“Ya Tuhan, Sisca, apa kamu belum jaga menemukan pembantu baru?? Aku sangat lelah melihat rumah yang kacau balau!” Cillia sudah mengomel pada sekretaris sekaligus assisten pribadinya pagi pagi buta. Selama seminggu ini semua asisten rumah tangganya keluar satu persatu tanpa sebab yang jelas.
Kini hanya ada satu pembantu di rumahnya yang merupakan peninggalan dari mama mertuanya, dia adalah Mbok Sidah, wanita tua yang telah mengasuh Vincent sejak kecil.
Wanita tua itu sudah terlalu renta untuk membersihkan seluruh isi rumah gedongan milik mereka. Lagi pula Cillia tidak senang dengan wanita itu karena dia terus melaporkan kegiatan Cillia sehari hari seperti sengaja di utus oleh sang mertua untuk menjadi mata mata di kehidupan pernikahan anaknya.
“Maaf, Bu. Belum.”
“Carilah di agensi tenaga kerja atau apalah!! Terserah!! Aku tak mau tahu!! Kalau sampai besok tidak ada pembantu baru, kamu akan menjadi pembantu di rumahku! Ngerti kan??!” Omel Cillia dengan nada tinggi dan langsung menutup panggilan ponselnya.
Di sisi lain panggilan Sisca mencebikkan bibirnya kesal. Ia menyumpah serapah pada bossnya yang selalu tak mau tahu apa pun seakan akan uang bisa menyelesaikan segalanya. Pokoknya uang, uang, dan uang!
“Salah siapa mereka pada cabut?? Orang bossnya seperti kuntilanak, dedemit amit amit dah!” Sisca menjulurkan lidah pada ponsel mengejek Cillia. Sikapnya yang begitu arogan dan juga terlalu memandang rendah para bawahannya membuat banyak pegawai yang tidak betah bekerja di bawah otoritasnya.
Sebenarnya sudah ada satu pelamar dari agensi, hanya saja namanya adalah Elenora, memangnya Cillia mau mempekerjakan seseorang yang mirip dengan nama saudaranya di rumah?
“Masa bodoh, besok aku akan membawanya ke rumah.” Sisca mengangkat bahunya, dari pada dia yang jadi pembantu hayo??
...****************...
“Kamu itu pagi-pagi sudah mengomel!!” Vincent menghela napas panjang saat istrinya menutup ponsel. Sungguh pagi yang menyebalkan, membuat moodnya rusak.
“Bagaimana tidak ngomel, kita kekurangan ART, debu di mana mana dan barang barang tidak bisa rapi! Kamar selalu berantakan karena Mbok Sidah sudah tak bisa naik tangga lagi! Lebih baik kamu pecat saja dia.” Cillia menunjuk ke arah pembantu tua yang berdiri menyerahkan segelas kopi pada Vincent.
Vincent tak mungkin memecat pengasuhnya begitu saja. Apa lagi saat wanita itu berada di bawah perintah mamanya. Vincent tak pernah membantah sang mama semenjak kecil.
“Kenapa meja makan kosong? Tidak ada sarapan??” tanya Vincent.
“Tidak ada. Tak ada apa pun. Aku tak bisa dan tidak mau menyiapkannya karena aku benci memasak. Cari makan di luar saja sana.” Cillia menyugar rambutnya ke belakang.
“Hah … punya istri seperti tidak punya istri,” keluh Vincent yang bangkit sambil membanting serbet makan.
“Aku ini istrimu, bukan pembantumu! Di rumah ku saja orang tuaku tak pernah menyuruhku memasak, di sini kamu malah memintaku memasak?? Bagaimana kalau kukuku patah?? Atau bila jariku teriris??” bantah Cillia.
“Sudahlah!! Aku malas berdebat denganmu.” Vincent bangkit, ia kesal sekali, lebih baik ia pergi dan mencari sarapan di luar. “Sungguh mengesalkan. Penampilannya sungguh berbanding terbalik dengan otaknya!” gumam Vincent sepanjang jalan ke luar rumah, ia menyahut tas dan jasnya dari tangan Mbok Sidah.
“Apa kamu lihat lihat??” bentak Cillia pada mbok Sidah yang tengah menatap Cillia dengan wajah sendu.
“Ng… nggak, Non.” Sidah pun masuk ke dapur.
“Dasar wanita tua tak berguna! Menyebalkan sekali. Kenapa nggak lekas pensiun saja dan kembali ke desa untuk mati dengan tenang?” Cillia menyumpahi Sidah dan beranjak pergi ke kamarnya untuk mematut diri. Dia juga harus pergi bekerja hari ini.
...****************...
Keesokan harinya di kediaman Pratama. Sisca datang dengan seorang wanita cantik bernama Elenora, Nora sengaja tidak mengganti namanya. Ingin memberikan kejutan istimewa untuk saudaranya ini.
“Siapa, Non? Cantik amat?” Ujang, satpam yang bekerja di rumah itu bertanya pada Siska, matanya menatap Nora tanpa berkedip. Begitu pula dengan Yadi, sopir itu mengelap body mobil sedan hitam namun matanya jelalatan ke arah Nora.
Pria mana yang tidak tertarik dengan wanita cantik? Apalagi dengan wajah sempurna dan bentuk tubuh yang sangat indah. Padahal Nora hanya memakai pakaian kemeja lengan panjang dan juga rok panjang seperti gadis desa pada umumnya. Rambutnya di kuncir ala kadarnya dan tanpa make up, namun damagenya tidak main main karena hasil dari operasi plastik.
“Pembantu baru,” jawab Sisca.
“Eh serius? Bening banget, bikin betah kerja nih,” bisik Ujang.
“Paan sih, Mang! Sudah bau tanah juga!” Sisca menjawab dengan ketus satpam paruh baya itu lantas berlalu dengan menggandeng Nora.
“Mari, Mang.” Nora mengangguk dengan sopan, dia butuh banyak pendukung bila ingin menang dari Cillia.
Saat hendak masuk ke dalam rumah, terdengar pertengkaran kecil antara Cillia dengan Vincent. Tak lama kemudian Vincent keluar dengan wajah garang untuk berangkat ke kantor. Di depan pintu masuk, Vincent berpapasan dengan Nora. Nora dengan sengaja menyentuhkan sedikit punggung tangannya ke punggung tangan Vincent seakan akan kejadian itu adalah hal yang tidak di sengaja.
Vincent otomatis menoleh, begitu pula dengan Nora. Saat itu pandangan mereka saling mengunci. Mata bertemu dengan mata. Vincent menatap bola mata Nora yang berbinar dengan indah, memancarkan pesona yang mampu membuat siapa pun terbakar dengan gairah.
“Maaf, Tuan.” Nora tersenyum manis, sengaja membuat kesan pertama yang begitu menggoda.
“Y...ya,” jawab Vincent, ia tak pernah segagap itu sebelumnya. Nora berhasil membuatnya kesusahan bernapas seakan akan udara di sekitarnya menipis.
Nora menghilang di balik pintu utama. Ia masuk untuk menemui Cillia. Wanita itu tengah merokok di taman belakang, ia hanya tengah menenangkan diri setelah pertikaian kecilnya dengan Vincent.
“Selamat pagi, Bu.” Sapa Sisca.
Cillia menoleh ke belakang, ia cukup kaget saat melihat Nora. Tatapan matanya familiar, namun bukan Nora karena tidak ada tompel besar di pipi kirinya. Wajahnya sangat mulus, hidungnya lebih mancung, dan bibirnya tebal dan seksi. Ya benar, pasti bukan Nora saudari tirinya.
“Siapa dia?” tanya Cillia, matanya terus menilai Nora dari atas ke bawah atas ke bawah, dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya.
“Calon Pembantu baru, Bu. Ayo perkenalkan dirimu!" Titah Sisca.
Nora mengangguk pelan sebelum menjawab, “Selamat pagi, Nyonya, perkenalkan nama saya Elenora.”
DEGH!
Jantung Cillian berdegup kencang karena kaget mendengar siapa nama calon pembantu barunya. Wajah Cillia sampai memucat saat mengamati Nora. Ia seperti baru saja melihat hantu. Tak hanya wajahnya yang mirip, bahkan namanya pun sama.
Apa dia Nora?? Tidak mungkin, gadis gembel itu tidak mungkin tak mengenalinya. Lagi pula, Nora punya tompel, sementara gadis ini tidak. Pipinya mulus sekali.
Setelang menimbang nimbang beberapa saat, Cillia menolak lamaran kerja Nora.
“Aku tidak suka, ganti saja.” Cillia mengusir Nora, tak ingin menerimanya sebagai pembantu.
“Tapi, Bu. Susah sekali mencari ART baru. Nama Ibu sudah terkenal … maaf … galak, Bu di kalangan agensi tenaga kerja!” Sisca menimpali, si boss mau nya apa sih?? Dapat pembantu bening begini malah di tolak hanya karena namanya sama dengan saudaranya yang telah kabur entah ke mana.
“Aku nggak mau tahu, cari yang lain.” Cillia bangkit hendak masuk ke dalam rumah. Nora mengeryit, bagaimana kalau Cillia menolak lamaran kerjanya?
“Saya mohon Nyonya, ijinkan saya bekerja di sini. Ibu saya di desa tengah sakit keras, ayah saya sudah tua dan tak lagi kuat mengolah ladang. Hutang keluarga saya banyak, Nyonya. Saya tidak mau dijual oleh rentenir ke rumah brdir untuk membayar hutang. Kasihani saya, Nyonya.” Nora berlutut di bawah kaki Cillia, wajahnya terlihat sedih, ia sudah mewaspadai hal ini mengingat sikap Cillia yang arogan pastilah tak ingin kalah dari siapa pun.
Acting Nora layak diberikan penghargaan karena sebelum Cillia sempat menolak tiba tiba terdengar suara ...
“Terima dia bekerja di sini!” seru Vincent, ia kembali ke dalam rumah. Pesona Nora terlalu membayangi pikirannya hingga ia menunda keberangkatannya ke kantor dan mengecek keadaan di dalam rumah.
“Tapi Sayang??” Cillia kaget, sementara Nora menyeringai, binggo! Kena kamu!
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Assyifa S.P.
lanjut kak
2024-05-25
0