"Dari Kerajaan Bedahulu?
Jangan-jangan kamu adalah orang yang akan menjadi suami Gusti Putri Galuh Sekar?", tanya Senopati Cakrajaya yang tidak bisa menyembunyikan lagi rasa keterkejutannya.
Belum sempat Airlangga menjawab, Jelantik melangkah maju mendekati Airlangga dan Senopati Cakrajaya. Dia segera menghaturkan sembah pada Airlangga sebelum berbicara.
"Beliau memang Pangeran Airlangga, putra sulung Gusti Prabu Dharma Udhayana dan Gusti Ratu Gunapriya Darmapatni, penguasa Kerajaan Bedahulu. Beliau datang ke Tanah Jawadwipa untuk dinikahkan dengan Gusti Putri Galuh Sekar, Gusti Senopati...", sahut Jelantik segera.
Mendengar penuturan Jelantik, semua orang terkejut bukan main. Tak hanya Senopati Cakrajaya, Mpu Tanu dan Benggol benar-benar tidak menduga bahwa orang yang hampir mereka celakai adalah calon menantu dari Raja Kerajaan Medang Kamulan.
Keduanya segera berlutut dan menyembah pada Airlangga.
"Ampuni kami Gusti Pangeran...
Kami benar-benar tidak tahu jika berhadapan dengan calon menantu dari Gusti Prabu Dharmawangsa. Kami benar-benar bodoh. Mohon ampuni kami...", ucap Mpu Tanu segera.
"Gusti Pangeran...
Silahkan beri jawaban untuk mereka. Saya tidak akan ikut campur dalam urusan ini", ucap Senopati Cakrajaya sembari menatap ke arah Airlangga. Semua orang pun langsung ikut menatap ke arah pangeran muda dari Nusa Bali ini. Berbagai pertanyaan muncul di benak semua orang tentang apa yang akan di lakukan oleh Airlangga untuk membalas kesombongan Mpu Tanu dan Benggol.
Hemmmmmmm...
"Aku datang ke Pulau Jawa ini bukan untuk mencari musuh atau menciptakan musuh akan tetapi aku ingin membangun sebuah hubungan baik dengan semua orang.
Mereka berdua menjadi angkuh dan sombong, itu karena tidak mengenal ku juga tidak mendapatkan pengawasan dari atasannya. Jadi jika ingin membenahi sikap mereka, maka harus ada pihak yang bertanggung jawab. Kali ini aku akan mengampuni mereka berdua tapi jika di lain waktu mereka kedapatan berbuat seperti ini lagi, aku pasti akan menjatuhkan hukuman berat untuk mereka", ucap Airlangga dengan tegas dan penuh kewibawaan.
Semua orang pun langsung mengagumi sikap pengampun sekaligus kewibawaan nya.
"Terimakasih atas pengampunan nya, Gusti Pangeran..
Kami berjanji tidak akan berbuat seperti ini lagi. Terimakasih Gusti Pangeran, terimakasih..", ucap Mpu Tanu sembari bersujud kepada Airlangga diikuti Benggol dan kawan-kawan nya.
Selepas drama ini selesai, Senopati Cakrajaya bersama para prajurit Medang Kamulan yang menyamar pun segera mengawal rombongan pangeran muda dari Nusa Bali ini. Mereka meninggalkan pelabuhan Hujung Galuh hari itu juga agar secepatnya sampai di Kotaraja Wuwatan yang ada di sebelah barat.
Kebetulan saja saat itu tugas Senopati Cakrajaya sudah rampung. Dia baru saja mengantarkan utusan dari Negeri Gurun ( Lombok saat ini ) yang baru saja bertemu dengan Prabu Dharmawangsa di Kotaraja Wuwatan. Saat itu, Prabu Dharmawangsa memang sedang giat menjalin hubungan baik dengan negeri negeri tetangga Kerajaan Medang untuk membendung meluasnya pengaruh Kerajaan Sriwijaya dari Suvarnabhumi atau Pulau Andalas yang sedang berada di puncak kejayaannya sebagai negeri maritim besar di wilayah barat Nusantara.
Sebagai penerus dari Balaputradewa yang terusir dari Kerajaan Mataram Kuno, Sri Marawiyottunggawarman ingin merebut kembali tanah leluhur nya yang kini telah menjadi kekuasaan Dinasti Isyana. Dia banyak memberikan dukungan kepada para pemberontak di Tanah Jawadwipa terutama di sekitar wilayah Galuh Pakuan dan Kerajaan Medang agar mereka membuat kekacauan dengan harapan bisa melemahkan kekuatan dua kerajaan terbesar di Tanah Jawadwipa ini agar mudah untuk menguasainya.
Menyadari rencana besar dari Raja Sriwijaya ini, Prabu Dharmawangsa pun tidak tinggal diam. Dia pun menjalankan politik kekerabatan untuk memperkuat diri. Saat itu, dia menikahkan putri sulungnya dengan Prabu Jayabhupati penguasa Kerajaan Galuh Pakuan agar kedua kerajaan ini bisa bekerjasama saat serangan Sriwijaya datang. Strategi ini cukup berhasil membuat Sriwijaya yang semula begitu gencar melakukan pendekatan pada Galuh Pakuan, memilih berganti taktik dalam upaya menaklukkan Kerajaan Medang.
Kembali pada perjalanan Airlangga, selepas meninggalkan Pelabuhan Hujung Galuh, mereka semua terus bergerak menuju ke arah barat, menyusuri sisi selatan Sungai Kapulungan. Menjelang senja hari tiba, mereka tiba di sebuah hutan lebat yang bernama Hutan Tarik.
"Pangeran Airlangga..
Sepertinya kita tidak bisa melanjutkan lagi perjalanan kita. Lihatlah, matahari sudah hampir terbenam di ufuk barat. Kita terpaksa harus bermalam di sini", ujar Senopati Cakrajaya sembari menunjuk ke arah langit barat yang nampak telah memerah sebagai tanda bahwa sebentar lagi malam akan segera tiba. Para kelelawar yang terbang kesana-kemari mencari mangsa pun juga menjadi penanda bahwa tak lama lagi dunia akan menjadi gelap gulita.
"Kau benar, Gusti Senopati..
Sebaiknya kita bermalam saja di tempat ini. Tak baik jika memaksakan diri untuk meneruskan perjalanan dalam keadaan gelap", jawab Airlangga segera. Dia segera melompat turun dari kudanya begitu juga dengan Senopati Cakrajaya. Para pengikut mereka pun segera mengikuti langkah sang pimpinan.
Jelantik segera menyuruh bawahannya untuk mengumpulkan kayu kering sebagai bahan baku api unggun untuk menghangatkan badan dari dinginnya udara malam itu. Sementara beberapa lainnya menyiapkan makanan kering yang sudah dipersiapkan sebelumnya sebagai bekal untuk perjalanan jauh. Begitu juga dengan para pengikut Senopati Cakrajaya.
Senja dengan cepat digantikan oleh malam. Suara jangkrik dan belalang terdengar bersahutan seakan bernyanyi di tengah keheningan malam Hutan Tarik. Beberapa kali terdengar suara burung hantu yang bertengger di ranting pohon besar di atas tempat bermalam rombongan Airlangga.
Malam itu, Senopati Cakrajaya mencoba untuk menyelami kepribadian Airlangga dengan banyak mengutarakan pertanyaan sembari berdiang menghangatkan tubuh dari udara dingin yang menusuk tulang. Sang pangeran muda itu dengan ramah dan sopan menjawab pertanyaan-pertanyaan Senopati Cakrajaya. Dari situlah, perwira tinggi prajurit Kerajaan Medang ini bisa memahami perwatakan dari calon suami Putri Galuh Sekar ini.
Tiba-tiba saja, Senopati Cakrajaya menghentikan omongannya saat dia mendengar suara ranting kering patah diinjak oleh sesuatu. Hutan Tarik menyimpan banyak sekali hewan buas karena keasriannya. Tak hanya harimau Jawa, bahkan serigala dan babi hutan pun masih banyak di tempat itu.
Kreeekk kleeekkhh...
Suara dahan kering patah terinjak ini semakin lama semakin mendekat. Senopati Cakrajaya pun segera memberikan isyarat kepada para pengikutnya untuk bersiap menghadapi segala sesuatu. Suasana tegang pun seketika menyelimuti seluruh tempat itu.
Dari arah selatan, sesosok bayangan melangkah mendekati tempat itu. Ternyata itu adalah seorang pertapa dengan diiringi oleh 5 orang anak muda yang sepertinya adalah murid-murid nya.
Nampak wajah mereka yang sedikit kuyu menandakan bahwa mereka baru saja melakukan perjalanan jauh. Raut wajah lega pun langsung terlihat dari wajah semua orang yang ada di tempat itu melihat kemunculan mereka.
"Berhenti di situ!
Siapa kalian semua dan mau apa malam-malam begini keluyuran di tengah hutan?", hardik Jelantik sembari menatap tajam ke arah mereka.
"Permisi Kisanak..
Mohon maaf jika kedatangan saya dan murid-murid saya mengganggu kenyamanan kalian semua beristirahat. Aku Begawan Bagaspati. Ini murid-murid ku, Wanabhaya, Waringin, Narashima, Sakri dan Rungkat. Kami sedang dalam perjalanan pulang ke tempat tinggal kami di lereng Gunung Penanggungan. Kami kemalaman di jalan. Mohon kiranya dapat mengijinkan kami untuk ikut berdiang menghangatkan badan", ucap pertapa paruh baya itu segera.
Mendengar ucapan permohonan dari seorang pertapa itu, Senopati Cakrajaya menoleh ke arah Airlangga. Melihat Airlangga mengangguk tidak keberatan, Senopati Cakrajaya pun segera angkat bicara.
"Silahkan saja Begawan.. Masih banyak tempat di sini..
Kalau kalian mau, masih ada beberapa makanan kering yang bisa digunakan untuk mengganjal perut", ucap Senopati Cakrajaya sembari mempersilahkan rombongan itu untuk duduk bersama mereka.
Begitu mendengar omongan Senopati Cakrajaya, Begawan Bagaspati dan kelima orang muridnya itu segera duduk di depan api unggun. Sepertinya mereka benar-benar kedinginan karena udara malam di Hutan Tarik begitu dingin malam hari itu.
"Kalian ini darimana? Kenapa sampai kemalaman di tempat seperti ini?", tanya Senopati Cakrajaya sembari melirik ke arah mereka berenam.
"Sebenarnya, kami baru saja pulang dari acara pernikahan anak saudara seperguruan ku di Kambang Putih, Kisanak..
Di sana terjadi keributan besar karena ulah seorang pendekar yang ingin mempersunting anak dari saudara seperguruan ku itu. Dia membawa sejumlah besar pendekar untuk mengacaukan pernikahan itu hingga terjadi pertarungan sengit antara mereka.
Aku terpaksa harus menyelamatkan nyawa para murid ku karena mereka masih belum cukup kemampuan beladiri untuk menghadapi para pendekar dunia persilatan itu hingga sampai di tempat ini. Itulah cerita sebenarnya, Kisanak..", ucap Begawan Bagaspati sembari menghela nafas berat.
Senopati Cakrajaya melirik ke arah para murid Begawan Bagaspati dan memang benar beberapa bekas luka dan lebam masih menghiasi wajah dan tubuh mereka. Meskipun demikian, mereka tetap semangat menyantap makanan kering yang diberikan oleh para prajurit Bedahulu.
"Kalau begitu, beristirahat lah dengan tenang disini Begawan..
Urusan penjagaan, biar aku dan orang-orang ku yang melakukannya. Kalian semua pulihkan saja tenaga kalian", balas Senopati Cakrajaya sembari tersenyum tipis. Begawan Bagaspati pun mengangguk mengerti.
Namun ketenangan di tempat itu tidak berlangsung lama. Saat malam mulai merangkak naik pada puncaknya, tiba-tiba saja terdengar suara yang langsung membangunkan semua orang yang bermalam di tempat itu.
"Rupanya kalian bersembunyi disini ya?!!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Ignatius Sumardi
Ini pasti dekat dg LAPINDO.....
2024-07-18
0
Imam Sutoto
top markotop story lanjut
2024-06-07
0
Darien Gap
keren. aku subscribe thor. ayo dukung karya silat lokal/Rose//Rose/
2024-03-29
1