Di Pelabuhan Hujung Galuh

Airlangga pun langsung menoleh ke arah sumber suara. Sesosok laki-laki paruh baya bertubuh gempal dengan wajah penuh bekas luka dan kumis tebal nampak berdiri disana bersama dengan beberapa orang lelaki berwajah sangar dan tampilan menyeramkan.

Dia adalah Benggol. Orang orang Pelabuhan Hujung Galuh ini mengenalnya sebagai seorang pemalak dan pembuat onar yang sering mengganggu para pedagang asing maupun saudagar kaya yang berlabuh disini. Selain berwajah seram dan memiliki kepandaian ilmu beladiri, Benggol nyatanya adalah sanak saudara dari Syahbandar Pelabuhan Hujung Galuh, Mpu Tanu, hingga para petugas keamanan di pelabuhan Hujung Galuh pun enggan berurusan dengan nya dan cenderung membiarkan sikap Benggol yang sering bertindak diluar batas kemanusiaan. Bukannya takut pada Benggol, tapi mereka malas berurusan dengan Mpu Tanu yang terkenal sangat melindungi keluarganya.

"Bukankah ini adalah pelabuhan terbuka yang bebas dari pajak dan ijin milik Kerajaan Medang, Kisanak?

Kenapa aku tidak pernah mendengar tentang ijin dari mu sebelumnya?", jawab Airlangga sambil mengelus dagunya.

"Bebas pajak kata mu?!

Hehehehe, sepertinya orang asing seperti mu belum pernah sekalipun menjejakkan kaki di pelabuhan Hujung Galuh ini jadi pantas saja tidak tahu apa aturan yang berlaku disini. Heh pemuda bau kencur, buka lebar-lebar telinga mu. Daerah ini adalah wilayah kekuasaan Benggol, Si Tangan Besi.

Cepat berikan aku sepuluh kepeng perak sebab jika tidak, kau tanggung sendiri akibat nya..!!", lelaki bertubuh gempal dengan kumis tebal itu mengepalkan tangannya erat-erat di depan wajah Airlangga sembari mendelik kereng pada pemuda tampan itu.

"Kalau aku menolak?", ucap Airlangga tanpa kenal takut.

"Huh, berani juga kau rupanya. Kalau begitu, jangan menyesali apa yang sudah kau lakukan.

Bocah-bocah, hajar dia!!", Benggol segera menggerakkan tangannya sebagai isyarat kepada para pengikutnya untuk bergerak. Empat orang lelaki bertubuh kekar dengan wajah sangar itu pun segera mengepung Airlangga dari berbagai arah. Tanpa menunggu lama, mereka berempat pun segera menerjang maju ke arah sang pangeran dari Bali ini.

Seorang lelaki bertubuh kekar dengan bekas luka di dagu, dengan cepat melayangkan pukulannya ke arah kepala Airlangga.

Whhhuuuuuggggghhhh!

Sang pangeran muda ini segera berkelit menghindari hantaman tangan lelaki itu dengan bergerak ke arah samping kiri. Lalu dengan cepat ia memutar tubuhnya sembari melesakkan sebuah tendangan cepat kaki kiri ke arah pinggang lawannya.

Bhhhuuuuuuggggh..

Oooouuuuuuggggghhhhh!!

Kerasnya tendangan pangeran muda yang bertubuh kekar itu membuat si lelaki berwajah sangar tadi seketika tersungkur menyusruk lantai dermaga pelabuhan. Dua orang kawannya yang melihat hal itu pun segera melompat maju ke arah Airlangga sambil melayangkan tendangan dan hantaman dari dua sisi yang berbeda.

Whhhuuuuuggggghhhh whhhuuuggghhhh..

Dengan cepat, Airlangga menjejak tanah dengan keras lalu melenting ke udara sambil berputar cepat hingga dua serangan lawan yang mengincar kepala dan pinggangnya pun hanya menghantam udara kosong saja. Dari atas, Airlangga mendarat turun tepat di atas pundak kedua penyerangnya dan dengan cepat melayangkan kedua lengan nya ke arah kepala mereka.

Dhhaaashh dhhaaaassshhh...

Aaauuuuggggghhhhh!!!

Raungan keras tertahan terdengar dari mulut kedua anak buah Benggol ini setelah hantaman lengan kiri kanan Airlangga menghajar wajah mereka. Keduanya segera terjungkal dengan wajah lebam dan satu gigi rompal.

Asal tahu saja, Airlangga telah di didik oleh Maharesi Batara Satyaguru dengan berbagai macam ilmu silat yang merupakan bekal nya sebagai seorang pangeran dan ksatria. Selain ilmu tata pemerintahan dan ilmu agama yang mumpuni, Airlangga cukup cerdas menyerap ilmu silat yang diajarkan oleh guru nya. Meskipun belum sempat tahap akhir, namun Airlangga cukup mahir dalam bertarung dengan tangan kosong maupun dengan senjata.

Pengikut Benggol yang terakhir langsung mencabut golok di pinggangnya sebelum melesat ke arah Airlangga. Dengan penuh nafsu membunuh, dia segera mengayunkan senjatanya ke arah leher sang pangeran muda.

Shhhrrrreeeeettttth!!!

Airlangga merendahkan tubuhnya menghindari sabetan golok milik lawan. Dia juga segera membuat gerakan memutar dengan kaki kanan nya menyapu pijakan lawan. Si pengikut Benggol pun segera melompat untuk menghindari serangan balik Airlangga. Dia lolos dari sergapan cepat Airlangga akan tetapi tidak secepat itu.

Begitu serangannya berhasil di hindari, Airlangga membanting tubuh nya ke arah lawan dan melayangkan hantaman cepat kearah lawan yang baru saja menginjak tanah.

Bhhhuuuuuuggggh..

Aaaarrrgggggghhhhh!!

Pekik tertahan terdengar dari mulut pengikut Benggol yang harus terjungkal usai menerima hantaman keras sang pangeran muda. Melihat para pengikut nya dijatuhkan dengan mudah oleh Airlangga, Benggol mendengus dingin sembari melompat maju ke arah pemuda tampan itu usai mencabut pedang yang ada di pinggangnya.

"Mampus kau, keparat..!"

Sembari memaki-maki Airlangga, Benggol membabatkan pedang nya ke arah Airlangga. Pertarungan sengit antara mereka pun segera terjadi.

Para prajurit dari Kerajaan Bedahulu yang sedang menurunkan barang bawaan mereka dari Balidwipamandala, menghentikan pekerjaan nya begitu banyak orang berlari menuju ke arah pertarungan sengit antara Benggol dan Airlangga. Orang-orang yang penasaran ingin tahu apa yang sedang terjadi ini karena sering mendapat penindasan dari Benggol, benar-benar berharap agar Airlangga bisa memberi pelajaran pada pembuat onar ini.

"Bli Jelantik,

Kemana Gusti Pangeran Airlangga? Kenapa tidak ada di dalam kapal?", tanya seorang prajurit yang memanggul peti kayu dari atas geladak kapal jung pada seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tipis yang merupakan pimpinan para prajurit pengawal dari Kerajaan Bedahulu. Namanya adalah Jelantik.

Seketika itu juga, Jelantik tersadar akan hal itu. Dengan cepat kecemasan melanda hati nya setelah ia menghubungkan antara kabar hilangnya Pangeran Airlangga dengan pertarungan sengit yang menjadi tontonan bagi para pekerja di Pelabuhan Hujung Galuh.

"Kau dan kau, ikuti aku...", ucap Jelantik segera. Ketiganya pun segera bergegas menuju ke arah pertarungan yang menjadi tontonan bagi para warga Pelabuhan Hujung Galuh ini. Setelah menerobos kerumunan orang yang menonton, apa yang menjadi kekhawatiran Jelantik pun terjadi.

Nampak Benggol telah menerima beberapa pukulan dan tendangan dari Airlangga. Beberapa bagian wajah nya nampak bengkak dan lebam. Meskipun sudah dibantu oleh para pengikutnya, namun kepandaian ilmu silat milik Airlangga bukanlah lawan yang sepadan dengan kemampuan beladiri yang mereka miliki.

Memang, semenjak menginjak usia remaja, Airlangga gemar sekali menuntut ilmu. Gurunya saja sampai kewalahan menghadapi pangeran muda ini karena rasa ingin tahunya yang tinggi. Karena itu, walaupun baru saja menginjak usia 16 tahun, pangeran muda ini telah menguasai ilmu silat yang cukup tinggi kendati masih belum bisa dikatakan sebagai seorang jagoan dunia persilatan. Karena itu, mudah saja baginya untuk menghajar si pemalak seperti Benggol dan kawan-kawan.

Bhhhuuuuuuggggh bhhhuuuuuuggggh..

Auuuggghhhhh!!

Benggol meraung keras setelah dua tendangan beruntun menghajar punggung nya. Pemalak yang sangat meresahkan masyarakat di sekitar Pelabuhan Hujung Galuh ini langsung terjungkal menyusruk dermaga pelabuhan. Wajah nya pun semakin terlihat buruk akibat luka parut pada dahi dan pipinya yang tergores kayu kayu lantai dermaga.

Bersamaan dengan itu, sepasukan prajurit datang bersama dengan Mpu Tanu sang kepala pelabuhan Hujung Galuh.

"Hentikan semua ini ..!!"

Benggol segera menoleh ke arah Mpu Tanu. Begitu melihat kerabatnya itu datang, sebuah seringai licik terukir di wajahnya. Segera ia bangkit dari tempat jatuhnya dan berjalan dengan terpincang-pincang ke arah Mpu Tanu.

"Paman Tanu Paman Tanu..

Bajingan itu sudah menganiaya ku. Lihatlah bagaimana ada luka di wajah dan kepala ku. Kau harus memberikan keadilan untuk ku..", rengek Benggol seperti seorang anak kecil. Mpu Tanu mendengus keras mendengar omongan Benggol dan langsung menatap tajam ke arah Airlangga.

"Kau yang memukuli keponakan ku?!"

"Dia sendiri yang memancing keributan. Aku hanya membela diri saja", ucap Airlangga tanpa rasa takut sedikitpun.

Phhuuuiiiiiihhhhh..

"Bocah kemarin sore, besar sekali nyali mu ya? Ini adalah wilayah kekuasaan ku, Mpu Tanu, kepala pelabuhan Hujung Galuh. Semua yang terjadi di tempat ini, harus melalui ijin ku dan aku tidak mengijinkan siapapun orang nya bertindak kasar pada keponakan ku ini", ucap Mpu Tanu penuh kesombongan.

"Jadi apa aku harus diam saja saat dia memalak ku, Pak Tua?", tanya Airlangga kemudian.

"Sedikit uang yang keluar, tentu tidak akan memberatkan semua orang. Yang lain juga tidak keberatan menyerahkan sedikit uang nya untuk keponakan ku.

Benar bukan?", Mpu Tanu mengedarkan pandangannya pada semua orang yang menonton apa yang sedang terjadi. Mereka semua nampak sedikit menunduk seperti memiliki ketakutan tersendiri pada lelaki tua berpakaian serba mewah ini.

Beberapa orang bercaping bambu yang tertarik dengan keributan yang sedang terjadi, ikut mendengarkan semua omongan Mpu Tanu. Salah seorang diantara mereka langsung menggeram keras sembari mengepalkan tangannya erat-erat.

"Sebagai pejabat negara, tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu, Pak Tua. Kau tidak boleh bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat hanya karena membela seorang kerabat yang telah berbuat kesalahan.

Jika aku yang menjadi atasan mu dalam tata pemerintahan Kerajaan Medang ini, aku sudah pasti akan mencopot mu dari jabatan mu sekarang ini", ucap Airlangga dengan tegas.

Hahahahahahahaha...

"Mencopot ku dari jabatan ku?

Tak satupun orang yang berani untuk mencopot ku dari kedudukan ku ini, bocah tengik! Bahkan Gusti Adipati Mapanji Garungwangi, Adipati Hujung Galuh saat ini pun akan berpikir seribu kali untuk melakukannya.

Sekarang, enyahlah kau ke neraka!!"

Mpu Tanu memutar telapak tangan kanan nya dan sebuah cahaya kuning redup dengan asap putih tipis tercipta di telapak tangannya. Lalu secepat kilat dia menghantamkan nya ke arah Airlangga.

Whhhuuuuuggggghhhh...

Saat itulah, sesosok bayangan berkelebat cepat kearah serangan cepat ke arah serangan Mpu Tanu dan memapak nya dengan tapak tangan kanannya yang berwarna merah menyala seperti api.

Blllaaammmmmmmm...!!!

Ledakan dahsyat terdengar. Mpu Tanu tersurut mundur beberapa langkah ke belakang dan menatap ke arah sesosok lelaki paruh baya bertubuh tegap yang kini berdiri di depan Airlangga. Mata Mpu Tanu langsung melebar kala mengetahui siapa orang yang berdiri di hadapannya.

"Jika aku yang ingin mencopot kedudukan mu, apa masih tidak bisa?!", ucap lelaki paruh baya bertubuh tegap itu sembari menatap tajam ke arah Mpu Tanu.

"Eh eh Gus-Gusti Senopati Cakrajaya..

Bu-bukan begitu maksud hamba. Tadi tadi itu hanya bercanda. Mohon tidak diambil hati..", kata Mpu Tanu penuh dengan ketakutan. Lelaki paruh baya yang merupakan salah satu dari beberapa perwira tinggi prajurit Kerajaan Medang yang kondang dengan kesaktiannya.

"Kau begitu jumawa dengan kekuasaan yang kau miliki dan sewenang-wenang terhadap orang yang tidak bersalah. Aku akan menemui Adipati Hujung Galuh untuk meminta pertanggungjawaban dari semua tindak-tanduk mu ini", lemas dengkul Mpu Tanu mendengar penuturan Senopati Cakrajaya. Dia hampir saja terduduk lemas andai saja Benggol tidak segera menahan tubuhnya.

"Anak muda, kau sepertinya bukan orang dari Tanah Jawadwipa ini. Darimana asal mu? Dan kemana tujuan mu?", Senopati Cakrajaya mengalihkan pandangannya pada Airlangga.

Mendengar pertanyaan dari orang yang yang telah membantu nya, Airlangga segera menjawab pertanyaan itu dengan sopan,

"Saya datang dari Kerajaan Bedahulu di Pulau Bali. Saya datang kemari atas perintah dari Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni,

Untuk memenuhi permintaan Gusti Prabu Dharmawangsa..."

Terpopuler

Comments

Arif

Arif

keren banget

2024-04-04

0

Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)

Shinta Ohi (ig: @shinta ohi)

kebanyakan kerajaan memang melakukan pernikahan politik

2024-04-03

0

Darien Gap

Darien Gap

mantap thor. airlangga top/Good//Good/

2024-03-29

0

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!