Perjalanan hidup yang dialami oleh Elenora tidaklah mudah. Ketika Theodore Jahyadi memutuskan untuk menceraikan Tamara Subroto dan mengambil alih semua aset dan perusahaan milik mendiang Tuan Subroto, dari situlah awal mula penderitaan Nora berawal.
"Dasar buruk rupa!" Saat SD, Nora mengalami pembullyan karena ia memiliki tompel besar di area pipi bawah mata. Tompel yang sudah ada semenjak ia lahir. Tompel itu seakan tumbuh besar hingga ukurannya mengikuti tumbuh kembang usia Nora juga.
Seorang bocah pria mendorong wajah Nora hingga terjatuh ke belakang dan Nora pun menangis. Nora tan tahu kenapa dia harus dibenci hanya karena punya tanda lahir yang cukup mencolok di wajahnya.
"Jangan ganggu Nora!" Seorang bocah lelaki memasang badan untuk Nora, dia adalah Arga, putra bungsu Pak Yono.
Arga mendapat tugas dari sang Ayah untuk menemani Nora masuk ke sekolah barunya. Bocah pria itu melaksanakan tugasnya dengan baik. Nora sangat menyukai Arga, ia berharap bisa terus berteman dengan Arga.
Hari demi hari pun berlalu dengan cepat, Arga dan Nora tumbuh menjadi remaja yang mulai mengenal arti cinta dan juga patah hati. Tanpa terasa keduanya sudah menjadi bocah SMP. Nora yang mendapatkan mens pertama di jenjang ini pun mulai mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta.
Nora menyukai Arga, baginya Arga adalah pahlawan yang selalu membantunya mengatasi masalah. Hanya Arga yang mau menjadi temannya. Arga adalah cinta pertama Nora. Nora bertekat untuk menyatakan cintanya sepulang dari sekolah. Ia mencari keberadaan Arga, biasanya Arga selalu nongkrong dengan teman temannya di taman belakang sambil menunggu eskul basket.
"Hei Erga!! Kamu pacaran ya sama si burik??" tanya seorang teman di taman belakang. Mereka menyebut Nora si Burik, panggilan yang diberikan pada gadis itu karena memiliki tompel besar di bawah matanya.
"Tidak!! Siapa bilang??" Arga bergeleng.
"Halah, ngaku saja!! Semua orang juga tahu kalau kamu selalu pulang dengan si Burik."
"Itu karena rumah kami bersebelahan dan Ayahku menyuruhku memberikan tumpangan."
"Makanya kalian pasti pacaran kan?! Arga dengan si Tompel." Goda mereka.
"Tidak!! Aku juga benci padanya!! Siapa yang mau berpacaran dengan gadis jelek sepertinya?? Kalau bukan karena ayah aku juga tidak sudi memberikan tumpangan saat pulang sekolah!" Arga yang malu menyangkal godaan para seniornya di tim basket. Saat itu ia tidak menyadari kalau Nora mendengar semuanya dari balik dinding.
Air mata Nora tumpah keluar, rasanya menyakitkan. Jatuh cinta pertama dan juga patah hati pertama. Nora pikir Arga tulus mau berteman dengan Nora. Nora pikir semua perhatian Arga bukanlah karena paksaan namun karena murni sebuah persahabatan. Ternyata Nora salah, Arga hanya berpura pura baik saja.
"Memangnya apa yang aku harapkan?" Nora tersenyum kecut. Ia pun kembali ke rumahnya hari itu dengan berjalan kaki, tidak membonceng sepeda Arga.
Arga celingukan karena Nora tidak ada di bangku penonton untuk melihatnya bermain basket, dia juga tidak membonceng pulang ke rumah seperti biasanya.
...****************...
Satu bulan kemudian.
"Nora!! Uhuk ... Uhuk... Nak?" Tamara terbatuk batuk, ia mencari air di sisi meja namun tak berhasil menemukannya. Lalu tanpa sadar Tamara terjatuh dari tempat tidur.
"Mama!!" Nora kaget saat mamanya jatuh. Kesehatan wanita itu semakin menurun semenjak dua tahun belakangan. Dokter memvonis Tamara mengidap kangker lambung stadium empat. Kesempatan dan harapan hidup Tamara semakin kecil mengingat kangkernya sudah menjalar sampai ke paru paru.
"Haus, Nak." Tamara berujar, Nora bergegas mengambil air setelah membantu Tamara kembali ke kamar. Keduanya tinggal di sebuah rumah kecil tak jauh dari rumah Pak Yono. Tamara hanya mengontrak saja karena dulu ia bekerja di sebuah pabrik roti yang gajinya tidak seberapa. Bekerja sampai mati pun tak akan cukup untuk membeli rumah.
"Ini, Ma. Minum pelan pelan." Nora memegangi gelasnya.
"Anak ku, Sayang. Maafin mama ya, sudah membuatmu menjadi begitu sengsara." Tamara menangis, ia mengelus wajah putrinya dengan lembut. Tangan Tamara begitu kurus seperti tulang berbalut kulit, ia menyesali nasibnya yang begitu pahit hingga terlarut dalam stress berlebihan. Siapa sangka radang lambung karena stress bisa menjadi pemicu kangker yang kini menggerogoti tubuh dan kehiduppannya.
"Tidak, Ma. Tidak. Mama adalah hal terindah yang Tuhan berikan untuk Nora. Justru Nora yang ingin meminta maaf, Ma. Gara gara Nora terlahir buruk rupa, Papa sampai tidak mau mengakui Nora sebagai anaknya dan mengusir mama."
"Bukan, Nak! Bukan gara gara kamu. Semua ini gara gara Jlang sialan yang telah merebut papa dari mama." Tamara menangis, ia memeluk Nora dengan erat.
"Hiks ... hiks ..." Nora sudah tahu ceritanya, Tamara menceritakan semuanya. Kalau wanita bernama Sarah bersekongkol dengan Papanya merebut semua harta warisan dari kakek Nora.
"Jangan hidup menjadi orang baik, Nak!! Kebaikan kadang disalah gunakan dan menjadikan kita lemah. Hiduplah dengan sekuat tenaga hingga disegani banyak orang, meski pun itu artinya kita harus menjadi jahat sekali pun." Tamara memberikan wejangan pada Nora. Nora mengangguk paham.
Tak ada kebaikan di dunia ini yang bisa ditawarkan padanya dengan cuma cuma. Bahkan Arga pun hanya memberikan kebaikan palsu. Kebaikan dari Pak Yono juga semata mata sebagai balas budi belaka karena sang kakek pernah membantunya. Bila saja hal itu tak pernah terjadi, belum tentu Yono akan membantu mereka.
"Nora mengerti, Ma." Nora mengenggem tangan Tamara dengan erat sambil menangis sesunggukan. Tamara menceritakan semuanya pada sang putri. Siapa Sarah, siapa Theo ayahnya, dan juga tentang putri mereka Priscillia yang seumuran dengan Nora.
Setahun kemudian, tepat saat Nora lulus SMP, Tamara pun mangkat. Tak ada setetes pun air mata yang jatuh dari mata merah nanar Nora. Dendam menyelimuti hatinya, luapan amarah membuat Nora begitu membenci dunia dan juga keluarga sang ayah yang menghancurkan hidupnya, hidup ibunya.
"Nak," tukas Yono saat melayat. Ia menepuk pundak Nora ya masih berdiri tegap di depan pusara sang ibu. Begitu kuatnya tekat Nora hingga ia bahkan tidak berpindah mulai dari jenasah di masukkan sampai liang lahat tertutup sempurna.
"Ayo pulang, Nak. Kamu belum makan apa pun dari kemarin." Yono mencoba menghasut Nora, begitu pula dengan istrinya Almaira.
"Iya, Neng. Ayo pulang, nanti Bibi masak apa yang Neng Nora suka."
Namun Nora tak bergeming, ia membisu, tak menjawab satu pun ajakan mereka. Hatinya mengeras seperti batu, kokoh bagaikan karang.
"Coba bujuk Nora Arga. Kalian berteman sejak kecilkan?" Yono meminta putranya.
"Ibu dan Bapak pulang dulu. Bapak harus bekerja. Kamu temani Neng Nora,"!Pamit Almaira. Arga mengangguk.
Arga menghampiri Nora. Ia melirik ke arah gadis yang sudah ia kenal semenjak SD. Bila di lihat dari sisi kanan, Nora akan terlihat sangat cantik karena tompelnya tak terlihat.
Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung harus memulai dari mana. Hubungan mereka mendadak menjauh setahun lalu. Arga tidak tahu apa salahnya hingga Nora mendadak tidak lagi membonceng sepedanya berangkat dan pulang sekolah.
"Ehem ... aku ikut berduka cita ya." Arga mencoba memecahkan keheningan siang itu. Namun Nora diam saja.
"Apa kamu marah sama aku, Ra? Setahun ini kamu sama sekali tak pernah membalas sapaanku, kamu juga bahkan tak menegurku. Memangnya apa salahku?" tanya Arga. Kali ini Nora menoleh, ia matap Arga, sungguhkah pemuda ini tidak tahu kenapa?
"Aku tidak marah padamu, Ga. Memangnya siapa aku sampai harus marah kepadamu. Lagi pula, bukankah hal baik bila kita berjauhan. Kamu tak akan pernah merasa malu lagi berjalan dengan gadis jelek sepertiku."
"Siapa yang malu?? Aku tidak malu kok." Arga menyangkal ucapan Nora.
Nora berdecih dalam hati, lantas apa yang di dengarnya saat di belakang sekolahan itu salah?? Arga mengatakan kalau dia malu dan hanya menuruti apa kata orang tuanya, bukan benar benar tulus berteman dengan Nora.
"Aku tahu kamu sedih. Namun hari sudah hampir sore. Ayo kita pulang!" Arga menarik tangan Nora, namun gadis itu langsung menghempaskannta.
"Pergilah, Ga. Aku ingin sendiri." Nora mengusir Arga, hati Arga mulai kalud saat Nora menghempaskan tangannya. Penolakan Nora entah mengapa membuat hati Arga seperti tertancap oleh pasak yang sangat besar. Menohok sampai ke ulu hati.
"Sudahlah!! Dasar menyebalkan!" Arga pergi, ia tak ingin merasakan denyutan menyakitkan di dalam dadanya lagi. Pemuda yang baru saja beranjak ke bangku SMA itu menyangkal perasaannya dan berlalu pergi. Sesekali ia menoleh, berharap Nora mengejarnya, namun Arga salah, Nora tetap diam saja dan membuat Arga kesal.
"Aku akan membalas dendam pada mereka, Ma. Meski pun harus meminjam kekuatan dari iblis dan bahkan menjadi iblis itu sendiri:" Nora mengepalkan tangannya di samping tubuh. Hari itu Nora bertekat untuk menjadi semakin kuat dan kuat. Dia akan membalas dendam pada keluarga Jahyadi yang telah menghancurkan hidupnya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Dwisur
lanjut noraaa....
2024-02-16
1