"Kita harus secepatnya memberitahukan hal ini kepada Gusti Adipati Aji Wurawari. Ayo jangan ditunda-tunda lagi...", ucap salah seorang diantara mereka segera. Mereka pun segera mengangguk mengerti dan segera meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, di dalam keputran Airlangga sedang tertidur pulas. Dalam tidurnya yang lelap ini, tiba-tiba saja...
"TIDAAAKKKK.....!!!"
Para penjaga Keputran Wuwatan yang digawangi oleh Demung Narotama dan Demung Renggopati alias Demung Renggos langsung mendobrak pintu kamar tidur Airlangga. Semua orang melihat Airlangga terbangun dari tidurnya dengan wajah penuh keringat dingin seperti sedang ketakutan akan sesuatu.
"Ada apa Gusti Pangeran?", tanya Narotama segera. Putra Maharesi Mpu Pranaraja itu melihat keseluruhan keadaan Airlangga. Setelah melihat tidak ada apa-apa pada tubuh calon suami Nararya Galuh Sekar, dia segera mengerti bahwa sang pangeran terbangun dari tidurnya karena mimpi.
"Aku aku hooosshhh hooosshhh...", melihat Airlangga yang terengah-engah mengatur nafasnya, Demung Renggos segera mengambil kendi air minum yang ada di meja kecil dekat jendela dan memberikannya pada sang pangeran muda. Airlangga pun segera menerimanya dan cepat meminumnya untuk meredakan perasaannya.
"Aku bermimpi buruk sekali, Narotama..
Dalam mimpiku itu aku melihat air bah berwarna hitam membanjiri Kotaraja Wuwatan dan menghancurkan semuanya. Tak satupun orang ada yang selamat", Airlangga menatap ke arah Narotama yang berdiri paling dekat dengannya.
"Itu hanya mimpi buruk biasa, Gusti Pangeran. Hanya kembang tidur belaka. Pasti Gusti Pangeran terlalu tegang dan banyak pikiran menghadapi pernikahan ini", jawab Narotama sambil tersenyum tipis. Dia berusaha untuk menenangkan hati sang pangeran yang lebih muda 10 tahun darinya itu.
"Tapi itu terlihat nyata sekali, Narotama..
Aku bahkan melihat Kanjeng Romo Prabu Dharmawangsa dan seluruh punggawa istana ikut tersapu oleh air bah berwarna hitam itu", Airlangga masih juga belum bisa tenang.
"Gusti Pangeran Airlangga tidak perlu khawatir.
Keamanan Kerajaan Medang ini sangat terjaga. Kotaraja Wuwatan juga penuh dengan para prajurit meskipun mereka sedang sibuk mengatur persiapan pernikahan. Jadi hal itu tidak akan mungkin terjadi..", kembali Narotama tersenyum tipis.
"Narotama benar Gusti Pangeran..
Hal yang seperti itu tidak akan pernah mungkin terjadi karena Kotaraja Wuwatan jauh dari sungai besar. Tenang saja Gusti Pangeran, tenang... Besok waktunya Gusti Pangeran untuk belah duren, besok saja tegangnya. Saat ini dilemaskan saja dulu hehehe...", cerocos Demung Renggos sambil terkekeh kecil.
Narotama langsung menyikutnya dengan keras.
Dhhhuuuuuuggggg...
"Adduuuuhhhhhh kenapa kau suka sekali menyikut ku, Nara?? Sakit tahu..", Demung Renggos meringis sambil mengelus bekas sikutan kawan karibnya itu.
"Mulut mu itu benar benar harus disekolahkan biar tahu cara untuk menjaga perasaan orang lain, Nggos..
Gusti Pangeran sedang panik malah kau ajak bercanda. Kau dulu jadi perwira tinggi prajurit dengan cara menyuap orang ya?", geram Narotama sembari melotot kereng pada Demung Renggos.
"Ya biar gak tegang to Nar...
Aku ini belajar untuk mendinginkan suasana hati Gusti Pangeran. Apa itu salah?", Demung Renggos tak mau kalah.
"Kau..."
"Sudah sudah jangan ribut sendiri.. Kalian berdua boleh keluar dari sini, aku akan tidur lagi", ucapan Airlangga pun segera menggebrak perdebatan antara Demung Renggos dan Demung Narotama. Keduanya pun segera menghormat pada sang pangeran muda sebelum keluar dari dalam kamar tidur itu.
Setelah dua orang pimpinan pengawal Airlangga itu keluar, sang pangeran dari Kerajaan Bedahulu ini termenung sejenak.
'Apa benar hanya bunga tidur saja? Tapi kenapa terasa nyata sekali? Aneh sekali..', batin Airlangga.
Sembari terus memikirkan tentang mimpinya yang baru saja, Airlangga merebahkan tubuhnya untuk melanjutkan tidur nya. Akan tetapi dia tidak juga bisa memejamkan matanya barang sebentar saja. Akhirnya Airlangga teringat akan omongan gurunya bahwa jika kita sedang gelisah karena sesuatu, maka bersemedi adalah jalan terbaik untuk membuat tenang hati. Maka Airlangga pun segera duduk bersila di atas ranjang tidur nya, menata nafas dan sebentar kemudian telah tenggelam dalam semedi hingga pagi menjelang tiba.
Pagi itu seluruh Kotaraja Wuwatan sibuk sekali. Ribuan orang warga Kotaraja Wuwatan tumpah ruah di alun-alun Kotaraja. Kesemuanya ingin menyaksikan langsung prosesi pernikahan paling ditunggu tahun ini. Tak hanya mereka, para prajurit yang biasa menjaga gerbang Kotaraja Wuwatan dikerahkan untuk ikut membantu pengamanan.
Di dekat sanggar pamujan yang ada di dalam Istana Kotaraja Wuwatan, di bangun beberapa panggung megah yang di gunakan untuk para keluarga besar istana. Bau setanggi dan kemenyan tercium memenuhi udara di sekitar tempat itu. Rangkaian janur kuning juga turut menghiasi sekitar tempat itu. Sedangkan taburan bunga mawar dan melati nampak telah disebar ke jalan menuju ke arah pelaminan.
Di bawah panggung kehormatan, Prabu Dharmawangsa nampak duduk di kursi kayu berukir indah bersama dengan Ratu Nararya Nilawati juga beberapa selir raja di samping beberapa orang putri-putri raja dari mereka. Beberapa orang punggawa Istana Kotaraja Wuwatan seperti Mapatih Mpu Chandranata, Senopati Cakrajaya, Mahamantri I Halu Mapanji Ranggasena, Dharmadyaksa ring Kasaiwan Mpu Secang dan beberapa tumenggung nampak duduk bersila di sekitar sang raja.
Maharesi Mpu Kendalisada yang memimpin upacara pernikahan ini nampak khusyuk berdoa di depan Arca Dewa Wisnu sembari menaburkan bebungaan beraneka warna ke sekitarnya. Bau harum dupa dan kemenyan menyeruak ke sekeliling tempat itu menyertai asap putih yang keluar dari anglo tanah liat yang berisi arang membara.
"Om Namo Bhagavate Vasudevaya...
Om Namo Bhagavate Vasudevaya...."
Kata-kata ini terus diucapkan oleh Maharesi Mpu Kendalisada sembari memutar tasbih kayu gaharu ditangan kirinya.
Dari arah belakang, calon pengantin wanita Nararya Galuh Sekar masuk ke arena pelaminan. Perempuan muda itu nampak sangat cantik dengan dandanan pengantin nya. Para dayang istana terus menaburkan bebungaan ke jalan yang dilalui oleh sang putri. Sedangkan dari sisi berbeda, Airlangga pun masuk ke tempat itu. Dengan gelang bahu yang terbuat dari emas, mahkota kecil berhias permata khas Kerajaan Bedahulu, pakaian sutra bertenun benang emas, sebilah keris pusaka terselip di pinggangnya, membuat penampilan Airlangga terlihat seperti seorang putra mahkota Kerajaan Medang.
Keduanya pun segera saling menghormat sebelum mulai menaiki tangga menuju ke depan sanggar pamujan. Setelah itu, keduanya pun segera duduk di tempat yang telah di siapkan sebelumnya. Melihat kedua orang calon pengantin telah siap, Maharesi Mpu Kendalisada segera meraih air suci petirtaan yang telah dimantrai. Dan prosesi pernikahan inipun segera dimulai.
Nararya Nilawati langsung menitikkan airmata saat melihat Maharesi Mpu Kendalisada memercikkan air suci petirtaan pada Airlangga dan Galuh Sekar. Ini tak luput dari perhatian Prabu Dharmawangsa.
"Kau kenapa Yayi?", tanya Prabu Dharmawangsa segera.
"Akhirnya putri kecil ku menikah, Kangmas Prabu. Rasanya seperti masih kemarin dia bermain di pangkuan ku tapi kini dia akan menjadi seorang istri sekaligus ibu dari anak-anak nya" ucap Nararya Nilawati sambil mengusap air mata yang menetes dari sudut matanya.
"Inilah takdir kehidupan, Yayi Ratu...
Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Umur, derajat, pangkat, jodoh, rejeki semuanya adalah rahasia dari Sang Pencipta. Kita harus menerima apapun yang menjadi suratan takdir Dewata.
Sudahlah, jangan kau lepas anak kita menjadi dewasa dengan air mata. Waktunya kita untuk berbahagia. Hapuslah air mata mu itu..", ucap Prabu Dharmawangsa sambil tersenyum tipis. Ratu Nararya Nilawati pun mengangguk mengerti sambil mengusap sisa sisa air mata nya dan kembali menatap ke arah jalannya prosesi pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar.
"Kalian berdua telah resmi menjadi suami istri. Selanjutnya kalian berdua harus selalu bersama-sama dalam keadaan suka maupun duka, berbagi kebahagiaan dalam menempuh kerasnya kehidupan.
Sekarang mintalah restu dari orang tua kalian", ucap Maharesi Mpu Kendalisada sembari tersenyum simpul. Airlangga dan Galuh Sekar menghormat pada Maharesi Mpu Kendalisada sebelum keduanya berdiri dan berjalan ke arah Prabu Dharmawangsa dan Ratu Nararya Nilawati.
Di depan Prabu Dharmawangsa, Airlangga pun segera berlutut dan menyembah pada sang penguasa Kerajaan Medang. Disaat yang bersamaan, Nararya Galuh Sekar juga berlutut di hadapan Ratu Nararya Nilawati.
"Sembah sujud kami Kanjeng Romo Prabu, Kanjeng Biyung Ratu..
Berikanlah kepada kami restu dari kalian berdua agar hidup kami bahagia selalu", ucap Airlangga dan Galuh Sekar bersamaan.
Belum sempat Prabu Dharmawangsa membalas omongan dari menantu dan anaknya, tiba-tiba....
Thhoooonggggg thhoooonggggg thhoooonggggg thhoooonggggg!!!!!
Suara kentongan ditabuh cepat dan bertalu-talu sekeras mungkin terdengar oleh semua orang. Prabu Dharmawangsa pun urungkan niatnya untuk memberikan restu nya dan langsung bangkit dari tempat duduknya. Dia menoleh ke arah para prajurit penjaga istana.
"Ada apa ini? Apa yang sedang terjadi??!!!"
Salah seorang prajurit yang ada di tempat paling dekat dengan pintu gerbang istana langsung berlari ke arah sang raja Medang sambil menghormat sebelum berbicara,
"Mohon ampun Gusti Prabu..
Ada pasukan besar menyerbu ke arah Kotaraja Wuwatan!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Soekandar
masak iya sebuah kerajaan tidak punya teleksandi hingga kecolongan...
2024-03-14
1
Umar Muhdhar
43
2024-02-24
1
𝐀⃝🥀𝐀'𝐃69°
mimpi airlangga jdi kenyataan
mungkinkah ini awal dri perjalanan airlangga jdi seorang raja
2024-02-13
2