Sarah membuka lemari kaca di walk in closet miliknya. Berisi puluhan tas branded dengan harga selangit. Dulunya semua ini milik Tamara, namun Sarah telah menambahkan banyak koleksi dan membuang yang tidak ia sukai.
Tak hanya tas branded, ada banyak mantel bulu mahal, dress dari perancang terkemuka, perhiasan dengan berlian, dan juga sepatu sepatu kulit yang mahal. Sarah tengah melihat lihat koleksinya untuk dikenakan di makan malam perusahaan.
Seorang pelayan datang, mengabarkan sebuah berita yang membuat Sarah berhenti memilih pakaian, pelayan berbisik membuat Sarah harus mengulangi lagi pertanyaannya. “Siapa yang datang katamu?”
“Nona Nora,” jawab pelayan dengan ragu. Ia takut kalau majikannya marah bila ia menyebut Nora dengan panggilan nona selayaknya tuan di rumah ini.
“Siapa?”
“Nora, Nyonya.”
“Mau apa gadis itu kemari?” gumam Sarah bertanya tanya, hampir dua belas tahun nama gadis itu tidak terdengar, mendadak ia datang lagi ke rumah ini. Mungkinkah ia datang bersama dengan Tamara?
“Apa dia bersama ibunya?” Sepertinya Sarah belum tahu kalau Tamara sudah berpulang ke rahmat Ilahi.
“Tidak, Nyonya. Dia datang sendirian.”
“Apa Tuan Theo sudah tahu?” tanya Sarah.
“Tuan besar ada di ruang tamu menemui gadis itu, Nyonya.”
“Aku akan menyusulnya, kamu pergilah.” Usir Sarah. Pembantu itu langsung menganggukkan kepala dan pamit pada Sarah.
“Siapa, Ma?” Priacillia yang dari tadi berbaring di ranjang sang ibu sambil membaca majalah fashion mulai tertarik dengan pembicaraan antara ibu dan pembantunya.
“Elenora Jahyadi, anak papamu dengan istri pertamanya. Kamu masih ingatkan?”
“Ah ... si tompel?” Priscillia mengingatnya. Dulu mamanya sering membawa Cilia bermain dengan Nora. Ia mengatakan kalau Cilia harus berpura pura baik dan mau berteman dengan Nora. Padahal dulu Cilia sangat membenci Nora karena punya segalanya sementara dia tidak. Sekarang semuanya terbalik, Cillia punya segalanya sementara Nora tidak.
“Iya, mau apa dia datang kemari?!” Cillia menaruh kembali majalahnya dan bangkir berdiri, ia langsung bersemangat untuk mengikuti mamanya ke bawah.
“Entahlah.” Sarah mengangkat bahu, dia juga ingin tahu.
Keduanya menuruni anak tangga melingkar menuju ke lantai satu. Anak tangga pualam yang begitu mewah menunjukan betapa berjayanya keluarga Jahyadi.
Sarah menuju ke ruang tamu, tempat suaminya duduk dengan tenang mengamati Nora anaknya yang sudah bertahun tahun tidak bertemu.
“Wah Wah … lihat siapa yang datang?!” sergah Sarah. Nora menoleh, ia melihat nenek sihir yang telah menghancurkan hidup mamanya. Namun Nora belum punya kekuatan untuk membalas dendam. Ia menahan diri untuk stay on plan.
“Ternyata kakakku tersayang.” Sahut Cillia karena Nora tak kunjung menjawab. Nora menatap adik tirinya, gadis seumurannya itu terlihat sangat cantik dan terrawat, berbeda dengan dirinya yang semakin hari semakin kumal karena kondisi ekonomi yang berat. Kulit tangannya bahkan mengelupas karena mencuci banyak piring di restoran, atau kakinya yang pecah pecah karena berdiri terlalu lama saat melayani pelanggan warung. Semua Nora lakukan demi membantu biaya pengobatan ibunya yang sungguh besar.
“Mau apa kamu datang kemari, Nora?” tanya Theo, selama apa pun ia menatap Nora, tetap saja ia memiliki kebencian karena anak itu terlahir dengan wajah buruk rupa. Tompel besar bersarang pada pipi kirinya dan membuatnya terlihat sangat buruk.
“Untuk menagih janji,” ucap Nora tegas.
“Janji?”
“Mama bilang Papa akan memberikan uang tunjangan bulanan padaku. Aku ingin melanjutkan SMA, jadi aku butuh uang tunjangan.” Nora tak mengindahkan keduanya, ia menatap lurus pada Theo. Sorot matanya sama persis dengan mata Theo saat menginginkan sesuatu, membuat Theo semakin kesal karena Nora benar benar keturunannya. Ia tak bisa menyangkalnya.
“Hahaha … setelah sekian lama akhirnya kamu datang untuk meminta uang. Ternyata harga diri ibumu bisa habis juga,” ledek Sarah, akhirnya momen di mana Nora mengemis padanya semakin dekat.
“Benar. Mama bilang kalau aku bisa bersekolah bila menemuimu.” Angguk Nora.
“Mamamu sudah kehabisan uang??” tanya Sarah.
“Aku tidak bicara pada Tante! Aku bicara pada papaku.” Nora menoleh pada Sarah dengan mata yang menyorot tajam. Membuat Sarah sangat kesal, Nora mengingatkannya pada sosok sahabat masa kecil yang selalu mengalahkannya dalam hal apa pun.
PLAK!! Sarah menampar pipi Nora.
“Yang sopan kalau ada orang tua bicara denganmu!” sergah Sarah kesal.
Nora merasakan pipinya terasa sangat perih dan panas. Namun ia tak menangis, air matanya sudah habis. Jangankan untuk menangis, bahkan ia tak lagi bisa tertawa. Ia hanya akan tertawa saat dendamnya sudah terbalaskan.
“Sudahlah! Berapa tunjangan yang kamu minta setiap bulan?” Theo tak ingin menjilat ludahnya sendiri.
“Ijinkan aku bersekolah di tempat yang sama dengan Priscillia,” jawab Nora.
“Itu sekolah elit, perlu nilai tinggi untuk masuk ke sana bila berasal dari sekolah di luar yayasan!” cemooh Sarah.
Nora mengeluarkan lembar kelulusannya dengan nilai sempurna di setiap mata pelajaran yang diujikan. Ia menunjukkannya pada sang ayah. Membuat Theo manggut manggut.
“Baiklah, aku akan memberikan uang tunjangan padamu. Bersekolahlah di tempat Priscillia sekolah,” ujar Theo.
“Eh … tapi Pa?” Cillia langsung protes, dia tak ingin semua orang di sekolahan mengenali gadis buruk rupa ini sebagai saudaranya.
Bisa hilang pamornya sebagai primadona sekolahan bila sampai ketahuan kalau mamanya sebenarnya hanya istri ke dua dan Nora adalah pewaris perusahaan keluarga Subroto.
“Kenapa?” tanya Theo.
“Aku tak mau semua orang tahu kalau si jelek ini saudaraku!! Nanti tak ada yang mau bermain denganku.” Priscillia manja manja pada papanya.
“Nora punya nilai yang bagus, sementara nilaimu sangat buruk. Dia bisa membantumu di sekolahan, jadi jangan terlalu bersedih, Okay?” Theo sangat menyayangi Cillia sampai membuat hati Nora eneg melihatnya. Kasih sayang yang dulu ia idam idamkan, sekarang, jangankan menerimanya, berharap saja tidak.
“Baiklah, tapi kamu harus bersih bersih di sini bila ingin mendapatkan uangnya.” Sarah melipat tangannya di depan dada.
“Apa??” Nora kaget, nenek sihir ini tak henti hentinya ingin menyiksa Nora.
“Kenapa? Kamu keberatan?? Asal kamu tahu ya, sekolah tempat Priscillia menimba ilmu sangat mahal! Bersih bersih saja belum bisa dibandingkan dengan biaya yang akan kami keluarkan untukmu!” seru Sarah.
Nora berdecih dalam hati. Semua harta yang berkembang dan dinikmati oleh keluarga ini berasal dari kakek dan neneknya. Tapi wanita bgst ini justru memintanya bekerja untuk mendapatkan uang dari keluarganya sendiri. Namun Nora bukan gadis lemah, bersih bersih tidak akan menyurutkan rencananya.
“Baiklah, Nora akan bersih bersih.” Nora mengangguk setuju.
“Akan aku buat dia hidup bagaikan di neraka!” pikir Sarah dalam hatinya. Setiap detiknya akan menjadi neraka bagi Nora.
Sarah tidak tahu kalau Nora bahkan rela hidup di dalam neraka, meminjam kontrak dengan sang iblis sekali pun supaya bisa menghancurkan hidupnya pelan pelan.
...****************...
...Hai … tolong di klik like dan juga tombol favorit ya. Terus juga vote dan kasih gift sebanyak banyaknya. Gift terbanyak bakalan dapat balasan gift dari othor setiap bulannya ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments