"Ya Tuhan!!" Elli masuk dan langsung menutup matanya saat melihat Farhan tengah asyik menggenjot tubuh Nora dari belakang, mencari pelepasan atas napsu yang terlanjur membuncah.
"Puft!!" Nora menahan tawa, sementara Farhan tak peduli dengan kehadiran Elli karena sudah terbiasa bertemu dengan manager Nora yang galaknya setengah mati ini.
"Kenapa tidak menunggu sampai pulang ke rumah sih??" Elli mengomel, mereka melakukannya di hotel tempat Nora menginap setelah manggung. Padahal besok pagi juga mereka pasti kembali ke rumah.
"Keburu kebelet pipis!" jawab Nora cekikikan.
"Dasar, sudahlah, kalian selesaikan saja, abaikan saja aku karena aku harus membereskan pakaian. Kita ada penerbangan besok." Elli acuh dan pergi ke lemari, memberesi semua pakaian dan assesoris milik Nora.
Nora terkikih, ia menikmati keindahan yang tengah terjadi di bawah sana sambil mengamati Elli yang sibuk dengan kopernya.
"Apa kakak sudah mencari informasi tentang keluarga Jahyadi?" tanya Nora.
"Sudah, teman temanku sudah mengamati mereka selama tiga bulan penuh. Aku simpan laporannya di mobil, besok kamu bisa membacanya saat perjalanan di bandara." Angguk Elli.
"Ah, baguslah!! Aku juga sudah tidak sabar untuk menemui keluargaku tercinta." Nora tersenyum manis.
Bukankah Vincent pernah berkata kalau mata di balas mata dan gigi di balas gigi? Sarah merebut Theo dari Tamara, maka Nora akan merebut Vincent dari Cillia.
"Jangan sungkan sungkan bila kamu butuh bantuanku, Sayang." Farhan menggigit bibir Nora lembut.
"Tidak, Sayang. Kamu sudah banyak membantuku, dan aku sangat bersyukur atas hal itu. Aku berterima kasih atas tawaranmu, namun sekarang saatnya kamu kembali ke istri dan anak anak. Jalani hidup yang benar, Oke!!" Nora menaruh telunjuknya pada bibir Farhan.
"Nora benar!! Dasar dokter tua mesum!! Kembalilah pada istri dan anakmu!" cela Elli dari balik lemari. Nora terkekeh mendengar ucapan sarkastis Elli.
"Tetap saja lenganku selalu terbuka lebar untukmu, Sayang."
Farhan melepaskan benihnya ke dalam rahim hangat Nora dan langsung mengecupi leher hingga wajah, ia harus melepaskan kesayangannya baik baik untuk membalaskan dendam. Farhan juga sudah tahu semua masalah Nora dan mengutuk i keluarga biadap itu.
"Aku belum tua tua amat tahu!" Farhan membetulkan celananya sambil membalas sindiran Elli.
"Tetap saja sudah kepala empat!" Elli tak mau kalah.
"Setidaknya tenagaku sama dengan pemuda belasan tahun."
"Seperti bison Afrika." Imbuh Nora membuat Elli menjulurkan lidah sambil mendelik ke atas kesal. Namun benar juga, tenaga pak dokter ini benar benar luar biasa.
...****************...
Udara yang penuh dengan polusi dan padatnya hilir mudik manusia yang tengah sibuk bekerja. Bahkan di bandara pun begitu. Begitulah ibu kota, kesibukkannya berbanding selaras dengan padatnya penduduk. Hampir sarjana dari seluruh pelosok daerah di negeri ini berbondong bondong mengais rejeki di kota ini, mencari peruntunan yang lebih baik.
Kota yang sibuk, tentu saja dengan dunia malamnya, sudah pasti club club dan ktv merebak seperti jamur. Namun meski pun bayarannya terbilang menggiurkan, Elli selalau menolak saat para promotor club besar mengundang DJ Lilith untuk manggung. Nora tak mau ambil resiko ketahuan dengan kembali ke ibu kota lagi.
Sekarang setelah penampilan Nora benar benar terlihat berbeda, barulah ia mau kembali ke sana. Nora sudah menjadi orang lain, ia bahkan menambahkan tahi lalat kecil di bawah bibir supaya tak seorang pun mencurigai penampilannya.
"Kamu sudah membaca semuanya kan?" tanya Elli.
"Sudah. Kini perusahaan di pegang oleh Cillia. Hal itu membuatku semakin mudah mengambilnya." Nora tersenyum miring.
Elli menggeledek koper keduanya untuk keluar dari bandara. Seorang teman lama Elli sudah menunggu dengan mobil sedan mewah di depan lobby kedatangan dalam negeri.
"Kapan kamu akan memulai rencanamu?" tanya Elli.
"Secepatnya," tandas Nora.
"Bom, apa sudah kamu lakuin yang kakak minta kemarin?" Elli mengetuk pundak seorang pria kulit gelap dan gemuk yang duduk di bagian sopir.
"Sudah, Kak. Saat ini si nyonya rumah pasti uring uringan karena pembantunya keluar semua." Bom Bom terkikih, seperti yang Elli minta, ia mengancam semua pembantu baru yang bekerja di kediaman Pratama supaya resign.
"Bagus!" seru Nora.
"Kenapa meminta pembantu keluar, Non? Kan bisa langsung ngelamar jadi sekretaris bossnya." Bombom tak rela melihat Nora yang cantik harus bekerja keras sebagai seorang pembantu. Pasti akan diperlakukan secara tidak hormat dan direndahkan karena profesinya.
"Aku hanya lulusan SMA, mana mungkin perusahaan besar merekut seorang lulusan SMA alih alih seorang sarjana. Lebih mudah menjadi pembantu dari pada sekretaris." Nora membaca lagi profil profil keluarga Pratama yang disodorkan oleh Elli semalam.
"Siapa tahu kan."
"Ternyata mereka masih hidup berdua saja, padahal mereka sudah menikah selama empat tahun namun belum dikaruniai seorang anak pun." Nora tersenyum penuh kemenangan, semakin besar kesempatan untuk membuat Vincent berpaling kepadanya.
"Aku sudah menghubungi jasa agensi penyalur tenaga kerja langganan Cilli. Dia akan memasukan namamu. Sudah pasti kamu akan mendapatkan panggilan sesegera mungkin, Nora." Elli penuh persiapan. Gadis itu membantu Nora dengan tulus karena termehek mehek dengan cerita masa lalunya yang sangat menyakitkan.
"Rebut kembali semua harta milik mamamu dari tangan wanita bangst itu, Sayang!!" Elli memeluk Nora begitu mereka sampai di apartemen.
"Itu sudah pasti, Kak! Doakan aku!! Akan kubuat semuanya menangis dan menyesali perbuatannya di depan makam ibuku."
Nora menanggalkan semua pakaiannya untuk mandi. Berbagai macam rencana balas dendam terukir di dalam benaknya.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments