalnya mau cari aman, refleks berhenti melangkah. Rahang Yusuf mengeras, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.
Padahal, Alina saja sama sekali tidak baper. Karena yang ada, Alina malah membalas Dharen dengan sinis. “Bos mau nikahin aku, cuma buat kedok. Biar aku yang ngerjain semua pekerjaan sekaligus tanggung jawab Bos. Sementara Bos dugem terus!”
Alina memilih memarkir mobil Dharen. “Ayo kita nikah, tapi kamu harus waras dulu. Karena aku saja baru keluar dari kandang buaya!” gerutu Alina.
“Bagaimana caranya agar aku bisa berbicara dengan Alina? Nyesel aku sudah kasih dia izin buat kerja lagi!” batin Yusuf benar-benar kesal. Namun, ia langsung tersenyum santun kepada Dharen yang ternyata tengah mengawasinya.
“Oh, ternyata ada orang. Berarti tadi dia dengar kalau aku baru saja mengajak pengasuhku nikah?” batin Dharen yang takut wibawanya hilang. Karenanya, ia kembali bersikap arogan. Karena biasanya, memang begitu dirinya di depan orang-orang. Namun khusus jika dengan Alina, Dharen tidak bisa. Padahal, mereka baru kenal sekaligus bekerja sama, kemarin.
Yusuf memilih melangkah di belakang Dharen. Namun tentu saja, ketika sudah masuk perusahaan, mereka beda lift. Karena lift untuk Dharen sekeluarga, memang dibedakan. Lift untuk Dharen sekeluarga, ukurannya lebih luas sekaligus lebih bagus. Sementara lift untuk karyawan biasa, tentu tidak lebih baik, tapi masih terbilang bagus.
Karena kedua lift tersebut saling berhadapan, Yusuf sengaja agak membungkuk. Itu ibarat wujud hormat Yusuf ke Dharen. Kendati demikian, Dharen benar-benar cuek. Meski tentu saja, Yusuf tidak boleh marah apalagi bar-bar layaknya Alina.
Tak lama kemudian, ada suara langkah setengah lari. Ternyata itu Alina yang membawa tiga ransel milik Dharen. Alina sudah sampai berkeringat karena isi ransel Dharen memang sangat berat.
Pintu lift Dharen maupun pintu lift Yusuf, sama-sama tertutup. Namun, keduanya yang menatap Alina, kompak membuat pintu lift mereka terbuka. Namun, tidak hanya sampai di situ. Karena setelah Yusuf sengaja menghampiri Alina, hal yang sama juga dilakukan oleh Dharen. Dharen bahkan mengambil semua ransel yang Alina bawa. Satu Dharen gendong, sisanya Dharen tenteng.
Setelah Alina pastikan, ternyata di depan pintu masuk sana, ada rombongan kakek Restu. Alina nyaris ngakak karena Dharen justru termakan senjat.anya sendiri.
“Tadi kakek lihat kamu bawa ransel sebanyak ini?” bisik Dharen sambil menggiring Alina masuk ke dalam lift. Mereka meninggalkan Yusuf begitu saja.
“Ya lihat lah. Kakek Bos sampai lihat merk barbelnya. Kan dicek satu-satu ranselnya!” balas Alina.
Mendengar itu, Dharen jadi buru-buru membuat pintu lift kebersamaan mereka menutup. “Jan.cuk emang kamu Lin! Enggak ada baik-baiknya! Harusnya kamu contoh Sus Rini!”
Diomeli begitu, Alina hanya cekikikan. Namun, Alina langsung ngakak ketika salah satu ransel Dharen, menjatuhi kaki kanan Dharen.
Dharen kesakitan dan latah “Jan.cuk” berulang kali.
Di luar lift, kakek Restu yang datang bersama pak Devano, bertemu Yusuf. Yusuf yang awalnya akan masuk lift khusus karyawan, segera membungkuk hormat kepada keduanya. Yang membuat Yusuf bertanya-tanya, kenapa kakek Restu jadi sibuk mengawasinya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
himawatidewi satyawira
astajim alinaaa
2024-10-06
0
Sandisalbiah
karena kamu target yg pas buat di mutilasi, Yusuf..
2024-07-28
0
🍁ˢ⍣⃟ₛ Angela❣️
hhhhhhhh Alina 😆😆😆😆😆 dasar 😁😁😁
2024-04-26
1