Taman Sari Istana

Kedatangan Airlangga dan Senopati Cakrajaya langsung mendapatkan sambutan dari Prabu Dharmawangsa dengan hangat. Lelaki paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal dan mata tajam ini menerima kedatangan Airlangga di Balairung Pendopo Agung Istana Kotaraja Wuwatan. Kedatangan mereka cukup membuat kaget raja Medang ini karena diluar perkiraan.

Kebetulan saja saat itu, pisowanan sore baru saja berakhir hingga menyisakan Prabu Dharmawangsa, Mapatih Mpu Chandranata dan Ratu Nararya Nilawati.

Begitu masuk ke dalam Pendopo Agung, Senopati Cakrajaya dan Airlangga pun segera menghaturkan sembah bakti bersama dengan Jelantik dan para prajurit pengiring dari Kerajaan Bedahulu.

"Sembah bakti hamba, Gusti Prabu Dharmawangsa..", ucap Senopati Cakrajaya penuh hormat setelah Prabu Dharmawangsa mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat kepada nya untuk berbicara.

"Kau pulang setelah merampungkan tugas mu, Cakrajaya..

Siapa mereka yang ikut bersama mu kali ini?", tanya Prabu Dharmawangsa segera.

"Hamba bertemu dengan mereka di Pelabuhan Hujung Galuh, Gusti Prabu..

Kata mereka, mereka ini adalah utusan dari Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali. Gusti Pangeran Airlangga, silahkan menghaturkan nawala yang kau bawa", mendengar perintah dari Senopati Cakrajaya, Airlangga pun segera menoleh ke arah Jelantik yang memegang baki dengan sebuah surat yang ditulis pada daun lontar di atasnya. Jelantik mengerti dan segera menghaturkan baki itu ke Airlangga. Sang pangeran muda pun segera mengambilnya dan menghaturkan nya dengan kedua tangannya.

Mapatih Mpu Chandranata segera bangkit dari tempat duduknya dan mengambil Nawala itu lalu menyerahkannya kepada sang penguasa Kerajaan Medang. Tanpa menunggu lama, Prabu Dharmawangsa pun segera membuka surat itu dan membacanya. Wajah nya pun segera menyunggingkan senyuman lebar.

"Kau yang bernama Airlangga, putra yunda Mahendradatta?", tanya Prabu Dharmawangsa usai menggulung daun lontar bertuliskan keterangan dari Kerajaan Bedahulu.

"Hamba Airlangga, Gusti Prabu. Putra sulung Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni dan Prabu Dharma Udhayana", Airlangga menghormat usai berbicara.

Hehehehe...

"Tampan juga kau, Airlangga..

Selanjutnya jangan panggil aku dengan sebutan Gusti Prabu. Aku ini masih kerabat mu, tepatnya adalah paman mu. Tapi karena kau akan menjadi menantu ku, maka kau ku ijinkan untuk memanggil ku dengan sebutan Kanjeng Romo Prabu", ucap Prabu Dharmawangsa sembari tersenyum lebar. Ratu Nararya Nilawati pun juga turut tersenyum penuh arti.

"Terimakasih sudah menganggap hamba sebagai keluarga, Gusti Prabu.... Eh maksudnya Kanjeng Romo Prabu...

Ini ada sedikit oleh-oleh dari Kanjeng Romo Prabu Dharma Udhayana dan Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni. Mohon diterima..", ucap Airlangga sembari menghormat. Setelah itu, Airlangga menoleh ke arah Jelantik. Melihat isyarat itu, Jelantik dan beberapa orang prajurit pengiring dari Kerajaan Bedahulu pun segera maju sambil memikul beberapa peti. Setelah itu, mereka membukanya.

Ratusan kepeng emas dan perak, beberapa puluh perhiasan emas serta mutiara juga beberapa potong kain sutra dan tenunan khas dari Negeri Bedahulu pun segera terlihat saat peti-peti kayu berukir indah itu terbuka. Prabu Dharmawangsa dan Ratu Nararya Nilawati saling berpandangan sejenak sebelum saling melempar senyum sambil manggut-manggut mengerti.

"Malam ini beristirahatlah dengan tenang. Esok pagi, kau akan aku pertemukan dengan Galuh Sekar calon istri mu.

Cakrajaya, antarkan Airlangga ke Keputran Wuwatan. Tempatkan Demung Renggopati dan Demung Narotama untuk berjaga malam disana", titah Sang Maharaja Medang segera.

"Sendiko dawuh Gusti Prabu ", Senopati Cakrajaya pun menghaturkan hormat usai berkata demikian.

"Kalau begitu, hamba pamit undur diri untuk beristirahat, Kanjeng Romo Prabu", Airlangga menyembah sebelum berjongkok mundur dan meninggalkan tempat itu bersama dengan Senopati Cakrajaya.

Prabu Dharmawangsa terus memperhatikan Airlangga hingga pemuda tampan itu menghilang di balik pintu penghubung ruangan Istana Kotaraja Wuwatan.

"Ada apa Kangmas Prabu? Kenapa kau terus menatap pemuda itu?", pertanyaan Ratu Nararya Nilawati itu seketika menyadarkan Prabu Dharmawangsa dari keterpakuan nya dari Airlangga.

Hehehehe...

"Putri kesayangan ku akan mendapatkan suami yang tampan dan gagah, Yayi Ratu. Tentu saja aku akan sangat berbahagia.

Lagipula Kerajaan Medang ini kelak akan mendapatkan penerus tahta yang layak. Itu yang membuat ku bahagia", balas Prabu Dharmawangsa sembari terkekeh kecil.

"Galuh Sekar pun pasti juga akan senang sekali jika tahu suaminya seorang lelaki yang tampan dan gagah seperti dia, Kangmas Prabu", timpal Nararya Nilawati mengiyakan omongan suaminya.

"Karena itu, kita harus secepatnya menikahkan mereka.

Mapatih Mpu Chandranata..", sang warangka praja Kerajaan Medang ini langsung menghormat pada sang penguasa Kerajaan Medang saat namanya disebut.

"Persiapkan rencana besar untuk acara pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar. Aku ingin membuat upacara pernikahan ini akan dikenang sebagai pernikahan paling megah sepanjang masa", titah Prabu Dharmawangsa segera.

"Sendiko dawuh Gusti Prabu..", jawab Mapatih Mpu Chandranata sembari menghormat pada Sang Maharaja Medang.

Sementara di Pendopo Agung Istana Kotaraja Wuwatan terjadi pembahasan tentang rencana pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar, di Keputran Wuwatan Airlangga yang selesai berganti pakaian nampak duduk di beranda depan. Kala itu, malam mulai turun di kawasan Kotaraja Wuwatan dengan kegelapan nya yang dingin.

Dua orang yang ditugaskan untuk mengamankan sekitar tempat itu, duduk bersila dengan tenang di depan sang pangeran muda.

"Apa kalian berdua yang ditugaskan untuk mengawal ku?", tanya Airlangga pada dua orang perwira muda yang duduk di hadapannya itu.

"Benar Gusti Pangeran..

Hamba Narotama dan ini kawan hamba Demung Renggopati yang biasa dipanggil dengan nama Renggos", balas Narotama dengan sopan. Putra seorang Resi ini benar-benar bisa menjaga tata krama dalam bersikap kepada atasannya.

"Aku Airlangga. Oh iya, aku sungguh penasaran. Seperti apa rupa perempuan yang akan dijodohkan dengan ku? Apa kalian berdua pernah bertemu dengan nya?", selidik Airlangga sembari menatap ke arah dua orang perwira muda ini.

"Sangat cantik sekali, Gusti Pangeran..

Wajahnya bulat telur seperti bulan purnama yang bersinar di malam hari. Dia adalah sekar kedaton istana ini. Tak rugi bila Gusti Pangeran dijodohkan dengan nya. Semua lelaki pasti ngiler jika memandangnya..", sahut Demung Renggos segera. Dan..

Dhhhuuuuuuggggg...

"Adduuuuhhhhhh.. Kenapa kau sikut pinggang ku, Nara? Sakit tahu ..", omel lirih Demung Renggos saat tiba-tiba Narotama menyikutnya sedikit keras.

"Nggos, jaga sedikit tata krama mu saat bicara. Kau ini ngomong dengan Gusti Pangeran, jangan samakan bicara dengan pedagang di pasar", balas Narotama lirih namun masih terdengar di telinga Renggos. Seketika itu membuat Renggos berkeringat dingin. Dia langsung sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan pangeran yang baru saja dikenalnya.

"M-m-mohon ampun Gusti Pangeran..

Hamba bodoh, kurang bisa menjaga tutur kata", ucap Demung Renggos segera.

"Kau tenang saja, Nggos..

Aku tidak akan mempermasalahkannya. Aku baru saja datang kemari. Selain Senopati Cakrajaya, hampir tidak ada orang yang aku kenal. Aku harap kedepannya bisa berkawan baik dengan kalian", lega hati Demung Renggos mendengar jawaban Airlangga itu. Saat dia akan bicara lagi, mata Narotama terlihat mendelik kereng pada nya hingga dia terpaksa urungkan niatnya untuk bicara lagi.

Malam itu adalah malam pertama Airlangga tinggal di Istana Kotaraja Wuwatan. Tentu saja ia susah memejamkan mata karena belum terbiasa dengan suasana di Kotaraja Wuwatan ini. Hingga hampir tengah malam, Airlangga masih juga belum bisa memicingkan matanya barang sebentar.

Akhirnya untuk mengatasi hal ini, Airlangga berjalan keluar dari dalam Keputran Wuwatan. Saat itu, di berkeliling di sekitar taman sari istana. Cahaya bulan yang mendekati purnama membuat suasana malam hari di taman sari ini terasa sangat indah.

Namun, Airlangga langsung menghentikan langkahnya tatkala ia melihat sebuah bayangan berjalan mendekati salah satu bangku yang ada ditengah halaman. Tak ingin ketahuan, Airlangga pun segera melesat ke balik pohon sawo yang ada di dekat tempat ia berada. Dari balik keremangan cahaya bulan yang mendekati purnama, nampak jelas wajah seorang perempuan cantik sedang menatap ke langit timur. Sepertinya ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.

'Siapa perempuan cantik ini? Kenapa malam buta begini malah kelayapan di sini?', batin Airlangga sembari terus menatap ke arah perempuan cantik berbaju bangsawan itu.

Tiba-tiba..

Shhhrriinggg shhhrriinggg!!

Suara desingan senjata rahasia terdengar di telinga Airlangga. Pantulan cahaya dari dua jarum berwarna perak terlihat oleh mata sang pangeran muda. Itu jelas mengarah pada perempuan cantik itu. Tak ingin ada orang terbunuh di depan mata nya, Airlangga pun segera melesat cepat kearah perempuan cantik berbaju hijau muda itu secepat kilat.

"Aawwaaaasssshhh!!!"

Mendengar suara peringatan itu, perempuan cantik itu menoleh tepat saat Airlangga menyambar pinggang nya yang ramping.

Chhreepppppph chhreepppppph!!

Dua jarum berwarna perak itu pun langsung menancap di bangku kayu tempat duduk sang perempuan cantik. Dia lolos dari maut. Airlangga pun segera menoleh ke arah asal serangan untuk mencari keberadaan orang yang berusaha mencelakai perempuan cantik itu namun tak seorangpun terlihat disana.

Sadar bahwa ia telah ditolong, perempuan cantik itu pun segera mendekati Airlangga sembari tersenyum manis. Dengan lembut ia bertanya,

"Terimakasih atas pertolongannya, Kisanak.

Kalau boleh tahu, siapa nama mu?"

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

semangat thor lanjut

2024-06-07

0

baca yg gue suka

baca yg gue suka

namaku?
gue nih calon suami mu
wkwkwk
lanjuuut

2024-02-29

1

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

eaaaaa! eaaa!

2024-02-24

0

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!