“Terima dia bekerja di sini!” seru Vincent, ia kembali ke dalam rumah. Pesona Nora terlalu membayangi pikirannya hingga ia menunda keberangkatannya ke kantor dan mengecek keadaan di dalam rumah.
“Tapi Sayang??” Cillia kaget, sementara Nora menyeringai, binggo! Kena kamu! Pastilah sedikit banyak Vincent telah menangkap umpannya.
"Kamu bisa memasak?" tanya Vincent pada Nora.
"Bisa, Tuan." Nora mengangguk, ia sudah melihat profil Vincent, pria itu sangat doyan makan di rumah. Ia benci makan di luar karena jorok dan belum tentu fresh.
"Aku jenuh bertengkar denganmu setiap hari! Kamu tahu sendiri aku paling benci makan di luar tapi kamu tak pernah mau memasak untukku! Kita juga tak pernah bisa memiliki pembantu yang awet karena sikapmu yang kasar pada mereka semua."
"Siapa yang kasar? Aku mengomel karena mereka memang tidak becus bekerja." Cillia tampak sangat marah karena suaminya membongkar kebobrokannya di depan para pembantu. Sisca hanya diam menahan tawa, ia sangat puas karena sang boss diomeli oleh suaminya. Perasaan Sisca terwakilkan oleh Vincent.
"Sudahlah!! Pokoknya terima saja dia bekerja. Suru dia memasak dan membersihkan rumah. Kita evaluasi pekerjaannya setelah tiga minggu, itu pun bila dia betah dengan kecerewetanmu! Setelah tiga minggu bila pekerjaannya memang kurang memuaskan kamu bisa memecatnya. Gampangkan?!" tukas Vincent.
"Huft!! Terserah!" Cillia merasa kesal ia meninggalkan area taman belakang dan langsung naik ke kamar untuk siap siap bekerja.
"Ayo Sisca!!"
"Ba ... baik, Bu." Sisca mengikuti Cillia naik ke atasZ
"Terima kasih Tuan." Nora berterima kasih, ia menggenggam tangan Vincent dengan sepontan, lalu melepaskannya, "ma ... maaf, Tuan. Saya terlalu senang sampai tidak tahu diri memegang tangan Tuan."
"Tak apa. Siapa namamu?" Vincent justru merasa kurang, ia kehilangan desiran yang membuat perut geli saat Nora melepaskan pegangannya.
"Elenora, panggil saja saya Nora, Tuan."
"Nora?? Sssshh ... pantas saja istriku begitu membencimu. Namamu sama dengan namanya," ucap Vincent.
"Siapa?" Nora berpura pura tidak tahu. Padahal ia sangat yakin kalau dirinyalah yang dimaksud oleh Vincent.
"Kamu tak perlu tahu! Bekerjalah dengan baik di sini! Mbok Sidah akan memberitahukan padamu apa saja pekerjaanmu." Vincent menatap jam, sudah hampir pukul sembilan, ia harus lekas berangkat ke kamtor.
"Baik, Tuan."
"Semoga kamu betah bekerja di sini, jangan pernah memasukkan ke dalam hati semua ucapannya. Sebab tempramen istriku memang sangat tinggi, dia memang sedikit gila."
Tentu saja aku akan sangat betah bekerja di sini, Tuan Vincent. Kamu yang akan membuatku betah, batin Nora dengan senyum penuh kemenangan
"Baik, Tuan."
"Mbok, tolong atur semuanya."
"Baik, Tuan."
"Mari, Nona." ajak Mbok Sidah pada Nora.
Nora sengaja sedikit membungkuk saat memungut kembali tasnya, belahan dadanya terlihat karena ukurannya yang menyentuh cup D. Vincent memelototi kulit putih mulus dengan aksen indah di bagian tengah. Jantung Vincent berdegup dengan sangat cepat, pacuan jantungnya mulai berlomba, meloncat loncat seakan akan Vincent baru saja menyelesiakan lomba lari maratonnya.
"Nora permisi dulu ya, Tuan." Nora meninggalkan Vincent yang masih membeku tanpa kata. Apel adamnya bergerak naik turun kesusahan menahan hasratnya sendiri.
Cuma belahan saja sudah membuat Vincent berpikir liar, lantas bagaimana kalau tak ada sehelai benang pun yang melekat di tubuh Nora?
...****************...
...Ayo jangan lupa tinggalin jejak kalian dengan like vote dan komen ya... biar semangat!!!...
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
nadira ST
dasar mata keranjang
2024-02-02
2