Nora duduk di sebuah bangku di taman kota. Ia baru saja pulang dari kediaman keluarga Jahyadi. Nora menatap ke tengah lapangan bola, Arga tengah bermain bola di sana.
Bukan keinginan Nora untuk melihat Arga latihan basket, dia hanya butuh tempat untuk melepaskan penatnya, siapa sangka Arga juga tengah bermain basket bersama teman teman komplek yang lain. Lapangan ini memang tidak jauh dari perumahan, banyak anak anak yang suka menghabiskan sore hari di sana, termasuk dengan Arga dan juga Nora.
Bola basket menggelinding ke arah Nora. Arga terlihat sumringah saat Nora mengambil bolanya. Sudah lama ia tidak melihat Nora keluar dari rumah. Mungkin semenjak dari kuburan saat Tamara meninggal.
"Hei Tompel!! Lempar bolanya kemari!" tukas teman Arga yang lain.
Nora melemparkan bola itu kearah mereka lalu pergi dari sana. Arga yang melihatnya langsung kecewa. Ia pun berlari menyusul Nora.
"Woi!!" Panggil teman temannya yang lain saat Arga meninggalkan lapangan di tengah permainan.
"Ck, kenapa malah pergi?"
Arga mengerjar Nora, gadis itu berjalan santai kembali ke rumahnya. Sebentar lagi kontrakan rumahnya habis, mungkin Nora akan mencari kos saja jadi biaya sewanya tidak terlalu mahal, toh dia juga hanya akan hidup seorang diri tanpa keluarga atau pun teman. Lebih baik mencari yang dekat dengan sekolahan.
"Nora!!" Panggil Arga.
Nora menoleh, ia melihat pemuda tampan yang menjadi cinta dan patah hati pertamanya ini semakin mengikis jarak di anatara mereka berdua. Tiba tiba saja kakinya yang jenjang telah membawanya berdiri tepat di samping Nora.
"Ada apa?" tanya Nora.
Arga masih ngos ngosan, ia berusaha mengantur napasnya terlebih dahulu sebelum berbincang dengan Nora. Nora menunggu, ia menatap wajah tampan Arga. Alisnya yang tebal dan matanya yang tajam selalu menjadi magnet tersendiri bagi Nora dulu. Kalau sekarang, Nora bahkan malas untuk melihatnya.
"Kenapa dengan wajahmu??" Arga kaget saat ia melihat bekas merah tertera di wajah Nora. Arga mengusap lembut wajah Nora, namun Nora langsung menepisnya. Tak ingin kembali goyah hanya karena perhatian palsu Arga. Padahal sumpah, Arga sungguh sungguh khawatir dengan Nora.
"Aku tak sengaja menabrak pintu karena terlalu fokus dengan buku," jawab Nora berbohong. Ia kembali berjalan karena merasa tak perlu memperpanjang obrolannya dengan Arga. Paling juga Arga akan segera kembali ke lapangan.
"Tunggu!!" Arga mencekal pergelangan tangan Nora, hingga Nora menoleh spontan padanya. Tubuhnya berayun hingga membentur tubuh atletis Arga. Duh, hidung Nora terasa peyok karena dada Arga yang sekeras batu.
"Aku khawatir padamu! Tapi kenapa sekarang kamu justru begitu acuh padaku?? Kamu terus menghindar dan menjauhiku sejak naik kelas tiga sampai sekarang kita lulus!" keluh Arga.
"Ck, lepas!" Nora menghempaskan tangan Arga dan kembali berjalan.
Nora menghentikan langkah kakinya, ia menatap pemuda bernama Arga dengan tatapan kesal. Pertanyaan yang bodoh?! Bagaimana bisa seseorang diam saja dan bertingkah tak terjadi apa pun saat cintanya ditolak bahkan jauh sebelum diutarakan?
Lagi pula. Bukankah Arga sendiri yang mengatakan kalau dia malu berteman dengan Nora?
Nora tersenyum kecut, siap jatuh cinta itu berarti juga sudah siap untuk patah hati. Nora tahu kalau cinta dan patah hati datangnya satu paket, ia juga tak berharap banyak cintanya diterima oleh Arga karena kekurangan dirinya. Tak mungkin dia bersanding dengan pemuda tampan saat kondisi wajahnya bahkan jauh dari kata cantik.
"Ah ... benar, menyerah saja, lupakan saja atau ... manfaatkan saja?" gumam Nora.
"Hah? Apa? Nggak dengar." tanya Arga.
"Apa aku acuh? Aku minta maaf kalau aku berkesan acuh padamu. Aku minta maaf kalau aku menyakiti hatimu. Aku hanya terlalu fokus saat merawat mamaku," tutur Nora.
"Kalau begitu kita tetap bertemankan?" Wajah Arga langsung terlihat cerah.
"Iya, tentu saja." Angguk Nora.
"Ih iya, Ga. Aku akan segera pindah ke SMA XX, aku mengurus banyak hal sebelum pindah ke sana."
"Kamu pindah ke SMA XX bukankah tempat itu cukup jauh dari rumah? Kenapa tidak SMA negeri saja yang sama denganku?" Arga sedikit kecewa.
"Itu karena aku mendapatkan beasiswa di sana." Nora berbohong.
"Beasiswa?"
"Yup."
"Hebat kamu, Nora!!"
"Biasa saja."
"Apa yang kamu butuhkan? Katakan saja padaku. Aku bisa membantumu."
"Aku butuh tumpangan karena belum tahu arah ke sana." ujar Nora.
"Baiklah, aku akan mengantar jemputmu setiap hari," tukas Arga, membuat mata Nora membelalak. Serius?? Bukannya saat SMP dulu dia bilang kalau malu berteman dengan Nora, bahkan memberikan tumpangan hanya karena terpaksa?? Kenapa mendadak Arga berbaik hati?
Masa bodoh! Yang penting bisa dimanfaatkan! batin Nora, ia sudah bertekat untuk menjadi gadis yang jahat dan tak tahu diri sekarang.
"Kamu dari mana?" Arga melihat Nora memakai pakaian terbaiknya. Mungkinkah dia pergi ke suatu tempat yang penting?
"Apa hal itu penting bagimu?" sahut Nora.
"Well ... tidak sih. Aku hanya bertanya. Kenapa kamu tak terlihat semenjak pagi tadi." Arga berjalan cukup jauh di sisi Nora, membuat gadis ini heran karena Arga mengamatinya.
"Apa kamu suka padaku? Kenapa mengamatiku sejak pagi??" Nora menoleh, membuat wajah Arga menghangat.
"Si ... siapa yang suka denganmu?? Kitakan berteman, jadi wajar donk kalau aku khawatir. Mama selalu memintaku untuk mengawasimu." Gagap Arga.
"O ... begitu." Nora mengangguk, ternyata memang hanya karena suruhan orang tuanya.
"Kamu marah?"
"Untuk apa aku marah? Aku lelah, Ga. Bisa kamu tinggalkan aku sendiri?" tanya Nora begitu ia sampai di depan rumah.
"Hm ... oke." Arga sebenarnya masih ingin mengobrol dengan Nora, namun gadis itu sudah membuat jarak di antara mereka.
Nora menghela napas dan masuk ke dalam rumah, ia tak peduli dengan Arga yang masih betah berdiri di depan rumahnya. Arga menatap lampu rumah Nora yang menyala, ia bisa mendengar suara suara lirih Nora mengerjakan sesuatu. Arga cukup lega, sepertinya Nora bisa bangkit setelah kematian mamanya.
"Selamat malam, Nora," ucap Arga bermonolog dengan pintu rumah Nora.
Nora yang kebetulan berdiri di belakang pintu bisa mendengar ucapan Arga. Hati Nora berdesir, apa dia masih punya secuil cinta bagi pemuda ini? Tidak!! Tidak!! Tidak boleh terpedaya dengan hatinya. Nora mudah jatuh cinta karena ia kekurangan perhatian, hingga Nora mudah terbawa perasaan hanya karena perhatian kecil. Nora tak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama. Dia tak akan lagi jatuh hati, tak akan lagi percaya dengan siapa pun! Hidupnya ada untuk membalas dendam, dan sebelum keluarga Jahyadi hancur, Nora tak akan pernah bisa bahagia. Nora akan mencurahkan segalanya, termasuk nyawanya untuk menghukum keluarga itu dan menyeret mereka ke depan makam sang ibu.
Tak ada waktu untuk jatuh cinta ...
...****************...
...Jangn lupa vote, komen, dan like setip episodenya ya....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 70 Episodes
Comments
Dwisur
jadi jahatnya jangan kebablasan ya nora
2024-02-16
2