Nora duduk termenung di area taman belakang, ada beberapa bunga dahlia yang tumbuh subur di taman belakang. Bunga bunga itu di tanam oleh Tamara saat masih menjadi nyonya di rumah itu. Siapa sangka bunga itu masih tumbuh subur hingga saat ini. Bunga peninggalan Tamara yang membuat Nora betah tinggal di rumah itu lama lama.
"Kamu di sini rupanya." Suara Vincent membuat Nora menoleh. Mau apa tunangan adiknya ini mencari Nora?
Nora celingukan, tak ada satu orang pun di samping Vincent.
"Di mana Cillia?"
"Berganti pakaian. Kamu tahu sendiri selama apa dia berdandan, aku bosan menunggu." Vincent berdiri di samping Nora.
Nora dalam keadaan berjongkok karena tengah mengamati bunga dahlia. Ia pun bergegas bangkit berdiri.
"Papa?" tanya Nora lagi.
"Mereka pergi, ada urusan katanya. Aku pikir mereka hanya memberi ruang bagiku untuk semakin akrab dengan Cillia." Vincent bisa menebak siasat kuno milik kedua calon mertuanya.
"Ah ... sial, jadi untuk apa aku menunggu selama ini?!" kesal Nora, ia sudah menunggu lama guna mengambil uang bulanan. Tapi sang ayah malah pergi begitu saja, membuatnya mangkel. Untuk apa dia menunggu selama ini coba?
"Ck, ternyata kamu sungguh kemari demi uang? Bahkan sampai menunggu selama ini." Vincent berdecih seakan mencemooh Nora.
"Tak ada hubungannya denganmu kan?" Nora mengambil tasnya, ia hendak pergi dari rumah itu, tak ada gunanya berlama-lama lagi.
"Kenapa kamu rela direndahkan hanya demi uang? Apa kamu tak punya harga diri?" Vincent kembali bertanya, gadis ini membuatnya penasaran. Dia punya mata yang tak tergoyahkan, namun kenapa gadis ini rela merendahkan martabatnya dengan mengemis.
"Bukan urusanmu!" Nora berlalu.
"Tunggu!!" Vincent menarik sikut lengannya hingga mau tidak mau Nora tertarik ke belakang dan membentur tubuh Vincent.
BRUK!! Vincent mendorong tubuh Nora hingga mentok pada dinding. Ia mengunci tangan Nora di atas kepalanya.
"A ... apa apaan sih. Lepas!!" Nora terkejut. Ia baru saja di sudutkan dalam posisi yang begitu menantang.
Vincent mengamati bahu dan dada Nora yang tengah naik turun. Vincent melihat dada Nora yang sekal seakan menantangnya karena tengah membusung, sangat indah.
"Brengsek!! Lepas!!" Nora menatap galak pada Vincent saat ia menyadari apa yang sedang diamati oleh pria ini.
"Sssstttt ..." Vincent menaruh jarinya ke atas bibir Nora. "Nanti ada yang dengar!"
"Mau apa kamu??"
Tangan Vincent mengelus wajah Nora dan menyibakkan rambut yang menutupi sisi kiri wajah Nora --yang terdapat tompel, sungguh berbeda dari sisi sebelah kanannya yang sangat cantik.
"Sayang sekali wajahmu begitu jelek, padahal dengan tubuhmu kamu pasti bisa menghasilkan banyak uang." Vincent mengelus turun sampai ke dagu, ke leher, semakin ke bawah hingga berada di belahan dada Nora. Sentuhan perlahan pada area di antara dada dan leher membuat bulu kuduk Nora meremang, geli namun juga menjijikan. Rasanya begitu menggelitik, hangat, dan sedikit kasap karena menyentuh kulit ari permukaan jemari Vincent.
Nora semakin memberontak, ingin terlepas dari cengkraman Vincent. Namun tenaga Vincent sangat kuat.
"Brengsek! Kamu pikir aku cewek apaan?" umpat Nora.
"Bukankah itu lebih baik daripada harus merunduk seperti anjing, menunggu remahan roti dari keluarga ini." Vincent melepaskan tangannya. Tubuh Nora otomatis terjatuh ke bawah dan menubruk Vincent kembali.
Tubuh keduanya saling melekat, hingga aroma parfume maskulin bisa tercium jelas, menggelitik hidung Nora. Vincent merasakan empuk dan kenyalnya kedua tonjolan milik Nora.
Nora mendorong tubuh Vincent dan langsung bergegas meninggalkan taman belakang untuk pulang. Vincent tersenyum, ia puas bisa menggoda Nora.
...****************...
Bagaimana cara menghasilkan banyak uang?
Benak Nora dipenuhi dengan ucapan Vincent, mau sampai kapan ia menjadi anjing di keluarga itu? Namun jelas sekali ia memang membutuhkan banyak uang untuk membuat rencananya berhasil.
Saat perjalanan pulang, Nora mampir ke warnet, ia mencoba mencari cara supaya bisa cepat kaya. Banyak hal hal yang bisa ia temukan di laman pencarian. Situs pencarian banyak memuat tautan tautan seputar cara cepat mencari uang dengan mudah, namun Nora yakin semua itu hanyalah akun tipu tipu.
"Kalau mencari uang mudah maka semua orang pasti kaya raya." Nora berdecih, ia terngiang dengan ucapan Vincent yang menyebutnya tak lebih dari seekor anjing di keluarga Jahyadi. Mengingatnya membuat Nora ingin marah.
"Akan aku buktikan kalau suatu saat anjing ini akan menggigitmu."
Nora memilih menghentikan kegiatan unfaedah itu. Ia bangkit dari tempatnya duduk. Saat berdiri, ia melihat di samping kanannya seorang wanita tengah chatting riang dengan menggunakan fb, media sosial yang baru saja lauching belakangan ini. Ia tampak asyik bercakap dengan kata kata vulgar untuk merayu pria yang menjadi lawan obrolannya.
"Apaan lihat lihat?" Sergahnya seraya menutupi layar dengan telapak tangan.
"Siapa yang melihat?" Nora beranjak pergi. Ia pun mengambil tas nya dan pergi dari sana.
Di tengah perjalanan pulang Nora tak sengaja bertemu dengan Arga yang duduk di depan minimarket sambil memakan es krim.
“Arga,” panggil Nora.
Arga yang masih menikmati es krim kul kul menoleh pada Nora. Wajahnya yang semula datar terlihat langsung cerah ceria.
“Kamu dari mana?"
"Dari rumah papa," jawab Nora.
“Ya Tuhan, kamu masih pergi ke sana meski pun mereka menghina, merendahakan, dan juga menyakitimu??” Arga emosi.
“Dari mana kamu tahu?” Nora kaget, ia tak pernah bercerita sedikit pun pada Arga tentang pembullyan yang dilakukan oleh keluarga baru ayahnya. Nora memilih menelan caci maki dan hinaan fisik maupun verbal itu sendirian.
“Ayahku.”
“Hah … Pak Yono, dasar ember.” Nora menghela napas.
“Papaku akan mengundurkan diri tahun ini, Nora. Hidup kami sudah mulai mapan. Hutang Ayah juga sudah lunas karena kakak-kakakku mulai bekerja," jelas Arga, ia memberikan es krimnya pada Nora.
“Syukurlah.” Nora menerima dan menikmati es krim itu karena kebetulan sekali ia juga haus. Udara begitu panas padahal hari mulai sore.
“Jadi Ayah tak lagi bisa melindungimu bila kamu diinjak injak, so ... Please berhentilah pergi ke sana. Kamu masih bisa hidup tanpa uang tunjangan dari mereka, jangan rendahkan dirimu untuk uang yang tidak seberapa.” Arga mengatakan hal yang sama seperti Vincent, namun dengan cara yang halus. Membuat Nora menjejalkan es krim kembali ke mulut teman masa kecilnya itu.
“Kamu tidak tahu apa pun, Arga! Kamu pikir tujuanku semata mata hanya demi uang? Tidak, aku tidak sebodoh itu. Aku berlaku selayaknya anjing bukan demi remahan roti dari majikanku.” Nora menaikkan nada suaranya, ia kesal dengan dirinya sendiri, baik Vincent mau pun Arga benar, ia hanyalah anjing di mata keluarganya. Namun Nora tak peduli, ia pun punya tujuan lain selain uang di rumah itu.
“Nora!! Argh!! Sial, kenapa jadi aku yang pusing mikirin kamu sih?” Arga menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia malas bertengkar dengan Nora.
"Tauk!" Nora mengangkat bahu.
Saat diam Nora melihat motor kwski ninja warna hijau, ternyata Arga sudah mengganti motor buntutnya dengan motor lain. Walau pun memang sepertinya ia membeli barang seken, bukan motor baru dari dealer.
“Bagaimana caramu menghasilkan banyak uang?” tanya Nora.
“Aku juga tidak tahu.”
“Tapi uangmu banyak.” Nora menunjuk motor Arga yang katanya dibeli dari hasil tabungannya sendiri.
“Oh … aku berjudi," jawab Arga.
“Apa maksudmu?”
“Bermain invesatsi di pasar saham, kakak kakakku yang mengajariku.” Arga mengambil ponselnya. Ponsel layar sentuh pertama kali muncul, Nora hanya bisa bermimpi untuk memilikinya.
“Oh … begitu.”
“Seperti game, kadang kalau kalah kamu juga akan kehilangan uangmu. Tergantung seberapa jeli kamu bisa memantau bergerakan pasar saham.” Arga mengatakan pada Nora tentang peluang peluang pergerakan pasar saham yang ia pelajari dari kedua kakaknya yang kini bekerja di ibu kota menjadi karyawan di perusahaan perusahaan besar.
"Kamu harus setor uang dulu, semakin banyak maka hasil keuntungannya juga akan semakin banyak." Arga memperlihatkan saldonya sudah ada sekitar sepuluh juta.
“Oh … begitu. Apa tidak ada yang bisa menghasilkan uang jauh lebih cepat? Aku tidak punya modal sebanyak itu.” Bahu Nora luruh. Sepuluh juta bukan uang yang sedikit baginya saat ini.
“Apa ya? Ngepet?!" Arga mengusap dagu.
“Arga!!”
“Kalau begitu mencuri, merampok, menjual obat obatan," imbuhnya sambil terkikih.
“Arga, serius dikit!” Nora mulai kesal.
“Habisnya kamu ini aneh, Ra. Mana ada pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang dalam sekejap mata, tanpa modal lagi, hm??”
“Iya juga sih.” Nora bersedih, wajahnya kembali suram.
“Memangnya kamu butuh uang berapa sih? Kalau cuma seratus ribu aku juga punya.” Arga merogoh dompetnya.
“Tidak makasih, kalau itu aku juga punya.” Nora bangkit dan kembali menyandang tas.
“Hei … hei!! Mau kemana?”
“Pulang.”
“Aku anterin!!”
“Nggak perlu, aku jalan saja!" tolak Nora, dengan berjalan ia bisa merenung sambil memikirkan caranya mencari uang.
...****************...
...Jangan lupa vote, komen, dan juga like nya ya gess 🥰🥰...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments