Siasat

Berita terkait rencana pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar langsung menyebar ke seluruh wilayah Kerajaan Medang. Lewat para pedagang dan cerita dari mulut ke mulut, berita ini langsung menjadi topik hangat perbincangan para penduduk di semua wilayah.

Ada yang mengucapkan syukur kepada Hyang Agung karena akhirnya calon penerus tahta Kerajaan Medang telah ada. Sedangkan beberapa lainnya cenderung untuk meragukan kemampuan pangeran muda dari Nusa Bali ini meskipun mereka tahu bahwa Airlangga masih keturunan langsung dari Prabu Makutawangsawardhana.

Beberapa orang terlihat sedang berbincang-bincang di sebuah warung makan yang ada di persimpangan jalan raya menuju ke arah Kadipaten Lwaram. Sepertinya mereka merupakan kawan sepekerjaan yang mencari nafkah dari berjualan barang-barang pokok dan hasil bumi.

"Kang, apa kau sudah dengar berita terbaru dari Istana Kotaraja Wuwatan?

Aku dengar tadi dari pedagang dari Hujung Galuh yang biasa memborong semua dagangan beras ku, empat hari lagi akan ada upacara pernikahan untuk Gusti Putri Galuh Sekar", ucap seorang lelaki bertubuh kekar dengan pakaian tanpa lengan namun cukup bagus untuk ukuran rakyat biasa. Sepertinya ia adalah seorang pedagang.

"Iya, aku juga baru mendengar nya. Ah ternyata Sinuwun Prabu Dharmawangsa sudah mengatur rencana untuk menyiapkan penerus tahta Kerajaan Medang jauh-jauh hari sebelum dia lengser keprabon", balas seorang lelaki paruh baya dengan kumis yang memutih.

"Itu sudah pasti Kang Jo ...

Lha wong negeri ini juga butuh pimpinan untuk mengaturnya. Kita harus menjunjung tinggi kehendak sang prabu agar kedepannya kita bisa lebih mudah dalam berusaha. Sebab jika pemerintahan kita kuat, kita-kita ini juga akan lebih mudah mencari penghidupan. Betul kan?", sahut seorang lainnya yang ikut nimbrung dalam pembicaraan mereka.

"Tapi aku dengar, Gusti Prabu Dharmawangsa mengambil menantu dari kerabatnya yang ada di Nusa Bali. Kita-kita yang orang kecil seperti ini tidak akan punya kesempatan untuk menjadi seorang raja ya hehehe..

Padahal aku sudah berharap jika ada seseorang dari kalangan rakyat jelata seperti kita ini menjadi suami Gusti Putri Galuh Sekar loh", ucap seorang lelaki muda bertubuh gempal dengan perut sedikit buncit yang bergabung dalam kelompok ini sambil memegang sepiring makanan kecil.

"Heh Nggol, kalau mimpi itu jangan ketinggian. Nanti kalau jatuh sakit tahu", potong lelaki paruh baya berkumis putih itu segera.

"Donggol tidak salah Kang Jo..

Ingatlah selalu bahwa pernah ada seorang lelaki muda dari kalangan rakyat jelata seperti kita menjadi suami mendiang Ratu Sri Isyana Tunggawijaya. Jadi kita tidak boleh berkecil hati karena kita bukan bangsawan. Ingatlah Kang Jo, meskipun kekuasaan pemerintah itu ada di tangan raja tapi kekuasaan tertinggi sebenarnya adalah milik rakyat dan Hyang Akarya Jagat. Kalau Hyang Akarya Jagat sudah berkehendak dan rakyat menginginkan nya, apapun bisa terjadi di negeri ini", ucap lelaki bertubuh kekar itu sembari mengunyah pisang rebus itu dan menyesap sidhdhu yang ada di tangan nya.

"Aku tidak tahu Man..

Urusan pemerintahan bukanlah hal yang masuk dalam pemahaman ku. Sebagai rakyat, kita hanya wajib patuh pada perintah dari Raja karena raja adalah wakil Dewa di dunia. Jika mereka melenceng dari jalan kebenaran, maka Dewa pasti akan menunjukkan kuasanya entah dengan jalan apapun", ucap lelaki paruh baya yang dipanggil dengan sebutan Kang Jo itu sambil tersenyum tipis.

Pembicaraan mereka tidak luput dari pendengaran sepasang lelaki dan perempuan yang duduk tak jauh dari tempat mereka berkerumun. Keduanya pun saling berpandangan sejenak sebelum keluar dari dalam warung makan itu usai menaruh beberapa kepeng perak diatas meja makan mereka.

Setelah itu, kedua orang itu segera memacu kuda nya ke arah Kadipaten Lwaram.

"Kita harus cepat melaporkan berita ini langsung pada Gusti Adipati Aji Wurawari, Kakang..

Ini mungkin adalah berita yang sangat ditunggu olehnya", ucap perempuan berpakaian hijau tua itu sembari terus memacu kuda nya disamping sang lelaki bertubuh gempal.

"Kau benar, Nimas..

Kita harus secepatnya sampai di Lwaram sebelum tengah hari. Ayo Nimas..", ucap lelaki bertubuh gempal itu sembari menggebrak kuda tunggangan nya hingga kuda itu semakin cepat melesat di atas jalan raya menuju ke arah Kadipaten Lwaram. Sang perempuan itu juga tidak mau kalah dengan memacu kuda nya sekencang-kencangnya menyusul sang lelaki.

Ya, kedua orang itu adalah Sandung dan Nyai Gempi, mata-mata alias telik sandi dari Kadipaten Lwaram yang di tugaskan untuk mendapatkan berita tentang keadaan di sekitar Istana Kotaraja Wuwatan.

Begitu sampai di Kota Kadipaten Lwaram, keduanya segera bergegas menuju ke arah Istana Kadipaten Lwaram yang ada di tengah kota. Sesampainya di pintu gerbang istana, keduanya segera melompat turun dari kudanya dan bergegas masuk ke dalam istana. Beberapa penjaga gerbang istana yang sudah mengenal mereka, terlihat acuh tak acuh dengan kedatangan mereka.

Di Pendopo Agung Kadipaten Lwaram, Adipati Aji Wurawari sedang duduk di atas singgasana nya. Disamping kanan nya ada utusan dari Kerajaan Sriwijaya, Sri Cudamani Janayasa bersama dengan Patih Mpu Dirgapraja dan beberapa orang punggawa istana juga beberapa pimpinan prajurit dari Sriwijaya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang penting, hingga saat melihat kedatangan Sandung dan Nyai Gempi, pembicaraan mereka langsung terhenti.

Setelah menghormat pada Adipati Aji Wurawari, Sandung dan Nyai Gempi segera duduk bersila di lantai Pendopo Agung Istana Kadipaten Lwaram.

"Ada apa kau menghadap pada ku tanpa dipanggil, Sandung?", tanya Adipati Aji Wurawari segera.

"Mohon ampun Gusti Adipati..

Kedatangan kami untuk membawa berita yang cukup penting dan mungkin juga akan menyenangkan bagi Gusti Adipati..", Sandung menghormat usai berbicara.

"Lekas katakan saja, Sandung. Jangan berbelit-belit ", Adipati Aji Wurawari mengangkat tangan kanannya.

"Empat hari lagi akan diadakan acara pernikahan putri Prabu Dharmawangsa yang bernama Putri Galuh Sekar dengan seorang pangeran dari Nusa Bali. Saat ini, Kotaraja Wuwatan sedang berhias menyambut acara ini", mendengar laporan telik sandi itu, Adipati Aji Wurawari langsung tersenyum lebar sembari melirik ke arah Sri Cudamani Janayasa.

"Ini adalah saat yang kita tunggu-tunggu, Sri Cudamani..

Keamanan sekitar Kotaraja Wuwatan pasti akan longgar dan kendur. Kita akan bisa menghancurkan Kerajaan Medang saat itu", ucap Adipati Aji Wurawari segera.

"Adipati Wurawari memang cerdas...

Kalau begitu, kita siapkan pasukan besar kita untuk menggempur Kotaraja Wuwatan", balas Sri Cudamani Janayasa dengan penuh semangat.

Maka, pada hari itu juga, Kadipaten Lwaram mulai mengatur pasukannya yang di dalamnya terdapat pasukan Sriwijaya. Pada malam hari nya mereka mulai bergerak. Ini untuk menyamarkan kedatangan pasukan besar yang datang secara bergiliran.

Hari berganti hari dengan cepat. Tak terasa, besok sudah hampir tiba. Seluruh sudut Kotaraja Wuwatan penuh dengan hiasan dari janur kuning. Penjor penjor yang turut mempercantik penampilan Kotaraja Wuwatan dalam menyambut pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar nampak ada di seluruh sisi jalan.

Di beberapa tempat di bangun beberapa dapur umum untuk menyiapkan makanan yang hendak dibagikan kepada warga sekitar Kotaraja Wuwatan. Sedangkan alun-alun Kotaraja Wuwatan telah disiapkan panggung hiburan rakyat yang besar guna ikut memeriahkan acara pernikahan putri Prabu Dharmawangsa ini.

Para prajurit Medang yang biasanya mendapatkan tugas untuk menjaga keamanan, sebagian besar dikerahkan untuk membantu pelaksanaan acara. Ini karena Prabu Dharmawangsa sangat yakin dengan keamanan di Kerajaan Medang. Sang Prabu tak menyadari bahwa Kerajaan Medang saat ini dalam bahaya besar.

Semua warga Kotaraja Wuwatan juga ikut bersukacita karena pernikahan besar putri Raja Medang ini. Mereka semua membantu menghias kota agar lebih semarak. Beberapa orang asing yang datang dari berbagai penjuru wilayah pun kini ikut meramaikan suasana di tempat itu.

Dalam keramaian kota ini, terselip diantara kerumunan orang yang ingin menyaksikan langsung upacara pernikahan agung antara calon raja Medang selanjutnya dan putri Prabu Dharmawangsa ini, orang-orang yang berasal dari Kadipaten Lwaram. Mereka sengaja disusupkan ke dalam keramaian kota untuk mencari celah-celah pertahanan kota yang rapuh.

Di salah satu sudut kota yang agak sepi, beberapa orang berpakaian layaknya masyarakat biasa, berkumpul di depan sebuah sanggar pamujan.

"Bagaimana Kakang Dharmo?

Sudah kau temukan celah yang bisa kita tembus?", tanya seorang lelaki bertubuh kekar dengan kumis tebal sembari menatap ke arah lelaki paruh baya bertubuh kurus dengan kumis tipis. Mereka ini adalah orang orang yang dikirim ke Kotaraja Wuwatan oleh Adipati Aji Wurawari.

"Orang-orang Istana Kotaraja Wuwatan terlalu sembrono, Rakeh...

Hampir di setiap sudut kota ini semuanya bisa kita tembus. Tapi yang paling gampang, kita lewat jalur Utara. Pengamanan di sana sangat minim karena semuanya sibuk membantu pelaksanaan upacara pernikahan", ucap lelaki bertubuh kurus itu seraya memelintir kumisnya yang tipis.

Lelaki berkumis tebal yang di panggil dengan sebutan Rakeh itu langsung terkekeh kecil sebelum ia berkata,

Hehehehe..

"Besok, Kerajaan Medang akan tinggal nama.."

Terpopuler

Comments

Imam Sutoto

Imam Sutoto

Dahsyat banget nih lanjut top

2024-06-07

0

Imam Sutoto

Imam Sutoto

Dahsyat banget nih lanjut

2024-06-07

0

Umar Muhdhar

Umar Muhdhar

32

2024-02-24

1

lihat semua
Episodes
1 Pangeran dari Balidwipamandala
2 Di Pelabuhan Hujung Galuh
3 Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4 Kesepakatan Kecil
5 Istana Pakuwon Tamwlang
6 Orang Gila
7 Sendang Made
8 Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9 Padepokan Bukit Kembang
10 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11 Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12 Dewi Anggrek Bulan
13 Ajian Guntur Saketi
14 Kotaraja Wuwatan
15 Taman Sari Istana
16 Rencana Pernikahan
17 Siasat
18 Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19 Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20 Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21 Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22 Pelarian
23 Mereka Yang Berpindah
24 Penginapan Kembang Cempaka
25 Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26 Kleyang Kabur Kanginan
27 Pemilik Pedang Naga Api
28 Melawan Nini Gagak Hitam
29 Amanat
30 Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31 Ajian Sepi Angin
32 Latih Tanding
33 Perampok Tujuh Kapak Emas
34 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36 Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37 Sesama Buronan
38 Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39 Menolong Yang Setia
40 Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41 Kucur Tirta Embun
42 Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43 Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44 Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45 Menuju Bukit Rangrang
46 Maharesi Mpu Gatra
47 Yang Terpilih
48 Pengkhianat
49 Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50 Sayembara Tamwlang
51 Wanua Kitri
52 Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53 Sakri dari Padepokan Padas Putih
54 Siapa Pemilik Selanjutnya?
55 Padepokan Padas Putih
56 Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57 Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58 Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59 Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60 Pertapaan Vanagiri
61 Suara Rakyat Medang
62 Malam Pertama Yang Tertunda
63 Utusan
64 Ujian Kebijaksanaan
65 Kotaraja Wuwatan Mas
66 Hari Penobatan
67 Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68 Dua Benteng Kerajaan Medang
69 Galuh Sekar Hamil
70 Sepasang Iblis Abu-abu
71 Bantuan
72 Murka Prabu Hasinaraja
73 Perang Pertama ( bagian 1 )
74 Perang Pertama ( bagian 2 )
75 Perang Pertama ( bagian 3 )
76 Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77 Perang Pertama ( bagian 5 )
78 Perang Pertama ( bagian akhir )
79 Kabupaten Gelang-gelang
80 Ancaman
81 Pertemuan Pendekar
82 Suara Hati Parahita
83 Situasi di Lembah Seribu Bunga
84 Pangeran Lembah Hantu
85 Adu Kecerdikan
86 Para Pengatur Wilayah
87 Ksatria
88 Kelahiran Putra Pertama
89 Pemicu Perluasan Wilayah
90 Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91 Keputusan Sang Raja Medang
92 Pengorbanan
93 Adu Nyawa di Rawa Pucang
94 Taktik Perang
95 Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96 Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97 Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98 Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99 Pagebluk
100 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101 Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2
Episodes

Updated 101 Episodes

1
Pangeran dari Balidwipamandala
2
Di Pelabuhan Hujung Galuh
3
Pertapa Tua dan Kelima Muridnya
4
Kesepakatan Kecil
5
Istana Pakuwon Tamwlang
6
Orang Gila
7
Sendang Made
8
Pendekar Pemetik Bunga dari Bukit Kendeng
9
Padepokan Bukit Kembang
10
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 1 )
11
Rahasia Bukit Kembang ( bagian 2 )
12
Dewi Anggrek Bulan
13
Ajian Guntur Saketi
14
Kotaraja Wuwatan
15
Taman Sari Istana
16
Rencana Pernikahan
17
Siasat
18
Pernikahan Airlangga dan Galuh Sekar
19
Mahapralaya Medang ( bagian 1 )
20
Mahapralaya Medang ( bagian 2 )
21
Mahapralaya Medang ( bagian 3 )
22
Pelarian
23
Mereka Yang Berpindah
24
Penginapan Kembang Cempaka
25
Penginapan Kembang Cempaka ( bagian 2 )
26
Kleyang Kabur Kanginan
27
Pemilik Pedang Naga Api
28
Melawan Nini Gagak Hitam
29
Amanat
30
Sepasang Dewa Pedang dari Gunung Bromo
31
Ajian Sepi Angin
32
Latih Tanding
33
Perampok Tujuh Kapak Emas
34
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 2 )
35
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian 3 )
36
Perampok Tujuh Kapak Emas ( bagian akhir )
37
Sesama Buronan
38
Lelaki Bertopeng Daun Krombang
39
Menolong Yang Setia
40
Bara Api Dendam Mpu Wasesa
41
Kucur Tirta Embun
42
Kucur Tirta Embun ( bagian 2 )
43
Kucur Tirta Embun ( bagian 3 )
44
Kucur Tirta Embun ( bagian akhir )
45
Menuju Bukit Rangrang
46
Maharesi Mpu Gatra
47
Yang Terpilih
48
Pengkhianat
49
Adu Nyawa Di Tepi Sungai Kapulungan
50
Sayembara Tamwlang
51
Wanua Kitri
52
Ki Bandol Si Rampok Tubuh Besi
53
Sakri dari Padepokan Padas Putih
54
Siapa Pemilik Selanjutnya?
55
Padepokan Padas Putih
56
Padepokan Padas Putih ( bagian 2 )
57
Padepokan Padas Putih ( bagian 3 )
58
Padepokan Padas Putih ( bagian 4 )
59
Padepokan Padas Putih ( bagian 5 )
60
Pertapaan Vanagiri
61
Suara Rakyat Medang
62
Malam Pertama Yang Tertunda
63
Utusan
64
Ujian Kebijaksanaan
65
Kotaraja Wuwatan Mas
66
Hari Penobatan
67
Pembunuh Bayaran dari Wuratan
68
Dua Benteng Kerajaan Medang
69
Galuh Sekar Hamil
70
Sepasang Iblis Abu-abu
71
Bantuan
72
Murka Prabu Hasinaraja
73
Perang Pertama ( bagian 1 )
74
Perang Pertama ( bagian 2 )
75
Perang Pertama ( bagian 3 )
76
Perang Pertama ( bagian 4 - Pertarungan Para Tumenggung )
77
Perang Pertama ( bagian 5 )
78
Perang Pertama ( bagian akhir )
79
Kabupaten Gelang-gelang
80
Ancaman
81
Pertemuan Pendekar
82
Suara Hati Parahita
83
Situasi di Lembah Seribu Bunga
84
Pangeran Lembah Hantu
85
Adu Kecerdikan
86
Para Pengatur Wilayah
87
Ksatria
88
Kelahiran Putra Pertama
89
Pemicu Perluasan Wilayah
90
Upaya Penculikan Sang Putri Sanggramawijaya
91
Keputusan Sang Raja Medang
92
Pengorbanan
93
Adu Nyawa di Rawa Pucang
94
Taktik Perang
95
Pengepungan Kotaraja Tanggulangin
96
Melawan Raja Hasin ( bagian 1 )
97
Melawan Raja Hasin ( bagian 2 )
98
Ratu Lodaya Nyai Calon Arang
99
Pagebluk
100
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas
101
Pralaya Kotaraja Wuwatan Mas 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!