Istana Pakuwon Tamwlang

Rombongan Airlangga dibawah kawalan Senopati Cakrajaya terus memacu kuda tunggangan nya ke arah Kotaraja Wuwatan. Meskipun jalan raya yang ada cukup sepi karena melewati tepian hutan, mereka tetap semangat untuk segera sampai di Kotaraja Wuwatan.

Karena ada kereta kuda dan pedati yang mengangkut barang bawaan dari Kerajaan Bedahulu, tentu saja perjalanan ini tidak secepat berkuda saja. Beberapa kali roda pedati dan kereta kuda terperosok ke dalam lobang yang tertutup air keruh bekas hujan deras tadi pagi.

Setelah meninggalkan Hutan Tarik, mereka memasuki wilayah Pakuwon Tamwlang yang terletak di tepi Sungai Kapulungan atau Sungai Brantas saat ini. Dahulu, Tamwlang merupakan ibukota Kerajaan Medang pada awal masa pemerintahan Mpu Sindok yang merupakan pendiri Wangsa Isyana. Sebelum berpindah ke Watugaluh yang ada di sebelah barat nya, kota ini ramai karena selain menjadi ibukota negara juga menjadi salah satu pelabuhan dalam Sungai Kapulungan sebelum kapal-kapal besar berangkat ke Hujung Galuh.

Meskipun telah ditinggalkan, namun nyatanya Kota Tamwlang masih juga ramai walaupun tak seramai dulu ketika masih menjadi ibukota Kerajaan Medang. Kota yang derajatnya turun menjadi ibukota Pakuwon Tamwlang ini kini diperintah oleh seorang Akuwu yang bernama Akuwu Mpu Kertayasa.

Senopati Cakrajaya menarik tali kekang kudanya hingga tunggangan nya itu berhenti tepat di sebelah luar tapal batas Kota Tamwlang.

"Pangeran Airlangga..

Sebentar lagi kita akan memasuki wilayah Kota Tamwlang. Disinilah dulu leluhur Wangsa Isyana pertama kali memerintah Kerajaan Medang.

Tapi jangan salah sangka dulu. Kota ini sarat dengan kejahatan. Jadi aku minta Pangeran berhati-hati di tempat ini", peringat Senopati Cakrajaya tanpa turun dari kudanya.

"Saya mengerti Paman Senopati..", balas Airlangga yang berkuda di belakangnya.

Perlahan mereka pun mulai memasuki Kota Tamwlang. Beberapa penjaga pintu gerbang kota nampak acuh tak acuh dengan kedatangan mereka. Beberapa hanya melirik ke arah kereta kuda yang ada dalam rombongan itu tanpa bicara sepatah katapun.

Karena persediaan makanan kering bekal perjalanan mereka telah menipis, Senopati Cakrajaya membawa rombongan itu ke sebuah warung makan yang terletak tak jauh dari pasar besar dekat alun-alun Kota Tamwlang. Beberapa orang prajurit tetap berjaga di sekitar kereta kuda yang membawa barang bawaan saat Senopati Cakrajaya dan Airlangga masuk ke dalam warung makan ini diikuti oleh beberapa orang pengikutnya.

Kedatangan mereka tentu saja menarik perhatian beberapa orang yang ada di dalam warung makan ini. Selain dandanan Airlangga yang sedikit berbeda dengan kebanyakan orang, beberapa perhiasan emas yang melekat di tubuhnya rupanya tidak luput dari pengawasan mereka.

"Sepertinya dia orang kaya, Kakang Brojo..

Kita tidak boleh melepaskan kesempatan ini untuk mendapatkan uang dari nya", bisik seorang lelaki bertubuh gempal dengan wajah jelek dan kumis tipis yang nampak panjang pada ujungnya.

"Kau benar Dento..

Bocah bau kencur itu harus kita peras habis-habisan. Kalian semua, ayo ikut aku..", setelah berkata demikian, seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal dan rambut gimbal yang di ikat pada belakang tengkuk nya segera melangkah ke arah meja Airlangga dan Senopati Cakrajaya. Beberapa orang lain berwajah sangar dan tampilan menyeramkan pun segera mengikuti langkah lelaki yang dipanggil dengan nama Brojo itu.

Dua pelayan warung makan yang terdiri dari dua orang gadis muda berpakaian sederhana inipun langsung mundur, urung menyajikan makanan ke meja tempat Airlangga dan Senopati Cakrajaya duduk saat melihat kedatangan Brojo dan kawan-kawan. Mereka meninggalkan nampan berisi beberapa makanan pesanan Airlangga dan Senopati Cakrajaya di atas meja tanpa menyajikan nya.

"Wah wah wah, ada yang makan enak disini rupanya.

Kisanak, boleh aku mencicipi makanan mu?", ucap Brojo yang tanpa menunggu persetujuan dari empunya makanan langsung mencomot paha ayam panggang dari nampan. Tentu saja hal ini membuat Senopati Cakrajaya dan Airlangga langsung berdiri dari kursinya sembari menatap tajam ke arah Brojo.

"Apa maksud nya semua ini, Kisanak?

Kau sedang mencari perkara dengan kami hah?", hardik Senopati Cakrajaya sedikit keras.

"Kalau iya kau mau apa?

Ini adalah daerah kekuasaan ku, jadi setiap orang yang lewat wajib memberikan upeti kepada ku. Kau beruntung, aku hanya mengambil sepotong ayam mu saja. Kalau aku sedang tidak senang, maka kepala mu pasti kheeeeeekkkkkk...", jari telunjuk Brojo menggores di lehernya sebagai tanda kematian.

Geram dengan hal itu, salah seorang pengikut Senopati Cakrajaya pun segera melesakkan tendangan keras kearah pinggang lelaki bertubuh kekar itu.

Dhhiiieeeeesssshhh...

Oooouuuuuuggggghhhhh!!

Brojo yang tidak menyangka bahwa dia akan mendapatkan serangan cepat ini, melengguh tertahan dan jatuh terjengkang di lantai warung makan. Dengan penuh amarah, dia segera mengayunkan tangannya ke depan.

"Hajar mereka semua!!!!"

Perkelahian di dalam warung makan itu pun tak terelakkan lagi. Para pengikut Senopati Cakrajaya yang merupakan para prajurit pilihan pun segera menyambut kedatangan serangan para berandalan ini.

Whhhuuuuuggggghhhh dhhaaaassshhh..

Plllaaaakkkkk plllaaaakkkkk..

Dhhiiieeeeesssshhh oouuuuuuuugggghh!!!

Dalam beberapa jurus saja, para berandalan Kota Pakuwon Tamwlang ini telah terjungkal menyusruk lantai warung makan. Beberapa meja dan kursi tamu pun hancur berantakan karena perkelahian mereka.

Sedangkan para tamu pengunjung warung makan lainnya segera berhamburan begitu perkelahian ini terjadi, menyisakan sang pemilik warung dan beberapa pelayan yang ketakutan di sudut dapur.

Brojo sendiri sudah tidak berdaya tergeletak di lantai warung makan. Beberapa bagian tubuh nya patah, wajah nya lebam dan berdarah sedangkan giginya rontok 3 buah. Salah seorang prajurit pengikut Senopati Cakrajaya yang bernama Gandung menendang bokongnya berulang kali untuk memastikan bahwa dia sudah tidak berdaya lagi.

"Cukup Kisanak..

Kita sudah cukup memberikan pelajaran kepada nya. Jangan menyiksa lawan yang sudah tidak berdaya", ucap Airlangga yang membuat Gandung mengangguk mengerti dan segera mundur.

Saat itulah, puluhan orang prajurit Pakuwon Tamwlang yang dipimpin oleh Bekel Dibya datang. Pimpinan prajurit Pakuwon Tamwlang ini segera melangkah ke arah Senopati Cakrajaya dan Airlangga.

"Kalian yang menghajar mereka?", Bekel Dibya menatap ke arah dua orang ini bergantian.

"Mereka semua yang mencari gara-gara lebih dulu dengan kami. Apa itu salah jika kami membela diri?", balas Airlangga segera.

"Hehehehe, jangan salah sangka. Mereka ini sering membuat keonaran di kota ini, jadi mereka pantas mendapatkan nya. Para prajurit ku akan menyeret mereka kedalam penjara.

Tempo hari, Akuwu Mpu Kertayasa membuat satu sayembara bahwa siapapun yang membantu mengurangi kekeruhan di wilayah Pakuwon Tamwlang, akan mendapatkan jamuan makan di istana dan hadiah yang cukup besar. Kalian sudah cukup bersusah payah, maka layak mendapatkan nya. Mari aku antar ke istana", mendengar jawaban itu, Senopati Cakrajaya pun segera menoleh ke arah Airlangga. Melihat anggukan kepala dari pangeran muda ini, Senopati Cakrajaya pun akhirnya mengiyakan ajakan Bekel Dibya untuk datang ke Istana Pakuwon Tamwlang.

Kedatangan Airlangga dan Senopati Cakrajaya pun segera disambut baik oleh Akuwu Mpu Kertayasa. Dia yang berbulan bulan lalu dibuat pusing dengan ulah Brojo dan kawan-kawan nya kini bisa bernafas lega.

Akan tetapi saat Senopati Cakrajaya melepaskan capingnya, Akuwu Mpu Kertayasa terkejut bukan main. Tentu saja ia mengenal Senopati Cakrajaya yang merupakan salah satu petinggi prajurit Kerajaan Medang.

"Gus-Gusti Senopati Cakrajaya??

Jagat Dewa Batara, pantas saja para begundal itu tak bisa berbuat apa-apa. Jika Gusti Senopati sendiri yang turun tangan, pasti akan beres..", ucap Akuwu Mpu Kertayasa sembari menghormat pada Senopati Cakrajaya.

"Sudahlah, jangan terlalu berlebihan Akuwu Tamwlang...

Aku sedang lapar karena mereka merusak makanan ku. Kalau kau memang ingin berterimakasih, hidangkan saja makanan untuk kami", balas Senopati Cakrajaya sembari mengangkat tangan kanannya.

"Tentu saja tentu saja..

Mari kita duduk di sasana boga. Nanti biar para dayang istana yang menghidangkan makanan", ucap Akuwu Mpu Kertayasa sembari menghormat.

Maka hari itu juga, Istana Pakuwon Tamwlang pun sibuk terutama di dapur istana. Namun para juru masak istana yang ada, bisa bekerja cepat untuk menyiapkan makanan untuk para tamu kehormatan. Tak butuh waktu lama, para dayang istana pun telah bersiap untuk mengantarkan makanan untuk para tamu. Salah seorang diantara mereka adalah Citrawati, putri Akuwu Mpu Kertayasa sendiri yang juga merupakan perempuan tercantik yang menjadi sekar kedaton.

Dengan sigap dan cekatan, mereka menghidangkan makanan untuk para tamu kehormatan. Selain daging asap dan sayur mayur, siddhu dan twak menjadi pelengkap hidangan ini.

Saat Citrawati menghidangkan makanan di depan Airlangga, perempuan cantik itu langsung tertegun melihat ketampanan pangeran muda yang ada di depan nya ini. Matanya lekat menatap paras rupawan Airlangga yang memang memiliki ketampanan diatas rata-rata.

'Ganteng sekali pemuda ini. Aku seperti melihat dewa turun dari kahyangan.

Siapa dia?'

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

jooss lanjut top markotop story

2024-06-07

0

Widi Nugroho

Widi Nugroho

calon istri kedua sudah muncul hehe...

2024-02-10

1

Kang_Wah_Yoe

Kang_Wah_Yoe

walah... durung ketemu calon permaisuri wes ketemu calon selir disik 😂😂😂

2024-02-10

1

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!