Mendengar laporan dari sang prajurit penjaga istana, Prabu Dharmawangsa terhenyak. Dia yang begitu yakin dengan situasi yang ada di seluruh wilayah Kerajaan Medang, tentu saja tidak bisa terima dengan apa yang sedang terjadi.
"Bangsat!
Siapa yang berani mengacaukan hajat besar ku ini hah?! Akan ku penggal kepala nya!", ucap Prabu Dharmawangsa segera.
"Mereka menggunakan bendera merah kuning dengan lambang burung emas di tengahnya, Gusti Prabu...
Tapi diantara panji-panji kebesaran itu, terselip beberapa bendera putih bergambar daun teratai merah lima kelopak", lapor sang prajurit sambil menghormat.
Tentu saja laporan ini langsung membuat kaget semua orang yang ada di tempat itu. Semua orang tahu bahwa bendera merah kuning dengan lambang burung emas itu adalah lambang dari Kadipaten Lwaram. Sedangkan bendera putih bergambar daun teratai lima kelopak berwarna merah itu adalah bendera dari Kerajaan Sriwijaya dari pulau Suvarnabhumi atau Pulau Andalas yang merupakan musuh besar Kerajaan Medang.
"Aji Wurawari rupanya berkhianat kepada ku dan bersekutu dengan Sriwijaya..
Dasar terkutuk, aku tidak akan membiarkan mereka mengacau di Wuwatan. Semuanya, siapkan senjata kalian. Kita hadapi mereka sampai titik darah penghabisan..", mendengar titah raja mereka, para punggawa Istana Kotaraja Wuwatan bersama dengan para prajurit yang ada langsung mencabut senjata mereka masing-masing dan bergegas mengikuti langkah Sang Maharaja Medang ke arah pintu gerbang istana.
Suasana pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar pun langsung kacau balau seketika. Para perempuan langsung berhamburan mencoba untuk menyelamatkan diri.
"Narotama dan kau Renggos..
Kawal Gusti Putri mu untuk keluar dari istana. Sementara aku akan pergi membantu Kanjeng Romo Prabu Dharmawangsa, bersembunyilah di sekitar tapal batas wilayah timur Kotaraja. Aku akan mencari kalian setelah kekacauan ini berhasil di selesaikan", perintah Airlangga pada kedua orang pengawal nya.
"Untuk mengawal Gusti Putri Galuh Sekar, cukup Renggos saja yang melaksanakan tugas itu Gusti Pangeran. Hamba akan ikut kemanapun Gusti Pangeran berada", ucap Narotama segera.
"Tapi..."
"Aku sependapat dengan Narotama, Kangmas Pangeran...
Bukan hanya aku yang butuh perlindungan, tapi Kangmas Pangeran juga. Pastikan bahwa Kangmas Pangeran baik-baik saja dan segera menjemput ku di tapal batas timur Kotaraja Wuwatan. Aku akan menunggumu..", potong Galuh Sekar yang membuat Airlangga terpaksa harus mengangguk setuju.
Usai berkata demikian, Nararya Galuh Sekar pun segera bergegas menuju ke arah tengah istana. Di kawal Demung Renggos dan dua emban istana, Nararya Galuh Sekar masuk ke dalam sebuah jalan rahasia yang tersembunyi di bawah ranjang tidur nya. Jalan rahasia ini bisa tembus ke arah timur tembok istana.
Sementara itu, Airlangga dengan kawalan ketat Demung Narotama pun segera bergegas ke pintu gerbang istana untuk ikut bergabung dalam pasukan yang menangani para pemberontak. Begitu Airlangga sampai di sana, sebuah pertempuran besar tengah terjadi dengan sengitnya.
Ribuan orang prajurit Wuwatan mati-matian mempertahankan diri dari gempuran para prajurit Kadipaten Lwaram yang datang bagaikan air bah.
Thhrraaanggg thhhrrriiiiinnnnngggg..
Aaaarrrgggggghhhhh!!!
Suara denting senjata tajam beradu disertai dengan teriakan keras dari para prajurit yang menjadi korban keganasan perang terdengar hampir di setiap sudut kota. Beberapa bangunan nampak telah di lalap si jago merah. Asap hitam tebal membumbung tinggi ke udara membuat pemandangan sedikit suram. Rupanya Adipati Aji Wurawari menginginkan Kotaraja Wuwatan musnah dari muka bumi hari itu juga.
"Hancurkan mereka semua! Jangan sampai ada yang tersisa sedikitpun!", teriak Adipati Aji Wurawari sembari mengacungkan keris nya tinggi-tinggi ke udara.
Dengan nafsu membunuh yang sangat tinggi, Adipati Aji Wurawari nampak nyalang menatap ke sekeliling tempat ia berada. Ratusan mayat prajurit Kotaraja Wuwatan nampak bergelimpangan dimana-mana berselang-seling dengan para prajurit Kadipaten Lwaram yang terbunuh. Juga terlihat beberapa orang penduduk Kotaraja Wuwatan telah menjadi korban dari amukan keganasan perang.
Sebuah seringai lebar terukir di wajah Adipati Aji Wurawari. Niatnya untuk membalas dendam pada Mendiang Prabu Makutawangsawardhana telah menjadikan sebagai seorang manusia keji yang tidak berperasaan.
"Mampus kalian semua, heh Wong-wong Wuwatan!
Hari ini aku pasti akan membuat Kotaraja Wuwatan rata dengan tanah!!", ucap Adipati Aji Wurawari sembari mengepalkan tangannya erat-erat.
Dari sisi lain, Senopati Cakrajaya nampak mengamuk seperti malaikat pencabut nyawa. Dia membantai setiap prajurit Kadipaten Lwaram maupun orang dari Kerajaan Sriwijaya yang mencoba untuk menghadang langkah nya. Puluhan orang prajurit tewas bersimbah darah di tangan sang pimpinan prajurit Medang.
Melihat hal itu, Patih Mpu Dirgapraja melesat cepat kearah nya dan berhenti di jarak 4 tombak jauhnya dari depan sang perwira tinggi prajurit.
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Satu lagi prajurit Sriwijaya tewas dengan kepala terpisah dari badan setelah tebasan pedang Senopati Cakrajaya membabat leher nya. Setelah itu, Senopati Cakrajaya menatap tajam ke arah Patih Mpu Dirgapraja.
"Sungguh memalukan bagi orang Tanah Jawadwipa, ada orang di antara mereka yang menjadi anjing bagi musuh dari Pulau Suvarnabhumi...", maki Senopati Cakrajaya sembari memutar gagang pedang nya yang berlumuran darah segar.
"Lebih baik bersekutu dengan Sriwijaya untuk membalas kesombongan kalian..
Sudah lama Kotaraja Wuwatan menindas rakyat Lwaram. Saatnya kalian untuk membayar semua yang telah kalian lakukan pada kami!", setelah berkata demikian, Patih Mpu Dirgapraja menerjang maju ke arah Senopati Cakrajaya.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Sabetan cepat keris di tangan Patih Mpu Dirgapraja langsung mengincar leher Senopati Cakrajaya. Sang pimpinan pasukan Medang ini dengan cepat menggunakan pedangnya untuk menangkis sabetan keris pusaka milik lawan.
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!
Percikan bunga api kecil tercipta saat dua senjata mereka beradu. Keduanya rupanya sudah mengerahkan tenaga dalam nya pada pertarungan ini. Keduanya pun segera mengerahkan kepandaian ilmu beladiri nya untuk menjatuhkan lawan.
Whhhuuuuuggggghhhh whhhuuuggghhhh..
Thhrraaanggg dhhaaaassshhh!!!
Meskipun sudah memiliki beberapa luka di bagian tubuhnya akibat pertarungan sebelumnya, namun nyatanya itu tidak mengurangi kemampuan beladiri Senopati Cakrajaya. Justru itu membuat sang perwira prajurit Medang ini semakin ganas seperti banteng ketaton. Sudah beberapa kali tendangan keras dan pukulan telak menghajar tubuh Patih Mpu Dirgapraja. Bahkan satu tendangan keras kaki kanan sang perwira prajurit Medang yang terakhir sanggup membuat Patih Mpu Dirgapraja terpelanting ke belakang sejauh empat tombak jauhnya.
Warangka praja Kadipaten Lwaram ini segera bangkit dari tempat jatuhnya dan mengusap darah segar yang meleleh keluar dari sudut bibirnya seraya menatap tajam ke arah Senopati Cakrajaya.
Segera ia merentangkan kedua tangannya ke samping tubuhnya dan dengan cepat memutar kedua telapak tangannya ke atas kepala. Dua telapak tangan ini membentuk sepasang cakar. Perlahan cahaya merah kehitaman muncul di jari jari tangan Patih Mpu Dirgapraja berbarengan dengan mulutnya komat-kamit merapal mantra.
"Ajian Cakar Geni hemmmmmmm...
Aku tidak akan kalah dari mu Wong Lwaram!", ucap Senopati Cakrajaya sembari menangkupkan kedua telapak tangannya ke depan dada. Cahaya biru redup berhawa dingin pun segera menyelimuti seluruh tubuh Senopati Cakrajaya.
Setelah merapal mantra ilmu kesaktiannya, Patih Mpu Dirgapraja pun segera melesat cepat kearah Senopati Cakrajaya dan segera mengayunkan kedua cakar tangan nya yang berselimut cahaya merah kehitaman ke arah sang perwira tinggi prajurit Medang.
Shhhrraaaakkkkkk....
Blllaaammmmmmmm!!!!
Aaaarrrgggggghhhhh......!
Dua orang itu segera terpental ke arah yang berlawanan. Senopati Cakrajaya terlempar hampir 4 tombak jauhnya. Dia langsung muntah darah segar. Sedangkan Patih Mpu Dirgapraja juga mengalami nasib yang sama. Hanya saja, nasibnya naas setelah tubuhnya terpental jauh ke belakang dan menghantam sebuah kapak milik prajurit yang terbunuh. Kapak itu menembus perutnya yang membuat warangka praja Lwaram ini tewas bersimbah darah saat itu juga.
Sang perwira tinggi prajurit Medang ini sempoyongan berdiri. Namun Sri Cudamani Janayasa, sang pimpinan prajurit dari Sriwijaya yang semula sibuk bertarung melawan para prajurit Medang, melihat seorang perwira tinggi prajurit Medang sedang tidak berdaya, langsung melemparkan tombak ke arah Senopati Cakrajaya.
Shhhrrrreeeeettttth..
Jllleeeeeppppphhh!!
Aaaauuuuuuuuuwwwwwwh!!!
Senopati Cakrajaya pun langsung roboh dengan tombak menancap di dada nya. Airlangga yang melihat kejadian itu, segera mendekati sang perwira tinggi prajurit Medang.
"Pa-paman Senopati!!!
Kauuuu.....", mata Airlangga pun segera basah oleh air mata tatkala ia melihat orang pertama yang begitu baik hati kala menginjak Tanah Jawadwipa ini mengalami nasib yang demikian. Ia segera mengangkat kepala Senopati Cakrajaya sedangkan Narotama berdiri di samping nya untuk melindunginya.
"Ti-tidak a-ap-pa a--pa Gus-Gusti P-pangeran...
Seorang prajurit ma-mati di medan tempur itu adalah kehormatan. To-tolong penuhi per-permintaan ku yang terakhir. Te-tetap tegakkan Ke-kerajaan Medang di Bumi Jawadwipaaaaa....", usai berkata demikian, Senopati Cakrajaya pun meninggal dunia. Airlangga pun segera menutup kedua matanya sebelum meletakkan nya ke tanah. Lalu dengan penuh kemarahan yang luar biasa, Airlangga pun segera menatap tajam ke arah Sri Cudamani Janayasa yang berkacak pinggang sembari tersenyum penuh kemenangan. Dengan penuh murka, Airlangga menunjuk ke arah Sri Cudamani Janayasa sambil berkata,
"Pemberontak busuk!
Kau harus membayar kematian Paman Senopati Cakrajaya!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
good job Thor lanjut
2024-06-07
0
Imam Sutoto
woow keren banget nih lanjut
2024-06-07
0
Umar Muhdhar
y
2024-02-24
1