Airlangga pun segera melesat cepat kearah Sri Cudamani Janayasa sembari menghantamkan kepalan tangannya ke arah dada utusan dari Kerajaan Sriwijaya ini. Lelaki bertubuh kekar itu segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada untuk bertahan.
Bhhhuuuuuuggggh...
Shhhrreeeeeeeeekkkk!!!
Kuatnya pengaruh pukulan keras Airlangga yang berlapis separuh tenaga dalam nya, membuat Sri Cudamani Janayasa tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Tangannya terasa kebas dan ngilu usai menerima hantaman itu.
'Bangsat, bocah ini rupanya punya isi juga. Aku harus berhati-hati jika tidak ingin dipermainkan oleh nya', batin Sri Cudamani Janayasa segera.
Usai melayangkan serangan pertama, Airlangga kembali lagi menerjang maju ke arah perwira prajurit Kerajaan Sriwijaya ini dengan ilmu silat tangan kosong berlapis tenaga dalam miliknya. Jika tadi Sri Cudamani Janayasa sedikit meremehkan kekuatan yang dimiliki oleh Airlangga, kini ia lebih hati-hati dalam menyerang dan bertahan. Pertarungan sengit antara keduanya pun segera terjadi.
Perang terus berkecamuk hingga ke dalam istana setelah para prajurit Kadipaten Lwaram yang dibantu oleh para prajurit Kerajaan Sriwijaya berhasil menjebol pintu gerbang istana. Jerit kesakitan bercampur dengan darah yang menggenang dimana-mana menjadi pemandangan yang tersaji di tempat itu. Mayat mayat prajurit tergeletak begitu saja di seluruh tempat. Beberapa rumah dan bangunan penting di sekitar istana negara telah musnah di lalap si jago merah.
Kurangnya jumlah prajurit membuat para prajurit Kerajaan Medang terdesak oleh gempuran gabungan dari para prajurit Kadipaten Lwaram dan Kerajaan Sriwijaya. Bagi Adipati Aji Wurawari, ini adalah balas dendam nya sedangkan bagi Kerajaan Sriwijaya, runtuhnya Kerajaan Medang akan membuat kerajaan-kerajaan lain di Nusantara mengakui kekuasaan mereka hingga menjadikan mereka sebagai satu-satunya negara adikuasa di seluruh Nusantara.
Melihat situasi yang semakin tidak menguntungkan bagi mereka, Prabu Dharmawangsa mencabut keris nya dan langsung menerjang masuk ke dalam barisan prajurit Lwaram dan Sriwijaya. Melihat hal itu, para punggawa Istana Kotaraja Wuwatan seperti Mapatih Mpu Chandranata, Mahamantri I Halu Mapanji Ranggasena juga para punggawa lainnya pun segera ikut menghunus senjata mereka masing-masing sebelum mengikuti jejak sang penguasa Kerajaan Medang.
Perang yang semula telah sedikit mereda, kini bergejolak lagi dengan sengitnya karena kehadiran Prabu Dharmawangsa ditengah-tengah para prajurit Medang yang sedang mengadu nyawa.
Munculnya Prabu Dharmawangsa di tengah medan tempur langsung membuat para punggawa Kadipaten Lwaram mencoba untuk membunuhnya. Tentu saja dengan harapan bisa mendapatkan hadiah besar karena telah berjasa bagi mereka. Salah seorang diantara mereka itu adalah Senopati Wiluga yang bertubuh besar. Bersenjatakan sebuah kapak besar, lelaki bertubuh besar itu langsung menerjang maju ke arah Prabu Dharmawangsa.
Whhhuuuuuggggghhhh!!
Ayunan kapak besar itu seperti merobek udara dan mengarah langsung ke kepala sang Raja Medang. Namun Prabu Dharmawangsa ini bukanlah raja sembarangan. Meskipun ia adalah seorang bangsawan, tapi masa mudanya dihabiskan untuk berguru kepada beberapa orang Resi di Gunung Pamrihan atau yang lebih kita kenal sekarang sebagai Gunung Lawu. Maka tanpa bergeser sedikit pun dari tempat nya berdiri, dengan satu jari telunjuk tangan kanannya, dia berhasil menahan serangan cepat lelaki bertubuh besar ini.
HAAAAAHHHHHHHHH?!!!
Senopati Wiluga berusaha keras untuk terus menekan kapak besar nya ke arah leher Sang Maharaja Medang. Akan tetapi, sekuat apapun dia mencoba, namun dia tidak bisa juga melakukan nya. Prabu Dharmawangsa tersenyum tipis sebelum menggeser telunjuk tangan nya lalu memutar tubuhnya. Akibatnya, Senopati Wiluga hampir saja terjungkal.
Dengan secepat kilat, Prabu Dharmawangsa melayangkan tendangan keras kearah punggung Senopati Wiluga yang sedang goyah keseimbangannya.
Bhhhuuuuuuggggh..
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Tubuh besar lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa inipun langsung terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Melihat Prabu Dharmawangsa bisa lolos dari sergapan maut Senopati Wiluga, Tumenggung Citraksa dari Kadipaten Lwaram langsung melompat ke arah Raja Medang ini sambil menusukkan keris pusaka di tangan kanannya ke arah dada Sang Maharaja Medang.
Shhhrrrreeeeettttth...
Menggunakan dua jari tangan kanan nya, Prabu Dharmawangsa dengan cepat menjepit senjata pusaka itu. Hebatnya, jepitan tangan Prabu Dharmawangsa ini sanggup membuat keris itu sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun meski Tumenggung Citraksa sekuat tenaga berusaha agar dapat menusuk dada sang Raja.
"Hehehehe, terlalu cepat seratus tahun bagi mu untuk menghabisi nyawa ku, Pemberontak!
Kau harus berguru lagi..", ucap Prabu Dharmawangsa sembari tersenyum tipis.
Sementara itu, Senopati Wiluga yang baru saja bangkit dari tempat jatuhnya, melesat cepat dari belakang Prabu Dharmawangsa. Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan kapak besar nya ke arah kepala Sang Maharaja Medang.
Shhrreeettthhh...
Angin dingin terasa menderu cepat dari belakang. Dari ekor matanya, Prabu Dharmawangsa melihat kedatangan serangan pengecut dari Senopati Wiluga. Saat tebasan kapak besar itu hampir menyentuh leher, Prabu Dharmawangsa dengan cepat berkelit merunduk ke bawah. Akibatnya, tebasan kapak besar itu langsung menebas batang leher Tumenggung Citraksa yang tertarik ke arah depan.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Aaauuuuggggghhhhh....!!!
Hanya itu yang terdengar dari mulut Tumenggung Citraksa saat kapak besar milik Senopati Wiluga membabat leher nya. Kepala sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Lwaram ini langsung menggelinding ke tanah bersamaan dengan muncratnya darah segar dari batang leher lelaki bertubuh kekar ini. Dia tewas bersimbah darah di tangan kawannya sendiri.
Mata Senopati Wiluga terbelalak lebar tatkala ia melihat senjatanya membunuh orang nya sendiri. Ini benar-benar tidak ada dalam rencananya.
"Citraksaaaaaa....!!!", teriak Senopati Wiluga kala ia melihat kepala kawannya menggelinding ke tanah. Dia langsung mengamuk membabi buta mengayunkan kapak besar nya ke arah Prabu Dharmawangsa.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!!
Dengan tenang Sang Maharaja Medang berkelit menghindari tebasan kapak besar Senopati Wiluga. Sang Maharaja Medang sepertinya bisa mengatasi amukan perwira tinggi prajurit Kadipaten Lwaram ini dengan mudah.
Adipati Aji Wurawari yang melihat Senopati Wiluga membabat membabi-buta pada Prabu Dharmawangsa, langsung melesat cepat kearah penguasa Kerajaan Medang ini sembari mengayunkan pedangnya. Kini Sang Maharaja Medang dikeroyok oleh Adipati Aji Wurawari dan Senopati Wiluga.
Airlangga yang sedang menghadapi permainan silat sang utusan dari Kerajaan Sriwijaya, bermaksud untuk membantu sang ayah mertua. Namun belum genap 2 langkah ia bergerak menuju tempat sang ayah mertua, Sri Cudamani Janayasa kembali mengayunkan pedangnya kearah Airlangga.
Shhhrrrreeeeettttth...!!!
Sebaris cahaya putih tipis setipis bilah pedang langsung menerabas cepat kearah Airlangga. Sang pangeran muda itu pun terpaksa harus urungkan niatnya untuk membantu ayah mertua sekaligus pamannya itu dengan melompat mundur ke belakang. Cahaya putih tipis itu akhirnya menghantam sebuah gentong yang ada di belakang tubuh Airlangga.
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr krrraaaakkkkkk!!
Gentong itu seketika meledak dan hancur lebur menjadi kepingan yang mencelat ke segala arah. Melihat hal itu, Airlangga sadar bahwa ia harus menggunakan ilmu kanuragan agar bisa secepatnya mengatasi Sri Cudamani Janayasa agar bisa membantu Prabu Dharmawangsa.
Mulut Airlangga pun komat-kamit merapal mantra. Sebuah kilatan cahaya putih kebiruan muncul di dadanya yang dengan cepat menjalar cepat kearah tangan kanan dan kiri nya. Kemudian cahaya putih kebiruan seperti petir ini berkumpul di telapak tangannya, menciptakan kilatan petir kecil yang menyambar ke segala arah.
Setelah itu, ia segera melesat cepat kearah Sri Cudamani Janayasa.
Melihat lawannya sudah mengerahkan ilmu kanuragan andalannya, Sri Cudamani Janayasa menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Cahaya putih pada pedangnya membesar dengan cepat.
"Ajian Guntur Saketi...
Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"
Sri Cudamani Janayasa pun segera menyilangkan pedangnya ke depan dada untuk menahan hantaman Ajian Guntur Saketi dari Airlangga. Dan...
Blllaaammmmmmmm!!!!
Aaaarrrgggggghhhhh......!!!
Sri Cudamani Janayasa mencelat jauh ke belakang dan menyusruk rerumputan di halaman istana Kotaraja Wuwatan. Begitu pergerakan nya berhenti, utusan dari Kerajaan Sriwijaya inipun tidak bergerak lagi. Dia tewas dengan tubuh hangus seperti tersambar petir.
Saat yang bersamaan Adipati Aji Wurawari berhasil menusukkan keris pusaka miliknya ke pinggang kiri Prabu Dharmawangsa setelah mengeroyok Raja Medang ini bersama dengan Senopati Wiluga dan seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus yang berpakaian seperti halnya seorang pertapa. Raja Medang ini terhuyung huyung mundur sembari membekap lukanya yang mengucurkan darah segar.
Melihat hal itu, Airlangga tidak bisa menahan diri lagi untuk secepatnya melesat cepat kearah pertarungan mereka dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya. Cahaya putih kebiruan seperti petir menyambar langsung menerjang ke arah para pengeroyok Prabu Dharmawangsa itu.
Whhhuuummmmm....
Adipati Aji Wurawari, Senopati Wiluga dan kakek tua berpakaian pertapa itu pun segera semburat menghindari kedatangan cahaya putih kebiruan berhawa panas menyengat. Mereka semua tahu bahwa itu adalah ilmu kesaktian tingkat tinggi.
Blllaaammmmmmmm!!!
Lobang sebesar perut kerbau pun tercipta dari ledakan dahsyat setelah Ajian Guntur Saketi menghantam tanah bekas Adipati Aji Wurawari dan para pengeroyok Prabu Dharmawangsa.
Sedangkan para prajurit Medang yang tersisa pun segera mendekati raja mereka yang telah luka parah disusul oleh Airlangga dan Demung Narotama. Mereka semua segera membentuk sebuah pagar betis untuk melindungi sang raja.
"Kanjeng Romo Prabu, kau...", lidah Airlangga pun langsung kelu tak bisa berkata apa-apa lagi selain trenyuh melihat keadaan sang ayah mertua.
"A-aku tidak apa-apa, Airlangga..
Pergilah dari sini. Selamat-kan Ga-galuh Se-se-karr....", usai berkata demikian, Prabu Dharmawangsa terkulai lemas. Luka tusukan keris pusaka yang sepertinya mengandung racun di pinggang kiri nya terus menerus mengeluarkan darah segar.
Merah mata Airlangga. Sang pangeran muda itu perlahan bangkit dari tempat bersimpuh nya di samping jasad Prabu Dharmawangsa. Dengan tatapan mata penuh amarah, dia menatap ke arah Adipati Aji Wurawari yang sudah dalam pengamanan para pengikutnya. Saat dia hendak menerjang ke arah musuh, Narotama cepat mencekal lengan tangan sang pangeran muda sambil menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak akan bisa membalaskan dendam kematian Gusti Prabu Dharmawangsa saat ini, Gusti Pangeran. Lebih baik kita segera mundur dari tempat ini", ucap Narotama segera.
"Tapi Narotama...", belum sempat Airlangga menyelesaikan omongannya, seorang prajurit telah memotongnya lebih dulu.
"Pergilah Gusti Pangeran.. Kami akan menahan mereka sementara waktu. Cepatlah, mumpung masih ada kesempatan.
Kelak ingatlah untuk membalaskan dendam kami", mendengar ucapan itu, Airlangga menghela nafas berat. Ribuan orang prajurit Kadipaten Lwaram tak mungkin bisa dia kalahkan kali ini. Satu-satunya pilihan terbaik bagi nya saat ini adalah menyelamatkan diri dari tempat itu sebelum semuanya terlambat.
Sesaat sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu, Airlangga menatap sekilas pada para prajurit yang mengorbankan dirinya untuk memberikan kesempatan kepadanya sembari berkata,
"Aku berjanji suatu saat nanti,
Adipati Lwaram akan menerima balasan atas perbuatannya kali ini"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
top markotop story lanjut
2024-06-07
0
Umar Muhdhar
3
2024-02-24
2
Windy Veriyanti
akhirnya cudamani matek gosong jena Ajian Guntur Saketi 👊⚡
2024-02-11
3