Mahapralaya Medang ( bagian 2 )

Airlangga pun segera melesat cepat kearah Sri Cudamani Janayasa sembari menghantamkan kepalan tangannya ke arah dada utusan dari Kerajaan Sriwijaya ini. Lelaki bertubuh kekar itu segera menyilangkan kedua tangannya ke depan dada untuk bertahan.

Bhhhuuuuuuggggh...

Shhhrreeeeeeeeekkkk!!!

Kuatnya pengaruh pukulan keras Airlangga yang berlapis separuh tenaga dalam nya, membuat Sri Cudamani Janayasa tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Tangannya terasa kebas dan ngilu usai menerima hantaman itu.

'Bangsat, bocah ini rupanya punya isi juga. Aku harus berhati-hati jika tidak ingin dipermainkan oleh nya', batin Sri Cudamani Janayasa segera.

Usai melayangkan serangan pertama, Airlangga kembali lagi menerjang maju ke arah perwira prajurit Kerajaan Sriwijaya ini dengan ilmu silat tangan kosong berlapis tenaga dalam miliknya. Jika tadi Sri Cudamani Janayasa sedikit meremehkan kekuatan yang dimiliki oleh Airlangga, kini ia lebih hati-hati dalam menyerang dan bertahan. Pertarungan sengit antara keduanya pun segera terjadi.

Perang terus berkecamuk hingga ke dalam istana setelah para prajurit Kadipaten Lwaram yang dibantu oleh para prajurit Kerajaan Sriwijaya berhasil menjebol pintu gerbang istana. Jerit kesakitan bercampur dengan darah yang menggenang dimana-mana menjadi pemandangan yang tersaji di tempat itu. Mayat mayat prajurit tergeletak begitu saja di seluruh tempat. Beberapa rumah dan bangunan penting di sekitar istana negara telah musnah di lalap si jago merah.

Kurangnya jumlah prajurit membuat para prajurit Kerajaan Medang terdesak oleh gempuran gabungan dari para prajurit Kadipaten Lwaram dan Kerajaan Sriwijaya. Bagi Adipati Aji Wurawari, ini adalah balas dendam nya sedangkan bagi Kerajaan Sriwijaya, runtuhnya Kerajaan Medang akan membuat kerajaan-kerajaan lain di Nusantara mengakui kekuasaan mereka hingga menjadikan mereka sebagai satu-satunya negara adikuasa di seluruh Nusantara.

Melihat situasi yang semakin tidak menguntungkan bagi mereka, Prabu Dharmawangsa mencabut keris nya dan langsung menerjang masuk ke dalam barisan prajurit Lwaram dan Sriwijaya. Melihat hal itu, para punggawa Istana Kotaraja Wuwatan seperti Mapatih Mpu Chandranata, Mahamantri I Halu Mapanji Ranggasena juga para punggawa lainnya pun segera ikut menghunus senjata mereka masing-masing sebelum mengikuti jejak sang penguasa Kerajaan Medang.

Perang yang semula telah sedikit mereda, kini bergejolak lagi dengan sengitnya karena kehadiran Prabu Dharmawangsa ditengah-tengah para prajurit Medang yang sedang mengadu nyawa.

Munculnya Prabu Dharmawangsa di tengah medan tempur langsung membuat para punggawa Kadipaten Lwaram mencoba untuk membunuhnya. Tentu saja dengan harapan bisa mendapatkan hadiah besar karena telah berjasa bagi mereka. Salah seorang diantara mereka itu adalah Senopati Wiluga yang bertubuh besar. Bersenjatakan sebuah kapak besar, lelaki bertubuh besar itu langsung menerjang maju ke arah Prabu Dharmawangsa.

Whhhuuuuuggggghhhh!!

Ayunan kapak besar itu seperti merobek udara dan mengarah langsung ke kepala sang Raja Medang. Namun Prabu Dharmawangsa ini bukanlah raja sembarangan. Meskipun ia adalah seorang bangsawan, tapi masa mudanya dihabiskan untuk berguru kepada beberapa orang Resi di Gunung Pamrihan atau yang lebih kita kenal sekarang sebagai Gunung Lawu. Maka tanpa bergeser sedikit pun dari tempat nya berdiri, dengan satu jari telunjuk tangan kanannya, dia berhasil menahan serangan cepat lelaki bertubuh besar ini.

HAAAAAHHHHHHHHH?!!!

Senopati Wiluga berusaha keras untuk terus menekan kapak besar nya ke arah leher Sang Maharaja Medang. Akan tetapi, sekuat apapun dia mencoba, namun dia tidak bisa juga melakukan nya. Prabu Dharmawangsa tersenyum tipis sebelum menggeser telunjuk tangan nya lalu memutar tubuhnya. Akibatnya, Senopati Wiluga hampir saja terjungkal.

Dengan secepat kilat, Prabu Dharmawangsa melayangkan tendangan keras kearah punggung Senopati Wiluga yang sedang goyah keseimbangannya.

Bhhhuuuuuuggggh..

Oooouuuuuuggggghhhhh!!!

Tubuh besar lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa inipun langsung terjungkal menyusruk tanah dengan keras. Melihat Prabu Dharmawangsa bisa lolos dari sergapan maut Senopati Wiluga, Tumenggung Citraksa dari Kadipaten Lwaram langsung melompat ke arah Raja Medang ini sambil menusukkan keris pusaka di tangan kanannya ke arah dada Sang Maharaja Medang.

Shhhrrrreeeeettttth...

Menggunakan dua jari tangan kanan nya, Prabu Dharmawangsa dengan cepat menjepit senjata pusaka itu. Hebatnya, jepitan tangan Prabu Dharmawangsa ini sanggup membuat keris itu sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun meski Tumenggung Citraksa sekuat tenaga berusaha agar dapat menusuk dada sang Raja.

"Hehehehe, terlalu cepat seratus tahun bagi mu untuk menghabisi nyawa ku, Pemberontak!

Kau harus berguru lagi..", ucap Prabu Dharmawangsa sembari tersenyum tipis.

Sementara itu, Senopati Wiluga yang baru saja bangkit dari tempat jatuhnya, melesat cepat dari belakang Prabu Dharmawangsa. Dengan sekuat tenaga, dia mengayunkan kapak besar nya ke arah kepala Sang Maharaja Medang.

Shhrreeettthhh...

Angin dingin terasa menderu cepat dari belakang. Dari ekor matanya, Prabu Dharmawangsa melihat kedatangan serangan pengecut dari Senopati Wiluga. Saat tebasan kapak besar itu hampir menyentuh leher, Prabu Dharmawangsa dengan cepat berkelit merunduk ke bawah. Akibatnya, tebasan kapak besar itu langsung menebas batang leher Tumenggung Citraksa yang tertarik ke arah depan.

Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!

Aaauuuuggggghhhhh....!!!

Hanya itu yang terdengar dari mulut Tumenggung Citraksa saat kapak besar milik Senopati Wiluga membabat leher nya. Kepala sang perwira tinggi prajurit Kadipaten Lwaram ini langsung menggelinding ke tanah bersamaan dengan muncratnya darah segar dari batang leher lelaki bertubuh kekar ini. Dia tewas bersimbah darah di tangan kawannya sendiri.

Mata Senopati Wiluga terbelalak lebar tatkala ia melihat senjatanya membunuh orang nya sendiri. Ini benar-benar tidak ada dalam rencananya.

"Citraksaaaaaa....!!!", teriak Senopati Wiluga kala ia melihat kepala kawannya menggelinding ke tanah. Dia langsung mengamuk membabi buta mengayunkan kapak besar nya ke arah Prabu Dharmawangsa.

Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!!

Dengan tenang Sang Maharaja Medang berkelit menghindari tebasan kapak besar Senopati Wiluga. Sang Maharaja Medang sepertinya bisa mengatasi amukan perwira tinggi prajurit Kadipaten Lwaram ini dengan mudah.

Adipati Aji Wurawari yang melihat Senopati Wiluga membabat membabi-buta pada Prabu Dharmawangsa, langsung melesat cepat kearah penguasa Kerajaan Medang ini sembari mengayunkan pedangnya. Kini Sang Maharaja Medang dikeroyok oleh Adipati Aji Wurawari dan Senopati Wiluga.

Airlangga yang sedang menghadapi permainan silat sang utusan dari Kerajaan Sriwijaya, bermaksud untuk membantu sang ayah mertua. Namun belum genap 2 langkah ia bergerak menuju tempat sang ayah mertua, Sri Cudamani Janayasa kembali mengayunkan pedangnya kearah Airlangga.

Shhhrrrreeeeettttth...!!!

Sebaris cahaya putih tipis setipis bilah pedang langsung menerabas cepat kearah Airlangga. Sang pangeran muda itu pun terpaksa harus urungkan niatnya untuk membantu ayah mertua sekaligus pamannya itu dengan melompat mundur ke belakang. Cahaya putih tipis itu akhirnya menghantam sebuah gentong yang ada di belakang tubuh Airlangga.

Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr krrraaaakkkkkk!!

Gentong itu seketika meledak dan hancur lebur menjadi kepingan yang mencelat ke segala arah. Melihat hal itu, Airlangga sadar bahwa ia harus menggunakan ilmu kanuragan agar bisa secepatnya mengatasi Sri Cudamani Janayasa agar bisa membantu Prabu Dharmawangsa.

Mulut Airlangga pun komat-kamit merapal mantra. Sebuah kilatan cahaya putih kebiruan muncul di dadanya yang dengan cepat menjalar cepat kearah tangan kanan dan kiri nya. Kemudian cahaya putih kebiruan seperti petir ini berkumpul di telapak tangannya, menciptakan kilatan petir kecil yang menyambar ke segala arah.

Setelah itu, ia segera melesat cepat kearah Sri Cudamani Janayasa.

Melihat lawannya sudah mengerahkan ilmu kanuragan andalannya, Sri Cudamani Janayasa menyalurkan seluruh tenaga dalam nya pada pedang di tangan kanannya. Cahaya putih pada pedangnya membesar dengan cepat.

"Ajian Guntur Saketi...

Hiiyyyyyyyaaaaaaaaaaaaaat...!!!"

Sri Cudamani Janayasa pun segera menyilangkan pedangnya ke depan dada untuk menahan hantaman Ajian Guntur Saketi dari Airlangga. Dan...

Blllaaammmmmmmm!!!!

Aaaarrrgggggghhhhh......!!!

Sri Cudamani Janayasa mencelat jauh ke belakang dan menyusruk rerumputan di halaman istana Kotaraja Wuwatan. Begitu pergerakan nya berhenti, utusan dari Kerajaan Sriwijaya inipun tidak bergerak lagi. Dia tewas dengan tubuh hangus seperti tersambar petir.

Saat yang bersamaan Adipati Aji Wurawari berhasil menusukkan keris pusaka miliknya ke pinggang kiri Prabu Dharmawangsa setelah mengeroyok Raja Medang ini bersama dengan Senopati Wiluga dan seorang lelaki paruh baya bertubuh sedikit kurus yang berpakaian seperti halnya seorang pertapa. Raja Medang ini terhuyung huyung mundur sembari membekap lukanya yang mengucurkan darah segar.

Melihat hal itu, Airlangga tidak bisa menahan diri lagi untuk secepatnya melesat cepat kearah pertarungan mereka dengan menghantamkan tapak tangan kanan nya. Cahaya putih kebiruan seperti petir menyambar langsung menerjang ke arah para pengeroyok Prabu Dharmawangsa itu.

Whhhuuummmmm....

Adipati Aji Wurawari, Senopati Wiluga dan kakek tua berpakaian pertapa itu pun segera semburat menghindari kedatangan cahaya putih kebiruan berhawa panas menyengat. Mereka semua tahu bahwa itu adalah ilmu kesaktian tingkat tinggi.

Blllaaammmmmmmm!!!

Lobang sebesar perut kerbau pun tercipta dari ledakan dahsyat setelah Ajian Guntur Saketi menghantam tanah bekas Adipati Aji Wurawari dan para pengeroyok Prabu Dharmawangsa.

Sedangkan para prajurit Medang yang tersisa pun segera mendekati raja mereka yang telah luka parah disusul oleh Airlangga dan Demung Narotama. Mereka semua segera membentuk sebuah pagar betis untuk melindungi sang raja.

"Kanjeng Romo Prabu, kau...", lidah Airlangga pun langsung kelu tak bisa berkata apa-apa lagi selain trenyuh melihat keadaan sang ayah mertua.

"A-aku tidak apa-apa, Airlangga..

Pergilah dari sini. Selamat-kan Ga-galuh Se-se-karr....", usai berkata demikian, Prabu Dharmawangsa terkulai lemas. Luka tusukan keris pusaka yang sepertinya mengandung racun di pinggang kiri nya terus menerus mengeluarkan darah segar.

Merah mata Airlangga. Sang pangeran muda itu perlahan bangkit dari tempat bersimpuh nya di samping jasad Prabu Dharmawangsa. Dengan tatapan mata penuh amarah, dia menatap ke arah Adipati Aji Wurawari yang sudah dalam pengamanan para pengikutnya. Saat dia hendak menerjang ke arah musuh, Narotama cepat mencekal lengan tangan sang pangeran muda sambil menggelengkan kepalanya.

"Kita tidak akan bisa membalaskan dendam kematian Gusti Prabu Dharmawangsa saat ini, Gusti Pangeran. Lebih baik kita segera mundur dari tempat ini", ucap Narotama segera.

"Tapi Narotama...", belum sempat Airlangga menyelesaikan omongannya, seorang prajurit telah memotongnya lebih dulu.

"Pergilah Gusti Pangeran.. Kami akan menahan mereka sementara waktu. Cepatlah, mumpung masih ada kesempatan.

Kelak ingatlah untuk membalaskan dendam kami", mendengar ucapan itu, Airlangga menghela nafas berat. Ribuan orang prajurit Kadipaten Lwaram tak mungkin bisa dia kalahkan kali ini. Satu-satunya pilihan terbaik bagi nya saat ini adalah menyelamatkan diri dari tempat itu sebelum semuanya terlambat.

Sesaat sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu, Airlangga menatap sekilas pada para prajurit yang mengorbankan dirinya untuk memberikan kesempatan kepadanya sembari berkata,

"Aku berjanji suatu saat nanti,

Adipati Lwaram akan menerima balasan atas perbuatannya kali ini"

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

top markotop story lanjut

2024-06-07

0

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

3

2024-02-24

2

Windy Veriyanti

Windy Veriyanti

akhirnya cudamani matek gosong jena Ajian Guntur Saketi 👊⚡

2024-02-11

3

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!