Yusuf terus bertanya-tanya. Kenapa Rita sampai tidur bersamanya? Kenapa wanita yang tubuhnya memang hampir tiga kali lipat lebih besar dari Alina, juga tanpa busana layaknya dirinya?
Sambil berusaha menutupi asal tubuhnya menggunakan selimut yang sebagiannya sudah ada di lantai sebelahnya, Yusuf berkata, “Kenapa kamu bisa ada di sini? Istriku mana? Alina mana?!” Ia yang juga menatap saksama Rita, tak hanya menyadari bahwa Rita memiliki tubuh nyaris tiga kali lipat lebih besar dari Alina. Sungguh tidak hanya dua kali lipat lebih besar.
Di mata Yusuf, lengan Rita mirip lengan binaraga versi tidak berotot saking besarnya. Namun ketika ia melihat perut Rita ....
“Sebesar-besarnya orang gendut, itu termasuk keras loh? Dia enggak beneran hamil dulu, kan? Soalnya semalam, kalau aku malah beneran melakukannya dengan dia, bukan Alina. Rasanya sama saja. Meski aku sempat bilang,” batin Yusuf menerka-nerka.
“Semalam, meski sudah aku buat oleng, si Mas Ucup sempat komplain, kok punyaku jadi agak longgar? Tapi kan dia anggapnya aku ini si Alina itu, yang sok cantik sama sombongnya selangit!” batin Rita yang menjelaskan, bahwa alasannya gendut sekaligus memiliki perut buncit, efek dirinya yang punya lambung kronis.
“Aku harus menutupi perutku, sebelum tante Mimi datang!” batin Rita langsung sigap. Ia meraih gamisnya yang bisa menjadi selimut untuk Yusuf. Saking besarnya ukuran Rita.
Setelah dirasa aman meski Yusuf tampak sangat terpukul, Rita yang merasa siap mengundang ibu Mimi, sengaja menangis kebingungan. Rita memohon pertanggung jawaban.
“Apa yang kita lakukan zi.na, kan, Mas? Semalam aku beneran enggak bisa mencegah Mas ... kekuatanku enggak seberapa buat menahan Mas yang—”
“Padahal badan kamu saja lebih besar dariku loh, Rit—”
“Tetap saja beda, Mas.” Rita jadi bingung harus bicara sekaligus memberi alasan apa lagi. “Padahal niatku nginep, memang buat urus mamanya Mas—”
Akhirnya ibu Mimi yang ditunggu-tunggu Rita, datang. Kebetulan, pintu kamar Yusuf, sudah Rita buat tidak sepenuhnya tertutup. Awalnya ibu Rita memanggil Yusuf, membangunkannya layaknya biasa. Untuk shalat subuh. Namun, wanita itu tak kalah terkejut dari Yusuf. Meski terkejutnya ibu Mimi, murni karena calon menantu idamannya yang sangat agamis, malah sudah melakukan zi.na dengan Yusuf.
“Ya sudah, ... ya sudah, enggak apa-apa. Kan Sabtu besok, kalian mau menikah.” Ibu Mimi sampai memeluk Rita, mencoba menenangkan sang menantu yang tubuhnya sebelas dua belas darinya.
“Tapi kalau mamaku tahu, mama pasti marah dan kecewa banget, Tan!” sedih Rita sambil memeluk ibu Mimi.
Namun ketimbang Rita, ibu Mimi merasa, sang putra jauh lebih kecewa. Apalagi jika dilihat dari fisik, Rita tidak ada apa-apanya dari Alina. Selera Yusuf itu sangat tinggi, makanya Alina sampai Yusuf kejar meski Alina orang kampung.
“Padahal aku berharap, ... andai harus menikah lagi, minimal ya sama lah dengan Alina. Ini, ... jauhnya kebangetan. Tadi aku sempat tanya perkara perutnya. Perutnya beneran besar keras kayak lagi hamil, Ma,” ucap Yusuf ketika hanya berdua dengan mamanya.
Lebih tepatnya, setelah Yusuf memutuskan masuk ke kamar mandi sambil tetap menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Ibu Mimi berhasil menyuruh Rita untuk mandi di kamar mandi belakang. Kini, setelah ibu Mimi sampai mengunci pintu kamar Yusuf, mereka jadi benar-benar hanya berdua.
“Tapi ibu Lia juga bilang suh, Suf. Kalau Rita ada lambung kronis. Tapi efek puasa—” Ibu Mimi mencoba menjelaskan. Namun di hadapannya, Yusuf yang sempat membelakanginya, berangsur menatapnya.
“Dia ngakunya rutin puasa, lagi ada lambung parah, kok badannya bisa segede itu, ya?” tanya Yusuf.
Ibu Mimi dan Yusuf jadi dipusingkan dengan fisik Rita. Masalahnya, Yusuf dan Rita telanjur tidur bersama. Keduanya jelas telah melakukan zin.a. Selain Rita yang tampak sangat terpukul. Mau tidak mau, Yusuf tidak boleh mundur. Yusuf harus tetap maju, menerima Rita apa adanya—itulah masukan terakhir yang bisa ibu Mimi berikan.
“Yang penting, Rita bakalan kasih kamu anak!” yakin ibu Mimi sambil menepuk-nepuk kedua bahu putranya.
“Kalaupun punya anak, aku penginnya ya ... yang good looking juga, Bu. Kalau anak kami mirip Rita. Pasti kurang, kasihan pasti jadi bahan eje.kan!” ucap Yusuf sukses membuat ibu Mimi kebingungan.
Karena seperti yang sempat dibahas tadi, selera Yusuf memang tinggi. “Ya doa saja, semoga anak-anak kalian, mirip kamu. Lagian kan, kamu enggak akan ceraikan Alina, kan? Ya intinya, Rita khusus kasih kamu anak, Alina yang kalau pergi-pergi, kamu bawa!”
Meninggalkan ibu dan anak yang selalu menuntut orang lain sempurna tanpa bercermin mereka saja jauh dari sempurna. Ada Alina yang sudah selesai kembali menjalani perawatan wajah. Alina hanya membeli produk kecantikan dari Binar yang memang sudah teruji kualitasnya. Alina melakukan perawatan sendiri. Karena selain demi hemat, waktu juga sudah tidak mendukung. Alina harus segera mengurus bayi tuanya dan tak lain Dharen.
“Nanti malam aku creambath deh,” ucap Binar yang sudah siap-siap pulang.
Alina tersenyum cerah kepada Binar. “Pengin sekalian potong rambut juga sih,” ucapnya yang tetap menguncir rambutnya lantaran ia akan segera naik motor dengan gaya ugal-ugalan.
“Bisa diatur. Nanti bilang saja ke yang cukur. Namun khusus perawatan, nanti aku yang pegang. Ibu Nina kasih mandat khusus soalnya. Kasih sayang mama kita sepanjang masa banget, ya?” ucap Binar.
Setelah sama-sama menitikkan air mata, Binar dan Alina juga sampai berpelukan. Kemudian, Alina pergi menggunakan motor matic. Sementara Binar, dibonceng Adam menggunakan motor gede. Sebenarnya pasangan manis tersebut sudah punya anak. Namun jika sedang bekerja layaknya sekarang, Sunny anak Binar dan Adam, akan diasuh oleh orang tua Adam. Karena kebetulan, orang tua Binar juga orang kampung. Kampung orang tua Binar, bertetanggaan dengan kampung orang tua Alina. Selain, mereka yang memang memiliki hubungan sangat baik.
Sampai di kantor, Alina sengaja menggerai rambutnya. Beberapa dari mereka sampai pangling kepada Alina karena kini, Alina sampai memakai dress.
Rambut panjang digerai dan sebelumnya sengaja Alina tata hingga kecantikannya makin memesona. Dress putih yang mengekspos keindahan tubuhnya, juga senyumnya yang sangat cerah.
“Harusnya sus Rini idolanya bos Dharen, kalah!” batin Alina yang jadi cekikikan sendiri.
Tak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang. Alina berharap, Dharen tak sampai membawa ransel penuh barbel lagi. Sebab perhari ini, Alina ingin kembali tampil feminin.
Kebetulan, mobil Dharen memasuki halaman perusahaan bertepatan dengan kedatangan Yusuf. Bedanya, Yusuf yang hari ini tampak sangat lesu tidak semangat, kembali menggunakan jasa ojek.
Awalnya, baik Dharen maupun Yusuf, sampai tidak mengenali Alina.
“Siapa, sih? Cantik banget!” batin Yusuf maupun Dharen, sama-sama penasaran. Rasa penasaran level laki-laki, dan akan membuat wanita yang mengetahui, mengatai mereka, “Laki-laki emang bang.ke. Lihat yang bening sedikit langsung pindah alam!”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Lies Atikah
tunjukan pesonamu Lin tapi jangan mau kembali tetap menyala ./Heart//Heart//Heart//Heart/
2024-12-12
0
𝐀⃝🥀Angel❤️⃟Wᵃf
😁😁😁😁😁😁😁😁
2024-05-01
0
guntur 1609
kau yg bodoh sm mama mu...istri cantik dilepas. oerempuan kayak kingking di o
pungut...hadehhh
2024-04-21
0