Airlangga segera melompat mundur menghindari cakaran maut Sang Pendekar Pemetik Bunga. Namun Surodipo yang telah lama malang melintang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa, memutar tubuhnya dengan cepat dan ganti melayangkan cakaran cepat beruntun ke arah sang pangeran muda.
Shhhrraaaakkkkkk shhhrraaaakkkkkk!!
Dengan lincah, Airlangga terus bergerak kesana-kemari mencari tempat untuk menghindar sembari menyelami setiap pergerakan pendekar yang terkenal sebagai tukang rudapaksa ini. Begitu melihat titik-titik tertentu yang ada pada pertahanan ilmu beladiri Surodipo, Airlangga mulai bergerak menyerang.
Jika sebelumnya ia hanya banyak bertahan dan menghindar, kini Airlangga sudah berani menghadapi pertarungan jarak dekat dengan Surodipo. Tentu saja hal ini cukup mengagetkan lelaki paruh baya berbaju kuning hijau itu, namun ia tidak takut sama sekali.
Shhhrraaaakkkkkk!!
Dua cakaran maut Surodipo berhasil di hindari oleh Airlangga dan pada cakaran tangan kiri, Airlangga dengan cepat mencekal lengan tangan kiri lawan. Dia pun segera melayangkan pukulannya ke arah rusuk kiri Surodipo sekuat tenaga.
Bhhhuuuuuuggggh...
Oooouuuuuuggggghhhhh!!!
Surodipo meraung tertahan saat pukulan keras Airlangga telah menghajar tubuh nya. Lelaki paruh baya itu sampai tersurut mundur beberapa langkah ke belakang.
Melihat kesempatan ini, Airlangga tidak mau menyia-nyiakan nya. Putra Ratu Gunapriya Darmapatni ini cepat menerjang maju sembari melayangkan pukulan cepat beruntun kearah wajah, dada dan bahu Sang Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng.
Bhhhuuuuuuggggh plllaaaakkkkk dhhaaaassshhh....
Aaaauuuuuuuuuwwwwwwh!!!
Kepalan tangan yang dibungkus dengan tenaga dalam tingkat tinggi ini nyatanya mampu membuat Surodipo babak belur. Pelipis kiri nya pecah dan mengeluarkan darah, pipi kanan nya lebam dan membiru sedangkan dadanya sakit sekali setelah beberapa pukulan keras Airlangga mendarat. Airlangga pun segera melompat mundur usai membuat lelaki paruh baya bertubuh gempal ini menderita.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Setan alas!!!
Bocah busuk, kau akan ku hancurkan sampai tak seorangpun mengenali mayat mu!", sambil menggembor lantang, Surodipo mencabut senjata yang terselip di pinggangnya. Sebuah golok pendek dengan gagang berukir kepala burung elang kini ada dalam genggamannya. Ini merupakan senjata andalan Surodipo yang kondang di dunia persilatan Tanah Jawadwipa dengan sebutan Golok Elang Kuning.
Setelah itu, ia menjejak tanah dengan keras sebelum melesat cepat kearah Airlangga.
Shhhrrrreeeeettttth!!
Melihat lawannya sudah mencabut senjata, Airlangga pun segera meloloskan keris pusaka yang tadi ia dapatkan dari Sendang Made, Keris Pulanggeni. Cahaya merah kebiruan pun segera berpendar cepat dari keris pusaka di tangan pangeran muda ini. Ia dengan cepat menangkis sabetan golok milik Surodipo.
Thhhrrriiiiinnnnngggg!!!
Bunga api kecil tercipta saat dua senjata ini beradu. Melihat lawannya berhasil menangkis sabetan senjata nya, Surodipo Sang Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng semakin bernafsu untuk segera menghabisi nyawa lawannya. Dia langsung mengayunkan senjatanya secara cepat dan beruntun ke arah bagian tubuh Airlangga.
Thhrraaanggg thhrraaanggg...
Blllaaaaaaaaaarrrrrrrrrrr!!!
Dua orang itu sama-sama tersurut mundur beberapa langkah ke belakang. Benturan senjata pusaka mereka yang terakhir telah di lapisi dengan tenaga dalam tingkat tinggi hingga menciptakan sebuah gelombang kejut besar yang sanggup mendorong tubuh keduanya untuk mundur.
'Bangsat!
Bocah tengik ini rupanya memiliki senjata pusaka yang bertuah. Aku harus segera membunuhnya untuk bisa merebut senjata pusaka itu dari tangannya', batin Surodipo.
Segera saja Surodipo merapal mantra ilmu kanuragan andalannya. Cahaya kuning bercampur dengan hijau terang pun segera muncul di lengan kanan nya yang segera menjalar cepat kearah Golok Elang Kuning.
Setelah itu, Surodipo segera menerjang maju ke arah Airlangga sambil mengayunkan senjata andalannya.
"Mati kau, bocah tengik..!!!
Golok Memotong Langit chhiyyyyyyyyyyyyyaaaaaaaatt....!!!!!"
Whhhhuuuuutttthhhh....
Cahaya kuning kehijauan setipis bilah golok langsung menerabas cepat kearah Airlangga. Tak ingin mati konyol, Airlangga pun segera menyorongkan senjata pusaka ditangan nya ke depan.
Selarik cahaya merah kebiruan pun segera terlontar dari Keris Pulanggeni di tangan sang pangeran muda.
Blllaaammmmmmmm!!!!!
Ledakan dahsyat terdengar. Airlangga pun terpental jauh ke belakang dan menyusruk tanah dengan keras. Walaupun dia sudah mengerahkan seluruh tenaga dalam nya, tapi lawan yang dia hadapi memang bukan pendekar sembarangan. Airlangga pun langsung muntah darah segar meskipun dia masih bisa bangkit dari jatuhnya.
Di sisi lainnya, nasib Surodipo Sang Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng pun juga tak kalah mengenaskan. Tubuh lelaki paruh baya itu terlempar hingga 8 tombak jauhnya. Berbeda dengan Airlangga yang masih bisa berdiri, pendekar cabul itu langsung muntah darah segar setelah tubuhnya menabrak akar lancip yang mencuat di atas tanah. Dia masih hidup meskipun akar lancip pohon wadang itu menembus pinggang hingga ke perutnya sebelah kiri.
Sedangkan, beberapa orang pengikutnya yang masih hidup begitu melihat keadaan Surodipo yang mengenaskan ini bukannya menolong tapi malah kabur menyelamatkan nyawa mereka sendiri tanpa peduli dengan nyawa Sang Pendekar Pemetik Bunga.
Sekar Melati sembari memapah Puspa Mawar yang hampir saja menjadi korban nafsu birahi Sang Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng, berjalan tertatih mendekati Airlangga.
Uhukkk uhukkk uhukkk...
"Akhirnya bajingan cabul yang memperkosa kakak seperguruan ku kini menerima buah dari perbuatannya..
Terimakasih Kisanak, kau melaksanakan apa yang tidak bisa kami lakukan ", ucap Sekar Melati pada Airlangga yang memegangi dadanya yang sesak. Belum Airlangga menanggapi omongan itu, terdengar suara tawa lirih dari mulut Surodipo yang masih hidup.
Hehehehe...
"Apa kalian tahu, kakak seperguruan kalian menangis tersedu-sedu saat aku menggauli nya? Dia sungguh perempuan binal, karena setelah menangis, pantatnya bergoyang menikmati kenikmatan yang ku berikan hehehehe uhukkk uhukkk..", murka sudah Sekar Melati mendengar ucapan Surodipo. Perempuan muda itu langsung melepaskan papahan nya Puspa Mawar.
"Tutup mulut mu bajingan..!!
Mulut mu sama beracun nya dengan kemaluan mu itu!", ucap Sekar Melati yang berang bukan main.
"Untuk apa aku mengarang cerita? Toh sebentar lagi aku akan mati, jadi tidak salah jika a...."
Chhhrrraaaaaaasssssshhh!!!!
Belum sempat Surodipo menyelesaikan kalimatnya, Sekar Melati yang marah besar langsung membabat batang leher lelaki paruh baya yang tubuhnya menancap di akar kayu ini. Seketika itu juga, kepala Surodipo langsung menggelinding ke tanah. Darah segar langsung muncrat keluar dari pangkal leher Surodipo. Akhir petualangan Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng berakhir hari itu.
Chhuuuiiiihhhh...
"Kau pantas mendapatkan nya, bajingan!", ucap Sekar Melati sembari menyarungkan kembali pedangnya sebelum melangkah ke arah Airlangga.
"Kami murid-murid Padepokan Bukit Kembang berterimakasih atas bantuan mu, Kisanak..
Semoga di lain waktu, kami bisa membalas budi baikmu ini..", ucap Sekar Melati pada Airlangga. Namun, sang pangeran muda keburu oleng dan pingsan sebelum menjawab omongan perempuan muda berbaju merah ini.
Rupanya adu tenaga dalam tingkat tinggi dengan Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng tadi membuat sang pangeran muda cedera dalam yang lumayan parah.
Senopati Cakrajaya pun dengan sigap memapah Airlangga sebelum dia jatuh ke tanah. Jelantik pun segera mengikuti langkah sang perwira tinggi prajurit Medang ini.
"Berterima kasih nya nanti saja..
Sebaiknya kita segera mengobati luka dalam Gusti Pangeran Airlangga. Apa ada pemukiman penduduk yang dekat dengan daerah sini?", tanya Senopati Cakrajaya sembari menatap ke arah Puspa Mawar dan Sekar Melati serta para murid Padepokan Bukit Kembang yang telah berkumpul semuanya.
Puspa Mawar dan Sekar Melati saling berpandangan sejenak mendengar pertanyaan itu. Setelah melihat anggukan kepala dari Puspa Mawar, Sekar Melati pun segera tersenyum lebar.
"Sebaiknya kita segera ke Padepokan Bukit Kembang, Kisanak..
Tak jauh dari tempat ini, tinggal lurus saja. Biarkan kami membalas budi kalian semua yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk membantu kami", ucap Sekar Melati segera. Mendengar jawaban itu, Senopati Cakrajaya pun segera mengangguk tanda setuju. Mereka semua pun segera meninggalkan tempat itu untuk menuju ke arah Padepokan Bukit Kembang. Para prajurit dari Bedahulu yang membawa barang bawaan untuk acara pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar pun segera mengikuti mereka.
Setelah semuanya pergi, dari balik pohon
Besar yang tak jauh dari tempat itu, seorang lelaki bertubuh kekar langsung mengangguk mendengar arah tujuan dari rombongan itu.
"Aku akan melaporkan ini pada Guru..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
🍒⃞⃟🦅EsTehPanas SENJA
narotama yang nantinya jadi patih bukannya sudah ikut airlangga dari Bali yah?
2025-01-15
0
Imam Sutoto
top deh lanjut
2024-06-07
0
andymartyn
👍
2024-01-30
2