(Mengandung muatan dewasa, harap bijak dalam menyikapi bacaan.)
Masa masa SMA, masa yang orang bilang paling indah dan menyenangkan. Namun hal itu tidak berlaku bagi Nora. Tiga tahun masa SMA nya bagaikan berada di dalam neraka karena pembullyan dari saudaranya sendiri. Ia juga masih harus bekerja seperti pembantu di rumah kediaman sang ayah demi uang sekolah.
Nora melakukan semuanya demi membalas dendam atas kematian dan nasib buruk mamanya.
Nora menahan tekanan, menahan segala siksaan, hingga ia bisa mengumpulkan semua informasi dan juga kelemahan dari keluarga Jahyadi.
Tiga tahun sudah hampir selesai, ujian akhir sudah berhasil di lampaui, tinggal menunggu pengumuman kelulusan. Anak anak yang dulu kecil kini telah tumbuh dewasa, menjadi bunga indah dengan aroma semerbak dan juga kumbang kumbang yang gagah.
Begitu pula dengan Arga, ia tumbuh menjadi pria yang jauh lebih dewasa dengan rahang tegas, jakun yang ketara jelas, dan juga bahu yang lebar dan tegap. Tubuh Arga semakin atletis karena ia gemar berolah raga.
Sementra Nora juga demikian, perubahan tubuhnya membuat siapa pun akan tercengang. Terlepas dari wajahnya yang buruk, Nora punya tubuh yang sangat indah. Dadanya tumbuh besar, bulat, dan kencang, sementara pinggulnya lebar dan pantatnya sekal. Tipe tipe body jam pasir yang jarang ditemui.
Arga kini memiliki seorang pacar yang cantik. Satu sekolahan dengan Arga. Sementara Cillia sudah bertunangan dengan Vincent. Nora mulai mengasingkan dirinya setelah ujian kelulusan berakhir. Ia tak pernah terlihat lagi di rumah kediaman Jahyadi atau pun di depan Arga.
"Harganya tiga juta, Nona. Mau ambil yang ini?" Seorang pelayan toko menyodorkan ponsel keluaran terbaru dari merk Korea terkemuka. Nora mengambil lagi kotak ponselnya, ia mengangguk, ponsel pertamanya harus yang terbaik meski pun bukan yang paling mahal. Yang penting fiturnya lengkap.
"Atau mau coba ponsel baru, blackberry, ini juga sedang trend dikalangan anak anak muda. Ada aplikasi chating yang belakangan begitu hype."
"Berapa harganya?" tanya Nora, ia teringat dengan kakak di warnet yang ia lihat beberapa bulan yang lalu. Semua orang menyukai aplikasi obrolan.
"Sedikit lebih mahal," jawabnya.
"Baiklah, aku ambil yang ini." Nora mengambil ponsel blackberry dan menghitung uangnya.
"Ini uangnya."
"Terima kasih."
Setelah melakukan beberapa setting oleh pembeli, Nora sudah berhasil mengantongi ponsel baru. Ponsel pertamanya yang ia dapatkan dari menabung uang kerja sambilan. Sekarang tinggal mencari cara mendapatkan banyak uang dengan ponsel itu.
Nora terus termenung sepanjang perjalanan pulang. Memikirkan cara untuk mendapatkan tambahan penghasilan. Rencananya harus berhasil meski ia harus meminjam tangan iblis dan merusak dirinya sekalipun.
"Nora!!" Panggil Arga.
"Ga?" Nora kaget karena Arga berdiri di depan pintu kamar kosnya.
"Ini, Ibu kasih kamu lauk. Dia kangen sama kamu. Kamu sekarang tak pernah main ke rumah dan sibuk bekerja terus." Arga memberikan kantong plastik berisi beberapa jenis lauk masakan ibunya.
"Bukannya kamu yang sibuk pacaran?" Nora menerima kantong itu sebelum membuka pintu kosnya. Nora menggigit bibirnya, apa apaan sih ucapannya, kenapa berkesan dia kesal mengetahui Arga punya pacar? Bodoh kamu Nora!! Padahal Nora sudah tak punya perasaan apa pun pada Arga.
"Iya, nih, hahaha, rasanya kurang terus saat bersama dengan Arini," sahut Arga yang malah tidak peka, ia malah pamer kekasihnya yang cantik pada Nora.
Keduanya masuk ke dalam kamar Nora, para penghuni kos lain sibuk bekerja jam segini, lagi pula mereka tak peduli dengan urusan orang lain karena masalah mereka saja sudah cukup pelik.
Nora melihat formulir pendaftaran mencuat dari dalam tas Arga. Nora mengambil map putih itu dan membacanya sesaat.
"Kamu mau kuliah?"
"Iya, jurusan bisnis. Sudah keterima kok," ucap Arga yang duduk di tepi ranjang.
"Oh, selamat deh."
"Kamu tidak kuliah?"
"Tidak, aku ingin bekerja saja." Nora bergeleng.
"Aku bisa bilang ke kakakku untuk menyekolahkanmu juga, Ra. Kakakku sekarang sukses, uangnya banyak. Ibu ku juga pasti setuju, dia itu tak punya anak perempuan, selalu menganggapmu anak perempuannya. Dia lebih sayang sama kamu dibandingkan sama aku tahu!" celoteh Arga panjang dan lebar.
Keluarga Pak Yono kini semakin makmur. Kedua kakak lelaki Arga sudah bekerja dan memiliki gaji yang besar diperusahaan BUMN, bahkan sudah memiliki perusahaan retail sendiri, kecil kecilan sebagai sampingan.
"Tidak, terima kasih. Aku tak ingin meropotkan keluarga kalian lagi." Nora bergeleng.
"Sayang kepintaranmu, Ra. Pikirin dulu lah, Ra." Arga mencoba membujuk Nora. Namun dalam otak Nora hanya ada balas dendam, ia tak butuh title berjubun, atau pun jabatan setinggi langit. Ia hanya butuh melihat keluarga sang ayah porak poranda, sama seperti kehidupan sang ibu yang mati dengan mengenaskan.
"Tidak, terima kasih. Pulanglah, Ga. Aku mau mandi dan istirahat, aku ada shift malam di minimarket." Nora bangkit berdiri. Ia melepaskan jaketnya dan menggantungkannya dengan rapi pada lemari pakaian. Lalu melepaskan juga baju seragamnya, hari ini terakhir kalinya ia memakai seragam putih abu abu itu.
Arga kaget karena Nora melepaskan semuanya hingga hanya tersisa singlet menutupi bra dan juga shortpant hitam. Lekukan tubuhnya tercetak jelas hingga membuat apel adam Arga naik turun. Nora sepertinya tidak bermaksud menggoda Arga karena mereka tumbuh besar bersama. Saat kecil bahkan mereka sudah terbiasa mandi bersama. Lagi pula Nora tahu Arga tak pernah melihatnya sebagai seorang wanita. Semua lelaki tak pernah menganggap kehadiran Nora karena wajahnya yang buruk rupa.
Bahkan Vincent saja mencemoohnya karena punya wajah yang menakutkan. Hingga Nora benar benar mengendurkan pertahanan dirinya sore itu. Ia melepaskan semua seragam sekolahnya di depan Arga, tinggal kaos dalam dan juga shortpant.
Nora lupa kalau kini mereka sudah dewasa, bukan lagi anak anak yang selalu bermain bersama, hujan hujan bersama, pulang dengan sepeda bersama, atau mandi bersama. Nora lupa kalau ia pun pernah jatuh cinta pada pemuda kekar di sampingnya.
"Nora." Arga berdiri di belakang Nora. Memeluknya dari belakang. Napas Arga terasa hangat mengenai tekuk Nora --yang saat ini terbuka karena kuncir ekor kuda.
"Eh?? Arga?? Kamu mau apa??" Nora kaget, tangan Arga mulai mengusap pinggang ramping Nora dan bibirnya bersarang pada pundaknya. Arga memutar tubuh Nora hingga saling berhadap hadapan.
"Arga!! Lepasin!!" Nora syok, Arga mendadak menatapnya dengan wajah memerah dan mata sendu. Getaran aneh merambat ke sekujur tubuh Nora saat Arga menghimpitnya, menekan tubuh Nora pada lemari pakaian.
Nora membuang muka saat Arga mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Nora.
"Arga tolong berhenti!! Kumohon!" Nora mencoba mendorong tubuh Arga, namun tubuh kokoh seperti batu itu sama sekali tidak berpindah.
Tangan besarnya mencekal dagu Nora hingga ia berpaling, sekejap kemudian Nora bisa merasakan hangat dan basah melekat pada bibirnya. Arga sungguh merebut ciuman pertama dan juga keprawanan Nora sore itu.
Napsu yang begitu meluap membuat Arga tak mampu berpikir sehat. Ia terus menyentuh dan memaksakan kehendaknya pada tubuh langsing Nora. Nora menangis memohon agar Arga tidak kalap dan mau berubah pikiran. Siapa tahu ia masih bisa menyelamatkan dirinya dari cekalan Arga.
"Akhh!! Sakit, Ga!!" seru Nora, Arga berhasil menerobos segel mahkota Nora. Nora sampai mencakar punggung Arga karena rasa sakit dan panas yang tak terelakkan begitu mereka bersatu.
Sayangnya, Arga sama sekali tak mengindahkan ucapan Nora, rintihan kesakitannya, rancauan minta ampun, atau pun tangis kesesakkannya, karena apa yang tengah terjadi di antara mereka saat ini jauh lebih nikmat dan memabukkan.
Seluruh indra Arga berfokus untuk menggali kenikmatin, ia merasakan desiran hebat terjadi pada setiap syarafnya. Kenikmatan mutlak yang tak bisa di tolak.
Setiap sentuhan dan gesekan yang terjadi di antara kulit menghasilkan candu yang tak bisa ditolak.
Dorongan dan hentakan keras semakin mengalirkan kebahagiaan semu yang manis seperti gula sintetis. Manis di awal, pahit diakhir kecapannya.
Sebuah desiran emosi yang tak bisa dihentikan dengan teriakan kesakitan maupun air mata kesedihan.
Dan ... kata kata maaf tak akan pernah bisa menebus semuanya dengan mudah.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments