Airlangga kaget mendengar berita itu. Segera ia masuk ke dalam balai pengobatan Padepokan Bukit Kembang, mengambil Keris Pulanggeni nya dan segera menuju ke arah pintu gerbang perguruan. Dia berbaur dengan para murid perguruan silat yang semuanya berisi perempuan itu.
Dalam keremangan malam, obor obor nampak berjalan mendekati Padepokan Bukit Kembang yang berada di kali Bukit Kembang. Cahaya bulan yang baru saja terbit di langit timur turut membantu penerangan meskipun tidak secerah matahari.
Dari arah timur, ratusan orang membawa obor terlihat semakin mendekat ke pintu gerbang padepokan. Para murid Padepokan Bukit Kembang nampak bersiaga dengan senjata terhunus. Suasana begitu terasa tegang di tempat itu.
Seorang lelaki bertubuh gempal dengan janggut putih pendek berjalan paling depan. Dia adalah Mpu Seca, pimpinan Padepokan Bukit Kendeng sekaligus kakak seperguruan Surodipo Si Pendekar Pemetik Bunga. Dewi Pratiwi yang berada di depan pintu gerbang Padepokan Bukit Kembang, langsung menghardiknya dengan keras.
"Tua bangka Seca...!!
Apa maksud mu membawa banyak orang kemari hah? Ingin menantang ku?", teriak Dewi Pratiwi dengan lantang.
"Hehehehehehehehe...
Kau tetap saja galak seperti dulu, Pratiwi. Meskipun sudah tua, kecantikan mu tetap saja cantik dan mempesona", rangkaian kata gombal dan manis meluncur dari mulut Mpu Seca.
Phhuuuiiiiiihhhhh...
"Aku jijik mendengar rayuan gombal mu, buaya buntung!
Cepat katakan saja apa mau mu? Jika tidak, aku tidak akan segan-segan untuk mengusir mu karena sudah mengganggu ketenteraman murid murid ku...", Dewi Pratiwi mendelik kereng pada Mpu Seca.
Asal tahu saja, ada kisah menarik dari kehidupan masa lalu Mpu Seca dan Dewi Pratiwi. Keduanya berasal dari satu kampung yang sama di lereng Gunung Pawinihan atau sekarang lebih dikenal sebagai Gunung Wilis. Nama kampung halaman mereka adalah Dholo, dimana Dewi Pratiwi adalah seorang anak lurah Dholo dan Mpu Seca merupakan putra pendeta agama.
Keduanya bersahabat sejak kecil. Saat keduanya beranjak dewasa, Dewi Pratiwi jatuh cinta pada seorang pemuda dari kampung sebelah yang bernama Dananjaya, anak Resi Sanggem yang menjadi pimpinan Pertapaan Tejalangit. Seca muda begitu kecewa karena hal itu dan merencanakan sebuah jebakan untuk menghabisi nyawa Dananjaya. Rencana itu berhasil namun hal itu diketahui oleh Dewi Pratiwi. Akibatnya, sahabat masa kecil itu menjadi musuh bebuyutan.
Setelah Resi Sanggem mengetahui bahwa pembunuh anaknya dari laporan Dewi Pratiwi, lelaki tua itu menghajar Seca sampai cacat tangan kirinya. Setelah itu ia dilemparkan ke jurang. Rupanya nasib masih berpihak pada Seca muda. Seorang pemburu di hutan lebat itu menyelamatkan nyawa nya. Setelah itu, Seca muda bertekad untuk menjadi seorang pendekar yang pilih tanding agar bisa membalaskan dendam nya.
Usai berguru kepada Resi Pandu di wilayah barat daya Gunung Wilis, Seca muda melaksanakan mimpi nya untuk balas dendam. Pertapaan Tejalangit di hancurkan dan Resi Sanggem berhasil dia bunuh. Setelah itu, dia kembali ke Wanua Dholo dan menantang Lurah Mpu Prana, ayah Dewi Pratiwi. Lurah Dholo itu bukan lawan yang sepadan bagi Mpu Seca, hingga mudah bagi Mpu Seca membunuh nya.
Dewi Pratiwi pun tak luput dari bagian rencana balas dendam Mpu Seca. Perempuan cantik itu pun ia perkosa setelah rumah tempat tinggal nya dibakar oleh Seca muda. Sesaat sebelum ajal menjemput Dewi Pratiwi, sesosok bayangan perempuan cantik berbaju putih menyelamatkan nyawa nya. Perempuan muda cantik itu lalu membawa Dewi Pratiwi ke kaki Bukit Kembang, mengobati nya dan mengajarkan ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dapat ia gunakan untuk membela diri. Setelah itu, perempuan muda cantik berbaju putih yang kemudian diketahui sebagai Dewi Anggrek Bulan ini meninggalkan tempat itu untuk memulai pertapaan nya di tempat yang tidak diketahui.
Maka setelah itu, Dewi Pratiwi mulai sepak terjangnya di dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Dia pun dijuluki sebagai Bidadari Bukit Kembang yang malang melintang menegakkan keadilan. Akhirnya takdir mempertemukan Dewi Pratiwi dan Mpu Seca. Mereka sempat bertarung sengit hingga tak satupun kalah. Keduanya luka parah akibat pertarungan ini.
Dewi Pratiwi kembali ke Bukit Kembang dan mendirikan Padepokan Bukit Kembang untuk menampung para perempuan yang teraniaya oleh laki-laki, para gadis muda yang kabur dari rumah karena dijodohkan dan juga para perempuan muda yang ingin memperdalam ilmu beladiri.
Sedangkan Mpu Seca kembali ke Padepokan Bukit Kendeng dan menerima murid yang menjadikannya sebagai seorang pimpinan padepokan pencak silat yang memiliki nama besar di dunia persilatan. Antara kedua perguruan silat inipun langsung bermusuhan dan saling membenci satu sama lain.
Inilah rahasia yang dipendam rapat-rapat oleh Dewi Pratiwi hingga hari ini.
"Ada orang yang sudah membunuh saudara seperguruan ku, Bidadari Bukit Kembang..
Aku kemari untuk menuntut tanggung jawab dari nya. Jadi aku minta agar kau segera menyerahkan orang itu segera ", ucap Mpu Seca dengan nada suara penuh ancaman.
"Saudara seperguruan mu? Si Cabul Pemetik Bunga yang sudah memperkosa murid ku?
Phhuuuiiiiiihhhhh...
Dia pantas untuk mampus. Dewata sungguh punya mata hingga penjahat bejat itu dibunuh orang. Andaikata orang yang membunuhnya bersedia untuk bersembunyi di tempat ini, aku akan senang hati untuk melindungi nya", ucap Dewi Pratiwi segera.
"Setan alas!!
Jadi kau lebih memilih untuk bertarung dengan ku daripada menyerahkan orang itu, Pratiwi? Kalau kau bersikeras untuk melindunginya, aku akan membumihanguskan perguruan silat mu ini!", mendengar ucapan Mpu Seca itu, Dewi Pratiwi malah menyunggingkan senyuman tipis penuh ejekan kepada nya.
"Siapa takut?!!
Maju saja kalau kau memang sudah bosan hidup, Seca!!!"
Murka sudah Mpu Seca mendengar jawaban itu. Dia langsung menoleh ke arah para muridnya sembari berkata, "Habisi mereka semua! Jangan sampai ada yang tersisa seorang pun!!".
Para murid Padepokan Bukit Kendeng yang sudah bersiap dari tadi, begitu perintah dari sang pimpinan itu diberikan, langsung menerjang maju ke arah para murid Padepokan Bukit Kembang. Pertarungan dua perguruan silat besar inipun langsung pecah di malam hari itu.
Dewi Pratiwi pun segera melesat cepat kearah Mpu Seca dengan mengibaskan tangannya yang memegang pedang. Angin kencang menderu cepat mengikuti sebuah cahaya merah yang keluar dari pedang di tangan kanannya.
Whhhuuuuuggggghhhh...
Mpu Seca yang sedikit banyak telah mengetahui tentang kemampuan beladiri Dewi Pratiwi, langsung menjejak tanah dengan keras hingga tubuhnya melenting tinggi ke udara. Cahaya merah berhawa panas itu hanya menyambar udara kosong sejengkal di bawah kakinya.
Dengan cepat, Mpu Seca bersalto dua kali di udara sebelum meluncur turun dengan deras ke arah Dewi Pratiwi. Golok Elang Emas, senjata andalannya, tergenggam erat di tangan kanannya dan langsung terayun ke arah kepala Sang Bidadari Bukit Kembang.
"Pecah kepala mu, Pratiwi!!"
Shhhrrrreeeeettttth...
Dewi Pratiwi pun segera angkat pedang di tangan kanannya untuk menangkis sabetan golok milik Mpu Seca.
Thhrraaanggg..!!
Dengan cepat, Dewi Pratiwi segera melesakkan tapak tangan nya ke arah perut Mpu Seca. Melihat hal ini, Mpu Seca yang tidak bisa menghindar lagi, memapak pergerakan tangan kiri Sang Bidadari Bukit Kembang dengan tangan kiri nya juga.
Whhhuuuuuggggghhhh..
Blllaaammmmmmmm!!!!
Ledakan dahsyat terdengar saat kedua telapak tangan mereka beradu. Bagaimanapun juga, keduanya adalah pendekar pendekar pilih tanding yang cukup punya nama besar di dunia persilatan Tanah Jawadwipa. Setiap gerakan nya selalu mengandung kekuatan tenaga dalam yang luar biasa.
Baik Mpu Seca maupun Dewi Pratiwi sama-sama tersurut mundur beberapa tombak ke belakang. Rasa kebas dan ngilu pada pergelangan tangan dirasakan oleh kedua orang itu karena keduanya memiliki tingkat tenaga dalam yang berimbang.
'Brengsek!!
Kalau Pratiwi terus menghalangi jalan ku untuk menemukan pemilik Keris Pulanggeni, aku pasti harus bertarung sekuat tenaga. Sial, apa yang harus aku lakukan?', batin Mpu Seca sambil mengibaskan tangan kirinya yang sedikit kesemutan.
Randu, orang yang melihat kematian Surodipo Si Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng, menatap tajam ke arah sosok lelaki muda yang sedang bertarung melawan para murid Padepokan Bukit Kendeng. Keremangan malam hari membuat nya sulit untuk melihat dengan jelas. Akan tetapi, saat dia melihat jelas wajah Airlangga, dia langsung berteriak keras.
"Guru! Orang yang membunuh Paman Surodipo ada disini!!"
Teriakan keras dari Randu, terdengar di telinga Mpu Seca. Lelaki tua berjanggut putih pendek ini pun segera menggenjot tubuhnya sebelum melesat ke arah Randu. Namun belum genap sepuluh langkah, Dewi Pratiwi sudah muncul di hadapan nya sambil bertanya,
"Kau mau kemana, bajingan tua?!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
mantap gan lanjutkan
2024-06-07
0
Umar Muhdhar
yeaaa
2024-02-23
1
fix
mantap dan makin seru ceritanya Thor 👍👍👍👍
2024-01-31
1