Pertapa Tua dan Kelima Muridnya

"Dari Kerajaan Bedahulu?

Jangan-jangan kamu adalah orang yang akan menjadi suami Gusti Putri Galuh Sekar?", tanya Senopati Cakrajaya yang tidak bisa menyembunyikan lagi rasa keterkejutannya.

Belum sempat Airlangga menjawab, Jelantik melangkah maju mendekati Airlangga dan Senopati Cakrajaya. Dia segera menghaturkan sembah pada Airlangga sebelum berbicara.

"Beliau memang Pangeran Airlangga, putra sulung Gusti Prabu Dharma Udhayana dan Gusti Ratu Gunapriya Darmapatni, penguasa Kerajaan Bedahulu. Beliau datang ke Tanah Jawadwipa untuk dinikahkan dengan Gusti Putri Galuh Sekar, Gusti Senopati...", sahut Jelantik segera.

Mendengar penuturan Jelantik, semua orang terkejut bukan main. Tak hanya Senopati Cakrajaya, Mpu Tanu dan Benggol benar-benar tidak menduga bahwa orang yang hampir mereka celakai adalah calon menantu dari Raja Kerajaan Medang Kamulan.

Keduanya segera berlutut dan menyembah pada Airlangga.

"Ampuni kami Gusti Pangeran...

Kami benar-benar tidak tahu jika berhadapan dengan calon menantu dari Gusti Prabu Dharmawangsa. Kami benar-benar bodoh. Mohon ampuni kami...", ucap Mpu Tanu segera.

"Gusti Pangeran...

Silahkan beri jawaban untuk mereka. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan ini", ucap Senopati Cakrajaya sembari menatap ke arah Airlangga. Semua orang pun langsung ikut menatap ke arah pangeran muda dari Nusa Bali ini. Berbagai pertanyaan muncul di benak semua orang tentang apa yang akan di lakukan oleh Airlangga untuk membalas kesombongan Mpu Tanu dan Benggol.

Hemmmmmmm...

"Aku datang ke Pulau Jawa ini bukan untuk mencari musuh atau menciptakan musuh akan tetapi aku ingin membangun sebuah hubungan baik dengan semua orang.

Mereka berdua menjadi angkuh dan sombong, itu karena tidak mengenal ku juga tidak mendapatkan pengawasan dari atasannya. Jadi jika ingin membenahi sikap mereka, maka harus ada pihak yang bertanggung jawab. Kali ini aku akan mengampuni mereka berdua tapi jika di lain waktu mereka kedapatan berbuat seperti ini lagi, aku pasti akan menjatuhkan hukuman berat untuk mereka", ucap Airlangga dengan tegas dan penuh kewibawaan.

Semua orang pun langsung mengagumi sikap pengampun sekaligus kewibawaan nya.

"Terimakasih atas pengampunan nya, Gusti Pangeran..

Kami berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Terimakasih Gusti Pangeran, terimakasih..", ucap Mpu Tanu sembari bersujud kepada Airlangga diikuti Benggol dan kawan-kawan nya.

Selepas drama ini selesai, Senopati Cakrajaya bersama para prajurit Medang Kamulan yang menyamar pun segera mengawal rombongan pangeran muda dari Nusa Bali ini. Mereka meninggalkan pelabuhan Hujung Galuh hari itu juga agar secepatnya sampai di Kotaraja Wuwatan yang ada di sebelah barat.

Kebetulan saja saat itu tugas Senopati Cakrajaya sudah rampung. Dia baru saja mengantarkan utusan dari Negeri Gurun ( Lombok saat ini ) yang baru saja bertemu dengan Prabu Dharmawangsa di Kotaraja Wuwatan. Saat itu, Prabu Dharmawangsa memang sedang giat menjalin hubungan baik dengan negeri negeri tetangga Kerajaan Medang untuk membendung meluasnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya dari Suvarnabhumi atau Pulau Andalas yang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai negeri maritim besar di wilayah barat Nusantara.

Sebagai penerus dari Balaputradewa yang terusir dari Kerajaan Mataram Kuno, Sri Marawiyottunggawarman ingin merebut kembali tanah leluhur nya yang kini telah menjadi kekuasaan Dinasti Isyana. Dia banyak memberikan dukungan kepada para pemberontak di Tanah Jawadwipa terutama di sekitar wilayah Galuh Pakuan dan Kerajaan Medang agar mereka membuat kekacauan dengan harapan bisa melemahkan kekuatan dua kerajaan terbesar di Tanah Jawadwipa ini agar mudah untuk menguasainya.

Menyadari rencana besar dari Raja Sriwijaya ini, Prabu Dharmawangsa pun tidak tinggal diam. Dia pun menjalankan politik kekerabatan untuk memperkuat diri. Saat itu, dia menikahkan putri sulungnya dengan Prabu Jayabhupati penguasa Kerajaan Galuh Pakuan agar kedua kerajaan ini bisa bekerjasama saat serangan Sriwijaya datang. Strategi ini cukup berhasil membuat Sriwijaya yang semula begitu gencar melakukan pendekatan pada Galuh Pakuan, memilih berganti taktik dalam upaya menaklukkan Kerajaan Medang.

Kembali pada perjalanan Airlangga, selepas meninggalkan Pelabuhan Hujung Galuh, mereka semua terus bergerak menuju ke arah barat, menyusuri sisi selatan Sungai Kapulungan. Menjelang senja hari tiba, mereka tiba di sebuah hutan lebat yang bernama Hutan Tarik.

"Pangeran Airlangga..

Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan lagi perjalanan kita. Lihatlah, matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Kita terpaksa harus bermalam di sini", ujar Senopati Cakrajaya sembari menunjuk ke arah langit barat yang nampak telah memerah sebagai tanda bahwa sebentar lagi malam akan segera tiba. Para kelelawar yang terbang kesana-kemari mencari mangsa pun juga menjadi penanda bahwa tak lama lagi dunia akan menjadi gelap gulita.

"Kau benar, Gusti Senopati..

Sebaiknya kita bermalam saja di tempat ini. Tak baik jika memaksakan diri untuk meneruskan perjalanan dalam keadaan gelap", jawab Airlangga segera. Dia segera melompat turun dari kudanya begitu juga dengan Senopati Cakrajaya. Para pengikut mereka pun segera mengikuti langkah sang pimpinan.

Jelantik segera menyuruh bawahannya untuk mengumpulkan kayu kering sebagai bahan baku api unggun untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara malam itu. Sementara beberapa lainnya menyiapkan makanan kering yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai bekal untuk perjalanan jauh. Begitu juga dengan para pengikut Senopati Cakrajaya.

Senja dengan cepat digantikan oleh malam. Suara jangkrik dan belalang terdengar bersahutan seakan bernyanyi di tengah keheningan malam Hutan Tarik. Beberapa kali terdengar suara burung hantu yang bertengger di ranting pohon besar di atas tempat bermalam rombongan Airlangga.

Malam itu, Senopati Cakrajaya mencoba untuk menyelami kepribadian Airlangga dengan banyak mengutarakan pertanyaan sembari berdiang menghangatkan tubuh dari udara dingin yang menusuk tulang. Sang pangeran muda itu dengan ramah dan sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan Senopati Cakrajaya. Dari situlah, perwira tinggi prajurit Kerajaan Medang ini bisa memahami perwatakan dari calon suami Putri Galuh Sekar ini.

Tiba-tiba saja, Senopati Cakrajaya menghentikan omongannya saat dia mendengar suara ranting kering patah diinjak oleh sesuatu. Hutan Tarik menyimpan banyak sekali hewan buas karena keasriannya. Tak hanya harimau Jawa, bahkan serigala dan babi hutan pun masih banyak di tempat itu.

Kreeekk kleeekkhh...

Suara dahan kering patah terinjak ini semakin lama semakin mendekat. Senopati Cakrajaya pun segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk bersiap menghadapi segala sesuatu. Suasana tegang pun seketika menyelimuti seluruh tempat itu.

Dari arah selatan, sesosok bayangan melangkah mendekati tempat itu. Ternyata itu adalah seorang pertapa dengan diiringi oleh 5 orang anak muda yang sepertinya adalah murid-murid nya.

Nampak wajah mereka yang sedikit kuyu menandakan bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh. Raut wajah lega pun langsung terlihat dari wajah semua orang yang ada di tempat itu melihat kemunculan mereka.

"Berhenti di situ!

Siapa kalian semua dan mau apa malam-malam begini keluyuran di tengah hutan?", hardik Jelantik sembari menatap tajam ke arah mereka.

"Permisi Kisanak..

Mohon maaf jika kedatangan saya dan murid-murid saya mengganggu kenyamanan kalian semua beristirahat. Aku Begawan Bagaspati. Ini murid-murid ku, Wanabhaya, Waringin, Narashima, Sakri dan Rungkat. Kami sedang dalam perjalanan pulang ke tempat tinggal kami di lereng Gunung Penanggungan. Kami kemalaman di jalan. Mohon kiranya dapat mengijinkan kami untuk ikut berdiang menghangatkan badan", ucap pertapa paruh baya itu segera.

Mendengar ucapan permohonan dari seorang pertapa itu, Senopati Cakrajaya menoleh ke arah Airlangga. Melihat Airlangga mengangguk tidak keberatan, Senopati Cakrajaya pun segera angkat bicara.

"Silahkan saja Begawan.. Masih banyak tempat di sini..

Kalau kalian mau, masih ada beberapa makanan kering yang bisa digunakan untuk mengganjal perut", ucap Senopati Cakrajaya sembari mempersilahkan rombongan itu untuk duduk bersama mereka.

Begitu mendengar omongan Senopati Cakrajaya, Begawan Bagaspati dan kelima orang muridnya itu segera duduk di depan api unggun. Sepertinya mereka benar-benar kedinginan karena udara malam di Hutan Tarik begitu dingin malam hari itu.

"Kalian ini darimana? Kenapa sampai kemalaman di tempat seperti ini?", tanya Senopati Cakrajaya sembari melirik ke arah mereka berenam.

"Sebenarnya, kami baru saja pulang dari acara pernikahan anak saudara seperguruan ku di Kambang Putih, Kisanak..

Di sana terjadi keributan besar karena ulah seorang pendekar yang ingin mempersunting anak dari saudara seperguruan ku itu. Dia membawa sejumlah besar pendekar untuk mengacaukan pernikahan itu hingga terjadi pertarungan sengit antara mereka.

Aku terpaksa harus menyelamatkan nyawa para murid ku karena mereka masih belum cukup kemampuan beladiri untuk menghadapi para pendekar dunia persilatan itu hingga sampai di tempat ini. Itulah cerita sebenarnya, Kisanak..", ucap Begawan Bagaspati sembari menghela nafas berat.

Senopati Cakrajaya melirik ke arah para murid Begawan Bagaspati dan memang benar beberapa bekas luka dan lebam masih menghiasi wajah dan tubuh mereka. Meskipun demikian, mereka tetap semangat menyantap makanan kering yang diberikan oleh para prajurit Bedahulu.

"Kalau begitu, beristirahat lah dengan tenang disini Begawan..

Urusan penjagaan, biar aku dan orang-orang ku yang melakukannya. Kalian semua pulihkan saja tenaga kalian", balas Senopati Cakrajaya sembari tersenyum tipis. Begawan Bagaspati pun mengangguk mengerti.

Namun ketenangan di tempat itu tidak berlangsung lama. Saat malam mulai merangkak naik pada puncaknya, tiba-tiba saja terdengar suara yang langsung membangunkan semua orang yang bermalam di tempat itu.

"Rupanya kalian bersembunyi disini ya?!!!"

Terpopuler

Comments

Ignatius Sumardi

Ignatius Sumardi

Ini pasti dekat dg LAPINDO.....

2024-07-18

0

Imam Sutoto

Imam Sutoto

top markotop story lanjut

2024-06-07

0

Darien Gap

Darien Gap

keren. aku subscribe thor. ayo dukung karya silat lokal/Rose//Rose/

2024-03-29

1

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!