"A-ajian Guntur Saketi?
Sepertinya ini menakutkan sekali, Bibi Dewi", ucap Airlangga kemudian seraya memandangi telapak tangan kanan nya. Dari jempol tangan kanannya dan telunjuk muncul lompatan petir petir kecil yang saling berhubungan.
"Tentu saja menakutkan..
Itu sama dengan kekuatan seribu petir yang menyambar sekaligus. Tubuh orang yang terkena akan langsung hangus terbakar saat terkena hantaman nya. Kau harus bijak dalam menggunakannya", jawab Dewi Anggrek Bulan sembari tersenyum tipis.
"Untuk mengeluarkan seluruh kekuatan nya, kau harus bisa memusatkan pikiran mu pada telapak tangan. Cobalah kau lakukan sekarang", imbuh Dewi Anggrek Bulan kemudian. Airlangga pun mengangguk mengerti sambil segera mulai memusatkan perhatiannya pada telapak tangan kanan nya.
Perlahan cahaya putih kebiruan pun tercipta di telapak tangan kanan Airlangga. Hawa panas menyengat pun segera mengikuti di sekitar telapak tangan sang pangeran muda. Namun, karena ini baru pertama kali ia menggunakannya, Airlangga pun merasa kepanasan dan segera mengibaskan tangannya ke arah samping.
Whhhuuuuuggggghhhh!
Kilatan cahaya putih kebiruan seperti petir menyambar langsung terlontar dari tangan Airlangga. Kejadian ini begitu cepat hingga Dewi Anggrek Bulan tak sempat lagi untuk mencegahnya.
Blllaaammmmmmmm!!!
Krrraaaakkkkkk brrruuuuuuuuuukkkhh!!!
Kandang ayam yang biasa menjadi tempat para murid Padepokan Bukit Kembang memelihara lauk pauk mereka, langsung meledak dan hancur berantakan. Beberapa orang murid yang merawat hewan hewan itu hanya menghela nafas berat melihat tempat peliharaan mereka hancur lebur.
"Bocah gemblung!
Sudah ku bilang sebelumnya agar kau hati-hati menggunakan ilmu kesaktian itu. Kau ini....", omel Dewi Anggrek Bulan sembari mendelik kereng pada Airlangga.
"Hehehe maaf bibi Dewi..
Harap maklum saja, saya tidak biasa menggunakan ilmu kanuragan tingkat tinggi", Airlangga menggaruk kepalanya seraya nyengir kuda untuk menutupi rasa canggung nya.
"Berlatih dan teruslah berlatih mengasah kemampuan beladiri ini, Bocah Bagus..
Aku memiliki keyakinan bahwa kelak kau akan menjadi seorang manusia yang pilih tanding. Ah sudahlah, waktunya untuk ku kembali ke Bukit Lanjar. Katakan pada Pratiwi untuk terus menyebarkan kebaikan. Aku pamit undur diri ", setelah berkata demikian Dewi Anggrek Bulan pun memejamkan mata sebentar. Kejap mata berikutnya, tubuhnya menghilang dari pandangan mata Airlangga.
Malam itu menjadi malam yang menyenangkan bagi Airlangga. Selain bisa berjumpa dengan salah satu kerabat dekat nya, dia juga mendapatkan turunan Ajian Guntur Saketi dari sang bibi.
Tak terasa, malam itu berlalu dengan cepat. Hanya terasa sekejap, langit timur yang semula gelap gulita kini mulai berangsur angsur terang dengan cahaya kuning kemerahan. Satu persatu, kokok ayam jantan terdengar bersahutan. Ini merupakan sebuah pertanda bahwa pagi telah menjelang tiba di seputaran wilayah Bukit Kembang.
Tak ingin berlama-lama di tempat itu, usai sarapan pagi, Senopati Cakrajaya dan Airlangga pun segera berpamitan pada Dewi Pratiwi selaku pimpinan Padepokan Bukit Kembang. Selain itu mereka juga berterimakasih kepada perempuan paruh baya itu atas pertolongannya yang telah di berikan kepada sang pangeran muda.
"Aku tidak akan menahan kalian untuk tetap tinggal di tempat ini, Gusti Senopati dan Gusti Pangeran..
Jagalah diri kalian baik-baik. Semoga Hyang Agung selalu melindungi perjalanan kalian dan jikalau kita diberi umur panjang, kelak pasti akan bersua kembali", ucap Dewi Pratiwi segera.
"Sekali lagi, terimakasih banyak atas pertolongannya Nini Dewi..
Kami undur diri", Senopati Cakrajaya pun segera menganggukkan kepalanya sebagai tanda penghormatan begitu pula dengan Airlangga. Setelah itu, keduanya segera bergegas menuju ke arah para pengikutnya yang sudah menunggu mereka. Dewi Pratiwi pun mengantar mereka berdua hingga pintu gerbang Padepokan Bukit Kembang.
Rombongan itu segera melanjutkan perjalanan nya ke arah barat. Karena tidak ingin berlama-lama di perjalanan, mereka pun hanya singgah sebentar saja di Kota Kadipaten Anjuk Ladang untuk membeli beberapa bekal perjalanan.
Untung saja, selama perjalanan jauh mereka dari Anjuk Ladang menuju ke Kotaraja Wuwatan tidak ada halangan yang berarti. Meskipun melewati rimbun nya Alas Saradan yang biasanya penuh dengan para begal maupun para perampok, namun kali ini rupanya nasib baik masih bersama rombongan Airlangga. Tak satupun dari para penjahat itu yang menampakkan batang hidungnya.
Menjelang sore hari, saat matahari telah condong ke arah barat, mereka memasuki tapal batas wilayah Kotaraja Kahuripan. Ini bisa terlihat dari sebuah tugu besar dengan huruf Jawa Kuno Wa yang menandakan awal dari kata Wuwatan.
"Pangeran Airlangga..
Kita sudah sampai di tapal batas Kotaraja Wuwatan. Sebaiknya kita segera menuju ke istana sebelum malam tiba. Ayo...", Airlangga mengangguk mengerti mendengar omongan Senopati Cakrajaya. Mereka pun segera bergegas menuju ke Kotaraja Wuwatan.
Kotaraja Wuwatan adalah ibukota Kerajaan Medang setelah ibukota negara ini berpindah tempat. Pada masa pemerintahan Mpu Sindok, ibukota Kerajaan Medang adalah Tamwlang. Lalu setelah itu berpindah ke Watugaluh. Dan pada masa pemerintahan Prabu Dharmawangsa ini, ibukota Kerajaan Medang adalah Wuwutan setelah dipindahkan kesana oleh Prabu Makutawangsawardhana yang ingin mengamankan pemerintahan Kerajaan Medang dari serangan musuh yang lewat Sungai Kapulungan.
Sebagai ibukota negara, Kotaraja Wuwatan kala itu telah ramai dan padat. Banyak pedagang besar dan para seniman juga para penyair maupun para pengrajin telah menetap di kota ini. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang setia pada Dinasti Isyana sejak Mpu Sindok memindahkan ibukota Kerajaan Medang dari Mataram ke timur usai Gunung Mandrageni ( Gunung Merapi sekarang ) meletus dan menghancurkan semuanya.
Salah satu keluarga besar yang setia itu adalah keluarga Wiratmaja. Selain sebagai pedagang besar yang menguasai tata kelola bahan pangan pokok seperti beras dan jagung, mereka juga menempatkan beberapa anggota keluarga mereka sebagai punggawa Istana Kotaraja Wuwatan. Yang paling berpengaruh dari mereka adalah Mpu Wirakerti, yang berpangkat sebagai Rakryan Kanuruhan.
Anak dari Mpu Wirakerti ini bernama Wiragangga, seorang bangsawan muda yang tampan, baru menginjak usia sekitar 21 tahun namun sudah memiliki pangkat yang cukup tinggi dalam keprajuritan Medang. Saat ini dia telah berpangkat Demung, sebuah pangkat tinggi satu garis dibawah Tumenggung yang memegang 10 ribu orang prajurit.
"Eh Wira, aku dengar kau naksir berat dengan Gusti Putri Galuh Sekar.
Apa tidak ketinggian cita-cita mu itu heh? Aku saja yang tampan dan gagah begini tidak berani bermimpi setinggi itu", ucap seorang lelaki muda bertubuh sedikit gendut dengan jambang lebat dan kumis tebal pada Wiragangga di sebuah kedai twak yang ada di tepi jalan raya menuju ke arah Istana Kotaraja Wuwatan. Dia adalah Demung Renggopati, yang biasa disebut dengan nama Renggos oleh kawan-kawannya sesama perwira muda.
"Punya mimpi itu harus tinggi, Nggos..
Apa salahnya jika aku ingin menjadikan Gusti Putri Galuh Sekar sebagai istri ku? Toh dia masih sendiri dan tidak memiliki suami. Jadi tidak ada salahnya toh?", ucap Wiragangga sambil tersenyum tipis memamerkan kumis tipis nya.
"Jadi orang itu harus tahu diri Ngga..
Aku dengar dari seorang dayang istana bahwa Gusti Putri Galuh Sekar sudah di jodohkan dengan seorang pangeran dari Kerajaan Bedahulu. Kapan datangnya aku juga belum sempat menanyakannya", sahut seorang lelaki muda bertubuh kekar lainnya sembari meletakkan gagang cangkir bambu berisi twak di meja dekat Wiragangga dan Renggos berbincang. Dia juga seorang perwira prajurit Medang berpangkat Demung yang bernama Narotama.
"Darimana kau dengar berita itu, Nara?
Kau jangan asal bicara. Aku tidak suka kalau kau sengaja memanas-manasi ku", ucap Wiragangga sedikit ketus sambil menatap tajam ke arah Narotama.
"Aku tidak bicara sembarangan, Wira...
Bahkan Gusti Mapatih Mpu Chandranata saja membenarkan berita ini", balas Narotama dengan tegas.
"Ah kalian ini malah ribut sendiri..
Eh, siapa itu yang berkuda di samping Senopati Cakrajaya?", Renggos yang menengahi perdebatan antara Narotama dan Wiragangga menunjuk ke arah rombongan yang lewat di depan mereka. Sontak saja, Narotama dan Wiragangga menoleh ke arah yang ditunjuk oleh kawan mereka.
"Melihat dari cara berpakaiannya, sepertinya dia bukan bangsawan dari sini. Jangan-jangan dia adalah orang yang akan menjadi suami Gusti Putri Galuh Sekar..", ucap Narotama segera. Wiragangga pun langsung menatap tajam ke arah pemuda tampan yang berkuda di samping Senopati Cakrajaya. Melihat mereka hingga berhenti di depan pintu gerbang istana, benarlah apa yang menjadi dugaan mereka tadi.
Wiragangga diam-diam mengepalkan tangannya erat-erat sambil terus menatap ke arah rombongan itu yang mulai masuk ke dalam istana sambil menggerutu dalam hati,
'Aku tidak akan membiarkan mu mendapatkan Gusti Putri Galuh Sekar dengan mudah.
Tunggu saja sebentar lagi...'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
woow keren banget nih lanjut
2024-06-07
1
Roni Sakroni
aneh cerita ini...blm ada hubungan sudah dendam ceweknya direbut orang lain.
2024-05-19
0
Umar Muhdhar
re
2024-02-23
1