Sendang Made

Orang tua berpakaian compang-camping ini segera melepaskan pegangannya pada tangan Airlangga lalu berjalan menuju ke tepi telaga kecil atau sendang itu. Di sebuah batu besar pipih yang ada di tepi sendang ini, dia segera duduk dan mencelupkan kakinya hingga separuh betis ke dalam sendang berair jernih itu.

Airlangga yang penasaran sekaligus kagum pada kemampuan beladiri yang di miliki oleh kakek tua berpakaian compang-camping ini, segera menyusul nya dan duduk bersila di sebelah batu besar lain yang berjarak dua depa dari nya.

"Kakek tua..

Apa maksud mu membawa ku ke tempat ini? Tolong jelaskan, aku masih belum mengerti..", tanya Airlangga segera. Akan tetapi sebelum kakek tua itu bicara, dari arah selatan..

Jlleeeegggg..!!

Senopati Cakrajaya yang berhasil menyusul mendarat tak jauh dari tempat Airlangga berada. Dia hendak melesat ke arah sang pangeran muda namun segera urungkan niatnya setelah melihat isyarat tangan dari Airlangga yang mencegahnya untuk mendekat.

"Huuuuhhhhhh...

Sudah lama sekali aku tidak datang ke tempat ini. Sungguh benar benar sudah lama sekali.

Anak muda, nama ku adalah Resi Sapujagad. Aku adalah adik seperguruan Pangeran Sri Lokapala, anak menantu Mpu Sindok atau juga dikenal sebagai Maharaja Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa. Aku bisa melihat darah kakak seperguruan ku itu mengalir di dalam tubuh mu.

Kau datang saat yang tepat karena waktu ku tidak lama lagi. Jadi dengarkan baik-baik omongan ku dan jangan membantah.

Di dasar sendang ini, eyang mu menyimpan sebuah benda pusaka bertuah yang di sebut dengan nama Keris Pulanggeni. Keris pusaka itu memiliki daya linuwih tersendiri yakni mampu digunakan sebagai senjata yang memiliki unsur api dan juga dapat membunuh lawan yang bukan bangsa manusia.

Aku akan menggunakan tenaga dalam ku yang terakhir untuk menguatkan tubuh mu. Bisa tidak kau mendapatkan Keris Pulanggeni itu, tergantung pada takdir dan keberuntungan mu", setelah bicara panjang lebar, kakek tua yang mengaku bernama Resi Sapujagad itu segera bangkit dan berjalan di belakang Airlangga.

Lalu dengan cepat, ia mengarahkan tapak tangan kanan nya ke punggung Airlangga. Hawa panas pun langsung menyebar ke seluruh tubuh Airlangga. Tak berapa lama kemudian, Resi Sapujagad melepaskan tangannya dari punggung kiri Airlangga dan sebuah rajah berbentuk bulat seperti roda bergerigi tajam pun terlihat muncul di sana. Sebenarnya itu adalah untaian huruf Jawa Kuno yang saling berhubungan satu dengan lainnya hingga berbentuk seperti sebuah roda bergerigi tajam atau cakra.

"Aku tidak memberikan kekuatan ku pada tubuh mu, anak muda..

Tapi ini aku hanya membangkitkan kembali kekuatan yang mengalir dalam darah mu. Eyang leluhur mu, Sri Lokapala telah menyegel sebuah kekuatan mahadahsyat dalam darah setiap keturunannya. Kau harus sabar dan tekun belajar untuk bisa kembali menggunakan kekuatan itu", ucap Resi Sapujagad sembari menghela nafas panjang.

"Aku akan selalu mendengar petuah mu, Resi..

Lantas bagaimana cara aku untuk mendapatkan Keris Pulanggeni yang kau bilang ada di dasar telaga kecil ini?", tanya Airlangga kemudian. Mendekati pertanyaan itu, Resi Sapujagad tersenyum tipis sembari mengibaskan tangannya ke arah Airlangga.

"Tentu saja harus dengan menyelam.."

Angin kencang menderu cepat mengikuti kibasan tangan Resi Sapujagad, menyapu tubuh Airlangga hingga sang pangeran muda ini langsung terlempar ke tengah telaga kecil ini.

Byyyuuuuuuuuurrrrrr...!

"Pangeran Airlangga....!!!", teriak Senopati Cakrajaya sembari melesat ke arah tempat Airlangga jatuh. Namun belum sempat dia mencapai tepi sendang ini, Resi Sapujagad langsung mengibaskan tangannya. Angin kencang pun langsung menyapu tubuh Senopati Cakrajaya hingga tubuhnya terpental mundur dari tepi sendang.

"Jangan ikut campur!

Biarkan saja dia menemukan takdirnya sendiri. Jika dia memang sosok yang terpilih, maka akan mudah saja baginya untuk mendapatkan Keris Pulanggeni..", hardik Resi Sapujagad sembari mendelik kereng pada Senopati Cakrajaya. Mendengar penuturan itu, perwira tinggi prajurit Kerajaan Medang ini tak bisa berkata apa-apa lagi. Selain kalah kemampuan beladiri, dia juga merasa bahwa orang tua itu memiliki tujuan nya sendiri pada Airlangga.

Sementara itu di dalam telaga kecil ini, Airlangga tersedot masuk ke dalam pusaran arus air yang tiba-tiba saja muncul di tengah sendang. Dalam kebingungannya itu, Airlangga tidak mencoba untuk keluar dari dalam pusaran arus air yang menyeretnya masuk ke dalam telaga kecil akan tetapi lebih pada pasrah saja pada aliran takdir dari Dewata.

Setelah berputar-putar beberapa saat lamanya, akhirnya Airlangga sampai di dasar telaga kecil ini. Entah bagaimana caranya, dia tidak kesulitan bernafas meskipun dia sedang di dalam air. Ini membuktikan bahwa ada satu kekuatan yang luar biasa sedang menaungi seluruh tempat itu.

Airlangga lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu dan melihat sebuah keris berlekuk 5 dengan pamor warna merah kebiruan menancap pada sebongkah batu besar yang akan di tempat itu.

"Apa ini yang dinamakan sebagai Keris Pulanggeni?

Hemmmmmmm, rupanya perkataan Resi Sapujagad itu tidak menipu. Semua yang dikatakan nya adalah kebenaran. Aku harus mencoba untuk mencabut keris pusaka itu.."

Perlahan Airlangga melangkah mendekati tempat keris pusaka itu tertancap. Lalu setelah sampai, ia menghormat pada keris pusaka berpamor merah kebiruan ini selayaknya adat istiadat jaman dahulu yang menghormati benda-benda pusaka seperti ini.

Setelah itu, Airlangga kemudian meraih gagang keris pusaka itu dan mencoba untuk mencabutnya dari batu besar. Dengan mengerahkan seluruh tenaga yang dia miliki, Airlangga menarik keris pusaka itu.

Aaaaaaarrrrrrrrrrrgggggggghhhhh!!!!

Zeeeerrrrrrrrtttthhhhh!!!

Perlahan Keris Pulanggeni tercerabut dari tempat nya. Di luar telaga kecil, terjadi perubahan cuaca yang tidak biasa. Angin kencang berhawa dingin tiba-tiba saja muncul bersamaan mendung hitam tebal yang menaungi seluruh tempat itu. Petir pun menyambar-nyambar dimana-mana.

HAHAHAHAHAHAHAHA....

Tawa Resi Sapujagad malah terdengar terbahak-bahak melihat kejadian alam yang tidak biasa ini. Dia begitu bergembira melihat munculnya keanehan alam ini karena tahu bahwa orang yang ditunggu nya selama puluhan tahun akhirnya muncul. Senopati Cakrajaya yang ketakutan dengan perubahan cuaca yang aneh itu langsung merutuk keras dalam hati.

'Dasar orang tua gila....'

Begitu Airlangga berhasil mencabut Keris Pulanggeni dari batu besar itu, tiba-tiba baru besar itu retak dan pecah. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba air telaga kecil ini memenuhi tempat itu yang menjadi pertanda bahwa kekuatan yang melingkupi sekitar tempat Keris Pulanggeni ini telah menghilang. Airlangga pun segera berenang naik ke permukaan air telaga.

Kemunculan Airlangga seketika membuat Senopati Cakrajaya tersenyum lebar. Dia langsung melesat cepat ke tengah telaga kecil ini untuk menolong Airlangga yang terlihat seperti sedang kelelahan. Ilmu meringankan tubuh perwira tinggi prajurit Medang ini memang layak diacungi jempol. Dia berlari di atas air seperti terbang di atas nya.

Begitu keduanya sampai di tepi telaga, Resi Sapujagad menghampiri mereka berdua. Senyum lebar terukir di wajah tua nya yang penuh keriput.

"Akhirnya keturunan Lokapala yang terpilih telah muncul...

Anak muda, sebelum aku pergi aku akan memberikan satu petunjuk tentang masa depan mu. Kelak, kau akan berhadapan dengan masalah besar yang tidak akan lama lagi kau hadapi. Hadapilah dengan penuh ketabahan dan keikhlasan. Yakinlah bahwa setelah hujan badai akan ada pelangi di belakangnya", setelah berkata demikian, tubuhnya mulai menipis dan perlahan menghilang. Senyum lebar tetap terukir di wajahnya sampai saat terakhir ia terlihat.

Airlangga dan Senopati Cakrajaya pun segera menghormat pada tempat Resi Sapujagad menghilang karena mereka tahu bahwa dia telah moksa mencapai tujuan kesempurnaan.

"Pangeran Airlangga,

Sebaiknya kita segera kembali ke tempat para prajurit. Saya khawatir mereka akan kebingungan mencari keberadaan kita", ucap Senopati Cakrajaya kemudian.

"Aku mengerti Gusti Senopati. Tapi sebelum aku meninggalkan tempat ini, biarkan aku sejenak melihat tempat ini. Aku merasa nyaman saat disini", jawab Airlangga segera. Senopati Cakrajaya mengangguk mengerti.

Setelah cukup lama mereka berada di tepi sendang ini, Airlangga pun segera beranjak dari tempat nya berada diikuti oleh Senopati Cakrajaya. Sebelum ia pergi, dia menatap ke arah air jernih telaga kecil itu sambil berkata,

"Kelak, saat jaman telah menjadi ramai dengan kehidupan manusia, tempat ini akan dikenal orang sebagai...

Sendang Made..."

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

mantuul Thor lanjut

2024-06-07

0

Anas

Anas

👍👍👍👍👍

2024-03-07

1

Widi Nugroho

Widi Nugroho

Made in Airlangga 😀

2024-02-10

0

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!