Dewi Anggrek Bulan memiliki nama asli Isyaneswari. Dia adalah saudara lain ibu dari Mahendradatta, putri Prabu Makutawangsawardhana dari garwa permaisuri sedangkan ia anak dari seorang selir. Isyaneswari memiliki seorang saudari kandung bernama Rajadewi.
Seperti awal kisah ini dimulai, Mahendradatta akhirnya dinikahkan dengan Raja Bedahulu yang bernama Prabu Dharma Udhayana hingga kemudian ia bergelar Ratu Gunapriya Darmapatni, ibu dari Airlangga. Jadi Mahendradatta alias Ratu Gunapriya Darmapatni adalah saudari tiri dari Isyaneswari dan Rajadewi alias Dewi Lanjar. Jadi Airlangga merupakan keponakan tiri dari Isyaneswari alias Dewi Anggrek Bulan.
Rajadewi alias Dewi Lanjar menikah dengan seorang bangsawan dari Kalingga yang bernama Tumenggung Sinduraja kemudian memiliki dua orang anak yang diberi nama Dewi Sekar Pembayun dan Dewi Citrawati.
Isyaneswari yang tidak betah dengan kehidupan istana, memilih untuk menjadi seorang pendekar dengan berguru kepada beberapa orang Maharesi. Hingga akhirnya ia pun mendapatkan ilmu kanuragan tingkat tinggi setelah bertapa di kawasan pantai Laut Utara hingga memperoleh kesaktian tingkat tinggi dari Sang Ratu Laut Utara. Selain memperoleh kesaktian yang luar biasa, perempuan itu juga memperoleh Ajian Luntur Umur yang membuat nya tetap cantik seperti seorang gadis belia meskipun dia sudah tidak muda lagi.
Untuk mengenang saudara nya yang telah tiada juga untuk menghormati penguasa Kerajaan Siluman Laut Utara yang memiliki nama yang sama dengan saudarinya, Dewi Anggrek Bulan membangun sebuah tempat pertapaan di sebuah bukit yang ada di utara Gunung Arjuna dan menamakannya sebagai Bukit Lanjar.
"Siapa kau anak muda? Kenapa wajah mu mirip sekali dengan Mahendradatta?", Dewi Anggrek Bulan menatap lekat-lekat wajah tampan Airlangga untuk menunggu jawaban dari pemuda itu.
"Saya adalah Airlangga, putra sulung dari Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni atau mungkin saat mudanya beliau dikenal dengan nama Mahendradatta", ucap Airlangga sembari menghormat pada perempuan cantik berbaju putih itu segera.
Hemmmmmmm...
"Jadi kau berasal dari Kerajaan Bedahulu?", imbuh Dewi Anggrek Bulan mencoba untuk memperjelas.
"Benar sekali, Nini Dewi..
Sepertinya Nini Dewi sangat mengenal dengan ibu saya. Apa ada hubungan pertemanan atau yang lainnya?", tanya Airlangga dengan hati-hati. Dia sudah melihat langsung kemampuan beladiri perempuan cantik yang terlihat sepantaran dengan nya itu jadi dia tidak ingin gegabah dalam berbicara.
"Haeeessshhhhh...
Mahendradatta itu adalah kakak tiri ku, anak muda. Dia hanya terpaut usia satu tahun diatas ku. Sekalipun aku membencinya karena Kanjeng Romo Prabu Makutawangsawardhana lebih menyukai nya, tapi kami tidak pernah ada masalah. Tak ku sangka kalau hari ini aku akan bertemu dengan seorang putra nya.
Bagaimana kabar ibu mu sekarang? Ia berbahagia dengan Raja Bedahulu itu?", tanya Dewi Anggrek Bulan kemudian.
"Puja Sang Hyang Batara Wisnu..
Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni kini telah bahagia di Bedahulu, Bibi Dewi. Selain saya, beliau juga memiliki dua orang anak yang lain yakni Dhimas Marakata Pangkaja dan Anak Wungsu", urai Airlangga dengan senyum merekah di wajah.
"Syukurlah kalau begitu..
Lantas kenapa kau kelayapan di sini? Ada perlu apa kau ke Kerajaan Medang?", selidik Dewi Anggrek Bulan sembari menatap ke arah Airlangga seolah mencari jawaban disana.
"Pamanda Prabu Dharmawangsa menyurati Biyang Ratu Gunapriya Darmapatni untuk mengirim salah satu putra nya ke Kerajaan Medang. Tujuan nya adalah untuk mempererat tali kekerabatan dengan menjodohkan anak-anak mereka. Biyang Ratu lantas mengirimkan saya untuk menjadi menantu dari Pamanda Prabu Dharmawangsa itu, Bibi Dewi..".
Mendengar jawaban itu, Dewi Anggrek Bulan menghela nafas panjang. Dia tahu alasan mengapa Prabu Dharmawangsa, kakak tirinya itu, melakukan hal yang demikian. Memang dalam aturan untuk menjadi seorang raja, haruslah seorang laki-laki. Kalaupun raja tidak memiliki anak laki-laki dan hanya punya anak perempuan dari garwa permaisuri, maka putri raja itu baru bisa berkuasa atas tahta kerajaan jika sudah menikah. Ini adalah aturan baku yang digunakan dalam tata pemerintahan saat itu. Ambil contoh, Sri Isyana Tunggawijaya baru dapat berkuasa di tahta Kerajaan Medang setelah menikah dengan Lokapala dan kemudian bersama-sama memerintah Kerajaan Medang peninggalan sang ayah Mpu Sindok atau juga dikenal sebagai Maharaja Sri Isyana Wikramadharmottunggadewa.
Tak ingin melihat guru nya bercakap cakap dengan Airlangga di luar, Dewi Pratiwi segera mendekati sang guru.
"Guru, sebaiknya kita ke balai utama untuk melanjutkan pembicaraan. Udara dingin malam ini bisa membuat guru sakit", tutur Dewi Pratiwi segera.
Dewi Anggrek Bulan hanya mengangguk mengerti sebelum menoleh ke arah Airlangga.
"Airlangga..
Ayo kita ke dalam. Ada banyak hal yang ingin ku bicarakan dengan mu. Pratiwi, minta semua murid mu untuk tidak mengganggu pembicaraan ku dengan Airlangga", setelah berkata demikian, Dewi Anggrek Bulan segera melangkah ke arah balai utama Padepokan Bukit Kembang. Airlangga pun segera mengekor di belakangnya.
"Saya mengerti guru...", ucap Dewi Pratiwi sembari membungkuk hormat. Dia segera memerintahkan kepada para murid Padepokan Bukit Kembang agar tidak ada yang mendekati balai utama sampai mendapatkan ijin dari nya. Para murid pun mengangguk mengerti.
Di dalam balai utama Padepokan Bukit Kembang, keponakan dan bibi itu duduk bersila saling berhadapan.
"Aku melihat bahwa kemampuan beladiri yang kau miliki masih belum mumpuni, Ngger Cah Bagus...
Untuk menjadi seorang lelaki yang mampu mengayomi masyarakat, kau harus memiliki kemampuan beladiri yang bisa kau gunakan untuk membela diri. Bukan sekedar ilmu silat tangan kosong saja. Pendekar Tanah Jawadwipa ini rata-rata memiliki ajian ilmu kesaktian. Maka kalau kau ingin menghadapi tantangan mereka, maka harus memiliki kemampuan yang sepadan", tutur Dewi Anggrek Bulan sembari menatap wajah tampan Airlangga.
"Tapi saya belum sempat menyerap semua ilmu kanuragan dari guru saya di Nusa Bali, Bibi Dewi..
Mohon petunjuk nya. Karena saya sudah merasakan bagaimana melawan para pendekar dunia persilatan Tanah Jawadwipa", ucap Airlangga sembari menghormat.
Hemmmmmmm...
"Sebenarnya kau sudah memiliki sebuah keris pusaka yang tadi kau pegang. Itu adalah pusaka dari Eyang Prabu Lokapala yang telah lama hilang. Tapi itu saja tidak cukup untuk menghadapi mereka. Kau harus memiliki ilmu kesaktian untuk mendukungnya", sambung Dewi Anggrek Bulan segera.
"Aku akan menurunkan satu ilmu kedigjayaan yang bisa membuat mu menjadi pendekar pilih tanding.
Lagipula ilmu itu tidak cocok dengan ku karena hanya lelaki saja yang bisa menggunakannya sepenuhnya", imbuh Dewi Anggrek Bulan kemudian.
"Terimakasih bibi Dewi... Airlangga sangat berterimakasih atas dukungannya ", senyum lebar merekah di wajah tampan Airlangga.
"Sudahlah, jangan senyam-senyum begitu. Aku tidak akan terpesona dengan ketampanan mu.
Sekarang bersiaplah. Kosongkan pikiran dan hati mu, rasakan hawa seluruh semesta", mendengar perintah dari Dewi Anggrek Bulan, Airlangga pun segera duduk bersila. Segera saja ia mengosongkan pikiran dan perasaan nya, merasakan setiap denyut nadi kehidupan di sekitar nya. Suasana pun langsung sunyi senyap di tempat itu.
Dewi Anggrek Bulan pun segera bergegas berdiri di hadapan Airlangga. Mata perempuan cantik berbaju putih itu terpejam rapat sembari komat-kamit merapal mantra. Sebuah cahaya putih kebiruan seperti halnya warna petir yang menyambar-nyambar kala hujan badai tiba, muncul di telapak tangannya. Setelah itu, dengan cepat Dewi Anggrek Bulan segera meletakkan tangannya ke ubun-ubun kepala Airlangga.
Zeeeerrrrrrrrtttthhhhh!!!!
Hawa panas menyengat pun segera menyebar ke seluruh tubuh Airlangga bersamaan dengan menjalarnya cahaya putih kebiruan itu ke seluruh tubuh Airlangga. Rasa sakit yang teramat sangat dirasakan di setiap bagian tubuh sang pangeran muda.
Peluh pun langsung mengucur keluar dari tubuh Airlangga. Ia sekuat tenaga bertahan dalam siksaan ini. Meskipun udara malam di sekitar tempat itu cukup dingin, namun itu tidak berguna sama sekali melawan hawa panas yang keluar dari tubuh Airlangga.
Setelah cukup ajian ilmu kesaktian itu merasuk ke dalam tubuh Airlangga, Dewi Anggrek Bulan pun segera melepaskan tangannya dari ubun-ubun kepala Airlangga. Merasakan sesuatu yang menyakitkan itu telah menghilang, Airlangga menarik nafas lega dalam-dalam. Perlahan ia mengatur nafasnya yang sempat memburu sebelum membuka mata.
"Terimakasih atas ilmu kanuragan yang Bibi Dewi berikan. Kalau boleh tahu, apa nama ilmu ini?", tanya Airlangga segera.
Dewi Anggrek Bulan yang kelelahan setelah menurunkan ajian ilmu kesaktian ini pun hanya menjawab singkat pertanyaan keponakannya,
"Ajian Guntur Saketi..."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 101 Episodes
Comments
Imam Sutoto
dahsyat banget nih lanjut
2024-06-07
0
Roni Sakroni
masih gadis n perawan aahhh
2024-05-19
0
Werkudara Milenial
Mosok nenek2 mau dapet brondong, rugi bandar airlangga wkwkwkwkwk
2024-04-03
1