"Aku hanya orang yang kebetulan sedang lewat saja..
Maaf jika aku bersikap kurang ajar. Permisi, aku akan mengejar orang itu", selepas berkata demikian, Airlangga pun segera melesat cepat kearah datangnya serangan rahasia. Meninggalkan perempuan cantik yang tak lain adalah Putri Galuh Sekar sendirian.
Masih perlu beberapa saat bagi Galuh Sekar untuk sadar. Putri Prabu Dharmawangsa itu segera berteriak lantang.
"Penjaga penjaga... Cepat kemari!"
Teriakan keras Putri Galuh Sekar ini langsung membuat 4 orang prajurit yang sedang berjaga di pintu masuk taman sari istana bergegas ke arah nya.
"Ada apa Gusti Putri?", tanya salah seorang prajurit penjaga istana ini segera.
"Ada orang yang ingin mencelakai ku. Ia lari ke arah sana. Tapi jangan salah tangkap karena ada orang lain yang juga mengejar nya. Cepat bantu dia..!!", perintah Putri Galuh Sekar dengan cepat.
Keempat orang prajurit itu segera menghormat sebelum bergerak ke arah yang ditunjukkan oleh Putri Galuh Sekar. Dua orang dayang istana pun segera mendekati sang putri untuk menemaninya.
Airlangga melesat cepat kearah pergerakan asal senjata rahasia. Dalam keremangan cahaya bulan yang mendekati purnama, nampak sesosok bayangan hitam bergerak lincah di antara pepohonan yang ada di sekitar istana. Airlangga terus membuntuti nya hingga keluar dari dalam Istana Kotaraja Wuwatan.
Bayangan hitam itu segera meluncur turun dari pohon rindang yang ada tak jauh dari tembok istana. Dia hendak berbalik arah namun betapa terkejutnya ia saat melihat seorang lelaki muda telah berdiri di depan nya.
"Siapa kau? Mau apa kau disini?", terdengar suara seorang perempuan dari balik caping bambu bertirai hitam yang ia dikenakan.
"Kau mencoba untuk mencelakai perempuan di taman sari istana. Aku harus menangkap mu untuk mendapatkan hukuman dari tindakan pengecut mu", ucap Airlangga tanpa mengalihkan pandangannya pada sosok bayangan hitam ini.
"Itu bukan urusan mu ...
Minggir kau jika tidak ingin mati konyol di tangan ku!", bentak sosok bayangan hitam itu sedikit lantang.
"Kalau tidak mau???", jawab Airlangga dengan tenangnya. Sosok bercaping bambu tirai hitam itu mendengus keras dan memasukkan tangan kanannya ke balik bajunya sebelum mengibaskan nya ke arah sang pangeran muda.
Shhhrriiiiiiingggg shhhrriinggg shhhrriinggg!
Tiga jarum perak dengan cepat melesat ke arah Airlangga. Sang pangeran muda pun segera menginjak tanah dengan keras. Sebuah ranting pohon yang ada di dekat tempat ia berdiri langsung melenting ke udara di depan sang pangeran muda.
Chhreepppppph chhreepppppph chhreepppppph!!!
Tak ayal lagi, tiga jarum perak itu menancap pada batang ranting kering ini yang menghalangi nya sebelum menyebrang tubuh Airlangga. Melihat serangannya berhasil di hentikan dengan mudah, sosok bayangan hitam itu menggeram lirih sambil kembali mengibaskan tangannya kanan dan kiri ke arah lawan.
Shhhrriinggg shhhrriinggg shhhrriinggg!!!
Airlangga pun segera menjejak tanah dengan keras. Tubuhnya melenting ke udara sembari berputar cepat untuk menghindari serangan lawan. Ia lolos dari serangan senjata rahasia itu dan mendarat di tanah sembari tersenyum simpul. Merasa di hina karena senyuman Airlangga, sosok bayangan hitam itu segera melesat cepat sembari mengibaskan tangannya yang menjepit jarum-jarum perak beracun ke arah Airlangga. Pertarungan antara mereka pun segera terjadi.
Si sosok bayangan hitam terus memburu Airlangga dengan serangan cepat. Sang pangeran muda berjumpalitan kesana kemari menghindari serangan cepat senjata rahasia.
Saat sosok bayangan hitam itu meraba pinggang dan mendapati senjata rahasia nya telah habis, dia mencabut pedang pendek yang ada di pinggangnya dan menerjang ke arah Airlangga.
Shhhrrrreeeeettttth shhrreeettthhh!!
Dengan lincah Airlangga berkelit menghindar sambil menyapu kaki kanan lawan yang menjadi tumpuan kuda-kuda ilmu silat nya.
Dhhaaashh...
Oooouuuuuuggggghhhhh!
Tubuh bayangan hitam itu oleng. Saat itulah, Airlangga memanfaatkan kesempatan untuk merubah gerakan tubuhnya dan melayangkan tendangan keras kearah perut lawannya.
Dhhiiieeeeesssshhh...
Aaaauuuuuuuuuwwwwwwh!!!
Sosok bercaping bambu tirai hitam itu terpental mundur dua tombak ke belakang. Caping bambu bertirai hitam yang menutupi wajahnya terlepas dan tubuhnya menyusruk tanah dengan keras. Wajah cantik seorang perempuan muda pun terlihat oleh mata Airlangga. Meskipun tidak secantik perempuan cantik di taman sari istana tadi, akan tetapi perempuan cantik yang satu ini memiliki kecantikan khas yang sanggup membuat mata lelaki terbelalak lebar tatkala melihatnya.
Dia segera bangkit dari tempat jatuhnya sembari menatap wajah tampan Airlangga dengan penuh amarah. Saat itu juga, ia melesat ke arah Airlangga sambil mengayunkan pedang pendek nya. Airlangga hanya menggeser posisi tubuhnya dan cepat mencekal lengan tangan kanan perempuan cantik itu lalu memuntir nya ke belakang tubuh sang perempuan cantik.
"Bajingan, lepaskan tanganku jika tidak..", belum sempat dia menyelesaikan omongannya, Airlangga sudah lebih dulu meletakkan telunjuk tangan kanannya ke depan mulut sembari berkata.
"Ssssttttttttttt...
Pelankan suara mu! Kau ingin di tangkap oleh para prajurit?! Coba dengarkan suara yang mendekat kemari...", perempuan cantik itu segera diam dan mempertajam daya pendengaran nya. Dan benar saja, beberapa suara terdengar bergerak menuju ke arah mereka.
Krressseeeeekk kreeekk...
"Lantas apa mau mu sebenarnya?", bisik perempuan cantik itu dengan nada suara sedikit bergetar. Sepertinya dia sudah ketakutan akan bertemu dengan para prajurit Istana Kotaraja Wuwatan.
"Aku hanya ingin tahu apa sebenarnya tujuan dari tindakan mu tadi? Kalau kau jujur mengatakan nya, aku bisa melepaskan mu kali ini", balas Airlangga dengan bisikan pula.
"Aku Wandansari, anak Mahamantri I Halu Mapanji Ranggasena.
Lelaki yang aku sukai mengacuhkan ku karena ingin merebut hati Nararya Galuh Sekar. Aku ingin sekali perempuan itu mati agar orang yang ku sukai kembali pada ku", ucap perempuan cantik itu sembari menunggu sikap Airlangga.
"Baiklah, kali ini aku akan melepaskan mu. Tapi jika lain kali kau berbuat seperti ini lagi, aku tidak akan mengampuni mu.
Satu hal yang perlu kau ketahui, Putri Galuh Sekar akan menikah dengan pangeran dari Bali. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi dengan nya. Pergilah..", Airlangga segera melepaskan puntiran tangan Wandansari. Sesaat sebelum pergi, Wandansari melirik ke arah Airlangga lalu menghilang di kegelapan malam.
Tak berapa lama kemudian, rombongan prajurit istana datang dan langsung mendekati Airlangga.
"Ketemu orang nya, Pangeran?", tanya salah seorang prajurit. Dia mengenali Airlangga yang tinggal di Keputran Wuwatan.
"Orang itu larinya kencang sekali. Aku tidak mampu mengejar nya. Sebaiknya kita segera pulang ke Istana dan meningkatkan penjagaan", ucap Airlangga sembari melangkah ke arah pintu gerbang istana. Para prajurit itu pun segera mengikutinya.
Peristiwa percobaan pembunuhan terhadap Galuh Sekar ini langsung membuat heboh seisi istana. Para prajurit pun langsung mendapatkan perintah untuk meningkatan penjagaan dengan menambah patroli keliling istana.
Keesokan paginya, Prabu Dharmawangsa memanggil Airlangga dan Galuh Sekar di ruang pribadi raja untuk dipertemukan. Mata Galuh Sekar langsung melebar saat ia melihat Airlangga memasuki ruang pribadi raja.
"Romo Prabu, dia...", Galuh Sekar tak meneruskan omongan nya melihat Prabu Dharmawangsa tersenyum ke arahnya.
"Ya, dia adalah Pangeran Airlangga, anak Kangmbok Mahendradatta yang akan menjadi calon suami mu", tunjuk Prabu Dharmawangsa pada Airlangga yang menyembah pada nya sebelum duduk bersila di lantai ruang pribadi raja.
Wajah cantik Galuh Sekar langsung berbunga-bunga mendengar jawaban itu. Dia langsung menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan rona merah yang terpancar jelas di wajahnya. Bagaimana tidak, tadi pangeran muda itu telah memeluknya dan menyebabkan hampir semalam suntuk ia tidak bisa tidur.
"Nah, kalian berdua sudah saling mengenal. Maka dengarkanlah aku bicara..
Sepekan lagi, upacara pernikahan kalian akan dilaksanakan. Jadi persiapkan diri kalian berdua dengan sebaik-baiknya untuk acara ini", mendengar perintah ini, baik Galuh Sekar maupun Airlangga langsung menghormat sembari berkata,
"Sendiko dawuh Romo Prabu..."
Maka mulai hari itu, seluruh punggawa dan pejabat tinggi negara dikerahkan untuk membantu persiapan pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar. Tak cuma mereka, bahkan para prajurit penjaga keamanan istana pun diwajibkan untuk ikut membantu agar semuanya berjalan lebih cepat. Ini mengakibatkan pengamanan di sekitar istana longgar dan kendur.
Wiragangga mengepalkan tangannya erat-erat sambil terus berjalan menuju ke arah tempat dimana ia ditugaskan untuk membantu membangun panggung megah di alun-alun Kotaraja Wuwatan. Rasa kesalnya karena gagal dalam upaya mendapatkan cinta dari wanita yang dicintainya terus saja bergolak di dalam kepalanya.
'Airlangga, jika ada kesempatan untuk membunuh mu,
Maka aku pasti akan melakukannya!'
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
buseeet keren banget nih lanjut
2024-06-07
0
Werkudara Milenial
woiiii cari penyakit ini wira, ngelawan calon raja medang selanjutnya
2024-04-03
1
Umar Muhdhar
tr
2024-02-24
1